
Apapun yang terjadi dalam kehidupan seorang Muslim, itu adalah yang terbaik. Allah tidak pernah salah memutuskan. Seperti rentetan bagaiman Ayra harus menghadapi para pendemo, hingga ia bertemu sahabatnya Yeni yang merupakan saksi kunci selain Kyai Rohim tentang bagaimana wajah lelaki yang telah menyelamatkan Ayra dan. ternyata lelaki itu tidak lain adalah Bramantyo Pradipta suami dari Ayra sendiri.
Maka kesabaran Ayra dan prasangka baiknya pada Allah merupakan salah satu akhlak hingga menghasilkan hal-hal yang baik dibalik setiap kejadian dan musibah yang menimpanya.
Seperti saat ini saat ia hamil muda. Sang suami harus mendekam di sel penjara. Dan ternyata Allah ingin mempertemukan Bram dengan Pak Uban. Seorang lelaki dari masalalu kedua orang tua Ayra. Yang Ayra sendiri pun tak tahu cerita masalalu itu. Ia hanya tahu jika kedua orang tuanya meninggal dalam keadaan kecelakaan tunggal.
Kyai Rohim yang pernah di temui oleh pak Uban sebanyak dua kali pasca meninggalnya Munir dan Nuaima tak ingin mengikuti nafsunya untuk mencari tahu apa betul yang dikatakan oleh Pak Uban jika ada seseorang yang menjadi dalang dibalik kecelakaan adik satu-satunya Kyai Rohim itu.
Ia lebih memilih lebih fokus pada amanah yang dititipkan pada nya dan Laila istrinya. Yaitu Ayra, putri dari Munir dan Nuaima. Ayra yang belum genap berusia satu tahun telah menjadi anak Yatim piatu. Kyai Rohim yang tahu betul bahwa di dalam Islam Anak yatim piatu ini mendapat keistimewaan.
Dimana salah satu keistimewaannya adalah ketika kita memuliakan anak yatim setidaknya mendapat tujuh keutamaan besar, antara lain dekat dengan Rasulullah di surga, melunakkan hati yang keras, terpenuhinya kebutuhan hidup, dan memperoleh perlindungan di hari kiamat.
Seperti saat ini, tanpa banyak orang sadari kehidupan Kyai Rohim yang datang ke Kali Bening sebagai Alumni pesantren yang memiliki tanggungjawab harus menjalin hubungan dengan masyarakat, Ia dan istri hanya berbekal ilmu yang ia dapat selama di pesantren.
Dan Ilmu itu ia teruskan kepada Santri-santri dan anak-anaknya termasuk Ayra.
Pagi Ini Ayra masih terlihat harus berjuang dengan memasuki Minggu ke 10 atau memasuki bulan ke 3 kehamilannya. Ia masih harus bolak-balik ke kamar mandi setiap pagi. Padahal pagi ini ia memiliki jadwal membesuk Bram di Lapas. Mau tidak mau ia harus menelpon Rafi untuk menukar jadwal yang dimana Rafi lah yang akan Membesuk bosnya itu siang nanti.
Kondisi tubuh yang lemah karena rasa mual ingin muntah namun tak ada yang dimuntahkan hanya cairan bening saja yang keluar setiap Ayra mencoba mengeluarkan isi perutnya kala rasa mual itu melanda.
Rafi yang diminta hadir pun cepat meluncur ke kediaman Umi Laila. Ia memberikan informasi terbaru tentang MIKEL Group dan meminta tanda tangan Ayra terkait beberapa dokumen penting. Dan membawa beberapa paper bag yang telah Ayra siapkan untuk suaminya itu. Ia yang telah dengan susah payah memasak sup iga yang diminta oleh Bram terpaksa menitipkan pada Rafi pagi ini.
"Ini nanti bilang sama mas Bram langsung dimakan. Soalnya khawatir kalau sudah kelamaan akan dingin. Aku akan membesuk nanti siang. Insyaallah."
"Ibu lagi tidak sehat Bu?"
"Tidak apa-apa. Nanti juga baikan. Kalau ada yang mas Bram butuhkan tapi tidak ada disini. Nanti kamu telfon ya Fi. Biar aku bawakan nanti siang."
"Oh. Iya Bu. Baik. Masih ada lagi Bu?,"
"Tidak ada. Terimakasih ya Fi. Maaf jadi merepotkan kamu harus jauh-jauh kemari."
"Tak apa-apa Bu. Kalau begitu saya pamit."
__ADS_1
"Ya hati-hati dijalan."
Rafi dari kediaman Kyai Rohim langsung menuju Lapas tempat Bram ditahan. Sampai di ruang besuk, ia malah mendapat tatapan tidak suka sang Bos.
