
Ayra menanti Bram didalam mobil mertua lelakinya. Pak Erlangga yang telah tiba di tanah air setelah mendengar kabar bahwa Rani melahirkan dan tidak sadarkan diri memutuskan pulang ke Indonesia. Baru tiba di Indonesia sore hari. Tengah malam ia mendapat kabar Bram lapas yang dihuni Bram terbakar. Hingga kini ia dan istrinya menemani Ayra tak jauh dari tempat kejadian.
Hampir dua jam mereka disana. Menanti pemadam kebakaran berusaha menjinakkan api. Mobil pemadam kebakaran entah telah berapa kali mondar mandir berganti untuk kembali mengisi Tanki air. Ayra yang masih duduk lemas di dalam mobil itu. Hatinya yang yang terus bermunajat untuk keselamatan suaminya. Namun kedua matanya tak mampu berhenti meneteskan butiran air mata. Walau bibir itu terkatub tetapi hatinya terus bertasbih.
Umi Laila dan Nyonya Lukis duduk disisi Ayra. Pandangan Ayra masih tertuju pada kobaran api dari gedung lapas itu. Asap hitam yang mulai tak sebanyak tadi membuat hati Ayra berharap suaminya keluar dari gedung itu dengan selamat.
Saat mereka yang diluar berusaha memadamkan api. Pak Uban justru sedang menyirami gudang yang berukuran tak terlalu besar tapi terpisah dari gedung yang terbakar. Pak Uban dan Bram dari tadi sibuk menyiram gudang tempat dua lelaki yang mereka letakkan di dalam gudang. Setelah tak ada lagi air dari dua tedmon berwarna oranye itu. Bram dan Pak Uban masuk kedalam gudang itu.
"Semoga api cepat dipadamkan. Setidaknya kita bisa menahan api untuk melahap gudang ini jika memang angin mengarahkan api ke mari. Hhhh.... "
Pak Uban tampak tersengal-sengal karena ia merasa lelah dari tadi mengangkut air untuk menyirami gudang yang belum terbakar itu. Bram melihat sipil yang ia gendong tadi. Bram mengendurkan baju dan bagian celana lelaki paruh baya itu. Ia meninggikan posisi kepala lelaki itu agar mudah mengambil napas.
Mereka masih bisa bernapas karena asap mengikuti angin yang membawanya ke arah lain. Lelaki yang tadi di gendong Pak Uban menangis.
"Hiks... Hiks... Istri saya sedang hamil ya Allah tolong selamatkan saya."
"Heh! Kamu pikir hanya kamu yang punya istri? Aku pun punya istri."
"Terimakasih telah menolong saya."
"Aku tak butuh terimakasih mu."
Bram seketika mengingat Ayra. Ia yakin istrinya itu pasti telah mendapatkan kabar tentang kebakaran ini. Ia yang merasa hampir beberapa jam mereka di dalam gedung itu. Rasa lelah pada tubuh mereka membuat mereka hampir tertidur namun saat mereka mendengarkan ada suara orang-orang yang mendekat. Pak Uban cepat keluar dari gudang.
Ternyata beberapa petugas berhasil memadamkan api sedang mencari korban yang selamat atau berada di bawah puing-puing. Para Pemadam Kebakaran itu tak menyangka melihat Pak Uban yang melambaikan tangan nya.
"Kami disini? Hei. Kami disini. Ada yang terluka."
Dua orang petugas pemadam kebakaran mendekati mereka lalu memanggil tim mereka melalui HT yang mereka bawa. Bram meneteskan air mata bahagia. Ia merasa bersyukur kembali diberikan kesempatan untuk mempersiapkan bekal jika panggilan itu datang.
Bram memeluk Pak Uban. Ia menangis terisak karena tak menyangka jika akan selamat dari amukan si jago merah yang terlihat begitu ganas melahap lapas itu. Hanya dinding-dinding yang tersisa. Beruntung Pak Uban yang hapal seluk beluk Lapas itu membuat mereka selamat karena bertahan di gudang ini daripada menerobos api yang telah menyala hebat di gerbang keluar.
Saat dua Sipir tadi dibawa keluar. Pak Uban berbisik pada Bram.
"Kamu tidak rindu Ayra?"
"Sangat Pak Uban. Besok ulang tahunnya. Mungkin keselamatan ku hari ini adalah hadiah ulang tahun dari Allah untuk dia."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya. Aku tidak lupa."
"Jika bisa membuat dia bahagia di hari ulang tahunnya kamu harus merasakan sakit. Apakah kamu akan melakukannya?"
Pak Uban menahan pundak Bram saat mereka akan keluar dari gedung itu mengikuti para petugas pemadam kebakaran yang sedang membawa tandu yang terdapat para sipir yang terluka dan tak sadarkan diri tadi.
"Tak mengapa. Aku yakin hari ini dia meneteskan banyak airmata."
"Sini. Aku ingin memberikan kado untuk istri mu itu."
Bram yang tak menyangka akan tindakan Pak Uban cukup kaget ketika satu balok di hantam cukup keras ke pelipisnya. Hingga Darah segar mengalir dari pelipis Bram.
"Buuuughh!"
"Aaawww.... Ssssst.... "
Bram meringis kesakitan.
