Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
87 Ayra Terombang-Ambing


__ADS_3

Yeni yang merasa salah berbicara cepat menghampiri Ayra yang duduk di kursi rotan yang ada dikamar Yeni itu. Kamar yang berukuran 3x4 itu tak dilengkapi Pendingin Ruangan namun terdapat sebuah kipas angin yang membuat rambut panjang Ayra pun sedikit berterbangan karena angin yang menerpa.


Ayra menyelipkan rambutnya dibalik telinga. Ia menarik rambutnya ke pundak hingga rambut panjang nya tergerai di depan dadanya. Yeni yang telah duduk disebelah Ayra memegang tangan Ayra.


Kedua mata Ayra yang berembun pun akhirnya membiarkan embun itu berubah menjadi butiran. Hingga jatuh bergulir di kedua pipi putih mulus Ayra.


Yeni mengelap air mata yang membasahi pipi sahabatnya itu.


"Maafkan Aku Ay. Sungguh aku masih merasa sedih ketika ingat kejadian itu. Kalau saja saat itu aku tak mengajak mu ke sungai itu. Mungkin.... "


Ayra menempelkan satu jarinya ke bibir temannya itu.


"Ssstt. Kita tak boleh berandai-andai Yen. Semua yang terjadi pada kita dimasa lalu dan sekarang adalah takdir dari Allah."


"Lantas kamu betul-betul tak bertemu lelaki itu?"


"Tak pernah Yen."


"Bukannya Abi mu bilang akan mencari lelaki itu?"


"Aku tak berani bertanya pada Abi Yen."


"Ah aku lupa kamu bukan santri seperti aku yang ndablek ini. Apakah kamu menikahi bos besar ku juga itu atas perintah Abi mu Ay?"


Ayra mengangguk pelan. Ia mengingat bagaimana proses ia hingga bisa menikah dengan suaminya itu.


"Tapi gosip yang beredar bos ku itu penyuka sesama jenis Lo Ay. Uupss. Maaf Ay. Lupa kalau dia suami mu hehehe."


Yeni mengelus lembut kepalanya.


"Kamu itu dari dulu suka sekali ga Tabayyun."


"Berarti hoaks ya Ay?"


"Terus aku ini apa tidak cukup bukti kalau suami ku itu normal?"


Mata Ayra melirik ke arah Yeni. Pipi gembul Yeni bergerak karena bibirnya tertarik karena tersenyum simpul.

__ADS_1


"Wah bisa marah kamu sekarang Ay. Hehehe.... "


"Yen... "


Yeni melihat dada Ayra yang turun naik. Napas Ayra pun terdengar berat.


"Ceritakan Ay jika ada yang menurut mu aku bisa menjaganya. Insyaallah aku masih sahabatmu yang dulu. Hem."


Yeni menutup bibirnya dan menarik tangannya memberi kode seolah bibirnya ia kancing.


"Yen, Aku sebenarnya ingin cerita pada Umi. Tapi belum sempat. Ada satu kegelisahan hati ku. Aku gelisah bagaimana jika suami ku tahu kalau dia bukan lelaki pertama yang menyentuh ku. Lelaki pertama yang melihat aurat ku.Hiks.Hiks."


Kedua bibir Ayra terbuka, pipinya pun basah karena air mata. Suara tangisannya terdengar lirih. Dadanya pun sedikit berguncang. Yeni memeluk sahabatnya itu. Ia usap lembut punggung sahabatnya.


"Bagaimana kamu khawatir tentang makanan yang kamu sajikan akan tidak disukai suami mu sedang kan dia sudah menghabiskan semua lauknya?"


Deg.


Jantung Ayra seolah berhenti berdetak. Ia tak mungkin menceritakan jika ia belum menerima hak dan menjalankan kewajiban nya sebagai seorang istri.


"Aku hanya hanya khawatir jika ia tahu Yen."


"Kenapa pula harus diceritakan Ay. Toh dia yang pertama kan mendapatkan haknya. Bukankah Abi dan Umi mu pernah bilang jika kejadian itu sebuah musibah Ayra. Kenapa kamu masih memikirkannya."


"Ah andai kamu tahu Yen. Ada rasa bersalah dalam hati ini. Rasa sedih ketika suamiku harusnya orang yang pertama melihat kecantikan tubuh ku. Ah, Hamba menyerahkan segala Gelisah hati ini pada mu Rabb."


"Bukankah Abi mu bilang ia akan melamar lelaki itu untuk mu jika usia mu sudah baligh?"


