
Rafi masuk ke dalam salah satu mobil bodyguardnya. Ia membuka pintu dan bermaksud meletakan Aisha di kursi belakang. Namun saat akan masuk, kepala Aisha membentur atap mobil.
"Aduuuhhh.... Jotan! Kamu mau bikin aku gegar otak?"
"Ya ampun maaf Nes... Buru-buru.... hehehe...."
Rafi menutup pintu belakang dan menuju ke arah kemudi.
"Aku bawa mobilnya dulu. Jangan lupa pantau terus itu terong. Jangan sampai masih ngincer perempuan ini."
"Baik Pak."
Rafi masuk kedalam mobil dan mengendarai mobil itu dengan kecepatan sedang. Rafi membuka ponsel nya dan mencari rumah sakit terdekat melalui aplikasi map.
"Rumah sakit terdekat."
"Ngapain kerumah sakit?"
"Lah. Emang mau ke mana? Ke Penghulu?"
"Ish! Rafiiiiiii! Aku serius. Aduuuhh... Sssttt."
Aisha harus menahan sakit karena ia mencoba bergerak sehingga membuat saraf pada kakinya ikut bergerak. Rasa nyeri pada pergelangan bagian tumit dan lutut cukup membuat ia kesakitan.
"Ya ampun Nes.... Jones.... Katanya kaki mu sakit. Lah tempatnya orang sakit itu ya rumah sakit."
"Ndak usah. Bawa aku ke rumah saja."
"Rumah mana ini? rumah ibu mu atau rumah mu?"
"Rumah Ku."
"Shareloc."
"Ponsel ku ketinggalan di apartemen Pak Bos."
"Ya ampun..... "
Rafi memukul jidatnya.
"Ya sudah tunjukan ke arah mana kita?"
Aisha menyebutkan satu nama jalan. Setengah jam berlalu. Sebuah pesan masuk kedalam ponsel pintar Rafi. Ia menarik napas dalam. Ketika ia menyimpan ponsel itu. Rafi menambahkan kecepatan mobilnya.
"Pelan-pelan Jotan! aku belum mau mati."
"Aku juga Nes. Udah duduk manis. Mulut di jaga. Dari tadi ga ada manis-manisnya. Udah di bantuin juga."
"Yang bantuin bodyguard kamu, bukan kamu."
"Iiissshhhh. Mulut apa blender sih berisik banget."
Rafi memakai headset ke telinganya. Ia fokus ke arah jalan dan kecepatan mobil itu diatas rata-rata. Yang membuat Aisha bingung adalah, jalan yang diambil Rafi bukan ke arah alamat rumahnya.
"Rafiiiiii! Jotaaannn"
Tak ada jawaban dari asisten Bram itu. Ia seakan terburu-buru ke suatu tempat. Hampir 25 menit berlalu. Mobil Rafi memasuki rumah yang cukup besar namun tidak terlalu mewah. Mobil itu ia parkiran tepat di depan teras.
Rafi menoleh ke arah Aisha dan membuka headset nya sebelum pergi meninggalkan Aisha sendiri.
"Elo tunggu disini sebentar. Oke! Gue kedalam dulu. Ada urusan penting."
"Woi Jotan. Elo ya. Ini kaki dari tadi sakit. Lo malah muter-muter. Lo niat ga sih bantuin gue....!"
Aisha sudah merasa emosi karena rasa sakit di kakinya makin bertambah. Tubuhnya pun mulai terasa tak karuan. Kepala yang mulai terasa sedikit pusing. Bahkan suhu tubuhnya mulai terasa sedikit panas.
Rafi tak memperdulikan Aisha. Ia menutup pintu mobil.
__ADS_1
"Braaaaak!"
"Rafiiiiiii!"
Rafi berlalu dari pandangan Aisha. Hampir setengah jam Rafi tak muncul-muncul. Aisha yang berada di dalam mobil yang tertutup rapat serta tubuh yang terasa pegal serta keringat yang keluar dari pori-pori tubuhnya dikarenakan rasa sakit pada lutut dan pergelangan kakinya membuat baju yang ia kenakan basah. Bahkan mata Aisha mulai terasa berat untuk tetap terbuka.
