
Jalanan Cukup macet saat Ayra dan Kyai Rohim menuju Lapas. Umi Laila yang sudah memiliki janji mengisi pengajian disalah satu majelis taklim ibu-ibu akhirnya tak ikut serta membesuk suami Ayra.
Saat mobil itu beru beberapa menit melaju meninggalkan kediaman Kyai Rohim, Ayra mulai merasakan bau yang tak sedap. Matanya menyipit serta hidungnya sedikit berkedut. Ada aroma yang membuat ia tak nyaman.
Ia coba menahan rasa ingin muntahnya namun semakin ia tahan namun rasa ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam ujung tenggorokannya semakin tak bisa dicegah. Hingga Akhirnya ia harus mengeluarkan sesuatu yang sudah hampir keluar dari mulutnya.
Tak sempat ia mengambil sebuah tissu hingga kerudungnya ia jadikan penahan sesuatu yang akan keluar itu.
"Hueeekk.... Hkkk.... Hueeekk..."
"Ayra..."
Kyai Rohim yang duduk disebelah sopir cepat menoleh. Lalu ia menarik berapa Helai tisu yang ada di dashboard mobil. Ia berikan pada Ayra. Ayra mengambil tisu itu tanpa menoleh ke Kyai Rohim.
"Harusnya kamu istirahat saja tadi Nduk."
"Biasanya tidak apa-apa Bi. Huuueeeek.... "
Mendengar suara Ayra sang sopir akhirnya menepikan mobil. Namun Ayra keluar dari mobil dan merasakan udara diluar mobil, seketika rasa ingin muntahnya hilang. Ia akhirnya membersihkan Jilbabnya.
"Bagaimana? Apa kita kerumah sakit dulu Ra?"
"Tidak usah Bi. Ini sudah baikan. Nanti kita berhenti di toko pakaian muslim dulu Bi. Ayra mau beli jilbab. Sepertinya jilbabnya terkena sedikit muntahan tadi. Khawatir baunya tak sedap. Tolong ya pak nanti kau ad toko baju kita berhenti sebentar."
"Oh Baik Bu."
Saat akan kembali masuk kedalam mobil kembali aroma yang membuat Ayra merasa mual. Ia menutup hidungnya dengan satu tangannya. Hampir satu Minggu memang ia tak kemana-mana karena sedang sibuk menyusun thesis. Baru hari ini ia bepergian.
Kyai Rohim yang telah memiliki empat anak paham, Ayra mungkin tak bisa mencium aroma mobil yang ada AC nya. Sehingga suami Umi Laila itu meminta sopir pak Erlangga mematikan AC mobil.
"Coba AC mobilnya dimatikan saja pak."
Sang sopir menurut permintaan kyai Rohim. Ia memutar satu tombol ke arah kiri. Hingga udara di dalam ruangan mobil itu tak terasa dingin lagi. Seketika Ayra yang merasa mual nya tak begitu terasa mencoba membuka satu tangan yang menutupi hidungnya tadi.
"Bagaimana Nduk? Sudah enakan?"
__ADS_1
Ayra menarik napas dalam.
"Alhamdulilah Bi. Tidak terasa mual lagi."
"Hehehe.... Kamu ini mengingatkan Abi saat umi mu Hamil Furqon. Saat itu umi mu itu Ndak suka aroma parfum."
Ayra melebarkan sudut matanya mendengar Abi nya. Selama ini ia hanya mendengarkan jika orang hamil akan mengalami hal aneh-aneh. Ayra hanya positif thinking mungkin pengaruh tubuh yang kurang fit. Karena ia lebih memilih. Mengerjakan sendiri thesisnya. Padahal Rafi pernah menyarankan agar salah satu staf di perusahaan MIKEL Group yang mengerjakan atau bisa mencari seseorang yang menerima pengerjaan thesis.
Karena Ayra mengambil judul thesis yang menyangkut pola bagi hasil kesepakatan kerja sama dalam hasil produksi sawit yang ada di anak cabang perusahaan MIKEL Group. Sehingga ia lebih banyak dirumah bersama laptop dan beberapa referensi dari Rafi dan Buku yang ia beli.
Kembali Ayra ingin membuktikan apakah betul. Ia menghirup udara sangat dalam sampai hidungnya terlihat bergerak ke arah atas diikuti dadanya yang bergerak.
"Iya Bi. Tak terasa mual lagi."
