Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
140 Pak Uban dan Taubatnya


__ADS_3

Pak Uban pun akhirnya membuka suaranya. Ia ternyata dulu sering sekali menjadi paparazi untuk Pak Bagas untuk membututi Nuaima. Ia akan memotret beberapa kegiatan Nuaima. Bahkan hari libur Nuaima pun Pak Bagas dapatkan apa yang Manager pemasaran nya itu kerjakan.


Hingga Pak Uban cukup hapal dan paham wajah Nuaima. Hingga cukup dengan beberapa waktu menangis karena perasaan masing-masing akhirnya pak Uban membuka pembicaraan.


"Wajah kalian sangat mirip. Karakter kalian sangat mirip. Yang membedakan kalian hanya satu dari fisik mungkin postur tubuh. Ibu mu lebih tinggi."


"Lantas siapa Pak Bagas?"


"Dia pimpinan ibu anda bekerja."


"Apa dia masih ada sekarang?"


"Ya, dia masih ada. Entahlah dia pernah beberapa kali menemui ku dan terlihat begitu menyesal karena sesaat kejadian naas itu. Ia sebenarnya ingin memberitahu ibu dan ayah mu tentang kendaran ayah mu yang telah aku sabotase beberapa jam sebelumnya. Namun ia bilang ia tak berhasil menyelamatkan ibumu.


Karena peristiwa itu juga ia tak lagi mempekerjakan aku. Hingga aku pun tambah masuk kedalam jurang dosa. Karena candu akan barang haram itu membuat aku hilang semuanya. Istri, anak dan masa depan."


Suara pak Uban terdengar parau. Ayra yang cukup syok dengan berita itu tak banyak bicara. Matanya sembab. Suaranya terdengar bindeng karena cairan yang menyumbat hidung mancungnya.


"Saya mohon maafkan saya. Saya merasa hidup saya di dunia ini tak lama lagi. Uban di rambut ini serta kondisi kesehatan saya yang sekarang sering sakit, cukup meyakinkan saya jika saya tak punya banyak waktu. Begitu pun dengan Pak Bagas. Beliau ku dengar terkena kanker stadium 4."


"Nduuukk.... "


"Mungkin ini adalah salah satu cara Allah menyayangi ku dan dirimu Pak. Ia memberikan aku banyak cobaan di awal pernikahan ku. Hingga suami ku harus menjalani hukuman di tempat ini. Akhirnya aku tahu satu kebenaran dimasa lalu. Dan Allah mempertemukan dirimu dengan suamiku agar tak ada rasa sesal di hati mu kelak jika ajal datang menjemput. Jangan engkau risau akan rasa hati ini. karena sebaik-baik nya orang yang berbuat dosa adalah orang yang segera meminta ampunan pada Allah yang Maha Pengampun."


Ayra menatap Pak Uban cukup tenang. Ia melihat lelaki itu memang menyesali perbuatannya. Bahkan terlihat dari matanya yang sembab karena menangis. Lalu Pak Uban pun merasa kesempatan yang baik ini tak ia sia-siakan ketika bertemu kyai Rohim.


"Lantas bagaimana cara saya bertaubat agar taubat saya diterima Pak Kyai Rohim?"


"Panggil Kang saja biar lebih enak. Usia kita sepertinya tak terpaut jauh."


"Ah. Saya tidak pantas pak Kyai. Anda dan saya bagai langit dan bumi."


"Orang yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Bukan berarti saya pakai pecis pakai sarung ceramah kesana kemari, mengajar kesana kemari lantas kedudukan saya di mata Allah lebih tinggi dari anda pak."


"Takwa itu apa pak Kyai?"


"Takwa itu menunaikan berbagai kewajiban kita dan menjauhi maksiat. Kalau boleh mengutip sebuah ceramah ulama di tanah Jawa. Hidup sebagai umatnya Rasulullah di akhir zaman ini. Dengan kita tak berbuat maksiat itu sudah luar biasa Pak."


Pak Uban terlihat manggut-manggut.


"Lantas Apakah taubat saya akan diterima oleh Allah?"


"Ada tiga hal yang mungkin bisa bapak tanamkan dalam hari. Yaitu Pertama, menyesali kesalahan yang telah dilakukan. Kedua, meninggalkan kesalahan dalam keadaan apapun dan ketiga menetapkan atau berjanji tidak akan mengulangi perbuatan maksiat serupa."


Kyai Rohim melirik ke arah Ayra. Ia yang paham bahwa anak nya itu sedang bersedih maka Ia mengajak pak Uban ke tempat lain.


"Pak. Saya ingin merokok. Coba kita ke arah sana. Kita bisa berbagi pengalaman dan cerita."

