
Dinginnya malam, dan lelah nya diri membuat Ayra tertidur begitu lelap. Sampai-sampai ia yang biasanya bangun lebih awal, kali ini harus dibangunkan oleh Umi Laila.
Saat ia bangun pagi ini. Mual yang tak terlalu terasa membuat Ayra sedikit senang karena ia bisa bangun di pagi hari tanpa merasakan mual hingga muntah.
Saat akan membersihkan diri alangkah kagetnya Ayra. Ada bercak darah pada underwear yang ia kenakan. Seketika raut wajah Ayra pucat. ia sangat khawatir. Ia tak jadj mandi. Ia hanya membersihkan tubuhnya. Cepat ia keluar dari dalam kamar mandi.
Saat ia keluar dari kamar mandi, ia melihat Umi Laila yang lebih dahulu bangun dari dirinya.
"Umi...."
Umi Laila yang sedang mengiris bawang cepat menoleh.
"Ada apa Ra?"
"Umi.... Ada bercak darah di pakaian dalam Ayra.... "
Suara dan wajah Ayra begitu khawatir. Umi Laila meletakkan pisaunya dan mendekati Ayra.
"Banyak?"
Umi Laila pun cukup kaget.
"Pakaian dalam nya cukup basah Umi."
"Tapi kamu ndak sakit?"
Umi Laila memeriksa kondisi Ayra dengan memegang tangan dan pipi Ayra.
"Kita kerumah sakit ya. Flek itu biasa kalau hamil. Kamu mungkin stress Ra. Pakai pembalut, biar tahu nanti pas kedokter seberapa banyak flek atau darah yang keluar. Umi akan antar nanti."
Ayra mengangguk. Ia mencoba menenangkan hatinya walau ada kekhawatiran akan janinnya.
Pagi harinya Umi Laila dan Ayra pergi ke salah satu rumah sakit yang menjadi tempat pertama Ayra memeriksakan kondisi kehamilannya. Saat Umi Laila mendaftarkan Ayra. Istri dari Bram itu duduk di bangku antrian. Seorang perempuan berambut panjang menyapa Ayra.
"Sendiri mbak?"
Ayra menoleh, ia mengingat wajah perempuan yang ada di dekatnya itu.
"Tidak, sama ibu. Mbaknya sendiri? Mbak istrinya..... "
"Mas Ilham. Ya aku istirnya mas Ilham."
"Mbak sendiri kemari?"
Ayra melihat kondisi istri Ilham itu sepertinya sudah cukup besar kehamilannya.
"Tidak, diantar Papa. Mas Ilham sedang di kantor."
"Mbak namanya siapa ya saya lupa."
__ADS_1
"Agassi. Biasa dipanggil Sasi. Kalau saya tak bakal lupa nama kamu Ayra."
Deg.
Ayra kaget mendengar nada bicara dari Istri Ilham itu.
"Maaf mbak saya berharap mbak tidak salah paham dengan saya."
"Tidak, saya tidak salah paham. Saya percaya takdir. Maka pagi ini pun takdir kita bertemu untuk kedua kalinya."
Ayra menarik ujung bibirnya. Ia lihat perempuan bernama Agassi itu cantik dan tenang. Tapi dari intonasi bicaranya ada sesuatu yang membuat Sasi merasa tak nyaman dengan Ayra. Ayra yang cerdas paham kemana pembicaraan yang Sasi maksud. Mungkin pertemuan pertama mereka saat itu Ilham terlihat sibuk dengan masa lalunya namun ternyata ada istri yang mendengarkan tiap kata yang ia tujukan pada Ayra.
"Saya tahu kamu perempuan baik-baik. Tapi takdir saja seolah sedang ingin bermain dengan ku dari aku masih kecil hingga sekarang. Mungkin memang takdir ku."
"Kita tidak boleh berpikiran jelek tentang takdir yang sedang kita jalani sekarang mbak."
"Ya, kamu benar maka itu saya tidak menganggap mu rival."
Ayra hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Sasi. Tak lama nama Agassi di panggil. Seorang lelaki dari jauh terlihat berjalan ke arah Sasi. Lelaki paruh baya itu membantu anaknya berdiri. Ayra pun membantu Sasi yang memang kesulitan berdiri. Terlihat kaki Sasi cukup bengkak. Seketika lelaki itu termenung ketika melihat Ayra.
"Pa... Ayo pa... "
Suara Sasi membuat lelaki yang ternyata adalah pak Bagas itu tersadar sebelum ia bermonolog dalam hatinya.
"Aima.... Nuaima.... wajah ini. Wajah Aima."
"Oh.... Iya. Ayo, ayo. Terimakasih."
Selama menemani Sasi di dalam ruangan dokter obgyn. Pak Bagas tak semangat saat masih dirumah. Ia melamun perempuan yang ia temui diluar tadi. Wajah dan suaranya mirip Nuaima.
Setelah Sasi selesai, mereka keluar. Ketika keluar Pak Bagas kembali melihat Ayra. Ayra yang khawatir tentang kandungannya sedari tadi hanya tertunduk. Saat belum jauh Pak Bagas meninggalkan ruangan Obgyn itu. Suara seorang perawat memanggil nama Ayra.
"Ibu Ayra Khairunnisa istri bapak Bramantyo."
"Ayra. Ya Tuhan, takdir mempertemukan aku dengan anak mu Ai. Ia mirip sekali dengan mu. Tapi dia tidak tinggi seperti mu. Ia sedikit kecil. Ah... Ayra. Jadi kamu Ayra anak Aima. Kalian sama-sama cantik.Dan Seperti nya kalian sama-sama lembut."
Ketika dalam perjalanan pulang. Pak Bagas yang tadi sempat melihat jika Ayra berbicara dengan putrinya. Ia bertanya pada Sasi apakah ia mengenal Ayra.