Ia mulai mengigit bibir bawahnya, kepalanya ia coba gerak-gerak kan agar tetap bisa membuka kedua matanya.
"Ah... Rafi.... Elo dimana sih...."
Samar-samar sosok yang dinanti membuka pintu disebelah Aisha.
"Ya ampun.... gua lupa klo ada Jones. Nes....Hei. Jones... Lo ga papa kan? Jones.... buka mata Lo."
"A-ku...."
Aisha memejamkan matanya. Ia merasakan sakit teramat pada sekujur tubuh dan kepalanya.
Rafi cepat membuka sabuk pengaman yang menempel pada Aisha.
"Ya ampun. Dia demam lagi.... Aduh...."
Seorang perempuan paruh baya yang sedang menggendong anak berusia kurang lebih berumur 7 tahun bersama satu anak perempuan berusia belasan tahun yang dari tadi berdiri di belakang Rafi kaget. Karena ada seorang perempuan di mobil Rafi.
"Siapa Fi?"
"Emm....."
COO MIKEL Group itu keluar dari dalam mobil. Ia mengusap tengkuknya.
"Teman Bu. Tadi dapat musibah, mau dibawa kerumah sakit dia tidak mau. Rencana habis ini mau antar dia kerumahnya. Ini tapi sepertinya demam malah anaknya."
Perempuan yang merupakan ibu panti itu memberikan Rafi anak yang ia gendong.
"Coba ibu lihat."
Ketika Ibu panti itu memegang telapak tangan dan dahi Aisha. Suhu panas terasa dan keringat dingin bisa Ibu Panti itu rasakan.
"Jangan Bu!"
Bu Lina mengernyitkan dahinya. Ia curiga kenapa tidak boleh di bawa kerumah sakit.
"Apa.... Ah masa iya Rafi berbuat yang tidak-tidak. Dari wajahnya perempuan ini sepertinya, anak baik-baik."
"Dia pacar kamu?"
Rafi langsung menggelengkan kepalanya cepat.
"Bukan Bu. Bukan."
"Lalu?"
"Ceritanya panjang."
Bu Lina menarik napas dalam.
"Antar sekalian kerumahnya nanti kalau begitu."
Rafi bermuka kecut. Ia mengatakan jika dirinya tak tahu ruang Aisha. Sehingga Bu Lina memutuskan untuk merawat Aisha di rumah yang merupakan panti untuk kurang lebih 30 anak.
"Begini saja. Kamu yang bawa kerumah sakit Tyas karena kamu bisa menyetir. Ibu akan dirumah merawat dia. Kasihan, bajunya basah Fi."
Rafi mengangguk setuju. Ia tak mungkin membawa Aisha ke rumah sakit. Karena ia tahu persis asisten Ayra itu akan menyumpah serapah dirinya ketika kembali ia melakukan sesuatu yang ia tidak ingin lakukan. Dan tak mungkin membawa ia ke apartemen nya.
Setelah ia meletakkan Tyas kedalam mobil. Tyas adalah salah satu anak panti yang dirawat oleh ibu Lina, ia sedang demam tinggi.
Rafi mengangkat Tubuh Aisha kembali ke dalam rumah Bu Lina. Saat tiba diruang tamu, baru saja Rafi akan meletakkan Aisha di sofa namun Ibu Lina meminta Rafi membawa Aisha ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Istirahatkan di kamar kamu saja Fi."
"Tapi Bu?"
"Di kamar ibu ada Yuni. Ibu harus mengganti bajunya. Kasihan kalau masih memakai pakaian itu. Khawatir dia bertambah demam."
Rafi menarik napas dalam. Ia kembali membenarkan posisi Aisha yang tadi hampir ia rebahkan di atas sofa. Ia menuju sebuah kamar yang masih menjadi kamarnya walau ia tak tinggal di panti itu. Saat ia menginap di panti itu, maka kamar itu menjadi kamarnya. Bahkan beberapa barang, foto Rafi masih tertata rapi di ruangan itu.
Tiba di kamar itu, Rafi langsung meninggalkan Aisha bersama Bu Lina.
