
Tak terasa usia kehamilan Ayra telah mendekati proses melahirkan. Bram yang merasa amat bahagia karena akan bertambah lengkap tawa dan senyum mereka dengan kehadiran baby twins yang ada di dalam rahim istrinya.
Bram yang biasanya sibuk di meja kerjanya saat sebelum Istirahat. Malam itu ia ingin melihat kondisi istrinya. Namun saat ia ke kamar. Ia melihat sang istri baru saja membuka mukenah langsung yang biasa istrinya kenakan untuk shalat. Terlihat sisa-sisa air mata dan kedua netra istrinya terlihat sipit juga sembab.
Bram cepat menghampiri dan memeluk istrinya. Ayra yang kaget beristighfar. Ia tak menyadari jika sang suami tiba-tiba berada di belakangnya.
"Kamu tidak menyadari aku membuka pintu. Kamu pasti memikirkan sesuatu. Katakan apa yang membuat istri ku ini meneteskan air mata?"
Ayra meraih tangan Bram yang melingkar di pinggangnya hingga mendarat di perut nya.
"Ayra teringat almarhumah Shela."
Bram melerai pelukannya. Ia berjalan ke hadapan sang istri. Bram menatap istirnya penuh tanya. Satu tangannya ia tempelkan di pipi sang istri.
"Katakan apa yang membuat istri mas bersedih?"
"Ayra merasa khawatir. Belum sempat Ayra meminta maaf pada Shela semasa hidupnya mas. Ayra pernah menyakiti Shela mas."
"Ay.... Surat yang ia tinggalkan pada mu adalah satu isyarat jika ia meminta maaf padamu."
Ayra menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Sambil satu tangannya memegang mukena yang baru saja ia kenakan.
"Tapi di dalam surat itu tidak ada kalimat dari Almarhumah tentang keridhoan nya memaafkan kesalahan Ayra pada nya mas. Ayra merasa khawatir. Umi dulu sering mengingatkan, jika Ampunan dan rahmat Allah sangatlah teramat besar. Yang sulit itu ketika kita menyakiti sesama manusia dan mengharapkan maaf darinya."
Bram menghela napasnya. Ia tahu dari Bambang perkara dulu Ayra pernah menampar Shela saat dirinya meringkuk di dalam sel tahanan.
"Tetapi apakah tidak cukup dengan dia meminta kamu memberi nama anak nya adalah sebuah pertanda di memaafkan kamu."
"Justru dia harusnya meminta maaf pada mu Ay."
Ayra memejamkan matanya.
"Semoga kamu tidak membawa rasa sakit hati mu pada ku sampai ke sana Shela. Sungguh masih menjadi beban di hati ini kala aku pernah menyakiti kamu tapi belum sempat meminta maaf pada mu. Apakah ini hal sama yang kamu rasakan Shela, saat kamu meminta untuk bertemu aku dan mas Bram."
"Sudah, jangan bersedih. Kamu lagi menanti waktu kelahiran. Jangan terlalu stress, dan kita akan ikut memantau perkembangan Almahyra, kita tak akan membiarkan Yazmin seorang diri."
Bram mencoba menenangkan istrinya. Perut yang terasa lapar, membuat Bram mengajak sang istri untuk makan malam.
Saat selesai makan malam. Bram mengajak istrinya untuk istirahat. Satu hari bekerja membuat Bram sangat merindukan istirnya.
"Mas, kita pakai layanan go food saja ya."
Bram melepaskan pelukannya dari sang istri.
"Memangnya kenapa Ay? Kamu bukannya cocok dengan masakan Bik Asih."
"Kasihan Bik Asih harus bolak balik kemari setiap hari."
Bram mengusap kepala istrinya.
"Kamu ini. Mas itu kasihan nya sama kamu. Kamu tahu tidak bik Asih itu sangat senang sekali bisa menemani kamu."
__ADS_1
"Aku harus segera mencari tempat tinggal. Setidaknya istri ku ini bisa bersama orang-orang yang ia sukai."
Bram melihat jelas jika istrinya sedang merasa tak nyaman.
"Kenapa?"
"Ayra cuma berharap bisa lahiran normal."
