
Bram telah siap untuk kembali kedalam tahanan Bareskrim Mabes Polri. Ayra telah membereskan beberapa barangnya termasuk pakaian kotornya yang kemarin terkena dar*h.
Saat Bram akan meninggalkan ruangan rumah sakit. Bram mendekat pada Ayra yang sedari tadi memandanginya.
"Aku tidak tahu apa aku bisa pantas menjadi pendamping dirimu Ay. Tetapi aku merasa kamu adalah orang yang pantas untuk mendampingi ku. Aku akan mencoba untuk mencintai mu."
Hati Ayra berdegup dengan kencang mendengar ucapan Bram yang mampu membuat hati nya bahagia. Kesabaran berbuah manis, cobaan demi cobaan ketika ia menjadi istri Bram pun seakan kini menunjukkan hikmah nya.
Ayra mendekat dan mendongakkan kepalanya. Ia tatap wajah tampan Bram.
"Maka pantas kan lah dirimu untuk menjadi Imam ku mas. Tapi ku mohon, Cintai aku jangan seperti Sahabat Abdurahman bin Abi Bakar pada Laila bintu Al Judi. Yang pada Akhirnya Sahabat Abdurahman mengembalikan Laila pada keluarga nya karena tak lagi cantik dan menawan. "
Bram melihat sudut mata istri nya itu sudah berair. Seolah lelaki itu tak ingin kembali melihat butiran bening itu membasahi pipi sang istri, ia menarik tubuh Ayra dalam pelukannya. satu tangan nya membelai kerudung istrinya. Dagu CEO muda itu ia angkat agar kepala sang istri bisa terbenam dengan sempurna dalam dada nya.
"Ada kisah seperti itu Ay? Ceritakan sebelum kita berpisah pagi ini."
Ayra ingin melepaskan pelukan itu namun satu tangan Bram menahan kepala Ayra dan satu tangannya ia lilitkan pada pinggang langsing istrinya.
"Seperti ini saja dulu, beri aku pelukan mu. Sebentar saja setelah ini kita akan cukup lama tak bertemu. Apa aku harus mencintai mu terlebih dahulu agar bisa memeluk mu seperti ini? Apakah aku harus shalat dulu agar aku boleh memeluk mu seperti ini?"
Suara Bram terdengar parau. Ayra bisa mendengar jelas detak jantung suaminya. Air mata membasahi pipi hingga mengenai baju kaos biru yang dikenakan Bram. Bukan air mata kesedihan namun air mata bahagia. Setidaknya suami nya mampu berkata dengan nada yang tak lagi kasar. Setidaknya ada pelukan hangat yang suaminya berikan dengan sebuah ketulusan.
Ayra memejamkan mata dan menghirup aroma tubuh suaminya serta ia ingin merekam apa yang sedang suaminya lakukan. Suaminya membelai lembut kepalanya. Ia mengisahkan tentang sahabat Abdurahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu dengan suara sedikit diiringi isak tangis bahagianya.
"Kisah itu ada mas. Selayaknya manusia biasa maka sahabat pun demikian. Tidak ada yang sempurna. Tetapi kita dituntut tidak boleh mencela sahabat walau ia pernah berbuat salah. Karena mereka telah mambantu perjuangan Rasulullah pada masanya.
__ADS_1
Tetapi sebuah kisah diceritakan agar bisa jadi pembelajaran bagi kita. Kisah sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu yang melakukan perjalanan ke Syam untuk berdagang, di tengah jalan ia bertemu seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi.
Ia pun jatuh cinta sampai tahap terkena penyakit mabuk cinta. Ia sering menyebut-nyebut nama Laila dan mengarang beberapa syair. Ia sejatinya merana karena cinta.
Bahkan ketika sahabat Abdurahman selama mencintai Laila. Ia lebih mendahulukan cintanya pada Laila dibandingkan istri-istrinya yang lain. Namun cinta itu pudar ketika Laila tertimpa penyakit yang menyebabkan bibir bawahnya terjatuh hingga wajahnya menjadi jelek, maka Abdurrahman sering berbuat kasar kepadanya dan tidak cinta lagi pada Laila.
Maka bukan cinta yang seperti itu yang aku inginkan darimu. Cintai aku bukan karena paras dan kecerdasan ku mas. Tapi cintai aku karena Allah, karena Agama ku, karena Akhlak ku."
Bram begitu mengerti apa yang Ayra jelaskan, Ayra ingin dirinya mencintai seseorang bukan karena parasnya bukan karena kecerdasannya tetapi karena rasa cinta pada Allah karena perempuan itu menjalankan syariat Allah dan perempuan itu bisa membawa ia kepada Rabbnya.
