Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
112 Liona Tanpa Sanak Saudara


__ADS_3

[Backsound Qod Ansoha di backsound Pesona Ayra Khairunnisa di profil Author. menceritakan hamba yang bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Sholawat ini pun berisi nasihat agar kita senantiasa patuh dan mendengarkan nasihat guru serta kedua orangtua]


Hari ke empat pasca kecelakaan yang dialami Beni dan Liona. Membuat Nyonya Lukis harus bolak balik kerumah sakit kadang ditemani Ayra. Kadang ditemani Rani.


Pagi ini Nyonya Lukis harus pergi diantar sopir. Ia tak ditemani Ayra atau Rani. Rani sedang mengalami morning sickness. Ia yang kemarin sempat pingsan ternyata sedang mengandung. Usia kandungannya masih masuk hitungan Minggu. Sedangkan Ayra pergi ke kampus karena perkuliahan nya telah dimulai. Ia sedang sibuk untuk pengajuan judul thesisnya.


Setibanya di rumah sakit. Nyonya Lukis menemui dokter yang bertanggungjawab atas kesehatan Beni dan Liona.


"Jadi bagaimana dokter apakah ada perkembangan untuk anak dan menantu saya?"


"Untuk Nyonya Liona bisa kita pindahkan ke ruang rawat pagi ini."


"Tapi tadi saya lihat dia belum sadar dokter."


"Saya baru saja memeriksa kondisi pasien di ruang ICU, dan Nyonya Liona sudah mulai stabil walau belum sadar. Jadi bisa dipindahkan ke ruang perawatan untuk pemulihan."


"Bagaimana dengan anak saya Beni?"


"Pak Beni masih harus kita rawat intensif di ICU. kondisinya tidak memungkinkan untuk dipindah ke ruang rawat Bu. Benturan kuat yang menghantam kepalanya mengakibatkan perdarahan otak atau jaringan sekitar serta memar pada jaringan otak. Kami akan berusaha untuk kesembuhan pak Beni Bu."


Nyonya Lukis hari ini terlihat lebih tegar. Tak ada air mata saat ia melihat Beni dan Liona. Seolah air mata perempuan paruh baya itu telah habis untuk menangis beberapa hari yang lalu. Ia pun hanya menuruti dokter ketika Liona akan dipindahkan ke ruang rawat walau sang menantu belum sadar.


Beruntung rasa cintanya pada sang putra tak menanamkan sebuah dendam karena Liona tak pernah memperlakukannya dengan baik. Ia hanya menganggap jika Liona seperti itu, karena latarbelakang keluarga Liona yang broken home. Ia yang sedari kecil tinggal bersama mamanya karena orang tuanya berpisah.

__ADS_1


Papa Liona yang menikah lagi setelah bercerai dengan ibunya Liona. Hingga ketika pak Erlangga berhasil menghubungi papa Liona kemarin. Dia hanya mengatakan turut berduka cita dan tak bisa ke Indonesia karena ia dari dulu tak pernah dianggap ada oleh Liona.


Sedangkan sang ibu dengan alasan sakit hati ketika Liona berada di puncak karier tak pernah menganggap nya sebagai ibu, Jangan kan ingin merawat sekedar untuk membesuk pun ia tak ingin. Maka Nyonya Lukis merasa iba dengan kondisi menantunya itu.


Seperti saat ini ketika sang menantu dipindah ke ruang perawatan. Ia membantu perawat membuka baju Liona. Ia membantu merawat Liona. Selesai perawat tadi membersihkan tubuh Liona, datang perawat lain yang memberikan oksigen melalui masker dan cairan melalui infus pada tubuh Liona.


Tak lupa sebuah kateter urine akan ditempatkan pada kandung kemih Liona karena dia belum sadar. Sehingga tak khawatir untuk pergi ke toilet apabila benda tersebut masih terpasang. pada tubuh Liona.


Nyonya Lukis yang diberikan pesan oleh dokter yang menangani Liona berpesan bahwa Operasi amputasi yang dilakukan Liona beberapa hari lalu mungkin menimbulkan rasa sakit. Karenanya, dokter akan memberikan obat penghilang rasa sakit. Namun akan sedikit berkurang ketika pasien sadar.