"Hehehe.... Semoga kamu tidak mengalami seperti Umi mu mengandung Fatimah. Saat itu Umi mu malah berjuang keras melawan rasa tidak sukanya pada aroma Abi.
Ayra tertawa ringan mendengar cerita Abinya.
"Kenapa Umi tida cerita ya Bim"
Ayra yang merasa baikan. Kembali meminta sopirnya untuk meneruskan perjalanan menuju Lapas. Dengan posisi pintu kaca mobil terbuka karena AC tak dinyalakan. Ayra tak merasakan mual sama sekali. Kyai Rohim sesekali melirik Ayra lewat kaca spion.
"Kamu anak dan istri yang kuat nduk. hampir beberapa Minggu tak sedikit pun bibir mu itu mengeluh. Tak sekalipun wajah mu itu murung dihadapan Umi dan Abi. Semoga kamu selalu bahagia Nduk.Semoga kamu bisa merasakan kebahagiaan berumahtangga tidak hanya pahitnya."
Tiba di lapas. Ayra mu merapikan jilbab yang baru saja ia beli dan kenakan. Ia melihat ke arah kaca bedak yang ia bawa didalam tasnya. Dahinya sedikit berkerut.
"Bi. Abi duluan saja. Wajah Ayra masih sedikit pucat karena muntah tadi. Khawatir mas Bram akan bertanya-tanya dan Ayra tak mungkin berbohong. Tunggu sebentar lagi baru Ayra menyusul."
Kyai Rohim melihat memang wajah Ayra sedikit pucat.
"Baiklah. Abi duluan."
Kyai Rohim terlebih dahulu menemui Bram. Ayra masih tinggal di halaman parkir Lapas. Ia mencari sebuah bangku di bawah pohon beringin.
Kyai Rohim yang telah mendaftar Setelah melalui pemeriksaan tanda pengenal dan bagian tubuh yang dianggap steril dari barang-barang yang tidak diperbolehkan masuk, baru bisa menemui Bram di ruang besuk yaitu sebuah Aula yang sangat besar.
__ADS_1
Tiba di Aula itu. Kyai Rohim melihat Bram duduk dengan seroang lelaki berambut panjang. Rambut lelaki itu terlihat cukup banyak ubannya. Kembali Kyai Rohim mencoba mengingat siapa lelaki itu sambil melangkah ke arah Bram yang duduk bersebelahan dengan lelaki itu.
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam."
Bram cepat menjawab salam mertuanya dan entah sejak kapan ia selalu meniru apa yang istrinya lakukan saat berjumpa dengan Kyai Rohim. Ia mencium punggung tangan Kyai Rohim dengan hidungnya.
Kyai Rohim pun menerima uluran tangan dari lelaki berambut panjang yang tak lain adalah Pak Uban.
"Lama tidak berjumpa pak Kyai?"
"Kita sepertinya pernah bertemu."
"Ya kita pernah bertemu 2 kali. Saat itu saya mengatakan-"
"Duduk dulu Bi."
Bram melirik tak senang pada pak Uban karena mertuanya baru tiba langsung akan diajak bicara. Kyai Rohim duduk diatas karpet plastik.
"Katakan Pak dimana kita pernah bertemu?"
"Hihihi.... Kita pernah bertemu di kediaman mu. Aku pernah datang mengatakan perihal kecelakaan adik kandung mu Munir."
Deg.
Kyai Rohim mulai mengingat bagaimana Pak Uban mendesaknya untuk membuka kasus Munir agar kembali diusut. Ia mengakui jika ia lah dalang yang membuat rem mobil Munir tak berfungsi. Dia ada buktinya tapi dia ingin Kyai Rohim yang melaporkan ke polisi. Ia akan menyerahkan buktinya.
Namun Kyai Rohim yang saat itu emosi sempat memukul Pak Uban karena mendengar penuturannya. Namun ia tak ingin melaporkan kejadian yang hampir satu tahun berlalu. Ia memilih tak ingin tahu siapa dalang itu. Ia memilih tak menuruti kemauan lelaki itu.
"Jadi anda menyerahkan diri?"
"Hihihi... aku mendekam disini bukan karena kasus kedua orang tua Ayra itu pak Kyai. Aku kena kasus melenyapkan nyawa istri dari orang yang menyuruhku menyabotase rem mobil Munir dulu."
"
__ADS_1