"Dokter kemarin bilang kan lihat nanti Ay. Kamu sehat, dan semoga anak-anak kita bisa mendengar isi hati mamanya."
Bram mengusap perut istirnya lalu ia berbicara pada rahimnya.
"Kalian dengar. Kalian anak Sholeh dan Sholehah. Jadi nanti kalau sudah waktu lahiran tidak sungsang lagi ya nak. Mama kalian ingin normal."
"Aamiin...."
Bram membenarkan posisi duduknya. Ia mengecup ujung jari tangan istrinya.
"Katakan kenapa mau normal? Mas lebih tenang kalau kamu lahiran normal Ay."
"Katanya sudah pernah Caesar nanti anak-anak selanjutnya akan Caesar juga mas."
"Oh... Jadi istri mas ini mau punya anak-anak lagi setelah ini?"
Ayra tertawa mendengar godaan sang suami.
"Iya. Sebanyak-banyaknya jika Allah berkenan."
"Aamiin. Mudah-mudahan kita bisa mendidik anak-anak kita seperti yang Allah inginkan."
Saat sepasang suami istri itu kembali berbicara. Bram sempat membahas untuk perihal nama calon anak-anak mereka.
"Ay. Nanti mau dikasih nama siapa anak-anak kita?"
"Nanti saja mas. Kalau bayinya sudah lahir ya."
"Memang tidak boleh dicarikan nama sekarang?"
"Boleh. Tapi Ayra lebih nyaman nanti saja tunggu mereka lahir dengan selamat."
"Ya Allah, sungguh ada rasa khawatir untuk menghadapi proses melahirkan."
Ayra sebenarnya merasa khawatir. Ini pengalaman pertamanya. Belum lagi kondisi tubuhnya yang memang ia rasakan sedikit lemah. Ia berharap bisa melahirkan secara normal.
Saat sepasang suami istri itu telah terlelap tidur. Ayra yang biasa terbangun hampir satu jam sekali untuk buang air kecil. Ayra merasakan panas di bagian punggungnya.
Ayra melihat ke arah jam yang ada di ponselnya. Ia melihat rasa sakit yang hilang timbul. Ia telah di bekali Umi Laila beberapa tanda jika akan melahirkan. Saat dari kamar mandi. Ayra bisa melihat bercak darah di under wear nya.
Perempuan yang tingginya 155 cm itu masuk ke kamar. Ia memegang pinggangnya dengan satu tangannya. Pelan, pelan sekali ia membuka lemari yang terdapat tas yang berisi beberapa pakaian bayi yang telah ia beli bersama sang suami beberapa Minggu lalu. Ia tak ingin membuat suaminya khawatir. Ia masih bisa menahan rasa sakitnya.
Sifat suaminya yang terlalu protektif, juga besarnya cinta sang suami. Membuat Ayra tak ingin membangunkan sang suami saat ia masih bisa menahan rasa sakitnya. Kembali istri CEO MIKEL Group tersebut melihat jam yang menempel di dinding. Pukul 2 pagi lewat 15 menit. Ayra merasakan Sakit pada punggung dan bagian bawah perutnya, masih dalam waktu 20 menit sekali.
__ADS_1
Ia masih keluar masuk kamar mandi hingga pukul tiga pagi. Sang suami masih mendengkur dengan nyamannya. Namun saat ia yang biasa nyaman memeluk istrinya. Ia meraba kasur di sisi kanannya. Tak ia temukan sosok istrinya. Ia hanya menemukan guling. Sehingga kedua netra suami Ayra itu terbuka dengan sedikit sipit. Ia memanggil Ayra dengan suara yang parau khas lelaki bangun tidur.
"Ay.... Kamu di kamar mandi?"
Namun sang istri ternyata dari tadi hanya menggunakan kamar mandi yang berada di dapur. Bram bangkit dari tempat tidur. Ia menempelkan kupingnya di pintu kamar mandi. Tak mendengar apapun. Ia membuka pintu tersebut. Setelah ia masuk, ia tak menemukan Ayra. Sehingga lelaki yang sebentar lagi menjadi Ayah itu pergi ke dapur. Saat ia melihat tas yang memang disiapkan khusus untuk ketika Ayra merasakan kontraksi. Kedua netranya membesar.
