
Liona terdiam. Ia baru saja mengulangi pertanyaannya. Sungguh sebuah pil pahit yang ia telan. Ia harus menerima kenyataan orang yang selama ini ia hina dan benci bahkan ia caci maki masih mau merawatnya saat orang-orang yang harusnya membantunya. tak pernah hadir selama ia terpuruk.
Shela bahkan tak terlihat batang hidungnya. Sang asisten juga telah beberapa hari ini tak hadir. Liona menangis dengan napas yang sangat sesak. Saat perawat itu akan pergi, ia meminta perawat itu tak berbicara apapun.
Satu perasaaan malu ketika akan Kembali berhadapan dengan kedua orang yang mungkin akan datang ke ruangan nya. Dan ia bingung bersikap. Liona pun berusaha menajamkan Indra pendengaran nya. Ia yang kemarin terlalu fokus dengan kesedihannya. Maka hari ini ia mencoba melatih Indra pendengaran nya.
Liona mendengar suara pintu perlahan terbuka. Ia betul-betul menajamkan salah satu Indra yang masih bisa ia nikmati ya itu Indra pendengaran. Saat Liona merasa yang datang itu adalah Nyonya Lukis. Ia berusaha meraih sebuah botol mineral disebelahnya.
Dan ia merasakan botol itu mendekat ke arahnya.
"Sebegitukah kalian menjaga perasaan ku hingga kalian mengunci bibir kalian hanya untuk merawat ku."
"Semoga penglihatan mu cepat kembali Liona. Semoga Allah memberikan kesabaran yang luas untuk hari mu."
Liona minum air mineral itu dan mengembalikan nya. Ia memencet tombol merah yang ada di dekat kepalanya. Namun setiap Ayra dan Nyonya Lukis menunggu Liona disana mereka akan menonaktifkan tombol itu sehingga merekalah yang akan melayani Liona.
Saat Liona menekan tombol itu. Ayra cepat berjalan ke arah pintu. Ia buka dan tutup kembali pintu itu. Liona cepat berinsut.
"Bantu aku untuk berbaring. Pinggang ku sakit. Rasanya panas."
Suara yang biasa terdengar ketus kali ini sedikit pelan. Ayra cepat mendekat dan memegang pundak Liona. Ia menarik satu bantal yang tadi digunakan Liona untuk bersandar. Hingga ketika Liona telah berada dalam posisi berbaring ia sengaja memegang tangan Ayra. Dan Liona yang merasakan jarak ia dan Ayr sangat dekat. Ia menghirup napas dalam-dalam.
Ia menggunakan Indra penciuman nya untuk mengingat aroma tubuh siapa yang ada disisinya sekarang. Dari kulit tangan yang ia rasakan. Ia bisa pastikan jika perempuan yang ada disisinya saat ini adalah Ayra. Karena terasa sangat kecil dan begitu lembut.
__ADS_1
"Ayra. Kamu Ayra. Hhhh... kenapa tak kau cabut saja nyawa ku Tuhan! Aku malu. Aku malu."
Saat Ayra menaikan selimut hingga dada Liona. Liona memejamkan kedua matanya dan ia menangis dengan isakan tangis yang ia tahan. Ayra dapat melihat jelas jika Liona sedang menangis. Ia hanya mengusap lembut lengan Liona. Ingin ia peluk iparnya itu namun ia tak ingin emosi Liona kembali menjadi-jadi hingga mengganggu proses pemulihan luka jahitan pada lutut kirinya.
Ayra menemani Liona Sampai sore hari karena Nyonya Lukis pagi tadi harus menemani Rani yang juga dibawa ke rumah sakit oleh Ayra. Rani pingsan saat Ayra dan Raka sedang bermain di ruang tengah. Bambang yang telah berada di kantor meminta Ayra membawa istrinya agar dirawat dirumah sakit yang sama tempat Beni dan Liona dirawat.
Pintu ruangan Liona terbuka. Nyonya Lukis telah datang dengan wajah segar dan pakaian baru. Tampak sepertinya ibu mertua Ayra itu baru pulang dari rumahnya.
Nyonya Lukis membisikkan sesuatu ke telinga Ayra.
"Rani sudah boleh pulang. Ia hanya kelelahan. Pulang lah, Bram menunggu di depan. Mama baru saja dari rumah."
