Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
219 Interaksi Ayra dan Bram


__ADS_3

Setengah jam kemudian, Ayra kembali ke kamar Ammar. Ia duduk di ujung kasur yang berada dekat dengan meja belajar Ammar. Ammar menyerahkan buku gambarnya dan disana terdapat gambar. Terdapat gambar seorang perempuan berjilbab dan anak kecil memberikan sebuah hati yang bertuliskan di dalam hati itu.


..."I am sorry Mama."...


Ayra melihat satu coretan tangan di sebelah gambar itu. Tentang kejadian yang terjadi hingga Ammar memukul hidung Riki hingga berdarah. Ia meletakkan gambar itu pada pahanya. Ia menarik tangan Ammar. Lalu satu tangan lainnya mengusap kepala anak pertamanya.


"Ammar sudah tahu letak salah nya dimana? "


Ammar mengangguk pelan sambil menatap mamanya.


"Sudah. Ammar menyakiti teman Ammar."


"Lalu Ammar di sakiti apa yang Ammar harapkan dari orang yang menyakiti Ammar? "


"Em.... Minta maaf Ma."


"Berarti Ammar harus? "


"Minta maaf sama Riki. "


"Anak mama pintar. Alhamdulillah kalau Ammar menyadari letak salahnya dimana. Mama senang dan bangga Ammar peduli dengan sesama. Ammar mau membantu orang tetapi, caranya tidak boleh menyakiti orang lain."


"Tapi Riki sering sekali menganggu Qiya dan Alma, Ma."


"Mungkin Riki ingin berteman dengan Qiya dan Alma tetapi dengan cara nya."


"Ammar tidak suka Riki Ma."


"Kenapa tidak suka?"


"Dia nakal Ma."


Ayra sedikit menundukkan tubuhnya hingga posisinya condong ke hadapan Ammar.


"Ammar tahu, ketika kita tidak suka sama orang lain. Kita sedang mengikuti bisikan setan. Itu harus Ammar lawan. Jangan sampai rasa tidak suka itu sampai Ammar merasa senang ketika Ammar berhasil menyakiti dia. Karena setannya akan tertawa senang."


"Kenapa senang Ma?"


"Karena Ammar lebih mendengarkan bisikan dari dia daripada untuk berbuat baik pada teman Ammar."

__ADS_1


Anak laki-laki Ayra itu mengangguk pelan tanda mengerti. Lalu Ayra mengingatkan Ammar untuk besok meminta maaf pada temannya.


Sore hari saat biasa Bram pulang dari kantor. Ayra menyambut suaminya seperti biasa. Ammar dan Qiya pun cepat menyalami Papa mereka yang baru pulang dari kantor. Satu konsep yang Ayra bangun dari pertama membina rumah tangga sampai saat ia memiliki anak masih tak berubah. Ia berusaha memberikan ketenangan dan kenyamanan rumah untuk semua anggota keluarganya.


Bram yang pulang segera ingin mandi. Qiya cepat minta gendong Bram. Baru gadis kecil Ayra itu ingin menceritakan kejadian dia sekolah. Ayra cepat mencegah anaknya berceloteh tentang hal yang mungkin bisa menyulut emosi suaminya yang baru pulang bekerja.


Ayra bukan tipe ibu yang akan mengadu kepada suaminya agar sang ayah memarahi anaknya ketika berbuat salah. Sehingga sang anak selalu merasa dekat dengan ayah. Tidak merasa takut pada sosok pencari nafkah keluarga itu. Ammar dan Qiya hanya tahu jika Bram meninggikan suaranya, hal itu pasti mereka bersalah dalam bertutur kata atau bersikap pada Ayra. Sosok perempuan yang telah melahirkan mereka.


Sehingga satu kerjasama yang baik diantara Ayra dan Bram mampu membuat anak-anak mereka merasakan cinta pada orang tuanya tanpa rasa takut atau benci karena ibu yang sering melapor kepada ayah tentang kenakalan anaknya dan ayah yang hampir setiap saat marah sehingga anak-anak tidak lagi takut atau segan menghadapi ayahnya yang marah karena sudah menjadi makanan sehari-hari bagi anak-anak.


Ayra menurunkan Qiya dari gendongan Bram.


"Qiya. Papa baru pulang. Biar papa bersihkan diri dulu ya. Sama istirahat. Nanti baru kita ngobrol."


Qiya mengangguk pelan. Lalu menghampiri Ammar yang sedang menyusun mainan susun balok menjadi bentuk sebuah gedung.


"Ay... Mas mau mandi air hangat ya. Siapkan air hangat saja. Lehernya kaku. Macetnya ampun hari ini."


"Iya mas. Atau mau Ayra pijat?"


Bram cepat merangkul istrinya itu sambil berjalan ke arah kamar mereka. Tiba di dalam kamar Bram membisikkan sesuatu pada Ayra.


Bram yang memeluk Ayra dari belakang cukup merasakan jika istrinya itu sedikit terasa gemuk.


"Ay... Kamu tambah seksi."


"Ini habis di godain klien atau habis bertemu sekretaris klien yang mencoba menggoda suami Ayra yang tampan ini?"


