Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
142 Bukti Cinta Sebagai Umatnya


__ADS_3

Pada malam hari, Ayra menangis tersedu-sedu didalam kamarnya. Ia seorang diri, lelah rasanya ia menangis namun air mata seolah tak ingin berhenti. Sakit rasa hatinya, kecewa pada Umi dan Abi nya yang Tek berbicara jika ada sebuah kisah memilukan tentang orang tuanya.


Bahkan janjinya pada Bram untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan sangat susah ia tepati. Kaki yang telah terasa kesemutan karena terlalu lama duduk di atas sajadahnya dengan posisi yang tak berubah. Hingga jari-jarinya terasa sakit saat tersentuh oleh tangan Ayra yang berusaha memijat ujung jari-jari kakinya.


Kepalanya mulai terasa sakit. Hidung Ayra pun sulit untuk menghirup napas. Hingga ia bernapas melalui mulut. Saat ia ingin membuka pintu kembali kakinya tak mampu untuk bergerak. Ia merasakan sakit pada kakinya.


Hingga ia hanya mampu meminta Umi Laila masuk karena telah tiga kali mengetuk pintu kamarnya.


"Ceklek."


"Ra.... Kamu belum minum susu. Makan mu pun tadi sangat sedikit. Ingat ada janin dalam perut mu."


Umi Laila masuk dengan membawa satu gelas berisikan susu ibu hamil yang varian Mocca. Ayra tak mampu meminum yang varian Vanila atau coklat. Hanya yang varian Mocca mampu membuat Indra penciumannya tak merasa aneh dan lambungnya pun menerima varian susu ibu hamil itu.


Umi Laila memberikan segelas susu itu pada Ayra. Ayra menerimanya dan meminum susu itu.


"Terimakasih Umi."


"Sudah berapa lama kamu menangis? Mata mu sudah sangat sipit. Suara mu sudah sangat parau. Ayra... Jangan menyimpan rasa dendam apalagi marah."


Ayra menoleh ke arah seorang perempuan yang selama ini ia panggil Umi.


"Umi, apakah saat ini setan sedang bermain-main didalam hati ku saat hormon yang biasa ibu hamil rasakan melanda. Kenapa ada rasa tidak suka pada mu Umi. Kenapa perasaan ini muncul. Rasa kecewa dan benci kenapa Ayra tidak diceritakan satu hal yang begitu besar."


"Ayra..."


Umi Laila mengelus kepala Ayra.


"Umi.... "


Ayra beringsut ke arah Umi Laila yang duduk di kursi. Rasa sakit pada kakinya karena kesemutan telah berangsur menghilang. Ayra meletakkan kepalanya diatas pangkuan Umi Laila. Ia memiringkan kepalanya hingga menghadap pintu yang sedikit terbuka.


"Ceritakan Umi. Kisah apa antara Ayah Ayra dan Ibu serta lelaki bernama Bagas itu Umi."

__ADS_1


Umi Laila menceritakan semua yang ia tahu tentang kisah orang tua Ayra. Termasuk ia yang tak pernah mendengar nama Bagas terucap dari bibir Nuaima selama ia meminta pendapatnya. Ia malah mendengar nama Bagas dari Munir ketika akan menjemput Ibunya Ayra.


Ayra mendengarkan dengan seksama setiap perkataan Umi Laila. Ia yang kembali diceritakan bagaimana masa-masa kecilnya dulu hingga yang membuat alasan Ibu Ayra yang menitipkan dirinya pada Umi Laila bukan pada kakek dan neneknya.


Dikarenakan Nuaima sangat ingin kelak Ayra bisa belajar dan mondok di tempat Umi Laila yang memang saat itu masih pondok pesantren yang salafiyah. Karena Nuaima sering bercerita kesulitan dirinya ketika setelah dewasa baru mau belajar agama dimana semakin lama semakin membingungkan karena banyak nya paham-paham baru. Nuaima sering mengagumi metode yang digunakan Kyai Rohim dan Umi Laila dalam membimbing anak dan beberapa santri yang belajar bersama mereka.


