Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
206 Ammar Dan Qiya


__ADS_3

Siang hari di kantor. Bram yang baru saja akan makan siang harus mengurungkan niatnya. Nyonya Lukis yang baru saja masuk keruangan Bram membuat suami Ayra itu kembali duduk di kursinya.


"Mama kenapa tidak bilang dulu?"


"Sejak kapan orang tua harus izin anak nya untuk bertemu?"


Bram menaikan satu alisnya. Ia melihat mimik wajah ibunya sedang ingin menyampaikan sesuatu. Nyonya Lukis menarik kursi yang ada dihadapan putra sulungnya.


Ia meletakkan tas nya di atas meja. Dan menatap Bram dengan seksama.


"Ada apa ma? Apakah Bram melakukan kesalahan?"


"Bagus. Kamu sudah tahu kalau mama akan menyampaikan sesuatu. Mama bukan ini ikut campur urusan rumah tangga mu Bram. Semalaman mama hampir tidak bisa tidur."


Bram berdiri dan berpindah posisi duduk ke sebelah Nyonya Lukis. Nyonya Lukis selayaknya perempuan yang sedang merasa jengkel dan tak suka langsung saja mengutarakan isi hatinya.


"Kamu itu Bram. Apa kamu tidak berpikir dulu mencari baby sitter untuk baby twins? Intan itu pakaiannya seksi terbuka juga bagian dadanya itu. Kamu ini betul-betul tidak menjaga perasaan Ayra. Cepat hari ini juga kamu ganti baby sitter itu. Mama tidak mau ada pelakor di rumah tangga kalian. Perempuan tidak tahu malu. Mau kerja apa mau rebut suami orang."


"Ma...."


"Kamu dengarkan mama dulu. Ayra itu kurang apa? Dia cantik, mama pernah melihat dia tanpa hijabnya. Dia juga cerdas, baik hati. Mama tidak mau kamu menyakiti hati menantu mama Bram. Mama menyayangi Ayra sama seperti menyayangi kamu. Kamu-"


Bram memegang tangan Nyonya Lukis.


"Mama..... Dengarkan Bram dulu."


"Apa kamu mau berdalih apa? mau bilang tidak tahu? mau bilang sudah terlanjur. Apa Ayra kurang sempurna untuk kamu?"


Bram mengacak rambutnya dengan kasar.


"Untung Ayra itu tidak seperti mama. Yang langsung ngomel. Langsung menilai orang lain."


"Maksud kamu?"


"Menantu mama itu sudah membicarakan perihal itu semalam. Tapi caranya menyampaikan hal itu berbeda dengan cara mama barusan."


"So?"


"So Ayra tidak akan mengganti Intan dengan orang lain."


"Apa?!"


"Mama jangan berteriak seperti itu."


"Bram, Ayra itu terlalu baik."


"Mama sekarang kerumah saja ya. Biar mama tanya sendiri. Bram pusing kalau sudah bahas masalah seperti ini."


"Oya mama hampir lupa. Minggu depan itu acaranya jangan lupa. Baby twin juga sudah mama buatkan bajunya. Satu lagi ada kabar bahagia pagi ini. Beni juga sebentar lagi akan menjadi seorang ayah."


"Alhamdulilah.... "

__ADS_1


Nyonya Lukis pun meninggalkan Bram yang akan makan siang.


"Ya sudah mama mau bertemu Ayra sekalian mengantar baju untuk Ammar dan Qiya."


"Hati-hati ma."


Sebuah pesta pernikahan yang telah disiapkan oleh Nyonya Lukis dan Pak Erlangga untuk ketiga putra mereka. Pesta tersebut memang menunggu Ayra melahirkan. Memiliki tiga putra, dimana yang satu kali pun belum pernah menggelar resepsi pernikahan untuk ke-tiga putranya. Membuat Pak Erlangga mengadakan pesta di sebuah hotel dengan nuansa out dor.


Tiba dirumah baru Ayra. Nyonya Lukis cepat mencari keberadaan kedua cucunya. Nyonya Lukis melihat penampilan Intan yang hari ini berbeda dengan penampilan nya kemarin. Ayra yang melihat kehadiran ibu mertuanya cepat menghampiri sang ibu mertua.


"Ay ini baju untuk Ammar dan Qiya di acara resepsi besok."


"Terimakasih ma. Jadi repot-repot."


Nyonya Lukis bercerita perihal berita kehamilan Liona. Ayra turut senang mendengar berita tersebut.


Disaat Ayra dan Nyonya Lukis sedang asyik berbincang-bincang. Suara tangis Ammar terdengar dari arah kamarnya. Ayra cepat menghampiri putra sulungnya. Tubuh si mungil pun terasa panas. Ayra mengambil termometer di laci dekat box bayi. Ternyata suhu tubuh Ammar cukup tinggi.


"Ke dokter saja apa ya Ma?"


Ayra cukup panik. Karena biasanya Ammar yang sedikit susah ditenangkan akan diam ketika dalam pelukan Ayra atau sudah diberi ASI. Namun siang ini Ammar masih menangis.


"Iya sudah bawa saja ke dokter. Qiya ditinggal saja sama mama."


