Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
121 Dua Orang Perempuan berhati Lembut


__ADS_3

Lelaki yang kepalanya dipenuhi Uban itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia berjalan kembali ke tikar tempat ia tidur. Ia memainkan janggutnya yang terlihat hitam. Ia lalu merebahkan tubuhnya menatap langit-langit sel lapas itu. Sebuah sinar matahari dari ventilasi udara membuat mata lelaki itu menyipit hingga ia berbalik ke arah Bram yang telah mengambil sebuah karpet dan ia gelar di ruangan lapas itu.


Selama di Lembaga Pemasyarakatan Bram ditempatkan di sebuah kamar berukuran 5,4 meter persegi. Ia menempati kamar itu bersama satu orang lelaki yang tak lain lelaki beruban yang sedang berbaring miring dan menghadap ke arahnya.


"Sungguh takdir betul-betul ingin mempermainkan aku. Atau ia ingin aku terbebas dari rasa bersalah ku? Lelaki ini bisa hadir dihadapan ku. Seolah doa ku terjawab dengan masuknya ia ketempat ini."


"Jangan tatap diriku. Aku tak suka ditatap begitu "


"Hehehe.... Sikap mu.... Kamu mengingatkan aku dengan seseorang yang ada hubungannya dengan istri mu."


Lelaki itu memainkan janggutnya yang sedikit tipis. Ia tertawa sambil satu tangan menopang kepalanya.


Bram penasaran menatap lelaki itu penuh selidik.


"Katakan apa kamu mengenal istri ku?"


"Hehehe.... Tidak. Aku tak mengenal istri mu begitupun sebaliknya. Tapi aku tahu siapa istrimu."


Deg.


Bram berdiri dan mendekati lelaki itu. Bram duduk jongkok dengan dua tangan ia letakkan diujung pahanya dan menjulur ke arah lelaki tua itu.


"Aku tidak suka dibuat penasaran pak tua!"


"Hihihi.... Kamu ini tidak punya sopan santun. Menantu Kyai tapi Akhlak dan adab mu tak menjaga nama baik mertua mu."


Deg.


Bram seakan tersentil.


"Aku bukan Kyai maka aku tak harus bersikap sama seperti Kyai."


"Hahaha..... Aku senang dapat teman baru seperti kamu anak muda. Teman lama ku tak asyik. Dia terlalu penakut dan patuh."


Lelaki itu bangkit dan duduk sila. Ia menghadap Bram. Ia mengamati wajah Bram lekat. Lalu rambut panjangnya ia kuncir dengan rambutnya seperti seorang perempuan yang akan membuntal rambut panjangnya dengan ujung rambutnya.


"Aku hanya berpesan pada mu jika kau betul-betul suami Ayra Khairunnisa. Anak dari Munir keponakan dari Kyai Rohim. Jaga istri mu baik-baik. Kalian harus menjaga dan saling percaya itu penting."


Lelaki itu cepat berjalan ke arah pintu Kamar mereka ketika bel tanda makan siang berbunyi.


"Ayo atau kamu tak akan kebagian sambal nya."


Bram menarik kerah baju lelaki itu. Hingga lelaki yang memiliki tubuh yang hampir sama tingginya dengan Bram itu sedikit terhuyung ke belakang.

__ADS_1


"Hey Bung. Begini kah cara mu berkenalan dengan penghuni lama?"


Bram membalik tubuh lelaki tua itu.


"Katakan apa maksud mu!?"


"Tenanglah bung. Aku tak akan menyakiti siapapun termasuk dirimu. Walau aku sebagai tahanan kasus pembunuhan!"


Deg.


Glek.


Bram menelan salivanya dengan kasar.


Ia tak ingin menduga-duga. Ia melepaskan cengkramannya. ia ingat bagaimana ia dikeroyok ketika di rumah tahanan atau biasa disebut Rutan. Saat sebelum vonisnya jatuh.


"Hihihi.... Kamu ternyata cukup punya nyali takut. Kudengar menantu terakhir Kyai Rohim ini orang kaya. Maka aku boleh meminta rokok mu jika kamu dapat kiriman."


Bram diam saja. Ia melihat lelaki itu meninggalkan dia seorang diri. Bram yang teringat akan Ayra cepat mencari satu buku yang ia siapkan ketika memang kondisi terburuk terjadi ia harus meringkuk di Lembaga Permasyarakatan atau biasa disebut Lapas.


Ia membuka buku itu dan foto yang ia cuci berukuran kecil dan ia laminating. Foto ketika dirinya dan Ayra pergi ke Bali. Sebuah foto yang terlihat sepasang suami istri itu tersenyum bahagia menatap kamera dengan pipi yang sama-sama menempel satu sama lain.