Penerapan ilmu-ilmu yang dipelajari di kitab-kitab dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa kali Nuaima pernah berkata pada Umi Laila jika ia punya anak. Maka ia akan memondokkan anaknya di tempat Kaka iparnya itu.


Nuaima memang tidak pernah mondok. Tetapi persahabatan nya dengan Umi Laila membuat ia sering bertemu dalam beberapa organisasi dan majelis-majelis ilmu dengan Umi Laila. Istri Kyai Rohim yang memang sering menemani suaminya saat memberikan tausyiah atau materi di pengajian.


Lalu Umi Laila juga menjelaskan jika alasan Kyai Rohim tak menanggapi perkataan Pak Uban ketika ia meminta Kyai Rohim melaporkan ke polisi tentang meninggalnya Munir dan Nuaima.


Ayra yang penasaran akan satu hal bangkit dari posisinya dan duduk. Ia menatap sesaat wajah istri Kyai Rohim itu lalu menundukkan pandangannya.


"Umi.... Maafkan Ayra."


"Maaf untuk apa Nduk?"


"Maaf karena ada rasa tidak suka pada Umi dan Abi kenapa tidak mencoba mencari kebenaran atas meninggalnya ayah dan ibu."


"Abi mu ada pendapat lain saat itu Ra. Ada rasa penasaran namun ia menyadari tugas yang lebih penting saat itu merawat kamu. Jika ingin melaporkan pak Bagas. Umi dan Abi mu tak punya cukup bukti. Belum lagi masalah hukum tak seperti dulu. Terlebih banyak mudharatnya ketika memang Abi melaporkan ke pihak berwajib."


Tiba-tiba dari pintu yang setengah terbuka muncul Kyai Rohim. Sambil melangkah lelaki paruh baya itu berbicara pada Ayra.


"Saat itu Abi hanya berpikir. Ayah dan Ibu mu tak bisa kembali lagi sekalipun Abi melaporkan pada pihak berwajib. Bukti juga Abi tak punya. Saksi pun tak bisa Abi percaya karena saat itu, Pak Uban tak ingin menyerahkan diri. Karena Abi menyarankan hal tersebut."


Umi Laila dan Ayra berdiri. Kyai Rohim memilih duduk di ujung kasur Ayra yang hanya beralaskan karpet. Tak ada ranjang di kamar semasa gadis istri dari Bramantyo itu. Lalu Umi Laila dan Ayra duduk di dekat Kyai Rohim. Kyai Rohim menatap Ayra.


"Abi lebih sakit dari apa yang kamu rasakan sekarang Nduk. Abi lebih marah dari rasa marah mu saat ini. Abi bahkan pernah memukul pak Uban dulu..... "


Suara Kyai Rohim terdengar sedikit parau.


"Saat adik satu-satunya Abi meninggal, namun semua ternyata direncanakan. Ingin melawan tapi apa daya diri ini tak mampu. Abi akhirnya menyerahkan pada Allah semua rasa sakit dan marah ini. Abi yakin semua ini ada hikmahnya Nduk."

__ADS_1


"Hikmahnya, mungkin Pak Uban bisa bertaubat di usianya yang sekarang. Kamu bisa menjadi seperti apa yang Ibu mu harapkan Ra. Ibu mu selalu berharap agar ia bisa memiliki anak Sholehah. Dan sekarang Umi berani mengatakan jika kamu mewujudkan cita-cita Ibu mu."


Ayra Kembali meneteskan air mata. Ia sadar jika rasa marah kadang datang tak mampu diajak kompromi. Bahkan kebaikan yang selama puluhan tahun telah dilakukan oleh Umi Laila dan Kyai Rohim seolah Tek berbekas hanya karena dulu Kyai Rohim tak menanggapi perkataan Pak Uban dan Ia tak diceritakan kejadian sebenarnya.


"Maafkan Ayra Bi, Umi.... "


"Kamu ingat Nduk, Rasulullah ketika perang Uhud sedang berkecamuk. Para sahabat meminta Baginda Rasulullah untuk mendoakan para musuh agar celaka. Tapi Rasulullah tidak melakukannya Nduk. Bahkan pada perang itu Paman Rasulullah Hamzah bin Abdul Muththalib terbunuh oleh seorang budak yang didatangkan memang untuk membunuh Paman Rasulullah.