Bram tertawa terkekeh-kekeh mendengar ucapan istrinya. Ia memang terbiasa harus pulang terburu-buru jika di goda oleh sekretaris atau ada beberapa klien yang juga perempuan. Manusiawi, Bram adalah lelaki normal. Sesuatu has rat yang di pancing tentu akan bergejolak. Namun Bram yang menjunjung arti sebuah kesetiaan, dan mulai paham bahwa satu has rat itu hanya bisa di salurkan bersama istrinya.


Maka Ayra tak heran jika saat baru pulang kerja kadang suaminya membutuhkan ia sebagai istrinya. Tak pernah ada kata penolakan dari Ayra saat panggilan itu datang. Sekalipun ia sedang menyiapkan makan untuk keluarganya. Namun satu cinta yang memang bukan berlandaskan dari sebuah naf su melainkan menikah untuk ibadah.


Bram pernah begitu ingin bersama Ayra saat pulang bekerja. Ia begitu ingin menghabiskan waktu bersama sang istri di balik selimut namun ketika mendapatkan istrinya sedang demam. Ia berusaha sekuat tenaga menahan rasa dihatinya. Ia lebih menghabiskan waktunya untuk berenang.


Saat Bram keluar dari kamar mandi. Ia melihat jika wajah Ayra sedikit pucat. Namun tidak ada gurat lelah dari istrinya itu.


"Kamu sakit Ay?"


Ayra memegang pipi nya bergantian. Pipi kanan dan Pipi kiri.

__ADS_1


"Tidak."


"Wajah mu pucat Ay. Atau kamu terlalu lelah mengurus Qiam? Bukankah ada Yazmin?"


"Tidak. Tetapi memang beberapa hari ini terasa pinggangnya sering cepat lelah mas."


"Atau kita liburan saja weekend ini. Kita sudah lama tidak liburan."


"Ide bagus."


Ayra memberikan Bram pakaiannya. Baru ia ingin pergi keluar kamar untuk menyiapkan makan malam. Bram menarik tangan istrinya.


"Ay.... Besok kita liburannya tanpa anak-anak bisa?"


Ayra menyipitkan kedua matanya dan mendongakkan kepalanya hingga terlihat jelas wajah tampan suaminya dan hembusan nafas Bram pun dapat ia rasakan.


"Kita bisa pesan dua kamar mas."


"Tapi mereka akan tetap merengek untuk tidur bersama jika liburan."


"Begini saja. Bagaimana kalau kita ajak Rani dan Bams sekalian Mama, Papa dan Beni juga Liona."


Bram mengangguk.


"Ide bagus. Kita ke Bogor saja. Kita belum pernah menginap disana. Besok itu Seninnya tanggal merah. Jadi kita bisa 3 hari libur disana."


"Oke Ayra setuju kemana saja asal mas tidak selalu merasa di nomor duakan karena Qiya dan Ammar."


Bram memeluk Ayra dengan erat. Ia yang hampir memasuki usia 40 tahun merasakan jika perbedaan usia 10 tahun diantara ia dan Bram membuat suami Ayra itu sedikit khawatir jikalau ia lebih dulu pergi meninggalkan istrinya.


"Mengenai izin mu untuk mengikuti satu organisasi yang kamu bicarakan kemarin. Mas mengizinkan. Walau mas tahu kamu akan bertambah sibuk. Dan harus ekstra membagi waktu untuk aku, Qiam dan kedua anak kita."


"Tetapi Ayra khawatir mas. Melihat beberapa kali pertemuan dan besok musyawarah pemilihan ketua untuk periode baru. Ayra di masukan dalam salah satu calonnya. Seandainya itu terjadi apakah mas tetap mengizinkan?"


Ayra yang beberapa saat lalu di minta oleh Uminya ikut satu organisasi untuk tetap berkhidmat untuk syiar Islam. Dimana selama itu Umi Laila telah menjadi 2 periode menjadi ketua umumnya. Dan Tahun ini pergantian kepengurusan dimana ketua umum yang lama akan mengikuti suaminya pindah ke Sumatera maka pemilihan diulang dan kabar yang berembus bahwa Ayra termasuk salah satu anggota yang memiliki karakter yang sesuai dengan tujuan utama organisasi tersebut.


Dimana salah satu tujuannya yaitu membentuk perempuan muda yang bertakwa kepada Allah SWT, berakhlakul karimah, beramal shaleh, cakap, bertanggungjawab, berguna bagi agama, nusa, bangsa dan negara. Dan beberapa yang menjadi tujuan organisasi tersebut ada pada sosok istri CEO MIKEL group tersebut. Maka beberapa pengurus mengajukan nama Ayra untuk menjadi salah satu calon ketua umum.


Ayra yang sadar bahwa seorang istri haruslah mendapatkan ridho sang suami untuk melakukan apapun itu. Termasuk dalam berorganisasi dan berkarir. Ia meminta izin Bram. Maka apapun keputusan suaminya itu akan ia Amini.

__ADS_1


"Ehm....."


__ADS_2