Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
72 Satu Rasa Dua Hati


__ADS_3

Wanita adalah tiang negara, jika wanitanya itu baik maka jayalah bangsa itu dan jika wanitanya itu buruk maka hancurlah bangsa itu. Hal itu pun tertanam pada hari Ayra. Hal itu ditanamkan oleh Umi Laila pada putrinya dan juga para santriwati.


Hingga hal itu memicu semangat Ayra untuk rajin belajar dan terus berprestasi semakin hari semakin bertambah. Bahkan ia mendapatkan beasiswa di MIKEL group sebagai peserta dengan nilai tertinggi. Strata Satunya pun ia dapat dengan gelar cumlaude. Suatu hal yang membanggakan bagi sebagian mahasiswa.


Namun semua prestasinya itu tak pernah Ayra sombongkan. Ayra adalah orang yang pandai menempatkan diri. Pandai memposisikan diri, ia tahu kapan ia harus menonjolkan kepandaiannya. Sifat rendah hatinya ini lah menjadi pelengkap kecantikan paras wajahnya.


Ia cantik tak hanya parasnya tetapi juga akhlaknya. Satu Minggu Ayra berada di MIKEL group menggantikan posisi Bram pun cukup membuat beberapa investor cukup terpikat pesona Ayra. Padahal Ayra tak pernah mempertontonkan kecantikannya, kemolekan tubuhnya.


Namun pesona yang ia miliki bersumber dari dalam hatinya. Hal itu menjadi magnet sendiri bagi kaum Adam untuk mengagumi Ayra. Pagu ini sebuket bunga mawar merah telah ada diatas mejanya. Ayra langsung meminta Rafi untuk memberikan bunga itu pada OB.


Ayra yang beberapa hari ini memikirkan tentang rasa khawatirnya akan banyaknya para investor juga relasi bisnis MIKEL group yang berasal dari kaum Adam. Maka mau tidak mau ia tak ingin ada fitnah jika harus bertemu dengan relasi bisnisnya itu belum lagi jika harus berdua saja dengan Rafi diruangan kerjanya.


Ia memutuskan untuk mencari seorang yang ia anggap bisa menjadi asisten pribadinya. Tentu saja seorang perempuan. Permintaannya beberapa hari lalu pada Aisha akhirnya diterima oleh desainer yang merasa gaji yang ditawarkan oleh Aisyah sangat menguntungkan.


Belum lagi Ia masih bisa menyalurkan bakatnya dengan merancang busana Khusus untuk Ayra dan bisa menjualnya pada Marisa.


"Baiklah Aish. Kita mulai hari pertama mu dengan menemani aku ke kantor polisi. Hari ini jadwal kunjungan mas Bram."


"Baik Bu."


"Saya tinggal dulu ya Fi. Jangan lupa untuk kontrak yang tadi disiapkan. Aku akan minta izin mas Bram dulu. Bagaimana pun ini cukup krusial jika kita gagal tapi jika berhasil ini bisa menjadi peluang kita bisa mengepakkan sayap baru untuk MIKEL group."


"Siap Bu."


"Ada apa dengan dua orang ini. Mereka terlihat begitu canggung."


Ayra merasa aneh karena Aish biasanya terlihat tanpa beban ketika berbicara kali ini sedikit malu-malu. Dan Rafi pun sedari kedatangan Aisah Selalu mencuri pandang pada asisten baru Ayra itu.


Aisha berjalan disebelah Ayra. Ayra tak suka diperlakukan seperti Rafi memperlakukannya.


"Aish, terima kasih karena sudah mau menerima tawaran ku."


"Saya yang harus berterimakasih Bu. Saya punya 3 adik di kampung dan semua masih butuh biaya sekolah Bu. Saya tulang punggung keluarga tentu sangat bersyukur karena salary yang ibu tawarkan begitu menggiurkan."


"Entah kenapa ketika aku memikirkan butuh seseorang untuk menemani kemana pun aku pergi aku teringat kamu. Belum lagi kamu juga bisa membantu ku untuk menjaga penampilan ku agar tidak mempermalukan suami ku tapi tetap menjaga syariat ku."


Kedua perempuan berkerudung biru itu pun telah meninggalkan Gedung MIKEL group. Mereka diantar oleh sopir yang memang dipersiapkan oleh pak Erlangga untuk mengantarkan kemana pun menantunya itu pergi.


Bambang yang juga kadang membantu di MIKEL group ikut mempermudah Ayra dalam menjalankan bisnis suaminya itu. Hari ini jadwal kunjungannya di sel tahanan sekaligus untuk meminta izin agar bisa terjun langsung ke provinsi sumatera selatan.


Anak perusahaan MIKEL Group di provinsi itu sedang terganjal masalah karena demo nya buruh pabrik besar-besaran sehingga mau tidak mau produksi pun terganggu.


Seperri biasa Ayra harus mengikuti berbagai prosedur sebelum masuk ke ruang besuk tahanan. Ia pun akhirnya bisa masuk dengan membawakan kebutuhan suaminya. Tak lama Ayra duduk, Bram pun muncul. Kali ini ia muncul dengan celana pendek dan baju kaos hitam.


Tampak rambut dan wajahnya terlihat bersih. Berbeda dari kunjungan Ayra yang pertama. Sebuah buku berada ditangan kanan Bram. Ayra cepat menjulurkan tangan dan mencium punggung tangan suaminya.


