Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
228 Kekaguman Rafi Pada Si Kembar 3


__ADS_3

"Aaawhhh....."


"Papa..... Help Me."


Bram baru akan membuka pintu. Namun saat handle pintu baru mau ia turunkan ternyata Rafi keluar lebih dulu. Wajahnya sudah basah oleh air. Bahkan jas yang dikenakan oleh COO itu juga terlihat basah.


"Kamu kenapa Fi?"


"Di semprot Ammar Pak."


"Lah bukannya Ammar yang teriak tadi?"


"Tadi dia ingin menemui Bapak. Ia ingin BAB tapi toiletnya di kunci. Setelah saya buka. Saya pikir dia mau di bantu buat bersihin. Eh saya masuk malah di semprot air."


Bram menyipitkan matanya. Lalu ia mendekatkan wajahnya pada sang COO.


"Kamu bukan pe do fil kan Fi?"


"What?! Ya ga lah Pak."


Bram tertawa lepas. Lalu ia kembali ke meja kerja sambil menggendong Qiya. Ia bisa menebak apa yang terjadi di dalam. Rafi yang terbiasa merawat Bilqis bersama Aisha karena pengasuh Bilqis hanya bekerja pagi sampai sore. Sehingga ketika malam ia dan istri akan bergantian merawat buah hati mereka. Maka kebiasaan Rafi yang kadang menemani atau membersihkan Bilqis ketika setelah BAB atau BAK. Membuat ia lupa bahwa Ammar bukanlah putrinya. Dimana sebuah kebiasaan yang diterapkan oleh orang tua dirumah akan mereka terapkan di manapun mereka berada selagi para orang tua konsisten dan kompak.


Saat Rafi pergi meninggalkan ruangan itu untuk membersihkan diri. Ammar pun muncul dengan pakaian yang telah rapi. Bram yang duduk di sofa sambil berbincang dengan putrinya menoleh ke arah Ammar.


"Kakak. Kakak harus minta maaf sama Om Rafi. Gara-gara kakak menyiramnya. Bajunya om Rafi jadi basah."


"Tapi Om Rafi mengagetkan. Dia tiba-tiba masuk dan mau memegang bagian dalam celana ku Qiya!"

__ADS_1


Ammar duduk di sofa dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya tampak cemberut. Bram yang melihat sudah ada kesalahpahaman antara anak dan COO nya. Maka Bram menurunkan Qiya dan pangkuannya. Lalu berpindah ke sisi Ammar.


Tak lama Rafi pun muncul membawa satu map dan beberapa lembar kertas. Ia hanya mengenakan kemeja biru dan dasi berwarna navy.


"Nah kebetulan. Om Rafi ada. Coba cerita kenapa Anak Papa ini menyiram om Rafi?"


Rafi pun berdiri di belakang sofa yang terdapat Qiya terlihat menoleh kebelakang.


"Papa tahu kan. Mama selalu mengajarkan aku dan Qiya. Untuk tidak ada yang boleh melihat bagian dalam celana dan baju kami. Apalagi menyentuhnya. Hanya boleh di sentuh di lihat jika kami mengeluh sakit itu pun harus di dampingi mama. Dan kami jika merasa ada yang memaksa menyentuh itu harus berteriak atau lari."


Bram menutup kedua matanya dengan satu tangannya dan tersenyum. Ia sudah menduga alasan putra nya menyemprotkan air ke arah Rafi. Ayra memang mengajarkan kepada kedua buah hatinya untuk menjaga diri. Mengingat zaman sekarang mulai naiknya kekerasan seksual pada anak-anak. Dan beberapa kali Ayra mengikuti seminar saat ia belum menikah, hal itu menjadi bekal bagi dirinya setelah menjadi seorang ibu. Bahwa pendidikan untuk anak agar bisa mengerti bagian tubuh yang mana yang boleh di sentuh di lihat oleh orang lain. Dan bagian mana yang tak boleh disentuh atau dilihat orang lain.


Ammar dan Qiya memang mulai di didik oleh Ayra sedari usia mereka masuk dua tahun. Saat mereka mulai bisa belajar berjalan, berbicara. Ayra biasa mengatakan pada anaknya saat ada papa mereka ketika masuk kamar namun sang anak masih belum mengenakan sehelai benang pun pada tubuh mereka.


..."Hayo cepat pakai handuknya. Malu ada papa."...


Sekalipun Bram adalah mahram bagi Qiya. Namun Bram juga lelaki. Ia tak ingin anaknya terbiasa dengan pakaian terbuka di depan Papanya. Untuk membentuk karakter anak yang memiliki rasa malu akan sulit dibentuk ketika anak telah beranjak remaja. Maka pendidikan karakter sejak dini telah Ayra bangun, dan tentu itu dibutuhkan kolaborasi antara Ayra dan Bram. Termasuk masalah pendidikan apapun itu.


Sebuah pendidikan untuk melindungi diri anak-anak mereka dimana pun sang anak berada. Karena kejahatan seksual kadang datang dari orang-orang terdekat anak. Maka Ayra pun selalu mengingat kan anak-anaknya agar menceritakan pada Papa atau Mama nya ketika ada orang yang tak membuat mereka nyaman.


