Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
84 Istri Rasa Atasan


__ADS_3

Aisha pagi-pagi telah siap dengan satu stell pakaian yang telah ia siapkan dari Jakarta untuk istri CEO MIKEL Group itu. Ia membawa pakaian itu ke kamar bos barunya itu. Ayra memang meminta Aisha agar menyiapkan urusan pakaian. Selain membantu mengatur jadwalnya dan juga menemani kemanapun ia pergi. Karena ia yakin Aisha lebih paham untuk urusan busana.


Ayra keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang anggun namun tetap tak mempertontonkan lekuk tubuhnya. Sesuai pesannya pada sang asisten prinsip cantik tanpa melanggar syariat yang ia pegang teguh.


Ayra tampak menggunakan dress loose berwarna hijau yang santun. Terlihat semakin modis dengan paduan dress berwarna hijau tadi dengan blazer hitam serta warna hijab yang senada. Dilengkapi outfit dengan handag dan alas kaki model flatshoes warna hitam makin membuat Ayra yang bertubuh cukup mungil itu terlihat cantik, anggun dan tetap tertutup.


"Mama ikut ya Ay?"


"Mama, Papa sudah Telpon tadi loh ma. Mam tunggu di hotel. Nanti papa jemput mama. Mama tidak perlu khawatir. Insyaallah tidak akan terjadi apa-apa. Mama do'akan saja Ayra."


Akhirnya sang ibu mertua pun menurut. Ayra berpamitan pada Nyonya Lukis dengan mencium lembut punggung tangan perempuan paruh baya itu. Ayra telah dijemput oleh mobil perusahaan.


Jalanan ibukota provinsi sumatera selatan itu tak terlalu macet seperti ibu kota. Hany butuh waktu 20 menit dari hotel menuju anak perusahaan MIKEL Group.


Ayra menyambangi hampir seribu massa buruh yang sedang melakukan aksi unjuk rasa dari berbagai buruh yang ada kabupaten kota yang berada di provinsi sumatera selatan itu. Mereka bekerja sebagai buruh pabrik anak perusahaan MIKEL Group.


Tampak beberapa polisi dan satpam yang melakukan pengamanan. Ayra dapat melihat dari dalam kaca mobil seorang buruh yang sedang menyampaikan orasi nya di atas sebuah meja dengan menggunakan sebuah toa.


Begitu mobil Ayra berhenti di depan perusahaan itu. Beberapa buruh yang berada di barisan paling depan mencoba mendekati Ayra. Namun barisan pengamanan yang biasa mengawal Bram kali ini disiapkan oleh Rafi.


Rafi sengaja mengirim pengawal itu langsung dari Jakarta. Mereka biasa mengawal Bram ketika keluar kota. Ia tak ingin mengambil resiko jika terjadi apa-apa pada Ayra. Ayra dan Aisha pun berusaha terus bergerak maju kedepan.


Saat Ayra ingin menemui langsung para buruh satu dari pemimpin itu meminta Ayra masuk ke kantor lebih dulu. Ayra mengikuti kemauan para petinggi anak cabang perusahaan MIKEL Group itu.


Setiba Ayra di dalam sebuah ruangan cukup mewah, Ayra bingung karena para petinggi itu malah meminta Ayra tak menemui para buruh dengan alasan keselamatan Ayra. Ayra yang tak pernah meninggikan suaranya kali ini membuat Aisha tersentak kaget.


"Saya akan menemui para buruh yang ada didepan. Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Mogok kerja sudah dilakukan mereka beberapa hari! Kalian ingin perusahaan ini tutup atau ada yang kalian tutupi dari saya?"

__ADS_1


Beberapa petinggi itu diam. Satu diantara mereka coba berbicara.


"Maaf Bu, tapi anda hanya pemimpin sementara bukan."


Ayra berdiri dan berjalan ke arah lelaki yang memicingkan matanya pada Ayra.


"Anda siapa?"


"Saya manajer personalia Bu."


"Anda tidak tahu siapa saya?"


"Anda mahasiswa berprestasi yang ditunjuk oleh pak Bram untuk memimpin MIKEL group sementara."


"Baik, Setelah suami saya selesai dengan urusan kasus hukumnya. Saya akan meminta untuk dilakukan perombakan besar-besaran pengurus di provinsi ini. Saya sudah melihat pola yang sangat jelek. KKN di cabang ini begitu kuat. Hingga informasi yang sangat penting tidak disampaikan ke bawah. Hingga hoaks di kalangan buruh membuat mereka marah."