Disaat Rafi kerumah sakit dan Aisha yang berada di panti.
Sepasang suami istri sedang melongo tak percaya saat masuk kedalam apartemen Bram. Ayra yang merasa aneh karena jika dilihat dari barang-barang yang berwarna sesuai warna yang ia sukai jauh dari karakter suaminya yang lebih suka warna grey dan Hitam.
Sedangan Bram kaget. Ia yang melirik istrinya merasa bahagia. Setidaknya walau ia tak begitu suka warna dan pernak-pernik yang ada diruangan itu, melihat wajah Ayra yang terlihat suka dengan pemandangan yang ada di ruang utama itu.
"Ternyata si Rafi menyuruh Aisha karena dia lebih bisa mengerti apa selera Ayra. Sungguh duo asisten yang berbanding 180°.Rafi selalu membuat ku pusing. Aisha selalu membuat Ayra puas dengan kinerjanya."
"Mas.... ini betul-betul apartemen mas?"
"Memang nya kenapa?"
Bram menarik Ayra ke dalam dan menutup pintu. Koper yang ia bawa pun, ditinggalkan di dekat pintu.
"Warna dan suasananya tidak sama dengan ruangan kerja, dan kamar mas."
"Kamu ini paham sekali dengan aku."
Saat akan memasuki kamar, Bram sedikit ragu. Khawatir beberapa foto masih terpajang sempurna. Namun Kembali CEO MIKEL Group itu merasa puas dengan kerja Aisha.
"Ceklek."
"God Job Aisha. Ayra tak salah memilih asisten."
"Mas.... Jangan bilang kamu merombak apartment mu dengan menyuruh Aisha dan Rafi."
Bram mengernyitkan dahinya.
"Kamu pintar sekali Ay.... Apa kamu punya mata batin?"
"Bukan mas..... "
Ayra melihat ke arah satu tas tangan kecil yang ia ingat betul. Tas itu Aisah beli ketika berada di Palembang. Sebuah tas dari motif kain Songket. Maka ia pastikan kenapa keberangkatan ia tadi ditunda oleh Bram. Bram ikut melihat arah pandangan Ayra.
"Itu tas Aisha. Kami membelinya di satu toko ketika di Palembang."
"Lalu dimana asisten mu itu?"
"Mungkin tasnya ketinggalan."
Bram yang dari tadi menahan ingin ke kamar mandi cepat menuju kamar mandi. Kembali ia puas dengan hasil kerja Aisha karena sebelum masuk toilet. Sebuah ruangan yang terdapat di depan ruang toilet telah dilengkapi dengan bathroom yang dipenuhi taburan bunga mawar dan melati.
Ayra yang akan mencuci muka pun mengikuti Bram dengan membawa sabun cuci muka yang biasa ia pakai seperti saran Aisha dahulu. Saat ia ingin membuang sampah. Sebuah bola berwarna pink tergeletak disebelah kotak sampah. Ia mengambil benda itu, tanpa ia sadari Bram telah berada di belakang Ayra. Bram sadar bahwa benda itu milik Shela. Ia sudah khawatir jika istrinya akan kembali cemburu atau tersakiti karena masalalu nya.
"Habislah kamu Bram.... "
Ketika Ayra menghadap ke arah cermin. Ia melihat suaminya telah ada didekatnya.
"Ini apa mas?"
"Beruntung kamu tidak tahu benda itu Ayra."
"Mana? Seperti bola ya Ay? Mungkin punya Rafi atau Aisha."
"Rafi deh mas. Kalau Aisha dia tak suka benda berwarna pink."
"Ya kamu benar. Rafi bahkan pernah pakai kaos berwarna pink. Gara-gara itu semua mata memandangi kami berdua sangat aneh. Sejak saat itu juga gosip tentang aku dan Rafi menyebar hampir ke setiap orang yang mengenal kami. Tapi bersyukurlah karena gosip itu. Aku hanya punya satu mantan pacar."
__ADS_1
Diakhir kalimatnya Bram menutup rapat mulutnya. Karena wajah Ayra seketika berubah.
"Ais.... Salah ngomong Bram.... "