Dan juga berpesan bahwa pihak keluarga dituntut untuk memberikan dukungan secara emosional pada Liona yang baru saja mengalami operasi amputasi. Hal tersebut karena pasien yang baru saja kehilangan bagian tubuhnya pasti mengalami depresi, sebab menganggap dirinya berbeda.


Maka dari itu, Nyonya Lukis mengirimkan pesan jika ia akan menemani Liona dan menginap di rumah sakit. Ia khawatir jika sewaktu-waktu menantunya itu sadar dan tak ada satupun orang yang menemaninya.


"Semoga kamu bersabar dengan musibah yang sedang menimpa mu Liona. Mama tahu betapa Beni mencintai kamu. Bahkan mama bisa ia duakan karena cintanya padamu. Padahal ia tak pernah bisa jauh dari mama. Tapi semenjak menikah dengan kamu dia seolah tak butuh bermanja-manja pada mama. Mungkin cinta mu begitu besar untuk Beni."


Satu hari Nyonya Lukis menghabiskan waktu nya bersama Liona dan kadang ia melihat Beni dari balik kaca ruang ICU. Malam ini Ayra berniat menunggu Liona menggantikan Nyonya Lukis namun ibu mertua Ayra itu tak ingin. Ia hanya khawatir jika Liona sadar dan tahu kondisinya sekarang maka akan sangat sulit bagi Liona menerima kenyataan.


Beni mungkin sosok yang bisa menenangkan Liona masih terbaring tak sadar. Membiarkan Ayra menunggu Liona tak mungkin. Karena baru saja Liona dan Ayra terlibat perdebatan cukup panas beberapa waktu lalu.


"Tidak usah Bram, Pulanglah. Kamu pasti lelah. Ayra juga. Kalian pengantin baru tapi sudah harus melalui banyak hal. Satu hari ini kalian belum bersama bukan."


Nyonya Lukis juga ingin memberi waktu sepasang suami istri itu waktu bersama. Bram yang dari pagi sibuk di kantor sedangkan Ayra menemani Rani dan Raka saat pulang dari kampus. Karena Rani di kehamilan keduanya ini cukup lemah.

__ADS_1


"Baiklah jika begitu. Atau aku minta bantuan Helena Ma?"


"Jangan Bram. Dia juga lelah beberapa hari kepergian nenek. Dia kurang istirahat. Biar mama dan papa yang menunggu."


Bram dan Ayra pun pulang meninggalkan Nyonya Lukis ketika Pak Erlangga telah datang dengan membawa pakaian ganti untuk istrinya.


Malam makin larut. Pak Erlangga masih meminta istrinya untuk istirahat di sofa.


"Istirahatlah ma. Papa akan menunggu Liona. Besok biar mama yang menunggu Liona lagi."


"Malang sekali Liona pa. Tak ada satupun sanak keluarganya yang bersimpati. Bahkan ini hari ke empat dia dirawat disini. Hanya ada teman seprofesi nya yang hadir. Dan seorang asisten yang masih setia bolak balik menanyai keadaanya. Bahkan kedua orang tua pun tak menganggap nya anak."


"Hhhh... Kita tidak tahu bagaimana hubungannya Liona dengan keluarganya ma. Hubungan dia dengan kita sebagai mertua pun mama tahu sendiri. Mudah-mudahan Liona dan Beni bisa belajar dari Musibah yang menimpa mereka. Yang papa khawatirkan Liona daripada Beni."


Pak Erlangga menatap Liona penuh makna.


"Kenapa pa?,"


"Apa dia sanggup menerima kondisinya setelah sehat?"


"Kita tidak boleh meninggalkan Liona sendiri pa. Beni sangat mencintai Liona."


"Papa tahu. Tapi yang papa juga khawatir sikal Beni setelah dia sadar. Bukankah dia sangat menyukai Liona yang bertubuh tinggi dan cantik. Apakah putra mu masih akan mencintai istrinya dengan kekurangannya ini nanti?"

__ADS_1


Nyonya Lukis tertegun. Ia membenarkan jika Beni sangat tergila-gila pada Liona karena ia memiliki wajah cantik, tubuh tinggi semampai dan kaki jenjang nya membuat ia betul-betul sempurna Dimata sang anak. Sering Beni memuji Liona ketika ia masih mengejar cintanya pada Liona.


Gambaran sebuah cinta akan penampilan pasangan yang ia idam-idamkan.


__ADS_2