__ADS_1


Beberapa kali Kyai Rohim memainkan bola matanya ke kiri-kanan hingga pak Uban paham maksud Kyai Rohim. Ia setuju hingga ia kembali meminta maaf pada Ayra dan Ayra hanya mengangguk pelan dan tersenyum.


"Semoga saya pun diampuni setiap dosa yang saya perbuat dengan sadar atau tidak saya sadari pak."


"Terimakasih nak. Aku berjanji, aku akan menjagamu suami mu ini selama dia disini. Dan kamu harus sehat dan sabar. Hihihi... Hei bocah tengil lepaslah rindu mu pada istrimu. Kamu tahu nak. Dia hampir setiap malam membuat aku terjaga. Karena sering mengingau nama mu. Hihihi... "


"Pak Ubaaannnn.... !"


"Massss..."


Pak Uban cepat mengikuti Kyai Rohim yang terlebih dahulu meninggalkan Ayra dan Bram. Karena ia bisa melihat kedua bola mata Bram seperti mau keluar saat menatapnya.


Berkali-kali Ayra menarik napas dan menghembuskannya.


"Masih sesak dadanya?"


"Tidak."


"Sungguh?"


Ayra mengangguk pelan. Ia melihat tas hijau yang berisi kotak nasi yang terjatuh tadi sempat di ambil Pak Uban. Ia membuka tas hijau itu.


"Mas betul minta ini?"


Bram yang mendengar suara istrinya masih bindeng cepat mengambil tisu.


"Hembuskan"


Namun tangan Bram lebih dulu memencet hidung istrinya itu dengan tisu.


"Hembuskan.... Atau aku akan memencet nya terus?"


"Maaasss.... "


"Hembuskan Ayra Khairunnisa istriku yang cantik, yang manis...."


Seketika wajah Ayra merona. Akhirnya ia menuruti kemauan suaminya itu.


Bram membuang tisu itu kedalam plastik.


"Aku mau disuapi. "


"Mas. Malu banyak orang."


"Tadi ada yang tidak malu menangis tersedu-sedu didalam pelukan ku."


"Maaaasss.... "

__ADS_1


"Iya Sayaaaaang..."


Ayra menggeleng-gelengkan kepalanya dan segera mencuci tangannya. Ia menyuapi Bram dengan menu tempe penyet yang di buat oleh Kyai Rohim sendiri. Karena ketika Ayra akan membuatnya. Umi Laila melarang. Karena biasanya rasa yang diingin jelas rasa pertama kali memakan makanan itu. Dan Saat Bram memakan tempe penyet itu adalah masakan Kyai Rohim.


"Enak?"


Bram mengunyah dengan pelan karena menikmati rasanya. Kepalanya terlihat manggut-manggut.


"Hemmm.... Enak.... aku beberapa hari ini membayangkan makan tempe penyet ini Ay. Sayang tak ada piring untuk memenyet nya.


"Ulekan?"


"Ya itu.... Uletan."


"Hehehe.... Bukan Ulet Maaasss. U-L-E-K-A-N. Ulekan."


"Akhirnya dari tadi aku rindu senyum dan tawa mu Ay. Baru terlihat dan terdengar."


Kembali Ayra menyuapi suaminya itu. Hingga menu itu habis. Bram seakan masih kurang pun bertanya apa resepnya.


"Ay. Yang masak Abi?"


"Iya, tadi tidak boleh sama Umi. Katanya nanti beda rasanya. Memang mas ngidam?"


"Ngidam? Kan yang hamil kamu Ay?"


"Hehehe.... Ayra belum merasakan ingin makan apa-apa mas Sampai sekarang. Kadang Umi Suka tanya. Katanya jangan di pendam kalau ingin makan apa. Tapi kata umi tadi sepertinya mas mengalami proses mengidam itu."


"Betulkah? Jika bisa begitu. Biar mas saja yang merasakan mual muntah. Kamu tidak usah Ay."


"Mas tahu darimana?"


"Dari Rafi.... "


"Sepertinya Ayra tahu kenapa mas suka marah-marah sama asisten mas itu."


"Hehehe.... Kenapa?"


"Karena Ia tidak bisa menjaga janji dan ucapannya. Tadi sudah Ayra pesankan untuk jangan bilang apapun terkait Ayra."


"Justru karena dia menceritakan Mas akan minta Mama untuk pulang. Aisha untuk pulang."


"Loh. Apa hubungan Aisha mas?"


"Thesis mu biar Aisha yang mengerjakan."


"Maaaasss.... "

__ADS_1


Bram memberikan irisan timun di mulut Ayra dengan sebuah timun yang masih tersisa di kotak bekalnya tadi.


"Hehehe....biar ga Cerewet."


__ADS_2