"Cup"

__ADS_1


Bram cepat menarik dan mencium ujung jari tangan istrinya. Dan itu membuat Ayra terkejut., satu tindakan kecil namun sangat manis. Mereka duduk bersebelahan. Seolah ada rasa rindu teramat sangat dalam hati Bram. Ia menarik kursi Ayra hingga tak ada jarak diantar mereka.


"Sreeet."


"Astaghfirullah hal 'adzim... Mas... "


"Jangan jauh-jauh, kita hanya ada waktu lima belas menit."


Ayra dibuat kaget. Karena Bram menarik kursi yang ia duduki seolah di atas kursi itu tidak ada siapapun.


"Kamu terlihat cantik sekali Ay hari ini."


Ayra tersipu malu, wajahnya sudah bagai tomat yang matang. Bram tertawa senang di dalam hati karena ia sangat suka memandang wajah Ayra yang sedang tersipu malu seperti saat ini.


"Kamu bawa sarapan Ay?"


"Iya mas. Mas mau makan sekarang?"


"Iya"


Ayra mengeluarkan kotak nasi dari dalam paper bag. Namun Bram membuat rona merah kembali merayap di kulit putih dan lembut wajah Ayra, saat suaminya kembali berhasil membuat ia tersipu malu.


"Aku mau disuapi. Tidak dengan sendok tapi dengan tangan istriku sayang."


Ayra pun menuruti keinginan suaminya. Setelah ia membasuh tangannya. Ia kembali menyuapi suaminya dengan lembut dan sabar. Tak butuh waktu lama, ketika Ayra selesai menyuapi suaminya itu. Ia meminta izin untuk niatnya pergi ke Palembang untuk urusan anak perusahaan MIKEL group.


"Aisha?"


"Ayra terpaksa menambah asisten perempuan. Ayra tidak mungkin kemana-mana berdua dengan Rafi mas. Belum lagi jika bertemu klien bisnis yang sedikit nakal."


"Ya pilihan mu tepat. Tapi Rafi harus ikut."


"Tidak, Ayra sudah bicara sama papa. Rafi tetap disini. Papa bilang Rafi tak pandai bernegosiasi ke bawah. Dia itu mahir ke atas. Papa akan ikut, Bams akan membantu papa di sini."


"Baiklah, bersama papa pilihan tepat."


Ayra melirik buku yang ia berikan pada suaminya Minggu lalu.


"Sudah selesai mas?"


"Sudah."


Ayra baru akan membuka kertas putih yang Bram selipkan di lembar pertama.


"Jangan dibuka disini. Nanti saja tunggu di luar."


Ayra mengangguk patuh.

__ADS_1


"Ini yang sudah Ayra baca. Mas juga buka kertasnya di dalam ya."


"Baik. Kamu sudah dengar kabar baik dari Rafi?"


"Sudah, papa yang bilang. Mas bisa bebas bersyarat sebelum sidang perdana."


Bram membelai kerudung biru laut yang dikenakan Ayra. Matanya menatap Ayra penuh kasih sayang.


"Sayang sekali kita tidak bisa kemana-mana Ay."


"Memang kenapa?"


Bram menyeringai dan berbisik pada Ayra.


"Mas ingin mendaki bersama."


Pipi Ayra memerah seperti kepiting rebus.


"Boleh, Ayra sudah siapkan mas perlengkapan sebelum mendaki."


Bram menaikan kedua alisnya.


"Ini, mas baca dulu. Sesuatu yang dimulai dengan benar dan baik insyaallah akan menghasilkan yang baik-baik."


Bram membaca satu buku yang Ayra berikan. Buku yang berjudul Adab sebelum Jimak.


"Apalagi kalau mas sudah menjalankan shalat lima waktu, Ayra akan sangat bahagia mas."


"Aku akan memberikan kamu kejutan Ay."


Tak terasa 15 menit telah berlalu. Bram hanya memeluk erat istrinya itu ketika akan Kembali berpisah. Karena diruangan itu terdapat orang lain.


Ayra telah berada di dalam mobil. Ketika mobil melaju meninggalkan kantor polisi itu, Ayra cepat membuka kertas yang diselipkan Bram pada buku yang Minggu lalu Ayra bawakan. Mereka sudah berjanji akan bertukar catatan tentang apa yang belum ada pada diri pasangan mereka setelah membaca buku tersebut.


"Subhanallah.... "


Kedua bola mata Ayra berair. Satu tangannya menutup bibir mungilnya. Hanya ada satu kalimat di kertas itu.


"Kamu sudah sempurna untuk menjadi bidadari surga ku Ay."


Relung hati Ayra yang bahagia karena mereka melakukan hal yang sama. Ayra pun hanya menulis satu kalimat di kertas yang ia berikan pada Bram. Bram pun menitikkan Air mata ketika lembaran kertas itu dibuka.


"Aku hanya ingin kita bersama hingga senjanya usia dan kelak berkumpul di surganya Allah. Cukup dengan Mas menjalankan kewajiban mas sebagai seorang suami, maka itu membuatku bahagia Mas."


"I'll do it, Ay. Whatever, I Will do it for you."


(Aku akan melakukan itu Ay. Apapun, aku akan lakukan itu untuk mu.)

__ADS_1


__ADS_2