Ayra mengangguk. Setelah berpamitan Ayra meninggalkan ibu mertuanya. Nyonya Lukis mendekat ke arah tempat tidur Liona. Liona yang tak tidur namun kedua matanya terpejam. Ia yang mulai melatih Indra pendengarannya mulai merasa jika ada hembusan napas didekatnya.
Saat itulah tangis Liona pecah. Ia merasakan tangan yang saat ini membersihkan bagian **** ************* yang harusnya dibersihkan perawat tadi malah dibersihkan oleh tangan lembut Nyonya Lukis. Liona bisa merasakan dari aroma parfum yang dikenakan orang yang sedang membersihkan bagian tubuhnya adalah Nyonya Lukis. Ia kenal aroma parfum yang dikenakan sang mertua karena ia pernah membelikan untuk hadiah ulang tahun mertuanya itu.
Nyonya Lukis yang berpengalaman dalam merawat ibu mertuanya membuat dirinya terbiasa sekedar mengganti diapers.
Liona dapat merasakan perlakuan sangat lembut. Hingga selesai mengganti diapers Liona. Perawat yang tadi masuk dengan membawa makan untuk Liona, hanya duduk disebelah nyonya Lukis. Karena Nyonya Lukis memilih menyuapi sendiri menantunya. Saat suapan demi suapan diberikan oleh Nyonya Lukis. Liona sudah tak tahan dadanya sesak. Ia berkali-kali sangat susah untuk mengunyah bahkan menelan makanannya.
Ia menangis tersedu-sedu. Nyonya Lukis kebingungan. Ia melihat ke arah perawat yang duduk disebelahnya. Perawat itu hanya mengangkat kedua bahunya.
Liona meraba dan meraih tangan Nyonya Lukis. Ia raih tangan itu dan ia cium hingga air matanya membasahi tangan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Hiks.Hiks.Hiks...... Kenapa mama masih disini? Kenapa mama melakukan semua ini.! Tinggalkan Liona sendiri mama! Jangan mama menambah rasa tersiksa pada hari Liona ma.... "
Tangisan penyesalan, tangisan malu pada ibu mertuanya membuat Nyonya Lukis menyerahkan piring itu pada perawat. Ia cepat memeluk menantunya. Ia usap punggung menantunya. Air mata pun membasahi pipi Nyonya Lukis. Ia merasa sedih karena mendengar tangisan Liona.
"Tenanglah Liona..Jangan banyak bergerak. Luka mu hampir sembuh. Mama tidak akan meninggalkan kamu. Kamu istri Beni. Maka kamu adalah anak mama juga. Biarkan mama merawat kamu nak. Saat Ini Beni masih belum sadar. Maka kamu harus kuat, sabar dan cepat sehat."
Suara Liona terdengar lirih. Ia melerai pelukannya. Ia meraih tangan Nyonya Lukis. Ia kecup berkali-kali.
"Maafkan Liona ma. Liona merasa tidak pantas mendapatkan semua ini. Tangan mama ini tak harusnya merawat tubuh ini yang selama ini tak pernah baik pada mama."
"Mama sudah memaafkan kamu Liona. Mama menyayangi kamu sama seperti Beni yang menyayangi kamu. Mama berharap kamu bisa sabar dan harus semangat menjalani pengobatan ini. Kamu harus cepat sehat nak."
"Aku sudah bukan Liona yang dulu ma..."
"Kamu masih cantik Liona. Satu kekurangan akan tertutupi dengan banyak kelebihan dari dalam diri kamu. Jangan mikir macam-macam sekarang demi mama demi Beni berjuanglah untuk kesembuhan mu."
Liona memeluk ibu mertuanya.
"Mungkin ini semua pembalasan untuk aku-"
"Sssstt.... Tidak ada karma. Ayra pernah mengatakan semua yang terjadi atas izin Allah maka kita hanya dituntut untuk menerima setiap takdir yang datang pada kita. Baik itu senang mau susah. Belajarlah dari musibah ini Liona. Yakinlah akan ada pelangi saat hujan telah reda. Bersyukur kamu masih bisa selamat dari kecelakaan itu "
Anak dan menantu itu menangis haru. Pak Erlangga yang baru datang hanya mampu memandangi istri dan menantunya.
__ADS_1
"Semoga musibah ini membuat kamu menjadi lebih baik lagi Liona."