Cepat lelaki itu ke arah dapur.
"Ayra... Ayra.... "
Ia menuju kamar mandi karena Ada dapur sang istri tidak terlihat.
Ayra keluar dari kamar mandi hanya mencoba tersenyum sambil tetap memegang pinggangnya yang mulai terasa panas. Bram cepat menggandeng istrinya dan memegang punggung sang istri. Entah kenapa usapan Bram pada punggung Ayra membuat rasa panas pada punggungnya terasa sedikit berkurang.
"Ay... kenapa tidak membangunkan aku?"
"Tidak apa-apa."
"Lalu kenapa tas itu berada di depan?"
"Sakitnya belum terlalu sering. Masih 20 menit sekali mas."
"Kita ke rumah sakit sekarang."
"Ayra sudah menduga. Kalau dari jam 1 tadi Ayra membangunkan mas. Maka inilah respon suami siaga Ayra."
"Apa? kamu menahan sakit dari jam 1. Ayolah Ayra..... Kamu betul-betul minta dihukum."
"Tega kasih hukuman saat anaknya mau keluar?"
Satu cubitan Bram pada hidung mancung istrinya membuat suasana yang dari tadi sepi sunyi, kini terdengar dengan tawa dari istri Bram.
Tak lama suara ponsel Ayra terdengar. Sebuah panggilan dari Umi Laila. Istri kyai Rohim tersebut saat membuka pesan yang dikirim Ayra bisa memastikan jika anaknya akan melahirkan. Ayra hanya mengirimkan pesan permintaan maaf serta mohon doa untuk dilancarkan saat melahirkan. Ayra menjawab salam dari Uminya.
"Umi dan Abi sudah di jalan. Kamu sudah tiba di rumah sakit Nduk?"
"Apa. Umi tahu darimana?"
"Umi ini memang tidak melahirkan kamu Nduk. Tapi Umi yang membesarkan Mu. Cepat katakan dimana kamu sekarang. Umi akan menemani kamu."
"Ayra masih di apartemen Umi."
"Ya sudah umi dan Abi kesana saja. Ini sebentar lagi tiba."
Tak berapa lama Umi Laila dan Kyai Rohim beserta Furqon telah hadir di apartemen Bram. Ayra yang juga mengirimkan hal yang sama pada ibu mertuanya. Namun Nyonya Lukis hanya heran saja ketika terbangun dan membaca pesan dari sang menantu. Tetapi ia dibuat kaget serta cepat mengajak sang suami untuk ikut ke rumah sakit saat Bram mengatakan jika mereka sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.
Karena lendir dan bercampur darah yang telah keluar diikuti ketuban yang pecah membuat Umi Laila mengajak Bram untuk segera ke rumah sakit. Selama di mobil, Ayra mulai merasakan sakit hampir satu menit sekali. Tak ada kata-kata yang Ayra ucapkan selain shalawat. Air mata tak terasa keluar dari sudut matanya.
Bram yang masih mengusap punggung sang istri, menghapus air mata Ayra dengan satu tangan lainnya. Seolah rasa sakit yang dari tadi coba Ayra tahan. Selama di dalam mobil, Ayra menyandarkan kepalanya ke pundak Bram. Satu tangannya meremas kemeja suaminya. Umi Laila yang duduk di sisi kanan Ayra menggenggam tangan anaknya.
"Jangan sampai menangis Ay. Atur napas dari sekarang. Jangan takut, jangan khawatir."
__ADS_1
Umi Laila menenangkan Ayra. Karena tangan Ayra bisa dirasakan oleh Umi Laila sangat dingin. Ia tahu apa yang dirasakan oleh putrinya itu. Bram yang tak pernah melihat istrinya merintih. Ikut meneteskan air mata. Ia bisa merasakan bagaimana istrinya menahan sakitnya melalui suara lirihnya dalam mengucapkan shalawat. Serta satu tangan yang sesekali meremas pinggang Bram.
"Mudahkan proses persalinan istriku Ya Allah."