
Bram ditemani Pak Erlangga dan Bambang telah hadir di pengadilan negeri pukul 08.00 WIB. Suasana didepan pengadilan itu cukup ramai. Bahkan saat akan memasuki gedung pengadilan itu Bram dikawal ketat oleh petugas keamanan.
Banyaknya masa yang datang dari berbagai organisasi dan kelompok. Belum lagi para pemburu berita. Seolah para pemburu berita itu terus saja bertanya pada Bram. Ia tak menggubris satu pun pertanyaan. Wajah dingin pun ia tetap tunjukkan pada awak media dan para pendemo.
Hingga tiba saat sidang kedua yang digelar tertutup. Didalam itu telah hadir perempuan yang bersekongkol dengan Riki hingga ia telah menjatuhkan harga dirinya sendiri di mata umum hanya karena rasa benci atau dendam.
Beruntung bukti-bukti persekongkolan Shela dengan Riki telah berhasil tim pengacara Bram dapatkan. Dan dua rekaman yang menambah kekuatan pembelaan Bram. Pertama rekaman suara saat Shela mengakui bahwa ia yang menyebarkan itu melalui perantara Riki. Terlebih lagi Bram diuntungkan karena Ia bukan penyebar video tersebut.
Kedua, beberapa rekaman CCTV Shela bersama lelaki lain dalam setahun terakhir ini bersama lelaki itu. Juga sebuah video yang memperlihatkan Shela sedang melakukan sesuatu yang tak seharusnya dilakukan orang yang tak terikat pernikahan bersama lelaki yang sama.
Maka akan melemahkan sebuah rekaman CCTV yang menjadi alat bukti Shela dengan Bram yang pernah terjadi hampir satu tahun yang telah lalu. Dibandingkan video-video CCTV terbaru kebersamaan Shela dengan lelaki yang merupakan salah satu produser film. Dan juga majalah dewasa.
"Bren/gsek. Jadi dia berselingkuh dengan ku setahun ini! Ah beruntung Tuhan memberikan Ayra pada ku diwaktu yang tepat."
"Si/Al. Bagaimana mereka memiliki banyak bukti yang malah menyudutkan aku. Aku tidak akan tinggal diam. Liona harus ikut merasakan apa yang aku rasakan jika aku kalah dalam persidangan ini."
Bram selama persidangan ini tak melihat atau melirik Shela. Ia betul-betul tidak ingin berurusan dengan perempuan itu. disamping itu ia ingin belajar untuk menjaga pandangannya. Jika ada perempuan yang ingi berlama-lama ia pandang itu adalah Ayra. Istrinya, perempuan yang halal untuk ia tatap dan sentuh.
__ADS_1
Pada sidang kedua ini Tim kuasa hukum Bram cukup puas dengan Jawaban jaksa penuntut umum yang menerima bukti-bukti yang berbalik menyudutkan Shela. Namun mau tidak mau Bram yang menjadi pemeran dalam video itu harus ketar ketir karena sebagai tokoh atau pemeran dalam video itu dan menyimpan video itu di dalam laptopnya. Walau dengan dalih Ia tak tahu jika itu masuk kedalam rekaman CCTV nya. Karena ia tak tahu jika dikamar apartment nya ada kamera CCTV.
Sidang berakhir pukul 11.15 WIB. Dan sidang akan dilanjutkan dua Minggu lagi. Dimana majelis akan membacakan putusan atas eksepsi atau keberatan penasehat hukum Bram. Apakah eksepsi itu bisa diterima atau tidak.
Bram yang keluar dari ruangan sidang itu pun masih kesulitan karena banyaknya masa yang berkerumun. Caci maki, sumpah serapah masih disematkan masa yang berkerumun di depan gedung pengadilan itu. Bahkan tamat busuk pun mendarat pada dada Bram. Bram hanya bisa menarik napas dalam.
Ia ingat pesan istrinya itu bersabar dan menahan amarahnya. Maka ia hanya menatap tajam pelaku yang melempari tomat busuk ke tubuhnya. Ia ingin sekali mencekik atau memukul orang itu. Tapi ia masih mencoba bersabar, ia tak hiraukan lemah yang baru saja tertawa karena Puas melihat tomat itu mendarat di dadanya.