"Semoga kamu baik-baik saja Ay. Apa maksud lelaki itu. Siapa dia? Aku harus mencari tahu."


Saat Bram bergegas mencari informasi Napa yang dimaksud lelaki tua tadi.


Disaat yang sama Ayra terbangun dari pingsannya. Ia yang merasa pusing sedikit membuka kedua matanya dan terlihat samar-samar Nyonya Lukis sedang duduk disebelahnya dan mendengarkan sebuah ceramah agama dari salah satu ulama yang pernah Ayra saran kan karena sanadnya Beliau jelas.


Maka Nyonya Lukis sering mendownload dan mendengar ceramah dari beliau.


"Ma.... "


"Ayra... "


Nyonya Lukis cepat mempause ponselnya. Ia membantu Ayra duduk. Nyonya Lukis memberikan segelas air untuk Ayra.


"Minum dulu Ay."


Setelah Ayra menikmati setengah gelas air putih itu. Sang ibu mertua meminta dokter untuk memeriksa menantunya.


Muncul seorang dokter perempuan yang masih muda dan memeriksa Ayra. Ia meminta Ayra untuk mengecek kondisi janin di dokter spesialis kandungan. Ayra yang merasa ada satu tanggungjawab lagi yang harus ia jaga.


"Sekarang saja ma."

__ADS_1


"Nanti Ay. Kamu makan dulu. Ini sudah siang. Nanti setelah makan kita periksakan kondisi debay nya ya?"


Ayra menganggukkan kepalanya tanda setuju. Nyonya Lukis yang baru akan menyuapi Ayra. Namun cepat tangan Ayra mengambil sendok itu.


"Biar Ayra sendiri ma. Mama pasti lelah dari tadi menemani Ayra."


"Tidak Ay. Oya tadi ada Liona kemari, Rani dan Bambang tapi kamu belum sadar. Mereka menyampaikan salam dan kamu harus sehat juga semangat Ay."


Ayra tersenyum. Lalu ia menghabiskan makanan yang ada dalam piringnya walau ia betul-betul tidak selera menghabiskan nasi dan lauk pauk khusus pasien rumah sakit itu. Ia beberapa hari ini tak berselera makan. Namun ia tak pernah mengucapkannya ketika sebuah makanan telah terhidang di hadapannya.


Selesai makan, Ayra yang menunggu kursi roda dirinya. Ia sebenarnya ingin berjalan saja keruang pemeriksaan kandungan namun ibu mertua nya sangat tidak memperbolehkan. Maka mau tak mau ia harus menunggu kursi roda datang.


"Beni Bagiamana kondisinya ma?"


"Tadi papa sudah bicara dengan dokter. Untuk sementar mungkin Rafi papa suruh mengurus keberangkatan dan pengobatan Beni dan Liona di Kanada. Mungkin Bulan depan mereka berangkat. Papa khawatir soalnya sudah mendekati 4 Bulan Beni belum sadar."


"Mama tidak ikut?"


"Mama akan menyusul."


"Ma.... Jangan khawatirkan Ayra. Beni dan Liona juga butuh mama. Ayra bisa di tempat Umi dulu ma."


"Ayra.... Hati mu ini halus sekali. Mama tak mengatakan apapun tapi kamu bisa menelisik isi hati Mama."


"Hehe.... Karena mama pun berhati lembut.


Ketika seorang perawat masuk membawa kursi roda. Ayra naik kesana dan Nyonya Lukis mendorong kursi roda Ayra dari belakang.


"Kamu selalu tersenyum padahal sebagai seorang istri, mama bisa merasakan apa yang kamu rasakan Ayra."


"Ay... "


"Iya Ma."


"Walau bram tak ada disisi kamu. Jangan sungkan pada mama dan papa."


"Ma.... Ayra sudah banyak merepotkan mama."


"Mama sudah pernah mengalami hamil. Dan hamil pertama apalagi. Maka dari itu, jangan kamu sungkan. Kalau ada yang ingin dimakan atau yang dirasakan bilang sama mama."


Satu perasaan bahagia disaat hatinya merana karena ia rindu suaminya yang begitu memanjakan dirinya, kini mertuanya hadir seolah mengerti kegelisahan hati Ayra.


"Iya ma. Ayra akan meminta bantuan mama."

__ADS_1


Ayra dan Nyonya Lukis yang baru sampai di depan ruangan dokter kandungan kaget karena satu orang Lelaki memanggil nama Ayra dan menatap ke arah Ayra.


__ADS_2