
Pak Bagas yang merasa kesal akhirnya menoleh. Ia melihat seorang lelaki yang mengenakan sarung berwarna hitam sedang tersenyum kepadanya.
"Sabar pak. Tidak semua permasalahan bisa diselesaikan dengan kekerasan. Jika memang adik saya berbuat salah bapak bisa berbicara pada saya. Saya sendiri yang akan menasehati dan menegurnya."
Pak Bagas merasa jengkel hingga ia berbalik dan menarik kerah baju batik Kyai Rohim. Namun tanpa Pak Bagas sadari jika ia baru saja menarik beberapa pasang mata atas tindakannya itu.
"Ada apa Kang Rohim?"
Satu orang laki-laki bertato dan berambut panjang mendekati Kyai Rohim dan Pak Bagas. Dan mendekat juga beberapa lelaki yang lain mulai dari tukang becak, tukang parkir dan beberapa pedagang asongan yang berada tak jauh dari lokasi mereka. Cengkraman Pak Bagas pada kerah baju kyai Rohim menarik perhatian para penghuni pasar terminal atas itu.
Mereka yang begitu segan dan menghormati Kyai Rohim, tak terima Ustad yang biasa mengisi acara pengajian di tempat mereka bahkan sering memberikan santunan anak yatim di daerah mereka walau ia bukan orang dari kalangan berada di perlakukan tidak sopan oleh Pak Bagas.
Belum lagi Kyai Rohim akan sering berhenti cukup lama di terminal itu sekedar main catur atau mengobrol dengan beberapa jamaahnya pengajiannya yang berjualan dan bekerja di pasar terminal atas itu.
"Owh.... Tidak apa-apa. Cuma salah paham. Ini saudara saya. Lagi punya masalah sama adik saya. Salah paham kok. Ndak ada apa-apa. Hehe."
Kyai Rohim cepat menarik Pak Bagas hingga ia merangkul Pak Baga. Khawatir jika warga akan makin banyak berkumpul. Pak Bagas tak menyangka jika lelaki yang bersarung itu cukup kuat tenaga nya padahal postur tubuh Pak Bagas lebih tinggi dan berisi dari kyai Rohim.
"Hehe... Masalah keluarga."
Kyai Rohim tertawa dan mengusap lengan Pak Bagas yang ada dalam rangkulannya.
"Oala.... Kirain ada apa Tadz. Ya ngobrol di warung saya saja Pak Ustad. Nanti tak buatkan soto Favorit ustad dan istri."
"Hehehe... Terima kasih pak Lek. Saya cuma sebentar disini. Lagian masalahnya nanti kami bicarakan dirumah saja nanti."
Kyai Rohim membisikkan sesuatu pada Pak Bagas.
"Saya harap anda bijak dalam bersikap. Saya tidak bisa menolong anda kalau mereka tiba-tiba menyerang anda karena sikap anda."
Wajah Pak Bagas cukup pucat melihat kerumunan orang yang terlihat begitu menyeramkan bagi Pak Bagas.
"Ya sudah bubar.... Bubar. Masalah keluarga."
__ADS_1
Seorang lelaki yang berkalung serbet kotak-kotak meminta beberapa orang yang sempat geram karena kerah batik Kyai Rohim atau saat itu dikenal dengan ustadz Rohim.
Saat kerumunan orang tadi mulai membubarkan diri. Pak Bagas membenarkan jas nya. Ia menatap Aima dengan tatapan sendu dan ia menatap sinis Munir. Nuaima tak sedikitpun mengalihkan wajahnya dari dada Munir. Ia tak perduli dengan Pak Bagas bahkan ancaman yang diberikan mantan bos nya itu.
"Saya akan buat perhitungan pada mu Munir!"
Pak Bagas berlalu sebelum meletakkan tas diatas tanah,tas yang tadi ia rebut dari tangan Nuaima. Setelah kepergian Pak Bagas, Kyai Rohim mengusap lengan Munir dengan lembut. Dan menepuk-nepuk pundak adik semata wayang nya itu.
"Menginaplah dirumah, kasihan Nuaima dan Ayra."
"Aku tak bisa kang, Besok pagi sekali ada rapat bersama rektor terkait pengangkatan dosen tetap."
