Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
174 Cemburu itu Wujud lain dari Cinta


__ADS_3

Bram menghela napasnya pelan. Ia melirik wajah istrinya. Bram yang mulai paham bagaimana karakter istrinya itu berharap istrinya tidak marah.


"Satu, Dua, tiga, empat, li-"


Belum Sampai Bram menghitung sampai hitungan ke lima. Ayra sudah menarik sudut bibirnya. Bram pun tersenyum lega.


"Maaf.... Bukan maksud membahas masalalu."


Ayra yang telah selesai membasuh wajahnya, cepat berlalu dari ruangan itu. Tanpa Bram sadari bahwa Ayra juga hanya manusia biasa. Ia juga ada rasa sedih atau cemburu. Beruntung Ayra memiliki bekal untuk mengelola rasa yang ada dihatinya.


"Ya, Ayra paham. Masalalu bukan untuk dilupakan. Bahkan untuk melupakan masa lalu memang dibutuhkan suasana baru dengan yang baru."


Bram menarik tangan Ayra. Sehingga istrinya berbalik dan ia peluk tubuh mungil istrinya itu.


"Bibir mu bisa menyunggingkan senyum Ayra. Wajah mu bisa menutupi apa yang kamu rasakan tapi detak jantung kamu tidak akan bisa berbohong. Ia mengatakan jika hati mu terasa sakit atas ucapan ku. Aku minta maaf, karena waktu yang mendadak. Aku terpaksa membawa kamu kemari. Dan kembali membahas masalalu ku."


Ayra memejamkan matanya dalam pelukan sang suami. Ia bersyukur, Bram yang terlihat cuek, jutek, kaku dan dingin di awal pernikahannya. Kini lelaki itu mengerti perasaan Ayra yang ia coba untuk tutupi dari sang suami.


"Untuk melanggengkan sebuah cinta dalam hati. Maka dibutuhkan sebuah rasa cemburu mas."


Ayra mengusap dada suaminya yang selalu membuat ruang hati yang selama ini kosong, kini terisi satu nama yang nyaman akhir-akhir membuat nya nyaman berada dalam dekapan sang suami.


"Cup"


Bram mendaratkan satu kecupan di kepala Ayra.


"Mas senang, kamu selalu pandai menempatkan rasa cemburu mu Ay."


Satu pasang suami istri yang belum lama merasakan indahnya sebuah pernikahan lewat sentuhan. Malam itu menikmati malam yang indah di apartemen itu. Semua yang Aisha siapkan membuat sepasang suami istri itu merasa seperti honeymoon kedua di sebuah apartemen yang hanya memiliki satu kamar itu.


Saat di sepertiga malam, Ayra terjaga. Saat ia selesai mandi, Ia yang merasa lapar cepat membuka kulkas yang cukup besar di bagian dapur. Ia melihat satu catatan di dalam kulkas tersebut. Tulisan tangan asisten nya yang tidak lain adalah Aisha. Ia membaca pesan tersebut.


..."Bu, besok ulang tahun pak Bram. Ini sudah saya siapkan cake untuk Pak Bram. Mudah-mudahan ibu dan bapak menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah dan bapak diberikan umur yang panjang sehingga bisa terus bersama Ibu.🙏"...


...Satu cake kecil terlihat berbentuk love tertulis....


...Mabruk Alfa Mabruk My lovely Husband....


"Aisha.... Aku saja tidak ingat jika hari ini hari lahir mas Bram. Kamu sungguh Asisten yang baik. Bagaimana kamu berusaha ikut menjaga satu kebahagian dari orang disekitar mu. Semoga kamu pun bertemu dengan orang yang juga bisa mencintai kamu dengan niat beribadah Aish."


Ayra tidak jadi memasak. Ia melirik ke arah jam yang terletak sebelah kulkas. Ia lalu meletakkan di sebelah tempat suaminya tidur. Ia membangunkan Bram dengan mengusapkan jari-jari lembutnya ke wajah sang suami. Cepat Bram menahan pergelangan tangan Ayra karena merasa diganggu.


"Kamu baru mandi Ayra... Kamu mau mandi dua kali? karena mengganggu ku?"


"Mas masih mengantuk?"


"Hem."


Bram berbalik dan memeluk tangan sang istri.


"Bangun dulu sebentar Mas."


"Kenapa dulu sayang?"


"Boleh, Ayra puasa besok?"


"Apa? Kenapa harus puasa? kamu lagi Hamil Ay."


Bram membukakan kedua matanya.


"Tidak usah puasa Ay."

__ADS_1


"Ya. Kalau mas tidak mengizinkan. Ayra tidak jadi puasa."


"Kenapa harus puasa?"


Ayra sedikit beranjak ke arah tempat lemari yang ada di sebelah tempat tidurnya. Ia meletakkan cake berbentuk love itu dihadapan Bram.


"Mabruk Alfa Mabruk mas. Ayra harap mas sehat selalu, selalu diberikan keberkahan. Diberikan ketetapan iman."


Bram melihat cake yang Ayra berikan.


"Kapan kamu menyiapkan nya?"


"Aisha. Ia menyiapkan semuanya. Maafkan Ayra.... Ak-"


"Ssssttt.... Mas bukan lelaki yang butuh diberikan perhatian berupa kejutan atau hadiah Ay. Dengan kamu mau tetap disisi mas disaat mas dianggap bersalah, disaat semua caci maki tertuju pada mas. Itu adalah suatu anugerah buat mas. Jangan pernah berubah Ay."