Satu perempuan yang dari tadi mengamati Ayra. Ia bingung karena penampilan Ayra yang modis tapi kesan religi begitu kental dari penampilannya. Baluran make up tipis pun mampu membuat wajah cantik Ayra menjadi daya tarik dari sesama jenis untuk mengakui bahwa Ayra cantik.


"Beliau istri dari pak Bramantyo Pradipta."


"Apa!?"


"Kenapa, anda kaget? Karena penampilan saya? Yang jelas karena ada satu informasi penting dari pusat yang tak sampai ke telinga anda! Begitupun kasus para buruh diluar sana. Mereka tidak menerima berita dari pusat secara utuh. Entah itu karena anda sengaja atau anda khilaf. Tapi bisa saya pastikan saya tidak bisa mentolerir tindakan orang yang bekerja tapi tidak amanah."


Ayra menatap tajam lelaki yang mengaku manajer tadi. Hal itu membuat sepasang mata manatap heran. Baru saja beberapa menit yang Lalu perempuan berkerudung itu menunjukkan sikap lemah lembut, manja pada ibu mertuanya dan sekarang seolah Ayra ini punya kepribadian ganda.


Sebenarnya hal itu didasari oleh didikan Umi Laila. Umi Laila sering berpesan kepada santriwati disela-sela membahas kitab.

__ADS_1


"Besok nek wes dadi Bojo ne wong Lanang. Pandai-pandailah memposisikan diri. Jangan lupa Diri. Kalau dirumah jadilah seorang istri, seorang ibu. Jangan jabatan di tempat kerja dibawa-bawa pulang kerumah. Yang jadi ulama jangan pula merasa jadi ulama didepan orang tua. Umi berharap kalian besok ga cuma pinter ngaji, kalau memang ada kesempatan mengabdi pada negeri mau jadi apa saja Monggo.


Pokoknya Santri harus Siap! Nggeh. Yang penting kodratnya kita ini jangan dilupakan. Kita ini Perempuan, istri. Yang kalau dirumah ya manut sama Suami.


Ojo mentang-mentang Dewe Iki dihormati neng luaran terus dirumah jadi istri rasa atasan. Walau pekerjaan rumah menurut mazhab Syafi’iyah berpendapat bahwa hal itu bukan kewajiban kita para istri. Tapi bukan berarti Dewe sibuk tok tok kan, Lah bojo ne Dewe kora-kora neng dapur. Paham Nggeh. Iki pesen Umi Ojo di lalekno."


Umi Laila yang sarjana pendidikan Agama tidak hanya pandai teori. Beliau bisa mencontohkan itu pada para muridnya, karena beliau menerapkan kedalam kehidupan rumah tangganya. Ia tak pernah terlihat lebih pintar ketika bersama sang suami. Beliau tak pernah meninggikan suaranya di hadapan sang suami yang hanya lulusan Madrasah Aliyah.


Ayra yang sudah merasa bahwa ada hal yang ditutupi oleh manajer itu akhirnya cepat meninggalkan ruangan itu menuju halaman kantor perusahaan itu. Ketika ia keluar beberapa buruh makin kencang meneriaki Ayra.


"Jangan potong hak Kami!"


Seorang lelaki berbaju hitam meminta sang orator untuk memberikan Ayra kesempatan berbicara diatas meja.


Ayra pun naik ke atas meja kecil itu. Ia memegang Microphone kecil itu. Ia memulai pidatonya dengan basmalah.


"Saya Ayra Khairunnisa. Pemimpin perusahaan sementara MIKEL Group. Dan saya juga adalah istri dari pak Bramantyo Pradipta. Perlu kalian tahu, saya adalah istri dari pimpinan pusat kalian.


Adapun hoaks yang beredar kalian akan diberhentikan tidak benar! Terkait upah yang katanya dipotong dan dijadikan tabungan pensiun kalian itu benar. Tetapi perlu saya sampaikan bahwa gaji kalian juga dinaikkan 5 persen.


Sehingga 5 persen kenaikan gaji tersebutlah yang dijadikan tabungan bukan gaji yang lama dipotong. Jadi ada Miss komunikasi antara kalian pekerja dengan para pimpinan yang ada di daerah ini. Paham?"


Massa yang tadi terlihat cukup marah kini seketika bersorak riang. Mereka orang-orang kecil sering jadi korban Hoaks. Namun ketika Ayra itu tersenyum bahagia, Satu pasang matanya menangkap sesosok orang yang ia kenal.


Mereka saling tatap dalam posisi jarak hanya 2 meter. Orang yang dilihat pun menyebut nama Ayra dengan wajah penuh kagum dan haru.


"Ayra? Drum Bodol?"

__ADS_1


__ADS_2