Bram yang baru muncul dengan wajah berseri-seri dan wajah yang segar karena baru saja mencukur godeknya. Berharap dapat bertemu istrinya pagi ini, namun yang ia dapati di ruang besuk tahanan adalah asistennya yang sudah cukup lama membujang itu.
"Kamu! Mana Ayra? Bukankah ia bilang akan membesuk ku?"
"Emmm.... Anu Bos.... Em.... Bu Ayra...."
"Ngomong bisa jelas sedikit? Kenapa kamu jadi seperti ini Rafi! apa kamu terlalu lama jomblo jadi loading mu Lola?"
"Bukan bos sepertinya Bu Ayra tidak sehat."
"Apa!? Dia sakit? sakit apa? Dia sudah di bawa kedokter apa belum?."
"Aduuuhh... saya tidak tahu bos."
Bram berulang kali mengurai rambutnya. Ia khawatir begitu mendengar kabar jika Ayra tidak sehat. Ia mengkhawatirkan Ayra dan Janinnya.
"Nanti siang Bu Ayra kemari pak. Beliau bilang nanti juga baikan. Tadi pas saya mau permisi, saya tidak bisa sama Bu Ayra. Beliau sepertinya muntah-muntah di kamar mandi."
"Apa dia mengalami kondisi seperti Rani?"
"Cepat pulang dari sini antar istri ku ke dokter kandungan terbaik!"
"Baik pak."
"Eh jangan. Jangan kamu! minta Umi Laila juga mengantar dengan sopir ku. Nanti kamu dikira suaminya!"
Rafi menahan tawanya namun terlanjur dilihat oleh Bram maka langsung mendapatkan sebuah umpatan yang hampir saja lolos dari bibir Bram.
"Dasar-"
__ADS_1
"Haiiisshh.... Mulut mulut. Dijaga Bram. Istri lagi Hamil. Mama bilang harus jaga omongan."
"Telpon saja mama. Minta segera pulang jika memang Liona sudah bisa melihat. Ayra butuh seseorang yang bisa mendampinginya. Bilang pada mama. Aku yang memintanya."
"Baik pak."
Akhirnya setelah drama kemarahan Bram pada Rafi karena yang ia harapkan adalah kehadiran Ayra namu yang datang malam Rafi. Akhirnya setelah semua yang ingin disampaikan Rafi telah selesai terkait perusahaan Bram. Ia undur diri karena harus ke perusahaan. Dan Diluar yang telah ada Bambang, adik Bram itu juga ingin membesuk Anak Sulung Pak Erlangga itu. Ia pun harus bergantian dengan Rafi.
Namun saat akan pergi. Rafi ditahan oleh Bram.
"Tunggu. Kalau memang Ayra akan kemari nanti siang. Minta Kyai Rohim juga ikut. Ada yang ingin aku tanyakan dan katakan ada yang ingin menemuinya."
"Baik Pak. Ada lagi?"
Bram sedikit mengernyitkan dahinya.
"Bilang pada Ayra untuk membawa sambal kencur dan tempe penyet seperti yang pernah aku makan ketika di kediaman Kyai Rohim."
"What?!"
"Otak mu itu sepertinya harus diinstal ulang Rafi!!!"
"Tempe penyet? apa itu makanan pak?"
"Rafiiiiiii sampaikan saja pesan ku. Ah sepertinya aku harus mengganti orang kepercayaan ku setelah keluar dari sini kalau tidak aku bisa darah tinggi atau aku bisa ketularan kamu!"
Rafi terlihat cemberut dan mengusap-usap lehernya. Ia yang memang asli Indonesia namun lama tinggal di luar negeri tak tahu apa itu tempe penyet. Jika tempe goreng atau tempe bacem dia tahu. Tapi untuk kata tempe penyet dua kata baru ditelinga Chief Operating Officer (COO) MIKEL Group itu.
COO adalah seorang yang dimana memiliki memiliki tugas utama yang berfokus pada pelaksanaan rencana bisnis perusahaan, sesuai dengan model bisnis yang telah ditetapkan. Sedangkan CEO adalah lebih mementingkan tujuan jangka panjang dan pandangan perusahaan yang lebih luas.
Dengan kata lain, CEO yang akan menyusun rencana dan COO yang akan mengimplementasikannya. COO dianggap sebagai orang kedua dalam rantai komando setelah CEO.
Akhirnya setelah tiba diluar lapas, Rafi menelpon Ayra menyampaikan pesan dari sang bos. Sebelum ia mengendarai mobilnya. Ia yang selalu penasaran dan mengandalkan mesin pencarian Google segera mengetik pada bagian Search itu 'Apa itu Tempe Penyet?'.
__ADS_1