Bram memotong sebagian cake tersebut dan mengambil dengan tangannya dan ia berikan satu suapan pada Ayra.


"Katanya mau puasa besok? Kenapa?"


"Boleh?"


"Kenapa harus minta izin?"


Bram mengelap sudut bibir Ayra yang terdapat sisa cokelat. Lalu ibu jarinya ia bersihkan menggunakan mulutnya. Ayra tersipu malu. Satu tindakan kecil yang selalu mampu membuat Ayra merasakan kehangatan dala. rongga hatinya.


"Ayra khawatir jika Mas membutuhkan Ayra. Mas harus menahan sesuatu yang menjadi kebutuhan mas. Sedang Ayra ingin berpuasa besok. Besok hari Senin, kebetulan bertepatan dengan hari lahir Ayra."


"Besok Selasa Ayra."


Ayra mengernyitkan dahinya. Ia yang lupa jika jam telah menunjukkan bahwa saat itu telah masuk hari Senin.


"Senin mas."


"Mas......!"


Ayra sontak kaget karena Bram menarik tubuhnya. Cake yang di tangannya hampir jatuh karena gerakan mendadak suami Ayra itu.


"Ini sudah masuk hari Senin."


Bram memeluk erat sang istri Ayra pun seketika tertawa.


"Hehehe.... Kamu betul."


Seketika Bram dan Ayra saling pandang. Bram baru kali ini merasakan gerakan di perut istrinya itu. Satu gerakan seperti pukulan kecil.


"Dia bergerak mas...."


"Iya Ay. Aku bisa merasakannya."


Bram merubah posisinya. Ia duduk di hadapan Ayra. Lalu wajahnya ia dekatkan di hadapan perut Ayra yang terlihat sedikit besar.


"Anak Papa senang?"


Seolah buah hati merasa senang karena suasana hati ibunya juga merasakan hal yang sama.


"Dia merespon Ay...."


Sudut mata Bram berair. Wajah nya sangat bahagia. Ia baru kali ini merasakan pergerakan dari sang buah hati. Berbeda dengan Ayra yang sudah terbiasa jika sewaktu-waktu ada gerakan mendadak dari dalam perut yang mulai sedikit membuncit itu.


"Berarti betul kata mu tempo hari. Amat penting menjaga suasana hati istri yang hamil."

__ADS_1


"Bukan cuma pas hamil mas.... Tapi always...."


"Always? apa itu Ay? makanan?"


"Aaaawwwhhh.... Sakit Ay."


Jika biasanya Ayra yang akan merasakan sakit pada hidungnya, kali ini jari-jari lembut Ayra yang memegang ujung hidung mancung Ayra.


"Sakit mana sama di pukul pak Jamal?"


"Sakit nya bukan pas dipukul Pak Uban, tetapi pas selesai mendaki terus keramas. Perih."


Jleb.


Wajah Ayra merona. Ia sangat malu setiap suaminya membahas perihal mendaki walau terkadang hal itu menjadi favorit bagi CEO MIKEL Group itu. Suami Ayra itu sangat menikmati wajah istrinya dikala merona.


"Ayo kita pesan makanan nya. Bumil mau makan sama Apa? Mas ikut puasa juga.... Tapi... tidak boleh dekat-dekat Ay?"


"Boleh dong mas. Yang tidak boleh itu mendaki."


"Apa?? Malamnya juga?"


"Mas....."


Ayra melebarkan pupil matanya. Karena suaminya masih saja terus bercanda.


"Iya. Iya. Oke. Berpuasalah. Mas ikut puasa. Tapi mas harus kekantor besok. Kamu ikut ya."


"Ayra harus ke kampus dulu."


"Ditemani Aisha ya. Mas harus hadir di rapat pagi ini."


"Oke My Hubby."


"Ay.... "


"My Hubby...."


"Jantungnya meleleh Ay...."


"Mana? Sini Ayra Bekukan lagi...."


Ayra memeluk sang suami erat.


Begitulah sepasang suami istri itu mereka menghabiskan waktu mereka hingga pagi menjelang mereka tetap bersama. Ayra dan Bram betul-betul sedang meneguk indahnya biduk rumah tangga mereka karena lama nya terpisah. Berbeda dengan Duo asistennya yang selalu terlibat perdebatan.


Pagi ini sebuah rumah yang terdapat beberapa anak yatim piatu di kaget kan karena sebuah teriakan dari seorang perempuan dari arah kamar Rafi.


"Aaaaaa.... "


"Buuuughh."


"Buuuughh."


"Brengsek Lo Jotan! Tega ya! kurang ajar!"


Rafi harus menahan sakit karena menerima serangan mendadak dari Aisha. Dari lemparan bantal dan buku-buku ke arahnya.


"Hei kenapa?"


"Lo tega Fi.... Hiks.... hiks.... Gue pikir Lo niat nolong gue. Ternyata Lo sama aja ma Luki! Hiks..."

__ADS_1


Rafi yang baru sadar kalau Aisha tidak berkerudung membelalakkan matanya. Ia melihat sosok lain dari Aisha. Perempuan yang biasa mengenakan kerudung, kini rambut panjangnya tergerai begitu indahnya.


__ADS_2