Deg.


Jantung Ayra kedua kalinya berhenti berdetak mendengar pertanyaan sahabat nya. Ia seolah kembali mengingat rentetan kejadian saat dimana ia berkahir menikah dengan Bram.


Ayra menatap Yeni dengan dalam. Ia memegang kedua bahu sahabatnya itu.


"Katakan pada ku Yen. Seperti apa lelaki yang kamu minta bantuan untuk menyelamatkan aku itu?"


Yeni mengerutkan dahinya. Matanya melirik ke langit-langit. Ia seolah mengingat kejadian hampir sepuluh tahun silam. Saat ia dan Ayra baru masuk Aliyah, mereka pergi ke sungai yang terdapat wisata air terjunnya yang tak jauh dari pondok pesantren. Namun masih belum terawat nya wisata itu membuat cukup sepi daerah itu. Tak banyak yang tahu akan keindahan air terjun itu.

__ADS_1


Selain itu akses jalan untuk ke air terjun itu pun harus dilalui dengan berjalan kaki cukup lama.


Rasa penasaran Yeni yang sangat tinggi ingin melihat air terjun di sungai itu membuat Ayra menemani Yeni. Mereka pamit pada Abi dan Uminya saat masa libur. Saat pondok sepi karena semua santri pulang kerumahnya.


Yeni yang saat itu tak dapat izin pulang akhirnya menghabiskan liburan di pondok menemani Ayra dan membantu Umi Laila di kediaman Umi Laila. Furqon yang mengantar berjanji akan menjemput setelah mengganti oli mobil bak terbuka milik pondok pesantren.


Hingga ketika Ayra dan Yeni bermain ditepi air terjun itu. Aliran sungai yang terdapat air terjun itu cukup deras karena semalam baru saja hujan. Saat mereka ingin mengambil sandal Ayra yang jatuh kedalam Air, Ayra tergelincir.


Ayra yang bisa berenang masih mencoba menyelamatkan diri untuk menepi, karena rok nya yang tersangkut sesuatu membuat Ayra sedikit menyelam untuk melepaskan rok hitamnya yang tersangkut itu.


Yeni dari tepi sungai hanya bisa menangis histeris dan menjerit.


"Ay! Ayra! Ayra... ! Aduh... Ya Allah... Ayra.... "


Yeni menjerit minta tolong dengan diiringi Isak tangis.


"Tolooooonggg! Toloooongg! Toloooongg!"


Suara terdengar begitu ketakutan dan panik. Ia menjerit sekeras-kerasnya. Namun suasana yang sepi di tempat itu tak menunjukkan tanda-tanda ada yang mendengar jeritan pilu Yeni.


Yeni makin khawatir karena melihat Ayra menyelam dan tak kunjung timbul ke permukaan. Seketika saat Ayra berhasil timbul. Namun saat Ayra akan berenang ke arah tepi ia yang baru muncul kepermukaan tak melihat ada batu di sisi kirinya.


Hingga kepalanya membentur batu berukuran sedang itu.


"Duughh!"


"Aaawwh."


Seketika penglihatan Ayra berkunang-kunang. Tangan dan kaki yang masih ia gerakan untuk melawan derasnya arus air sungai itupun mulai terasa lemah karena saraf di kepalanya seolah memberi isyarat agar mata yang memiliki bulu lentik itu untuk terpejam.


Ayra yang merasa sakit teramat karena saat ia menoleh dengan keras kepalanya membentur batu itu dengan keras. Hingga ia pun terpejam. Tubuh besar Ayra pun terseret aliran sungai yang cukup deras. Yeni makin menjerit histeris. Ia tak tahu harus berbuat apa.


Ia tak bisa berenang. Ia melihat Ayra tak sadar dengan kondisi kepala yang tersembul dan tubuh yang mengapung diatas air. Hal itu membuat Yeni makin menjerit histeris meminta bantuan sambil berlari ditepi sungai. Ia mengikuti tubuh besar Ayra yang terapung di aliran sungai yang sangat deras.


Yeni terus berlari mengikuti tubuh Ayra yang terombang-ambing karena derasnya sungai. Sungai yang besar di wilayah Kali Bening itu.


Yeni terus berlari ditepi sungai itu tanpa berhenti menjerit minta tolong diiringi Isak tangis.

__ADS_1


"Tolooooonggg! Ada orang hanyuuut! Tolooooonggg.... Hiks... Hikss.... Ayra.... Ayra....!"


__ADS_2