Ayra pun memberikan kabar pada suaminya jika Ammar sedang demam. Tubuh putranya itu terasa panas. Ayra terpaksa meninggalkan Qiya bersama mama mertuanya.


"Titip Qiya ya ma. Mas Bram menyuruh Ayra berangkat dengan pak Sopir. Intan saya titip Qiya ya."


Beberapa jam kemudian, Ayra pun pulang bersama Bram. Ammar yang ternyata akan terkena flu. Ayra menggendong sang buah hati menuju kamarnya. Tiba di dekat kamar ia melihat Qiya sudah terlelap di dalam box nya.


Malam harinya Bram betul melihat perjuangan seorang ibu. Ayra yang baru akan terlelap kembali terbangun karena Ammar kembali menangis. Diberikan ASI pun tak mempan untuk membuat bayi lelaki mereka itu tenang. Ayra akhirnya menggendong Ammar sambil berdiri dan sedikit diayunkan. Barulah Putra sulung mereka itu tertidur dan tenang. Baru Ayra akan merebahkan tubuh mungil Ammar ke tempat tidur, bayi mereka kembali menangis.


Melihat istrinya lelah. Bram berniat gantian menggendong Ammar.


"Sini Ay. Biar mas gendong. Kamu istirahat saja."


"Ga apa-apa mas bekerja besok. Biar Ayra saja. Mas istirahatlah."


Hingga sampai dini hari Ayra tertidur dalam keadaan duduk dan masih Ammar dalam pelukan sang ibu. Bahkan lengan kanan Ayra yang di ganjal bantal oleh Bram agar tak terasa sakit karena menahan kepala Ammar.


Keesokan paginya, Ayra dan Bram kembali dibuat panik karena sang bayi Qila menangis tak henti-henti. Bahkan diberikan ASI pun sang bayi tak mau menyedotnya. Ayra merasa aneh karena tubuh Qiya tak demam. Sedangkan Ammar yang mulai berangsur membaik sudah tak rewel lagi.


"Badannya ga panas kok mas."


Bram masih menenangkan Qiya. Ayra yang melihat sang anak masih menangis dalam gendongan suaminya, berinisiatif untuk menggendong sang buah hati. Terlihat sang buah hati matanya berair. Ayra makin bertambah bingung.


"Kita telpon Helena saja Ay. Ini masih pagi kalau harus ke rumah sakit. Ammar juga masih belum sehat betul."


"Apa tidak merepotkan mas?"


"Tidak. Helena dokter anak. Ku rasa dia mengerti. Biar mas coba telpon."

__ADS_1


Ayra yang berhati lembut ikut menitikkan air mata karena Qiya menangis dan terus mengeluarkan air mata.


"Sayang.... Sakit ya nak. Sabar ya nak. Nanti Allah kasih kesembuhan untuk Qiya."


Ayra terus membaca shalawat sambil menggendong buah hatinya. Hampir satu jam Helena tiba bersama Nyonya Lukis.


"Mama...."


"Mama lagi menginap di rumah Helena kemarin. Mama langsung ikut karena mendengar kabar dari Helena kalau Qiya juga sakit."


Helena memeriksa kondisi Qiya. Ia memeriksa bagian pan tar sang bayi. Sehingga dokter anak itu meminta Cut ton Bud. Entah apa yang dilakukan Helena. Beberapa saat kemudian suara tangis Qiya sedikit mereda seiring dengan keluarnya BAB. Ternyata bayi mereka menangis seperti itu karena tidak bisa BAB.


Setelah si kecil Qiya tenang. Ayra menyerahkan Qiya pada Intan untuk diganti bajunya. Helena menikmati teh yang telah disiapkan oleh art di kediaman Ayra.


"Ay. Qiya dan Ammar ASI eksklusif kan?"


"Iya insyaallah."


Helena mengerutkan dahinya."


"Ada apa Helena? apakah ASI ku bermasalah?"


"Bukan. Apakah kamu memberikan makan pada Qiya kemarin?"


Ayra mengerutkan dahinya mencoba mengingat.


"Tidak Helen. Aku belum memberikan makanan apapun pada Ammar dan Qiya."


"Apa baby sitter nya Ya."


Tanpa basa Badi Helena langsung menanyakan hal itu pada baby sitter yang baru satu hari bekerja di kediaman Ayra.


"Apakah kamu memberikan makanan pada Qiya?"


Intan terlihat pucat. Bram yang mendengar segera menoleh ke arah Intan.Iya penasaran juga bertanya pada Helena.


"Memangnya Qiya kenapa Helen?"


"Sepertinya Qiya susah BAB. Sebelum berusia 6 bulan, saluran pencernaan bayi belum dapat mencerna makanan selain ASI atau su su formula dengan baik. Jadi dilarang memberikan makanan tambahan selain ASI atau su su formula kepada bayi berusia di bawah 6 bulan. Nah dari fe ses nya tadi aku bisa pastikan kalau Qiya diberikan makanan selain ASI dan Su su formula."


Bram langsung mengintimidasi Intan.


"Katakan intan apa betul itu?"


"Anu pak. Anu."


"Katakan iya atau tidak!!"


"Mas...."


Ayra cepat berdiri dan menghampiri suaminya. Nada bicara Bram mulai meninggi. Membuat Intan menundukkan kepalanya dan terlihat ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2