Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
108 Nada Nada Kehidupan


__ADS_3

Sore nanti akan berlangsung acara Yasin dan Tahlil di kediaman nenek Indira. Bram kembali meminta Rafi untuk mengurus semua keperluan untuk acara itu. Sedangkan Bambang ia minta untuk mengurus MIKEL Group.


Terlihat Rafi mondar mandir memberikan arahan pada para pekerja yang menatap kursi untuk acara nanti malam. Belum lagi terlihat beberapa mobil yang masih terus berdatangan mengantar karangan bunga. Ucapan berduka cita.


Saat diluar rumah Asisten CEO MIKEL Group terlihat sibuk. Bos besar dari MIKEL group justru sedang menikmati kelembutan tangan istrinya di bagian dahi dan kepalanya. Dari semalam Bram merasakan sakit kepala hingga siang ini pun masih dirasakan sakit kepala sebelah. Saat suami Ayra itu akan meminum obat dari Krisna, sang istri melarangnya. Ayra menawarkan untuk memijat kepala sang suami.


Bram pun yang sudah dua kali merasakan pijatan dari sang istri hanya menurut saja. Sepeti saat ini, Bram duduk diatas kasur dengan posisi silo. Ayra berdiri dengan lututnya, ia memijat dahi dan pelipis sang suami dari posisi belakang tubuh suaminya. Setengah jam berlalu, setelah Bram merasakan lebih baik.


Lelaki yang merasa terhibur karena sang istri terus saja menggodanya beberapa hari ini. Hingga rasa sedih sedikit berkurang karena kepergian neneknya. Bram yang dulu masa kecilnya paling banyak kenangan bersama sang nenek dibandingkan Beni dan Bambang.


Seperti saat ini ketika Bram mengatakan sudah enakan. Sang istri malah bergelayut dibelakang tubuh Bram. Ayra menempelkan dagunya pada pundak Bram. dan tangan yang ia rangkul pada leher Bram.


"Mas, terlalu banyak mengeluarkan air mata kemarin. Jangan berlarut dalam kesedihan mas."


"Sedih Ay nenek sosok yang sangat baik. Dari nenek aku belajar memikirkan kaum yang lemah. Bahkan program MIKEL grup yang ada di Kalimantan yaitu satu desa satu sumur itu yang punya nenek. Nenek bilang jika kita memudahkan urusan orang. urusan kita juga akan dipermudah.Sekarnahg tak bisa berbuat apa-apa untuk nenek."


"Masih bisa mas. Mas maish bisa mendoakan. Kedua mas masih bisa meminta ampunan untuk nenek. Dan meneruskan kebaikan orang tua kita. Memuliakan orang tua yang masih ada."


Saat mereka sedang bercengkrama terdengar alunan musik dari luar kamar. Di depan kamar bram memang terdapat sebuah piano. Piano itu biasa dimainkan oleh Nenek Indira dan Helena. Bram pun sering memainkan piano itu saat libur sekolah.


"Siapa main piano itu mas?"


"Helena. Itu pasti Helena. Dia pasti sangat kehilangan nenek Ay. Lagu itu juga sering nenek mainkan."


"Iya mama juga cerita jika Nenek adalah orang tua bagi Helena. Ternyata nenek betul-betul berhati baik. Ia mengangkat Helena yang yatim piatu. Padahal orang tua Helena adalah art dirumah ini dulunya ya mas.?"


"Iya Ay. Maka itu kenapa mas dan dia sangat dekat. Aku hanya menganggapnya sebagai adik. Tapi sering ia salah artikan. Aku tak menggubris selama ini kata-kata sayang darinya. Tapi ternyata ia memiliki perasaan. lebih pada Ku. Ay mas bisa minta tolong?"


"Apa mas?"

__ADS_1


"Hiburlah Helena. Dia pasti sedang teringat orang tuanya juga nenek. Lagu itu sering ia mainkan saat ia rindu kedua orang tuanya."


"Maafkan rapuhnya hati ini mas. Sungguh Ayra paham mas menyayangi Helena karena menganggap nya adik. Bukan seperti bisikan yang saat ini menggoda hati Ayra untuk marah."


Melihat Ayra termenung sang suami menyesal mengucapkan kalimat barusan.


"Bodoh kamu Bram. Ayra pasti sedih. Kamu memperhatikan perempuan lain. Dia istrimu, kamu malah meminta istri mu menenangkan perempuan yang jelas-jelas ada rasa untuk mu."


