
Beberapa menit sebelum Rafi masuk kamar.
Aisha terbangun dari tidurnya. Saat ia membuka kedua bola matanya, Ia mengitari sebuah kamar yang tidak terlalu besar. Tempat tidur yang ia rasakan mirip tempat tidurnya di kampung. Saat ia mencoba akan bangkit, ternyata kedua kakinya masih terasa sakit.
Ia buka selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Alangkah kaget Aisha karena ia terlihat mengenakan satu stel pakaian training berwarna Grey. Ingin ia berlari ke arah kaca yang berada tak jauh dari tempatnya, namun rasa sakit pada kakinya membuat dia kesusahan.
Ia meraba rambut panjangnya yang tergerai. Aisha mencoba mengingat lagi kejadian semalam, ingatannya terakhir kembali pada saat ia berada di dalam mobil Rafi. Namun pagi ini saat ia membuka kedua matanya. Ia telah berada didalam sebuah ruangan yang sedikit lebih kecil dari luas kamar miliknya.
Terlebih pakaian yang ia lihat sekarang telah berganti. Belum sempat ia bermonolog dengan dirinya. Tiba-tiba pintu di dorong dari arah luar dan muncul sosok yang biasa membuat dirinya tidak nyaman dan jengkel. Siapa lagi kalau bukan Rafi. Maka Aisha langsung memvonis jika yang telah mengganti pakaiannya adalah Rafi.
Rafi yang tiba-tiba baru masuk kamar tersentak karena berbagai benda yang mengarah ke padanya. Dari mulai bantal sampai buku yang biasa ia susun di sebelah tempat tidurnya kini mengarah pada dirinya.
"Woi... woi.... Jones...."
"Hiks... Hiks.... Brengsek Elo ya Fi!"
Rafi memunguti beberapa bantal dan buku yang tadi mengarah kepadanya. Lalu berjalan masuk ketika ia sadar dari satu penampilan Aisha yang tak pernah ia lihat.
Aisha bukanlah lulusan pondok pesantren. Ia mengenakan kerudung atas permintaan ibunya di kampung. Mengingat semenjak ia kuliah di Jakarta hanya seorang diri. Ibu nya meminta anak gadisnya itu mengenakan hijab. Setidaknya, anak gadisnya tidak akan jadi sasaran dari pandangan mata lelaki hidung belang.
Hal itu disebabkan saat ibunya pertama kali ke Jakarta dan melihat teman-teman satu kelas dengan Aisha yang mengenakan pakaian cukup seksi dan mini. Membuat Ibu dari Aisha merasa khawatir. Sehingga Aisha menuruti keinginan Ibunya.
Dari sana ia sering mengikuti satu ekstrakurikuler di kampusnya yang dimana terdapat beberapa pembahasan untuk memperdalam dan memperkuat ajaran Islam. Dari sana membuat Aisha pun yang menempuh pendidikan strata satu Pendidikan Tata Busana. Aisha dulunya berpikir bahwa ia yang bisa mengenyam pendidikan strata satu karena beasiswa yang ia dapatkan, ia harus mampu untuk sukses.
Saat ia melihat peluang bahwa masih sedikitnya perancang yang memilih dan merancang kebutuhan bahan busana untuk para hijabers. Maka ia mulai fokus untuk merancang busana yang memang menjadi kebutuhan zaman yang semakin maju. Dimana para muslimah tampil modis tanpa meninggalkan syariat yang ada.
Namun sayang, selama ia bekerja di Butik Marina yang memang sedikitnya peminat busana muslim terlebih lagi desain-desain dari pakaian Aisha tampilkan cukup longgar jika dipakai kaum hawa sehingga tak mampu menonjolkan sisi kecantikan perempuan lewat lekuk-lekuk tubuh.
Sungguh Allah menjamin setiap rezeki makhluk yang ada di meja Bumi ini. Termasuk Aisha, Di bulan terkahir ia training di Butik Marina. Allah memberikan Aisha sebuah rezeki melalui perantara Ayra. Hadirnya Ayra pada butik Marina kali itu membuat kehidupan dan ekonomi Aisha berbanding 180°. Terlebih sekarang ia bekerja di MIKEL group namun masih bisa menyalurkan bakatnya dengan tetap merancang busana. Ia bercita-cita memiliki brand sendiri nantinya.
__ADS_1
Aisha telah menangis tersedu-sedu. Pikirannya berkecamuk, ia merasa sedih. Satu pesan ibunya tak bisa ia tepati. Menjaga satu aset yang hanya akan ia serahkan untuk satu nama yaitu suami. Namun kepolosan asisten Ayra itu. Ia hanya mengira telah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan semalam antara dirinya dan Rafi.
"Elo tuh ya. Udah ditolong, ga ada terimakasih. Sewot Mulu. Gue cuma mau bilang. Elo mau pulang sekarang atau gimana? gue mau berangkat kerja. Atau elo mau gue anter kerumah sakit?"