Namun saat budak itu dikuasai oleh Rasulullah. Apakah Rasulullah membalas? Tidak. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam tak membahasnya. Rasulullah memaafkan, padahal Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam begitu mencintai dan menghormati pamannya itu. Bukankah yang harus kita teladani adalah Akhlak beliau?"


Umi Laila merangkul Ayra. Satu tangannya menghapus airmata di pipi Ayra. Dan ikut menimpali penjelasan Kyai Rohim.


"Lantas dimana bukti cinta kita pada Rasullullah. Jika kita tak dapat menauladani Akhlak beliau. Cinta kita hanya sebuah untaian kata dan pujian, jika kita tak menjalani apa yang beliau contohkan. Dan prakteknya tak semudah teori. Karena kita tak terbiasa."


Kyai Rohim kembali memberikan perumpamaan pada putrinya itu.


"Lantas adilkah kamu pada sesama manusia bukan status Dimata mu. Tetapi sesama mahkluk Allah. Bram yang juga pernah berbuat dosa, ia menyentuh Perempuan yang bukan mahramnya walau itu dimasa lalu walau tak Sampai ke tahap lebih jauh. Dengan Pak Uban yang juga berbuat dosa di masalalu? Kamu harus adil nduk. Alasan kamu memaafkan Bram karena suami bertobat dan ia menjadi lebih baik dengan kesalahannya itu. Tak ubahnya Pak Uban. Apakah Abi salah?"


"Hiks.... Hiks.... Maafkan Ayra Abi.... Astaghfirullah.... maafkan Ayra. Ayra merasa Ayra tak pernah berbuat dosa hingga hari lebih mudah menyalahkan orang lain. Hingga mudah merendahkan orang lain. Bahkan rasa angkuh untuk memaafkan membuat hati Ayra lupa kembali jika Allah yang berkehendak atas setiap kejadian."


Ayra bersimpuh di depan Kyai Rohim. Ia menangis diatas lutut Kyai Rohim. Tak hanya Ayra, Umi Laila dan Kyai Rohim pun ikut menangis.


Umi Laila menarik pundak Ayra dan memeluk putrinya itu. Umi Laila memegang kedua pipi Ayra. Hangat, sangat pipi Ayra. Umi Laila juga memegang dahi Ayra.


"Jangan terlalu banyak menangis Ra. Ingat kandungan mu."


"Maafkan Ayra umi.... Abi... "


"Abi dan Umi pun minta maaf jika selama Umi dan Abi membesarkan mu ada hal-hal yang mungkin masih belum bisa menjadikan dirimu pribadi yang baik nduk.... "


"Umi... "


Ayra menghapus airmata Umi Laila dengan ujung jarinya. Umi Laila pun melakukan hal yang sama. Kyai Rohim sangat mengenal putrinya yang tak bisa melampiaskan rasa marah atau tak sukanya dengan sesuatu atau orang. Namun diam nya menandakan bahwa putrinya itu sedang marah atau tak suka akan satu hal.

__ADS_1


Terlihat saat pulang sampai waktu makan malam Ayra hanya diam. Ia hanya menunduk dan menjawab jika ditanya Umi Laila dan Kyai Rohim. Hingga suami istri itu berinisiatif menemui anaknya setelah tak lagi terdengar suara tangisan dari dalam kamar Ayra.


Hingga kini Ayra berhasil dibuat kembali sadar jika setiap orang tua punya pemikiran sendiri saat mengambil keputusan. Tak akan sama jika dilihat dari sudut pandang kita sebagai seorang anak. Dan tidak semua masalah bisa selesai jika di bahas saat emosi masih melanda. Kini Ayra merasa lebih baik, hatinya kembali tak terlalu menyalahkan Abi dan Uminya serta pemakluman atas kesalahannya Pak Uban berangsur hati Ayra menerimanya.


__ADS_2