"Papa sepertinya mengenal perempuan itu tadi. Sepertinya pernah bertemu. Kamu mengenal nya?"
"Iya. Baru beberapa bulan ini Pa. Apa papa mengenalinya?"
"Wajahnya mirip teman mama mu."
Pak Bagas berbohong karena ia tak ingin hubungan ia dan Sasi yang dulu cukup lama renggang karena Sasi membaca buku harian peninggalan mamanya. Dimana dalam buku itu tertulis bahwa ibunya Sasi mengetahui setiap apa yang suaminya lakukan bahkan saat suaminya pergi mengikuti Nuaima ke Kali Bening namun beralasan ada pekerjaan diluar kota.
Belum lagi curahan hati ibu Sasi yang begitu menyedihkan. Karena suaminya saat tidur dan memeluk dirinya namun mengigau nama Aima. Namun usia pernikahan yang lama. Dan ketiga anaknya yang membuat ibu Sasi masih bersabar berada disisi Pak Bagas.
Dan Nuaima yang juga tak ada main dengan Pak Bagas membuat istrinya Pak Bagas paham jika suaminya mengalami kembali Obsession Love Disorder pada objek yang berbeda.
__ADS_1
Pak Bagas dibuat tersentak ketika Sasi mengucapkan satu harapan yang membuat ia tersindir.
"Semoga saja betul teman mama bukan perempuan yang bernama Nuaima itu."
"Ayolah Sasi jangan membuat Papa kembali merasa bersalah."
"Tetapi papa harus tahu satu hal. Hari ini, apa yang papa lakukan pada mama. Kini Sasi rasakan. Bagaimana sakitnya ketika kita menikah namun suami kita masih menyimpan rasa untuk orang lain."
"Apa maksud mu Sasi?"
"Perempuan tadi adalah seorang yang pernah mas Ilham lamar. Namun lamarannya ditolak. Mas Ilham entah sakit hati atau masih punya rasa. Semenjak bertemu Ayra satu bulan lalu. Semenjak itu Mas Ilham menjadi dingin pada Sasi."
"Apa?"
"Kurang ajar Ilham itu. Berani dia macam-macam dengan mu. Papa tidak akan diam saja."
"Mungkin sekarang papa merasakan apa yang orang tua Mama rasakan dulu."
Suara Sasi terdengar menahan tangis.
"Sasi.... Ayolah masihkah kamu menyimpan rasa benci pada papa mu ini?"
"Tapi inilah kenyataan nya pa. Kita seolah kembali pada masalalu. Sekarang papa merasakan bagaimana sakitnya melihat pernikahan anak papa yang tak bahagia karena adanya satu nama di hati pasangan Sasi. Apakah tidak sama persis dengan Masalalu papa dan mama?"
"*Ah andai bisa ku ulang waktu. Maafkan Aku Sisil. Andai kamu tahu Sasi, saat ini rasa hati papa ini masih sakit karena telah membuat dua orang itu meninggal dunia hingga perempuan tadi menjadi Yati piatu. Belum juga hilang rasa bersalah pada mama mu. Kini rasa sakit itu datang lagi. Aku harus ke psikiater sepertinya*."
Mulut Pak Bagas tertutup rapat. Ia tak mampu menjawab perkataan Sasi. Ia memeluk anaknya yang sedang menangis disebelahnya. Kini ia tahu alasan menantunya sering keluar kota. Mungkin tak ada cinta di hati anaknya. Perjodohan, mungkin itulah alasan kenapa Ilham mau menikah dengan Sasi.
Saat Sasi menangis didalam pelukan papanya. Ayra masih berada di dalam ruang obgyn. Seorang dokter perempuan masih memeriksa kondisi kandungan Ayra melalui USG. Setelah selesai. Ayra duduk didepan dokter bersama Umi Laila.
"Bagaimana dokter, apa tidak ada masalah serius?"
"Janinnya baik, mungkin faktor kelelahan atau stress saja. Saya sarankan satu Minggu ini badrest ya Bu. Dan saya kasih vitamin."
Dokter itu menulis sesuatu di lembaran resep yang mana tulisannya tak dapat dimengerti oleh orang non medis.
"Tidak boleh stress Ra. Kamu dengarkan."
Umi Laila mengusap punggung tangan Ayra. Dokter itu pun menimpali perkataan Umi Laila.
"Amat penting untuk menjauhi stress pada saat kehamilan Bu, walaupun tidak ada gejala pendarahan dan pusing. Batasi aktivitas Anda, dan cari cara untuk bisa tetap bersantai ditengah-tengah kesibukan Anda. Semoga kehamilan dan persalinan Anda berjalan lancar. ya Bu."
Ayra cukup lega karena kondisi kandungannya tak apa-apa. Kondisi flek hanya karena ia mungkin lelah dan menangis semalaman.
"Sungguh berat mengontrol rasa dihati saat hamil ternyata Umi... "
Ayra menyandarkan kepalanya di pundak Umi Laila saat perjalanan pulang. Ia pejamkan kedua matanya.
"Hormon ibu hamil itu berbeda Ra. Kadang juga sering berubah-ubah."
__ADS_1
Ayra tertidur di sisi Umi Laila selama perjalanan pulang. Beruntung Ayra memiliki Umi Laila yang selalu mampu memberikan ketenangan saat hatinya bersedih dan kini ia sangat tenang, tak seperti saat dirumah sebelum berangkat. Ia ingin berangkat Shubuh itu juga. Namun sikap tenang Umi Laila membuat Ayra percaya jika memang tak apa-apa pada janinnya hingga ia bersedia menunggu pagi hari untuk memeriksakan kondisi kehamilannya.