Pernah satu kali Ayra sedikit cemas ketika Qiya malam hari mengatakan jika ketika siang hari sang Mama sedang tidak dirumah. Dan Qiya menceritakan dengan tidak jelas kejadiannya. Membuat Ayra menyelidiki apa yang terjadi. Bermula dari sang anak yang dari taman belakang rumah lalu ingin buang air kecil. Ketika buang air kecil ia merasa sakit bagian dalamnya. Sehingga Intan selalu baby sitter dari bayi. Memeriksa bagian dalamnya. Namun Qiya tak menceritakan apa yang menyebabkan Intan memeriksa bagian dalam nya.


Sehingga Ayra bertanya dengan pelan pada intan keesokan harinya. Ternyata cerita yang sebenarnya. Ada semut di bagian dalam Qiya dan mengigit nya. Sehingga ia merasa sakit. Baru Ayra sadar ternyata anaknya yang menyampaikan berita kurang lengkap. Beruntung Ayra bukan orang tua yang cepat percaya pada anaknya tanpa melihat atau mendengar dari orang lain. Dan sumber masalahnya.


Sejak kecil, anak-anak Ayra itu sangat malu jika mereka tidak memakai baju atau celana tapi ada orang lain. Walau Ayra kadang merasa awal-awalnya sungguh sulit. Karena Ammar dan Qiya yang belum bisa istinja atau cebok sendiri. Karena si kembar tak akan mau jika bukan Ayra atau Intan yang membersihkan mereka setelah buang air besar atau Buang Air Kecil.


Namun seiring jalannya waktu. Lelah Ayra terbayarkan ketika kedua anaknya bisa melakukan sendiri dan sekarang di usia pra sekolah telah memiliki rasa malu dan menjaga tubuhnya agar tak dilihat orang lain. Bahkan anak-anak Ayra itu kadang merasa tak nyaman dan ketika berenang di tempat umum. Mereka akan mengatakan.

__ADS_1


"Kenapa mereka tidak malu mama tidak mengenakan baju di tempat umum?"


Ayra yang bijaksana menyampaikan mungkin orang tuanya belum ngaji tentang aurat jadi anaknya belum mengerti. Kalau mama dan Papa sudah pernah belajar bab itu. Dan Ayra juga menjelaskan jika setiap orang tua punya ilmu yang berbeda dan pengalaman yang berbeda-beda. Maka cara mendidik anak pun berbeda. Maka Ammar dan Qiya yang merupakan anak Ayra dan Bram. Maka mengikuti apa yang diajarkan orang tuanya.


Kejadian di toilet itu karena Ammar yang mengerti jika tak ada yang boleh menyentuh bagian intimnya tanpa di dampingi mamanya sontak berteriak sekalipun orang tersebut Rafi. Karena Ayra pernah mengatakan siapapun kalau tak izin atau tak di dampingi oleh Mamanya. Maka pergi atau berteriak. Dan Ammar yang belum istinja memilih berteriak daripada berlari saat Rafi sudah jongkok di hadapannya. Dengan satu tangan telah mengarah ke bagian intim.


Niat hati ingin membersihkan anak Bosnya setelah buang air besar. Malah ia di teriaki.


Rafi tersenyum.


"Om minta maaf kalau begitu. Om kira tadi kamu tidak bisa Sendiri."


"Oh No. Om pikir aku Bilqis yang masih belum sekolah?"


"Hehehe...."


"Ayo Ammar. Minta maaf karena sudah siram om Rafi tadi."


Bram memerintahkan anaknya tanpa dengan suara bentakan.


Putra sulung Bram itu turun dari sofa dengan patuh lalu mengulurkan tangan. Ia men cium punggung tangan Rafi dengan hidung dan mulutnya yang menempel pada punggung tangan orang yang lebih tua darinya. Bukan seperti kebanyakan anak kecil yang men cium mengunakan dahi mereka.


Rafi pun sangat kagum melihat keluarga bosnya. Seorang Kepala keluarga yang berwibawa dihadapan anaknya. Satu kalimat tanpa harus berulang kali mengucapkan, sang anak langsung patuh. Dan anak kecil yang begitu cerdas juga sangat Sholeh. Walaupun memiliki sifat usil pada umumnya anak-anak. Tetapi anak bosnya itu tak kehilangan adab pada orang tuanya.


Satu kebiasaan Ayra pada anak-anaknya agar ketika melihat ketidak adilan atau cerita tentang orang lain akan jadi fitnah jika tak ada bukti. Sehingga akal cerdas Ammar, memilih menggunakan cara mengganti stiker label garam menjadi gula agar sang Papa melihat sendiri kelakuan Lusi bukan berdasarkan laporan tanpa bukti.


Sungguh ungkapan buah jatuh tak jauh dari pohonnya sangat cocok untuk kedua anak Ayra dan Bram. Sungguh seorang ibu yang berilmu sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak, kecerdasan anak.

__ADS_1


__ADS_2