Sungguh Bram belajar banyak dari sang istri. Ia mulai mencoba mengontrol emosinya. Jika selama ini ia akan marah dengan melempar barang yang ada di dekatnya nya. Maka sekarang ia lebih memilih duduk atau menarik rambutnya dan menahan gigi gerahamnya ketika marah.
Di saat yang sama Nyonya Lukis dan Ayra sedang menemani Liona yang tak dapat melihat namun memaksa untuk keruang ICU. Ayra dan Nyonya Lukis menuruti kemauan Liona.
"Tak mengapa ma, kontak batin suami istri mungkin bisa membuat Beni cepat sadar. Semoga Beni bisa segera sadar."
Setibanya mereka di depan ruang ICU, Ayra menjelaskan pada Liona bahwa Beni berada sekitar 4 meter dari tempat mereka berdiri.
Beni dari balik kaca ruang ICU. Liona yang duduk di kursi roda menangisi Beni yang masih tergolek tak berdaya di kelilingi alat-alat yang membantunya untuk bernapas dan untuk makan pun ia harus melalui selang.
__ADS_1
Liona merasa bersalah, rasa benci yang biasa timbul untuk suaminya entah hilang kemana. Kata-kata terakhir ketika pertengkaran mereka masih terngiang-ngiang di ingatan Liona. Bahkan ekspresi Beni yang kecewa dan menahan marah pada dirinya masih Liona rekam dengan jelas.
..."Lantas kenapa kamu mau menikah dengan ku? Apakah cinta mu hanya melihat fisik seseorang saja? Apakah ketulusan ku selama ini tak mampu sedikit saja kamu hargai Liona? Aku bahkan tak pernah mengunjungi Mama karena kamu memintanya. Bahkan berkali-kali aku kehilangan perusahaan yang aku bangun hanya karena menuruti keinginan mu!""...
"Sadarlah Ben. Bukan hanya cinta mu yang tulus pada ku. Bahkan cinta keluarga mu pada ku dan kamu begitu tulus. Aku merasa tak berhak mendapatkan semua ketulusan ini. Akulah penyebab semua ini. Beri aku kesempatan kedua Ben. Beri aku kesempatan untuk membalas cinta tulus mu dan cinta keluarga mu. Hiks. Hiks..."
Hanya tangis penyesalan yang mampu Liona hadirkan. Ia tak mampu berkata-kata. Bibir dan lidahnya keluh mendengar penjelasan Ayra betapa banyaknya alat yang menempel pada tubuh Beni. Ia hanya mengucapkan kalimat yang ia harapkan bisa Suaminya dengar di tengah komanya.
"Berikan aku kesempatan untuk mencintai kamu Ben. Sadarlah, jangan kamu menambah rasa bersalah dalam diriku dengan kamu meninggalkan diriku sendiri. Hiks.Hiks...."
Nyonya Lukis cepat memeluk Liona. Ia bisa merasakan apa yang menantunya rasakan. Semua yang terlewati dengan biasa saja bahkan mungkin tak berarti baru terasa bahwa saat-saat itu adalah saat yang berharga dan tak akan kembali.
Ayra yang tak kuasa melihat adik iparnya menangis pilu dan ibu mertuanya juga harus merasakan kesedihan yang mungkin begitu dalam, membawa Liona meninggalkan ruang ICU itu.
"Sudah Ya Liona. Kita pulang. Kamu harus kuat, Sabara dan ikhlas. Jangan berlarut dalam kesedihan. Beni butuh istrinya untuk sehat dan ia pasti senang jika saat ia sadar, kamu sudah tegar. Dokter juga mengatakan terlalu banyak menangis akan menambah pengaruh buruk untuk saraf mata mu."
Hanya anggukkan ditengah Isak tangis Liona berikan pada Ayra. Ayra mendorong kursi roda Liona keluar dari rumah sakit menuju kediaman Pradipta.
__ADS_1