"Kamu marah Ay? Mas tidak bermaksud be-"


"Ssstt. Ayra paham maksud mas. Jika mas tak menjaga perasaan Ayra mas pasti yang akan menenangkan Helena sendiri tak meminta bantuan Ayra. Ayra hanya bersyukur mas mau menjaga hati dan diri mas dari hal-hal yang bisa memicu rasa cemburu Ayra."


"Ah mas begitu beruntung memiliki kamu Ay."


"Ayra juga Beruntung punya suami yang begitu memuliakan perempuan dan mas mau berubah lebih baik. Bahkan Adzan yang mas kumandangkan ketika pemakaman nenek masih terngiang ditelinga Ayra mas. Ayra tak menyangka dalam waktu singkat di sel Mas belajar banyak hal. Ayra ingin berterima kasih pada teman mas bernama Mukhlas itu."


Ayra menganggukkan kepalanya. Ia bangkit dari posisinya. Ia menguncir rambut lalu mengenakan kerudung karena masih terdapat beberapa pekerja dan kerabat nenek Indira di rumah itu.


Bram memilih memejamkan matanya karena kepala yang lebih enak terasa menimbulkan kantuk. Begitu Ayra menutup pintu kamarnya terlihat Helena duduk diatas bangku sambil jari-jarinya memainkan tuts pada piano yang cukup tua. Ayra yang melihat masih adanya sela untuk dirinya duduk disebelah Helena, ia duduk disebelah Helena.


Ayra melihat kertas yang terbuka dan terdapat not not balok yang ia tak pahami. Diatas not itu tertulis Someone you loved (udah author upload di Backsound pesona Ayra Khairunnisa). Sebuah lagu yang sedang Helena mainkan.


Helena menghentikan kegiatannya. Ia menoleh ke arah Ayra.


"Maaf jika mengganggu waktu istirahat mu Ay."


Senyum manis yang Ayra berikan. Ayra mencoba menempelkan jari-jarinya pada tuts piano itu.


"Jreeng... Tiiinng. Jreng..."

__ADS_1


"Hehe.... Aku tak bisa bermain piano seindah nada yang barusan kamu mainkan. Nada barusan terdengar indah dan menenangkan hati Helena."


Ayra usap airmata yang masih mengalir pada kedua pipi sahabat suaminya itu. Ia tarik tangan Helena hingga menyentuh Tuts yang ada pada piano itu.


"Kamu lihat Helena, Seperti piano ini. Anggaplah tiap tuts ini melambangkan sebuah makna kehidupan.


Tuts hitam melambangkan nada mayor dan tuts putih melambangkan nada minor. Untuk menghasilkan alunan nada musik yang indah dan harmonis bahkan selaras, kamu membutuhkan kedua nada yang berasal dari tuts- tuts itu."


Ayra menarik jari Helena hingga menyentuh tuts hitam dan putih bergantian. Helena hanya bisa menahan tangisnya.


"Begitupun kehidupan. Anggaplah Tuts hitam ini mewakili rasa sedih ataupun kecewa dan tuts putih mewakili rasa senang ataupun bahagia.


Walaupun kebanyakan dari kita kadangkala hanya menginginkan tuts putih dalam hidup dan kadangkala kita menolak menerima keberadaan tuts hitam.


Dengan kata lain hanya mau menerima kesenangan tanpa mau merasakan sakit.


Maka piano kehidupan ini tidak akan terasa indah dan tidak akan lengkap tanpa adanya kehadiran tuts hitam. Yakinlah semua akan indah jika kita mengikuti irama kehidupan ini."


"Hiks.Hiks.Hiks."


Helena masih duduk menghadap piano itu. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Ayra.


"Aku tak punya siapa-siapa lagi Ay."


Satu tangan Ayra mengelus pipi Helena. Satunya lagi menggenggam tangan Helena.


"Aku, mas Bram, Mama dan papa adalah keluarga mu. Apakah kamu tak menganggap kami keluarga mu? Aku pun sebenarnya sama seperti mu. Tapi Umi Laila mengajarkan pada ku untuk menjadi pribadi yang baik agar orang tua kita disana tak menangis karena kita anak cucunya yang terus mentransfer dosa bagi orang tua kita yang telah meninggal dunia."


"Ay, maukah kamu mengajari aku cara shalat?"

__ADS_1


__ADS_2