Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
85 Ayra Si Drum Bodol


__ADS_3

"Ayra Drum Bodol?"


"Yeni?"


Satu nama terucap dari bibir mungil Ayra. Ia mengingat satu nama ketika kedua netranya memotret seorang perempuan berbaju warna biru dengan kerudung putih yang cukup lebar.


Yeni Saputri, Salah satu sahabatnya ketika Madrasah Tsanawiyah dan mereka berpisah ketika Yeni baru saja duduk di kelas 1 Aliyah. Ia dijemput oleh ibunya yang ada di Jambi. Kepergian Ayah Yeni yang membuat sahabatnya sedari Ibtidaiyah itu harus putus sekolah.


Sejak saat kelas satu Aliyah mereka terpisah. Tidak pernah ada komunikasi lagi karena mereka memang belum mempunyai handphone. Dan belum mengenal kecanggihan teknologi seperti email atau medsos lainnya.


Ayra turun dari meja. Ia cepat membisikkan sesuatu pada Aisha. Aisah pun mengangguk cepat. Aisah meneruskan amanat Istri CEO MIKEL Group itu kepada pengawal Bram yang setia melindungi Ayra.


Salah satu pengawal tadi mendekati Yeni. Sedangkan Ayra memilih menuju ruangan yang biasa Bram tempati saat suaminya berkunjung ke anak cabang perusahaan MIKEL Group itu. Sebuah ruangan dengan nuansa kuning emas dan banyaknya ukiran kayu, yang memiliki kekhasan motif bunga dan gelombang Sungai Musi.


Ukiran itu memiliki ciri khas pada warna yang menonjolkan keemasan sebagai simbol keagungan dan kemewahan. Ayra duduk di sofa berwarna merah.


Tak lama muncul lah seorang perempuan yang bertubuh gemuk dan sedikit pendek. Ia adalah Yeni. Yeni berdiri di depan pintu masuk ruangan Ayra. Ia mengamati seorang perempuan yang sempat ia yakini bahwa itu adalah Ayra Drum Bodol. Sahabat nya ketika mondok di Kali Bening.


Senyum Ayra menghiasi wajahnya. Kedua mata Ayra sipitkan. Pipinya ia kembangkan dan ujung hidungnya ia naikkan. Sebuah wajah khas yang sering ia tunjukkan kala ia merajuk pada sahabatnya itu.


Sungguh ada raut tak percaya dari Yeni. Ia benar-benar yakin jika perempuan yang baru saja mengaku sebagai istri CEO tempatnya bekerja adalah Ayra Drum Bodol. Panggilan sayang yang Yeni sematkan untuk Ayra.


Karena saat itu Ayra yang masih remaja dan baru terkena Haid membuat hormon pada tubuhnya begitu subur. Hingga tubuhnya memang gemuk. Berat badannya pernah mencapai 70 kg dengan tinggi yang hanya 140. Belum lagi nafsu makannya yang begitu besar saat masa SMP hingga SMA.


Hingga ketika Ayra akan mulai menghapal Al-Qur'an, Ia diminta Umi Laila menjalani puasa Puasa sunnah yang paling disukai oleh Allah ta’ala yaitu puasa Dawud. Puasa Dawud sama seperti puasa pada umumnya, yaitu dari mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari.


Waktu pelaksanaan puasa Dawud bisa kapan saja, kecuali pada hari-hari diharamkan puasa. Yaitu hari yang diharamkan untuk berpuasa, adalah pada hari raya Idul Fitri atau 1 Syawwal. Hari raya Idul Adha, hari tasyriq atau 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.


Sehingga tubuh Gendut Ayra menjadi seperti sekarang ini. Ia menjadi langsing. Tak ada lagi wajah bundar dan tubuh berlemak. Padahal niatnya berpuasa bukan untuk diet.


Yeni berlari ingin memeluk Ayra namun dua pria berjas silver cepat berdiri di depan Ayra. Ayra akhirnya yang bergerak maju ke arah sahabatnya itu.

__ADS_1


"Yeni.... Kenapa kamu bisa sampai disini?"


"Ayra. Kamu benaran Ayra Drum Bodol?"


Ayra menarik ujung bibirnya dan mengangguk.


Sebuah pelukan dan tangis haru dari dua orang perempuan itu membuat dua lelaki yang tadi mengantar Yeni ke ruangan Ayra hanya melongo. Aisha pun memberikan kode agar dua orang pengawal tadi untuk keluar. Aisha yang seolah mengerti bahwa bos nya itu sedang bertemu teman lamanya ikut keluar dari ruangan.


Ayra melerai pelukannya.


"Kamu kenapa tak pernah membalas surat ku Yen?


"Rumah ku kebakaran Ay. setelah itu aku pindah ke kota ini bersama ibuku. Ay, ini betul-betul kamu?"


Dua tangan lembut namun cukup gemuk itu memegang kedua pipi Ayra. Ia mengelus lembut pipi Ayra. Istri Bramantyo itu pun memandang sahabat penuh rasa rindu. Sebuah tangis bahagia karena bertemu sahabat lama pun membuat ia lupa bahwa mereka masih berdiri.


"Ayo Yen duduk dulu."


"Aku yang harusnya bertanya kenapa kamu bisa mengambil semua lemak ku dulu? Apa kamu sudah tahu nikmatnya coklat batangan? hehehe.... "


"Kenapa kamu masih mengenali aku dengan penampilan ku sekarang?"