"Brengsek kau Pak Uban!"
"Hihihi... Tadi kau bilang tak apa-apa sakit sedikit. Ku pastikan nanti malam kamu akan bersama Ayra di rumah sakit. Kalau kau tidak terluka maka kamu akan ikut aku ke tempat baru. Lepaskanlah rindu mu. Semoga kita kembali bertemu di sel yang sama."
Bram menghapus darah yang menutupi separuh wajahnya. Beberapa detik ia baru paham maksud Pak Uban.
"Tinggal berobat toh. Gitu aja kok repot Hihihi.... "
"Dasar..... "
"Sabar Bram..... "
Bram menahan napasnya. Mereka berjalan keluar dari gedung itu. Petugas medis cepat menyambut mereka. Saat melihat darah segar mengalir dari pelipis Bram. Ia langsung di Bawa ke ambulan sedangkan Pak Uban langsung di borgol dan masuk ke dalam satu mobil hitam yang biasa membawa tahanan. Pak Uban melambaikan tangannya yang terborgol pada Bram yang melongo tak percaya ternyata prediksi pak Uban betul.
Saat Pak Uban akan masuk kedalam mobil yang akan membawanya ke lapas baru. Keluarga Pak Erlangga dan Kyai Rohim terlihat cepat berlari ke arah dirinya. Begitupun Ayra, ia cepat menghampiri Pak Uban. Banyaknya aparat polisi, petugas pemadam kebakaran disertai para awak media membuat Ayra tak melihat jika Bram dibawa masuk kedalam ambulan.
"Pak Jamal.... Mas Bram.... Mas Bram dimana Pak? Hiks...."
Suara Ayra terdengar lirih ketika menghampiri Pak Uban.
"Dia di dalam ambulan itu. Dia terluka nak. Cepatlah sebelum mobil itu membawanya."
__ADS_1
Ayra cepat berlari kearah mobil ambulan yang dimaksud Pak Jamal alias Pak Uban itu. Ayra berlari tanpa ingat jika dirinya sedang dalam keadaan hamil. Ia mencemaskan kondisi Bram. Kata-kata terluka dari Pak Uban membuat istri CEO MIKEL Group itu merasa sangat khawatir akan kondisi suaminya.
Umi Laila dan Nyonya Lukis pun cepat berlari mengejar Ayra.
"Ayra.... "
"Nduuukk.... "
Saat pintu ambulan tersebut akan ditutup, Ayra berteriak sambil terisak.
"Tungguuuu.... "
Seorang lelaki yang memakai baju perawat berhenti menutup pintu itu dari dalam.
Ayra cepat masuk kedalam ambulan itu. Bram yang ingin membuat istrinya tertawa sengaja memejamkan matanya. Hingga ketika Ayra telah berada didalam mobil tersebut, ia langsung memeluk Bram. Darah yang masih mengalir di pelipis Bram pun ia hapus dengan tangannya. Jari-jari lembut Ayra mengusap darah itu namun masih saja menetes.
Lalu Ayra menahan aliran darah itu dengan jilbabnya. Ia makin menangis tersedu-sedu karena suasana hati yang bercampur aduk. Rasa bahagia karena masih bisa melihat suaminya. Bahagia karena suaminya selamat. Sedih karena melihat wajah yang dipenuhi oleh noda hitam serta darah yang tak berhenti menetes.
"Mas.... Mas..... "
Ayra merebahkan kepalanya di dada Bram seraya satu tangannya menahan pelipis Bram yang terus berdarah. Bram membuka kedua matanya. Ia memberikan kode pada perawat yang melihat Bram yang memang tadi sadar tiba-tiba memejamkan mata lalu sekarang membuka matanya lagi dan menutup bibirnya dengan satu jarinya. Satu anggota polisi cepat menarik perawat tadi keluar. Sehingga pintu ditutup dan dikunci dari luar.
Ayra masih menangis di pelukan Bram. Ia tak sadar jika sang suami sedang mendengarkan rintihannya.
"Hiks.... Aku bersyukur mas. Allah masih memberikan mas umur untuk bisa keluar dengan selamat. Sungguh Allah Maha Besar bisa menyelamatkan Mas dari besarnya kobaran api tadi. Terimakasih karena mas berusaha untuk tetap ada untuk Ayra. Hiks...."
"Doa mu Ay. Doa mu yang membuat mas kuat untuk tetap berusaha sehat dan selamat."
Satu usapan Bram berikan pada kepala Ayra. Seketika Ayra mengangkat kepalanya dari dada Bram. Ia melihat suaminya tersenyum dan dua alisnya ia naik turunkan.
"Maaaasss..... Jahat ya. Istri lagi sedih sempat-sempatnya becanda? Hikss.... Tega ya sama istri sendiri.... "
Ayra memeluk erat Bram sambil terisak.
"Hehe... Kalau tidak begini mana bisa lihat istri mas menangis sambil tersenyum"
"Nakal ya... "
"Ampun Ay... aduh... duh... aduh... Ampun Ayra sayang.... "
__ADS_1
"Hehe.... Ayra bahagia sekali mas."
Kali ini sang suami yang memberikan pelukan hangat pada istrinya.