Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
182 Teriakan Alifah


__ADS_3

Saat akan bersiap-siap untuk meninggalkan kediaman Aisha, Hujan lebat mengguyur desa Aisha. Dikarenakan akses jalan untuk keluar masuk desa Aisha masih banyaknya yang belum di aspal, membuat perjalanan akan begitu sulit karena lumpur.


Bahkan sering banyaknya kendaraan yang terjebak di genangan lumpur membuat beberapa orang yang akan keluar dari desa itu lebih memilih menunda perjalanan mereka. Kondisi Ayra yang sedang hamil, membuat Aisha meminta Bosnya itu menunda kepulangan mereka.


"Khawatir nanti di jalan mobilnya ke parter pak. Kasihan Bu Ayra."


Bram melihat ke arah istrinya yang sedang menengadahkan tangannya memainkan air hujan dari teras rumah Aisha.


"Ay? Bagaimana?"


"Ayra ikut apa kata mas."


"Ya Sudah, kita menginap saja bagaimana?"


"Kami tidak merepotkan kamu Aish?"


"Tidak Bu.... Saya malah senang. Ibu dan Bapak bisa menginap. Suatu kehormatan buat saya dan adik-adik."


Aisha bergegas menuju kamar nya. Ia akan menyiapkan kamarnya agar bisa menjadi tempat beristirahat bos nya. Namun saat Aisha dan Lilis sedang mengganti seprai di kamarnya. Sebuah teriakan dari Alifah membuat penghuni rumah segera berhamburan ke arah dapur yang terdapat kamar mandi di sudut ruangan tersebut.


"Aaaaaaa.... Kakak.... Kak Lilis... Kak Aish....."


Aisha dan Ayra cepat berlari ke arah dapur. Rafi dan Bram yang sibuk dengan ponsel mereka, juga ikut berlari.


Aisha memanggil adik bungsunya yang berada didalam kamar mandi.


"Ada apa Lifah?"


"Kak... Hiks.... Hiks...."


Lilis ikut memanggil nama Lifah. Ia khawatir terjadi apa-apa dengan si bungsu.


"Ada apa dek? Apa ada ular lagi?"


"Kak.... Hiks...."


Bram mendekat ke arah Ayra.


"Kita dobrak saja pintunya Ay?"


"Jangan mas....."


Aisha yang membenarkan posisi tongkatnya. Ia menyadarkan kepalanya di pintu kamar mandi.


"Lifah. Buka pintunya. Biar kakak masuk."


Seketika pintu terbuka sedikit. Aisha masuk kedalam kamar mandi. Lilis dan yang lainnya menunggu diluar. Tak berapa lama, dua kakak beradik itu keluar dari kamar mandi.


"Ada apa kak?"


Lilis tak sabar dengan perihal yang terjadi pada adiknya. Sedangkan Alifah tertunduk. Aisha menarik satu kursi dan duduk. Nurul yang baru dari arah belakang juga ikut duduk disisi Aisha.


"Ndak ada apa-apa."


Bram dan Rafi yang mendengar tidak terjadi apa-apa, kembali ke ruang tengah. Lilis kembali bertanya pada kakaknya.


"Kalau Ndak ada apa-apa kok teriaknya begitu?"


Aisha sedikit berbisik kepada kedua adiknya, Nurul dan Lilis. Namun bisa didengar jelas oleh Ayra perihal yang membuat adik Aisha itu menjerit histeris dibalik pintu kamar mandi saat ia setelah mandi.

__ADS_1


"Alifah sudah gadis sekarang. Dia haidh, Lilis punya stok pem ba lut? Ambilkan satu buat Alifah."


"Hah? kok Lifah sudah haid. Aku belum loh kak."


Nurul yang sekarang duduk di kelas tujuh Sekolah Menengah Pertama di desanya merasa aneh, karena dia yang lebih tua dari Alifah belum mendapatkan haid.


Ayra mengernyitkan dahinya. Ia menatap Kakak beradik itu. Namun ia tak ingin memberikan penjelasan sekarang karena Lilis dan Aisha belum mandi setelah pulang dari makam.


"Nurul belum Haidh?"


"Belum Kak?"


"Hust... Yang sopan. Panggil Ibu, Bu Ayra ini pimpinan kakak."


"Tidak perlu, kalian bertiga panggil kakak dengan panggilan kakak saja ya. Sama seperti kalian memanggil Aisha."


"Begini saja, nanti malam bagaimana kalau kita tidurnya bareng-bareng. Nanti, kakak akan kasih penjelas sedikit bab Haid. Aku juga rindu suasana waktu mondok dulu Aish."


"Tapi Bu?"


Aisha sedikit mengerutkan dahinya.


"Tidak ada tapi-tapian, biar nanti mas Bram tidurnya sama Rafi."


"Dikamar Kita aja kak. Nanti kita tambah kasurnya."


