
Pagi hari di kediaman Kyai Rohim. Umi Laila dan Ayra telah sibuk menyiapkan beberapa menu sarapan. Sedangkan Qiya dan Ammar berlari ke dapur. Mereka mencari sosok Mbah Kakung mereka. Kyai Rohim yang setelah shalat Shubuh di masjid di jemput oleh tetangga sebelah desanya. Maka Ammar dan Qiya tak menemukan sosok yang di cari, mereka yang senang sekali jika bersama Kyai Rohim. Mereka akan mendapatkan cerita atau kisah masa kecil Mama mereka dari Kyai Rohim.
Ammar bertanya pada Umi Laila, "Mbah Uti, Mbah Kung kemana?"
"Mbah Kung tadi pagi di jemput orang. Mungkin sebentar lagi pulang." Jawab Umi Laila.
"Bukannya Mbah Kung lagi tidak sehat Mbah?"
Ayra yang baru saja meletakkan sayur Sop diatas meja. Ia menjawab pertanyaan Qiya.
"Mbah Kung itu tidak bisa menjawab 'tidak' ketika orang meminta pertolongannya. Sekalipun lagi tidak sehat."
Qiya menatap menu yang telah tersedia. Ia baru akan mengambil tempe bacem yang aromanya membuat perutnya berbunyi. Ammar cepat menahan lengan adiknya.
"Cuci tangan dulu Gembul."
"Ammar...."
Ayra mengangkat telunjuknya ke arah Ammar dan ia gerakkan. Tanda bahwa satu kalimat yang putranya ucapkan tak pantas diucapkan.
"Maaf Ma."
"Tidak boleh memanggil seperti itu."
"Iya Ma. Maaf Qiya. Adik ku yang cantik dan Imut,"
Qiya yang sudah cemberut karena di panggil gembul tak menjawab. Tangannya yang ia lipat karena di depan dada. Ayra menghampiri putrinya. Ia usap kepala anaknya.
"Ayo.... Kalau ada yang minta maaf. Kita harus bagaimana?"
"Tapi kakak selalu mengulangi ejekan itu. Aku tidak suka Mama."
"Aku hanya bercanda Qiya. Kamu sekarang sudah mengambil sanad jadi orang pemarah dari Papa?"
Umi Laila mendengar celotehan Ammar tertawa.
"Ammar... Ammar. Lah kok ngerti sanad mbarang. Kayak wes mondok aja kamu Nak."
"Tidak Mbah. Ammar tidak mau mondok."
"Loh ... loh. Kenapa ndak mau?"
"Ammar ndak mau jauh dari mama. Mondok itu tidak enak..." ungkap Ammar lirih.
"Alhamdulilah cucu Mbah sayang orang tua. Ta-"
"Assalamualaikum...."
Tiba-tiba terdengar suara Kyai Rohim dan Bram dari arah depan. Umi Laila cepat berjalan ke arah ruangan depan. Qiya yang melihat Kyai Rohim dan Papanya. Cepat menghampiri sang Kakek.
"Mbah Kung darimana?"
Umi Laila menarik satu kursi. Kyai Rohim duduk di kursi yang terbuat dari kayu jati tersebut.
Kyai Rohim menjawab pertanyaan Qiya, "Mbah Kung dari rumah orang sakit."
__ADS_1
"Memangnya Mbah Kung dokter? Kalau ada orang sakit, Mbah Kung yang dipanggil?" Ammar protes karena pagi-pagi sekali Mbah Kung nya sudah di jemput oleh orang dan ternyata untuk membesuk orang sakit.
Padahal Kyai Rohim diminta mendoakan seseorang yang sudah lansia dan sudah kritis hampir satu Minggu. Orang tua itu dalam lelahnya menahan rasa sakit yang tak kunjung ada akhirnya, ia meminta kepada anak-anaknya untuk membaca kan Al Qur'an.
Ternyata tak satupun dari anak dan menantunya yang bisa membaca Alquran. Sehingga beberapa tetangga menyarankan meminta agar Kyai Rohim dan santrinya untuk membacakan doa dan Al Qur'an untuk orang tua tersebut. Dan Kyai Rohim mengajak beberapa santrinya ke rumah orang tua tersebut. Bram mengantar kyai Rohim dan beberapa santrinya. Karena yang menjemput Kyai Rohim hanya mengenakan sepeda motor.
"Betul," Qiya ikut menimpali komentar Ammar.
Kyai Rohim menyeruput kopi yang baru saja Umi Laila letakkan di meja. Lalu ayah Furqon itu pun membuka kopiah hitamnya, dan ia letakkan di sebelah cangkir kopinya.