Kyai Rohim terlihat menganggukkan kepalanya beberapa kali seolah mengerti. Nuaima melerai pelukanya dan melihat ke arah Umi Laila.
"Kak... "
"Sudah, setiap rumah tangga pasti pernah mengalami masalah. Tidak dari dalam kadang masalah itu datang dari luar. Maka Kakak berpesan pada kalian berdua. Saat masalah datang, jangan saling menyalahkan. Jangan saling menghujat, tapi introspeksi diri. Jangan cari siapa yang benar dan salah.
Nuaima tersenyum bahagia. Karena ia tak salah memilih tempat bercerita. Walau ia tak menceritakan masalah sebenarnya pada Umi Laila tapi ia bisa mendapatkan jawaban atas kegelisahan hatinya yang hampir satu bulan menyakitinya.
Saat Nuaima selesai memberikan ASI pada Ayra di sebuah warung makan yang menjadi langganan mereka. Nuaima dan Munir pamit untuk pulang ke Surabaya, Umi Laila meminta agar Ayra di letakkan di kursi belakang dengan menggunakan sabuk pengaman khusus anak.
Nuaima yang baru saja duduk di sebelah Munir tepatnya bangku depan segera melihat ke arah Munir. Munir menganggukkan kepalanya.
Nuaima meletakkan Ayra di dalam Car seat . Ia mengencangkan sabuk yang terdapat di car seat itu lalu membenarkan posisi Ayra yang sedang tertidur lelap. Ia merasa kenyang karena baru saja di beri ASI.
Nuaima menutup pelan pintu mobil itu. Saat Nuaima telah berada di dalam mobil bersama Munir. Jendela kaca oleh Munir tak ditutup. Sehingga Umi Laila masih bisa berbicara pada Nuaima.
"Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai. Jangan ngebut-ngebut Dik."
Munir menganggukkan kepalanya. Mobil mereka pun meninggalkan terminal atas kecamatan Kali Bening dan Umi Laila juga Kyai Rohim.
Hampir 20 menit perjalanan mereka lalui. Sekitar 40 menit lagi mereka akan tiba di kediaman mereka. Sebuah perumahan di kawasan tengah kota. Munir sedari tadi terus menggenggam tangan Nuaima. Bahkan sesekali ia kecup punggung tangan istrinya itu.
__ADS_1
Nuaima pun terus memandangi Suaminya bahkan ia melepaskan sabuk pengamannya. Ia duduk dengan posisi sedikit miring dengan dua kaki yang ia naikkan ke atas jok mobil itu. Ia bahagia sekali. Rasa yang kemarin hampir hilang tak berbekas kini kembali ia bisa rasakan. Ia merasa bahagia menatap wajah manis Munir.
Bahkan kecupan Munir pada punggung tangannya mampu membuat hatinya berdebar.
"Ai. Pakai sabuk pengaman mu. Bahaya begitu."
Munir yang sesekali melihat ke arah Nuaima juga tetap fokus ke depan memperingati istrinya itu.
"Mas berjanjilah."
"Apa Ai?"
"Kita akan menua bersama. Sekalipun ada rasa benci diantara kita suatu saat nanti. Kita tak akan meninggalkan. Kita akan tetap bersama. Sungguh Aima merasakan sendiri bagiamana hati Aima bisa dipermainkan akan rasa yang hilang timbul ini mas."
"Mas tak hanya ingin hidup bersama mu Ai. Jika Allah mengizinkan Mas ingin mati pun bersama mu."
"Hussttt ucapan doa mas. Kita akan menua bersama. Ayra butuh kita untuk mendidiknya."
Baru saja Munir ingin menepikan mobilnya bermaksud ingin memeluk dan mencium istrinya namun sebuah mobil dari arah belakang mobil berkali-kali membunyikan klakson.
"Tiiiiiiiinnnn!"
"Tiiiiiinnnn!"
"Tiiiiiiiinnnn!"
Tak cukup begitu mobil yang Munir kenali itu makin menambah kecepatannya hingga telah berada disebelah mobilnya. Dan kembali membunyikan klakson berkali-kali.
"Tiiiiiiiinnnn."
"Tiiiiiiiinnnn."
.
__ADS_1