Lilis merasa senang karena sedari proses dimakamkan tadi, Ayra selalu menemani dia sehingga ia merasa kehangatan seorang kakak selain dari Aisha. Ibu mereka yang hanya dua bersaudara dengan Pak Le nya, membuat mereka tak punya keluarga lain. Belum lagi istri Pak Lek nya yang tidak terlalu menyukai keluarga mereka. Membuat hubungan mereka tak terlalu akrab.


Saat waktu istirahat tiba, terlihat dikamar Lilis telah terbentang kasur di atas lantai. Aisha memilih tidur di dekat dinding diapit oleh Nurul dan Alifah. Sedangkan Lilis berada disisi Ayra. Bram dan Rafi istirahat di kamar Alifah dan Nurul.


"Memangnya Ibu dulu di pondok tidurnya begini? "


"Iya. Waktu masuk kuliah, baru sama Umi dan Abi boleh pulang. Tapi tetap bantu-bantu pondok."


Ayra menoleh ke arah Lilis yang berada di sebelahnya. Ia lalu duduk dan merapikan rambutnya.


"Cantik sekali kak Ayra ini."


Lilis menganggumi kecantikan teman kakaknya yang kini tidak mengenakan kerudung di dalam kamar. Ketiga kakak beradik itu pun ikut duduk menghadap Ayra. Sedangkan Lilis duduk di sebelah Ayra. Ayra merangkul gadis yang sebentar lagi akan segera berusia 18 tahun itu.


"Ehm... Jadi begini. Kakak tanya sama Lifah. Sekarang usianya berapa?"


"Lima bulan lagi Lifah Pas 9 tahun kak."


"Nah, Sering di kalangan kita perempuan ini akan menghukumi setiap darah yang keluar itu adalah darah Haid. Seperti yang Alifah alami tadi. Tapi tidak semua darah yang keluar dari ke ma lu an kita. Itu hukumnya Haid.


Haid memang salah satu tanda jika seseorang mencapai usia baligh. Namun untuk perempuan dihukumi baligh apabila telah genap berusia 15 tahun Hijriyah. Kedua keluar Spe rma atau ma ni setelah berumur 9 tahun Hijriyah. Ketiga, keluar darah Haid setelah berumur 9 tahun Hijriyah kurang sedikit (16 hari tidak genap)."


"Maksudnya yang ketiga kak?"


Lilis menyimak dengan antusias. Ia baru mendengar tentang hal ini. Setahu dia sama seperti Aisha tadi. Jika perempuan keluar darah berarti itu adalah haidh.


"Maksudnya dari 16 hari tidak genap adalah waktu yang tidak cukup untuk minimal nya haid. Karena Haid itu minimal waktunya 1 hari satu malam. Jadi Alifah belum dikatakan haid melainkan istihadho. Kerena Lifah belum berusia 9 tahun Hijriyah kurang sedikit (16 hari tidak genap) atau berusia 8 tahun lebih 11 bulan 14 hari lebih sedikit."


"Wah masih ga mudeng kak Ayra."


Nurul menggaruk-garuk kepalanya. Ayra sedikit memajukan posisi duduknya sehingga sedikit mendekati Nurul.


"Ndak apa-apa, ini buat pengetahuan dulu. Sebenarnya kita perempuan wajib atau hukumnya Fardhu 'Ain untuk belajar dan mengerti masalah yang berhubungan dengan haid, nifas, istihadho. Karena akan mempengaruhi dengan ibadah kita. Contoh seandainya seperti kak Aisha kemarin kan jatuh, nah ada darah yang keluar dari bagian In tim nya. Apakah itu haidh atau istihadho?"

__ADS_1


"Istihadho apa lagi kak?"


Ayra mengusap kepala Nurul.


"Istihadho itu darah yang keluarnya sebab penyakit atau darah yang keluarnya menyalahi batas-batas ketentuan Haid dan nifas."


"Berarti saya kemarin itu bukan haid ya Bu?"


"Nah ini dia yang agak njlimet. Harus banyak yang dibahas untuk tahu darah yang keluar tadi itu darah Haid apakah darah istihadho? Karena ketika kita menganggap kita haid tapi ternyata yang keluar adalah darah istihadho. Padahal ketika yang keluar adalah darah istihadho. Maka wajib bagi kita perempuan untuk mengaji pada mereka yang berilmu bab Haid, nifas dan istihadho ini. Kalau di pesantren ini dibahas ada kitabnya."


"Waduh, saya dari kemarin ga shalat blas Bu. Ngertinya saya, saya haid."


"Disinilah kenapa kita diwajibkan untuk belajar bab Haid, Nifas dan Istihadho ini. Karena rawan dengan keabsahan ibadah kita seperti shalat. Terlebih kalau nanti sudah menikah, dan pakai KB."