"Anggaplah sekarang ini hukuman ku karena telah jatuh cinta sebelum menikah. Maka anggaplah selama kita berpisah, itu adalah waktu ku untuk merenungkan diri tentang apa yang kamu maksud. Aku akan berusaha Memantaskan diri ku untuk mu Ay.
Kamu mau bersabar menunggu? Mungkin Tuhan sedang memberi ku jalan untuk mencintai mu hingga aku diberikan masalah bertubi-tubi ini."
"Alhamdulilah rabb"
Ayra kembali meneteskan air mata.
"Jangan pernah menyerah mas. Semakin kamu mendekat pada Rabb mu selama masa-masa memperbaiki diri maka selama itu pula biasanya akan bertambah banyak masalah itu datang pada mu. Karena bisa jadi Allah sedang ingin menempah diri kita menjadi pribadi lebih kuat, lebih baik dari sebelumnya dan ingin melebur dosa-dosa kita dimasa lalu. Aku akan bersabar menunggu mu mas. Insyaallah."
Tanpa Ayra sadari ada tetesan jangan yang membasahi jilbabnya. Tetesan Air mata dari seorang suami yang merasa malu dihadapan istrinya, rasa sedih karena menyesali telah menyakiti istrinya, dan penyesalan karena ruang hatinya telah diisi orang lain bahkan ia masih butuh waktu untuk. Menghapus rasa cinta itu dalam hatinya.
Sebuah perpisahan sementara yang membuat satu pasang suami istri itu harus saling menguatkan hati masing-masing. Ayra yang bahagia karena suami mau membuka hati. Sang suami yang merasa sedih kenapa harus disaat seperti ini, ia harus merasakan penyesalan.
Ayra pun pulang diantar oleh Rafi ke rumah bersama dengan sopir. Sesampainya Ayra di ruang utama ia kaget karena sedang melihat Rani dan Bambang bersitegang ditengah tumpukan paket.
__ADS_1
"Yank. Bukan aku pelit. Tapi kamu harusnya kan bisa bilang dulu sama aku. Kamu lihat dong tagihan kartu kredit kita bulan ini itu sudah melebihi limit. Aku juga baru buka cabang kafe. Ngerti dong yank."
Ayra yang merasa tak enak karena mendengar dan melihat Suasana sepasang suami istri yang sedang bersitegang.
"Assalamualaikum. Kalian ada masalah Ran? Alangkah baiknya dibicarakan di dalam kamar saja agar tak ada yang melihat dan mendengar. Dan sini Raka biar aku yang jaga. Kalian bisa berbicara berdua. Tak baik berdebat apalagi sampai bertengkar dihadapan anak."
"Walaikumsalam."
Ucap sepasang suami istri itu dengan sedikit kaku. Ayra mengambil Raka dari gendongan Rani. Ketika ia berniat akan meninggalkan Raka, ia harus menunda niatnya karena Bambang yang memiliki karakter hampir sama dengan suami nya pun sepertinya tak dapat mengontrol emosinya.
"Aku cuma beli ini Bams. Aku malu semenjak mengenal Ayra jika berpakaian terlalu terbuka. Kamu ini aneh istri mau lebih baik malah ga suka."
"Bukan ga suka tapi kamu tak pernah menghargai aku. Aku ini suami kamu! bisa ga sih izin dulu untuk apa. Aku bukan CEO, aku juga ga mau mengandalkan harta orang tua ku. Kamu itu dari dulu terbiasa hidup dengan nama besar orang tua mu!"
"Owh jadi kamu menyesal menikah dengan aku? "
"Kamu bisa ga menghormati aku, bicara sama aku Ku tu pakek sopan dikit kenapa. Aku ini suami kamu?!"
"Aku lelah Bams kamu selalu seperti ini meledak-ledak setiap ada masalah dan baru mau mendengarkan aku setiap kamu udah bisa tuh meledakkan emosi kamu dengan suara kamu yang nyaring itu!"
"Aaaaaahhhhh..... Kamu itu keras kepala. Selalu saja kalau di nasehati, mau menang nya sendiri! Sini biar aku buang semuanya. Kartu kredit dan handphone kamu sini sekalian!"
Ayra yang baru sampai di ujung anak tangga akhirnya terpaksa cepat turun. Mau tidak mau ia harus melerai suami istri yang sedang terlibat tarik menarik handphone yang ada pada tangan Rani.
"Astaghfirullah.... Bams.... Rani.... "
__ADS_1