Karena Ayra sangat penasaran. Jika dibandingkan tubuhnya saat SMP dan awal-awal masuk SMA, orang tidak akan mengenalinya sekarang. Jika dulu ia sering diejek teman-teman karena tubuhnya dengan panggilan Ayra Drum Bodol, maka saat ia telah menjadi ramping orang hanya memanggilnya Ayra untuk teman sekolah dan kampus, atau Ning Ay ay untuk teman satu pondoknya.


"Karena intonasi mu ketika menyebut nama Ayra Khairunnisa itu tak ada yang sama. Sekalipun kamu berubah menjadi tengkorak pun aku akan mengenali suara dan intonasi mu yang penuh percaya diri itu ketika menyebut nama mu itu. Maka aku yakin tadi kalau yang pidato tadi kamu Drum Bodol. Hahaha...."


Tak ia sadari berkali-kali ia menampar pelan pipi Ayra yang sekarang harusnya ia hormati dan segani karena ia adalah pimpinan sementara sekaligus istri dari pemilik tempatnya bekerja.


Seketika Perempuan bernama Yeni itu memasang wajah kaget karena ia baru sadar jika pipi yang dulu sering ia cubit dan tarik itu adalah pipi big bosnya.


"Hehehe... Maaf Ay. Aku kebablasan. Hehehe.... Aku masih merasa kamu Ayra Drum...."

__ADS_1


Yeni menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia hampir keceplosan menyebut istri big bosnya dengan sebuah nama yang terkesan ejekan.


"Drum Bodol? Hihihi.... Aku malah rindu suara mu yang akan memanggil ku begitu Yen. Aku rindu kamu yang akan membelikan aku coklat batangan dengan diam-diam tanpa umi tahu. Aku juga rindu menarik kerah baju mu seperti dulu. Sekarang aku tak kuat kalau harus mengangkat kamu dengan ujung kerah baju mu seperti dulu Hehehe.... "


Tawa Ayra begitu lepas dan terdengar bahagia. Aisha yang baru masuk cukup kaget. Ia seolah melihat pribadi yang lain lagi dari istri CEO nya itu. Kali ini sisi periang sang bos begitu kental karena terdengar dari suara tawanya, walau tak begitu kencang tapi cukup menyatakan bahwa sang pemilik suara sedang bahagia.


Aisha bersama sering OB yang membawa beberapa kotak makan dan minuman yang telah disiapkan oleh perusahaan. OB itu meletakkan minuman dan sebuah kotak nasi diatas meja. Seolah pemilik ruangan itu sedang melepas rindu, ia tak memperhatikan kegiatan sang OB dan kehadiran Aisha.


"Yeni.... Aku sudah tidak gemuk lagi."


"Tapi cara mu merajuk itu masih tak berubah."


"Kamu sendiri kenapa bisa berubah menjadi seperti ini. Dulu kamu suka bilang pada ku. Ayra Khairunnisa, kamu tidak akan menikah karena penampilan mu itu. Tidak ada lelaki yang suka gadis gemuk."


Yeni mengelus lembut kepalanya.


"Aku salah Ay, ternyata ada lelaki yang menyukai perempuan bertubuh seperti aku. Buktinya sekarang aku sudah memiliki tiga anak dari seorang lelaki yang menerima aku dengan tubuh ku ini. Hihihi.... Aku jadi ingat bagaimana kamu akan menarik kerah ku kalau sudah waktu bangun tengah malam. Dan aku tak bangun-bangun hahaha.... "


"Hehehe.... Maafkan aku Ya Yen. Sungguh aku malu jika ingat saat-saat itu. Bagaimana aku bisa begitu kuat menarik tubuhmu itu sampai ke masjid. Tapi kamu jangan lakukan dulu yang aku lakukan padamu."


"Kamu lihat aku sekarang, seperti itulah aku melihat mu dulu. Hihihi.... Aku tak akan berani Ay. Bisa dipecat aku dari sini, lah Mbah Bank ku mau makan apa kalau aku dipecat. Hehe."


Dua orang sahabat itu melepas rindu dengan bercerita masa-masa indah ketika SMP dan masuk SMA. Ayra ketika SMP memang bertubuh gemuk. Ia yang saat kelas satu SMP baru haid membuat nafsu makannya cukup besar. Hormon tubuhnya pun membuat ia menjadi gemuk.


Yeni yang dahulu bertubuh mungil seperti Ayra. Sekarang mereka terbalik. Ayra memilik tubuh yang ramping. Tak terasa mereka bercerita hingga Ayra mengingatkan jika masih harus ke satu perusahaan lainnya. Hingga Yeni meminta pada Ayra agar bisa menginap dirumahnya. Ayra pun berjanji jika akan meminta izin lebih dulu pada mertuanya.


Saat pulang menuju hotel untuk meminta izin pada sang ibu mertua, kilas kenangannya bersama Yeni kembali terbayang dalam ingatan Ayra. Dan kisah itu membuat air mata membasahi pipi Ayra.


"Ada apa Bu?"


Aisha yang melihat Ayra menangis kebingungan. Karena baru saja beberapa saat lalu Perempuan itu tertawa lepas dan bahagia. Sekarang ia menangis tanpa sebab. Hal yang membuat Aisha bermonolog dalam hatinya.

__ADS_1


"Sungguh kepribadian yang cukup aneh. Seketika sopan, seketika manja, seketika tegas, seketika periang, seketika murung. Ah Karakter mu membingungkan Bu Ay."


__ADS_2