"Jadi Begini Ammar, Qiya. Saat ada yang meminta pertolongan kita. Dan kita bisa, kita harus menolong orang tersebut."
"Memangnya Mbah Kung diminta tolong apa Kung? katanya orangnya sakit." Tanya Ammar penasaran.
Umi Laila yang sedang menyiapkan piring untuk makan bersama Ayra tersenyum melihat Ammar yang rasa ingin tahunya begitu sama sepeti Ayra ketika masih kecil. Selalu ada pertanyaan, 'mengapa? Bagaimana? Kapan? Apa?'. Terkadang Umi Laila kerepotan menjawab rasa ingin tahu putri Nuaima itu.
Kini buah hati Ayra memiliki rasa ingin tahu yang sama seperti ketika Ayra seumuran Ammar dan Qiya.
Kyai Rohim melihat ada pisang goreng di atas meja. Ia mengambil satu dan menikmatinya. Dan setelah habis satu buah pisang goreng, Kyai Rohim kembali menikmati kopi kental pahit yang tadi ia seruput.
Kyai Rohim menjawab pertanyaan Ammar, "Jadi orang yang sakit tadi ingin mendengarkan anak cucunya membaca Alquran tetapi tidak ada satupun anaknya yang bisa membaca sehingga meminta bantuan Mbah Kung dengan kang santri untuk membacanya."
"Apakah mereka tidak mengaji ketika kecil Kung?"
"Ya Mbah Kung tidak tahu."
"Berarti mengaji itu ada manfaatnya juga ya Kung buat bantu orang lain." Tanya Qiya penasaran.
"Ow. Bukan cuma buat bantu orang lain tetapi buat diri kita sendiri dan juga orang tua kita ketika mereka sudah meninggal dan kita masih hidup di dunia."
Ammar terlihat mendekati Kyai Rohim. Ia kembali penasaran.
"Mbah Uti ini yang bisa menceritakan untuk kalian. Coba Mbah Uti cerita sama Ammar dan Qiya."
Umi Laila Cepat mengelap tangannya dan duduk di sisi Qiya. Perempuan paruh baya itu mengusap lembut kepala Qiya sebelum menjawab pertanyaan Ammar.
"Jadi nanti di akhirat. Akan ada yang terkaget-kaget karena satu amalan yang tidak di lakukan tetapi membuat orang itu mendapatkan pahala. Terdapat seorang yang merasa kaget karena dia tidak bisa membaca Alquran tetapi ketika di akhirat mendapat pahala membaca Alquran yang banyak. Sehingga dia bertanya pada Malaikat. 'Ya malaikat ini pahalanya siapa? Lah wong saya Ndak bisa baca Alquran."
Kyai Rohim menjawab pertanyaan Umi Laila. Inilah moment yang sangat menyenangkan bagi Ammar dan Qiya ketika di Kali Bening. Mereka akan mendengarkan cerita dari Kyai Rohim dan Umi Laila yang terkesan seperti mendongeng. Tetapi merasuk ke hati mereka.
Kyai Rohim menjawab pertanyaan Umi Laila.
"Pahala mu."
Umi Laila bertanya kembali, "Lah wong saya Ndak bisa baca Al-Quran loh Malaikat."
"Itu loh ada anak putu mu yang setiap hari baca Al-Qur'an."
Umi Laila memasang mimik serius sambil meneruskan ceritanya.
"Lalu orang tersebut di tiba-tiba dikagetkan lagi. Dia kembali bertanya tentang pahala shalat tahajud padahal orang tersebut tidak pernah shalat tahajud. 'Ya malaikat. Ini pahala siapa?"
Kyai Rohim menjawab, "Pahala mu."
"Lah kok bisa? Saya itu ndak pernah shalat tahajud loh malaikat." Jawab Umi Laila degan ekspresi di buat bingung.
__ADS_1
Kyai Rohim kembali menjawab, "Itu loh anak putu mu ada yang rajin setiap malam shalat tahajud. Jadi kamu dapat pahalanya."
Tiba-tiba Ammar sambil menggaruk alisnya, ia bertanya pada Umi Laila, "Lalu kalau misalnya anak cucu nya berbuat dosa? Orang itu dapat dosa juga Mbah Uti? atau cuma Pahala?"
"Iya, jadi bukan cuma pahala saja tetapi dosa juga mengalir untuk orang tua kita yang sudah meninggal. Jika kita berbuat dosa."
Ayra yang duduk di sisi Bram. Ia menunggu momen seperti ini, momen dimana agar kedua anaknya mengerti jika menuntut ilmu dan mengaji di pondok itu penting.
"Berarti Umi, Intinya untuk menjadi anak Sholeh yang bisa baca Al-Quran, rajin shalat-shalat Sunnah itu harus ada ilmunya dong Mi?"