"Gue pulang sendiri aja. Pesankan driver aja. Hiks."
Masih dengan posisi wajah yang ia benamkan di lututnya.
"Ya ampun Nes.... Kasihan banget. Pasti dia sedih semalem. Elo lagian, belum pacaran udah main terima-terima aja tuh laki. Untung gue cepet nyelamati Elo."
"Ga usah driver-driver. Sekarang. Ayo."
"Apa?"
"Buuuughh."
"Elo tuh ya. Mau ngapain lagi. Gue ga Sudih. Sekarang mending Elo pergi. Gue butuh ponsel gue."
"Jones. Jones. Udah sakit aja masih belagu. Sekarang gue harus ke rumah sakit dan ke kantor. Rumah ini ga ada orang. Semua penghuninya baru saja pergi. Jadi klo elo mau kemana gue anter atau Elo gue tinggal sendiri."
"Apa? Jadi ini beneran kamar Elo?"
"Ya iyalah. Elo pikir kamar siapa? Baju yang elo pakai juga baju gue!"
Deg.
Aisha kembali terkejut dan tubuhnya lemas.
"Buruan elo pergi dari sini!"
__ADS_1
Baru Aisha ingin melempar kembali bantal ke arah Rafi. Rafi cepat berlari dan menutup pintu.
"Terserah Elo. Gua telpon driver. Pulang Sono ke habitat Lo."
Rafi yang merasa kesal karena terus mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari Aisha meninggalkan gadis kelahiran Malang itu. Saat driver yang Rafi pesan tiba. Aisha kembali enggan untuk disentuh Rafi. Namun karena tak ada yang bisa membantu nya berjalan mau tidak mau, Aisha pasrah. Ia diam saja saat Rafi menggendong nya menuju mobil yang telah ia pesan dengan seorang driver perempuan.
Bahkan pakaian Aisha yang tergeletak diatas meja pun ia bawa tanpa dimasukan kedalam plastik atau paper bag. Ia hanya memeluk pakaiannya. Rafi kembali merasakan debaran yang tak pernah ia rasakan saat ia kembali menggendong Aisha menuju mobil.
"Sial. Ini jantung kenapa ya."
Seketika bayangan kecantikan Aisha yang tanpa hijab kembali muncul di pelupuk mata COO mikel Group itu.
Saat Aisha telah berpindah ke dalam mobil. Tak sedikit pun Aisha mengucapkan kata terimakasih. Membuat Rafi semakin kesal. Aisha yang merasakan perih pada bagian intimnya telah berburuk sangka pada Rafi. Ia mengira jika Rafi yang selama ini ia anggap memiliki hobi tentang yang berbau kegiatan mendaki, malam tadi telah merenggut kesuciannya.
Terlebih bangun tidur ia telah berada di kamar Rafi dengan pakaian bukan miliknya. Belum lagi bagian intimnya yang terasa perih dan nyeri. Satu akibat dari ia melompat dari balkon dengan posisi kaki yang lebih dulu sampai ke tanah. Sehingga membuat saraf-saraf di area pinggang termasuk bagian intim ikut merasakan sakitnya dampak jatuh dari.
Kemungkinan trauma karena terjatuh tersebut, membuat Aisha merasakan sakit pada bagian intimnya. Namun Ia yang tanpa bertanya, satu prasangka jika Rafi adalah lelaki yang otaknya hanya berpikir mendaki saja. Membuat Aisha menyimpulkan jika lelaki yang merupakan asisten Bram itu telah menodai dirinya.
Sepanjang perjalanan menuju sebuah rumah yang merupakan sahabatnya, Aisha menangis karena merasa sedih. Ia khawatir jika ia hamil tanpa suami. Belum lagi reaksi ibunya yang pasti akan malu jika ia menikah karena by accident. Rasa gagal menjadi figur atau sosok yang bisa menjadi teladan bagi ke tiga adiknya yang juga perempuan menambah rasa sesak di hati Aisha.
Rafi yang selesai dari rumah sakit menemui ibu panti segera menuju apartemen Bram. Tiba di apartemen itu. Lelaki yang selalu datang disaat waktu yang tidak tepat. Kembali saat ia tiba di depan apartemen Bram. Ia menekan bel intercom yang menempel pada dinding disisi kiri pintu apartemen Bram.
"Selamat Pagi Pak, Bu. Ini Saya Rafi."
Bram yang masih mengganggu sang istri yang sedang mengenakan pakaian membuat CEO tersebut menghela napas dengan kasar.
"Rafiiiii.... Kenapa kamu datang selalu disaat yang tidak tepat."
Ia menepuk dahinya dan Ayra tertawa melihat ekspresi suaminya yang tak berhasil menarik bathrobe yang Ayra kenakan.
__ADS_1