Aisha mulai tertarik dengan pembahasan Ayra tentang hal yang tak pernah ia pelajari di sekolah. Karena ia memang bukan alumni pondok pesantren.


"Tapi saya pernah baca artikel katanya KB itu haram Bu?"


Ayra menatap Aisha dan kembali menjelaskan tentang haid.


"Jadi begini, menurut kakak nih ya. Wajar jika ada sebagain ulama yang mengharamkan KB. Bukan ke KB nya yang haram. Tapi lebih ke kita nya perempuan. Ketika kita menggunakan KB tetapi tidak paham ilmu tentang haid dan istihadho. Maka akan terjadi rawannya kita dalam keseharian di ibadah kita.


Keabsahannya, contoh saat kita menganggap bahwa kita haid ternyata kita bukan haid, melainkan istihadho. Dimana kita jadi meninggalkan shalat lima waktu. Ada lagi ketika KB itu kan ada siklusnya yang cuma sedikit-sedikit keluar.


Ternyata kita shalat ketika kita menganggap kita sudah suci, padahal kita masih haid. Disini ada banyak yang harus kita pelajari untuk menyatakan kita haid, atau kita istihadho. Itu kenapa menjadi wajib bagi kita untuk belajar Masalah ini.


Terlebih jika sudah menikah, ada kegiatan bersama suami yang bernilai ibadah dan tidak boleh dilakukan saat Haid karena haram hukumnya tapi karena kita ga punya ilmu, kita malah melakukannya saat kita haid."


"Aduh. Ribet ya Bu ternyata jadi perempuan."


"Tidak ribet kalau kita mau belajar. Nah, buat Lilis, Nurul dan Alifah sekarang kan Ibu sudah tidak ada lagi. Bagaimana kalau nanti sekolah dan mondok saja di tempat Umi dan Abi nya kak Ayra? Biar bisa nih, belajar bab Haid, nifas, istihadho dan lain-lain. Insyaallah, Ibu kalian akan senang jika anak-anaknya menjadi anak sholehah dan cerdas."


"Alifah Ndak mau mondok kak. Katanya di pondok itu ga enak."


Alifah langsung memeluk Aisha.


"Kakak akan bersama kalian. Kakak akan merawat kalian."


"Kalau disana bisa sambil kerja kak?"


Lilis menatap Ayra penuh tanya.


"Kenapa harus kerja. Kuliah dong, zaman sekarang santri itu ga harus cuma ngaji aja. Harus sekolah yang tinggi biar bisa mengabdi pada negeri ketika bangsa ini membutuhkan kita di bidang yang kita pahami."


Lilis menatap Aisha.


"Lilis mau ikut saran kak Ayra. Boleh kak?"


Aisha menatap Lilis. Ia tak tahu harus berkata apa namun mereka baru saja kehilangan ibu mereka. Ia belum terpikirkan tentang perihal akan kemana mereka kedepan. Meninggalkan ketiga adiknya di desa tidak mungkin. Apalagi harus meninggalkan mereka dengan buk lek yang tak menyukai mereka dari dulu.


Aisha yang telah terlanjur menjual rumahnya lewat jual beli online dengan maksud untuk modal ia membuka usaha butik sendiri. Namun musibah datang bersamaan.


"Besok kita ngobrol lagi ya Lis. Kita akan musyawarahkan. Tapi percayalah, kakak akan merawat kalian walau Ibu telah tiada. Kalian harus mewujudkan cita-cita Ibu. Agar selesai pendidikannya minimal SMA. Doakan kakak agar selalu sehat dan kuat."


Lilis yang melihat air mata dipipi kakaknya cepat berjalan menggunakan lututnya dan memeluk sang kakak. Nurul dan Alifah pun ikut menangis.


"Kami akan belajar sungguh-sungguh kak. Kami tidak akan mengecewakan kakak. Maafkan kami selalu menyusahkan kakak dari dulu."


"Kakak tidak pernah merasa diberatkan oleh kalian. Sudah menjadi tanggung jawab kakak. Kakak menyayangi kalian. Insyaallah kakak tidak akan berubah sekalipun kakak menikah nanti."

__ADS_1


"Inikah alasan kamu belum terpikir untuk menikah Aish? Semoga kamu bertemu lelaki yang mampu menerima kamu dengan tanggung jawab mu sebagai anak tertua namun dengan keridhaan suaminya agar bisa ikut merawat adik-adik mu Aish. Karena akan sulit bagi mu untuk tetap membiayai adik-adik mu disaat suami mu kelak tak mengizinkan."


Aisha yang mengerti jika setelah menikah kadang akan menjadi buah simalakama bagi seorang istri disaat suami melarang satu hal sedang hati ingin melakukannya. Seperti apa yang tentu menjadi momok yang dikhawatirkan oleh Aisha sehingga ia tak menikah dalam usianya yang hampir 25 tahun.


__ADS_2