Ayra tersenyum sambil melirik ke arah Ammar. Umi Laila paham maksud Ayra, putrinya itu sempat menceritakan jika Ammar dan Qiya tak ingin di sekolah kan di pondok pesantren.
"Ya harus punya Ilmu. Dan ilmu itu harus di pelajari." Umi Laila menjawab pertanyaan Ayra.
Qiya yang terbuai obrolan tersebut spontan bertanya.
"Apakah harus mondok Mbah Uti, untuk mempelajari nya? Qiya tidak mau sekolah di pondok pesantren."
"Ammar juga," timpal Ammar.
"Loh, kenapa ndak mau mondok?"
Kyai Rohim menatap kedua cucunya bergantian.
"Katanya di pondok itu Ndak enak," Qiya menjawab lugu pertanyaan Kyai Rohim.
Bram cepat menjawab.
"Sekarang Papa tanya. Mama sama Papa pintar siapa baca Qur'an nya?"
"Mama." Jawab Ammar dan Qiya kompak.
"Mama hapal Al Qur'an. Itu karena Mama kalian menuntut ilmu di pondok. Sedangkan Papa tidak. Jadi Papa yang tidak sekolah di pondok pesantren jelas kalah ilmu nya kalau sudah tentang Ilmu Agama dibandingkan Mama. Lalu kalian bilang Mama is the best. Itu karena Mama mondok. So Apakah kalian ingin membahagiakan Papa besok di akhirat karena Papa yang tidak hapal Al Qur'an ini mendapatkan ganjaran pahala dari anak-anak Papa yang Pandai dan bisa baca Al-Quran apalagi hapal Al Qur'an seperti Mama."
"Qiya Mau! Qiya sayang Papa!"
Putri Bram itu cepat mencium pipi Bram. Bram pun membalas ucapan tulus putrinya.
"Papa pun sayang Qiya dan Ammar."
Ammar masih belum puas dengan pemikirannya. Ia kembali bertanya.
"Tapi kan Papa dan Mama belum meninggal. Ammar tidak mau mondok. Kalau Qiya mau mondok, kamu aja sendiri. Kakak tidak mau. Kakak bisa belajar di YouTube, kakak bisa tetap rajin shalat biar papa dan mama bahagia dapat pahala dari Ammar tanpa harus mondok."
"Ya sudah, tidak apa-apa yang penting terus jadi anak Sholeh dan belajar yang rajin ya."
Kyai Rohim melihat raut wajah Ammar mulai terlihat gusar.
"Karakternya seperti Bram. Mudah-mudahan Allah melembutkan hati cucuku Ammar, agar kelak ia ingin mondok dengan senang hati. Aamiin."
Umi Laila menyuruh Bram dan Ayra untuk sarapan karena mereka akan pergi ke kediaman Pak Erlangga. Sarapan pagi itu pun di mulai dengan Ammar yang memimpin doa makan. Dalam hati Bram menatap anaknya sambil mendoakan anaknya.
"Semoga Ammar kelak menjadi anak yang mencintai Mamanya, dan Ia dijauhkan dari perbuatan maksiat. Aamiin."
Pagi itu selepas sarapan. Bram dan keluarga kecilnya menuju rumah Pak Erlangga yang telah hadir Liona dan juga Beni. Istri Beni itu sedang memasak Brownies kesukaan Qiya. Sedangkan untuk Ammar, ia telah membelikan ice cream rasa vanilla kesukaan keponakannya. Liona begitu mencintai anak dari Ayra ataupun Rani. Sehingga tak heran jika keponakannya akan sangat antusias jika akan bertemu dengan dirinya.
__ADS_1
Terlebih Ammar dan Qiya tahu jika bahwa tantenya belum memiliki anak. Satu hal yang membuat cinta anak-anak Ayra itu hadir untuk Liona, karena Ayra tak pernah menceritakan kejelekan di masalalu iparnya itu. Andai Qiya dan Ammar tahu bagaimana dahulu tantenya itu memperlakukan Mama mereka, maka dapat dipastikan kedua buah hati Ayra itu tak akan mencintai Liona dengan tulus.
Tak akan ada hubungan yang baik antara bibi dan keponakannya karena cerita masalalu diteruskan kepada anak-anak. Beruntung Ayra paham bahwa menceritakan keburukan bibi dari keponakannya di masalalu akan membuat benih-benih kebencian di hati anaknya. Sehingga cerita keburukan Liona terhadap Ayra tak pernah sampai di telinga kedua buah hatinya. Sebuah cerita yang hanya menjadi kenangan bahkan telah terlupakan bagi Ayra.