Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
68 Bucin Ayra Bram 2


__ADS_3

"Ehm.... Ehm.... "


Kali ini giliran Bram yang berdehem karena merasa sedikit malu. Malu pada diri sendiri karena bisa menyentuh Ayra dengan begitu mesra nya dan malu pada Ayra karena dari kemarin ia sangat ketus pada istrinya itu tapi hari ini ia seolah menjadi bukan dirinya.


Ayra yang teringat akan meminta izin pada Bram pun cepat membuka obrolan. Ia tahu dari mimik wajah suaminya jika sang CEO MIKEL Group itu sedang merasa kikuk atas tindakannya barusan.


"Mas katanya belum sarapan. Mas mau sarapan disini atau di dalam?"


Bram melirik kotak makanan berwarna biru di hadapan Ayra. Ia memilih untuk makan diruangan itu.


"Baiklah makan disini saja."


Ayra cepat membuka kotak bekal yang ia bawa dari rumah. Paper bag yang berisi kebutuhan suaminya ia turunkan. Ketika membuka kota nasi dahi Ayra berkerut.


"Astaghfirullah.... Maafin Ayra mas. Ayra lupa tadi masukin sendoknya."


"Lah terus makannya pakai apa? Ya sudah nanti saja didalam."


Tiba-tiba suara berasal dari perut Bram membuat lelaki kelahiran Kalimantan itu harus mengusap lehernya karena merasa malu.


"Kruuuk."


"Mas, ga boleh dzolim sama diri sendiri. Tubuh kita berhak atas haknya. Hak untuk istirahat jika tubuh lelah, dan sekarang hak lambung yang minta diisi dan ga baik klo ditunda."


"Trus makannya Gimana? masa kayak doggy langsung pakek mulut."


"Hehehe.... Kamu itu memang hobi marah-marah ya mas. Kan bisa pakek tangan sayang.... "


Seeer.


Bram yang memandang sembarang arah cepat berbalik menatap wajah sang istri. Satu kata yang membuat jantungnya berdebar. Ia merasakan seperti seorang ABG yang sedang jatuh cinta. Ini kali pertama ia memiliki sebuah rasa seperti ini.


Entah karena apakah kata sayang Ayra tulus dari hati atau kata sayang Shela yang terlalu sering diucapkan. Apakah itu yang membuat hati Bram seketika kacau dan ingin kembali mendengar kata sayang keluar dari bibir mungil istrinya kembali.


"Kamu pernah lihat CEO makan pakek tangan? Ih ga higienis lah Ay."


"Kata siapa? ya dicuci dulu. Udah itu baru makan. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pun mencontohkan makan dengan tangan."


"Suamimu ini bukan Rasulullah."


"Tapi umatnya. Ya sudah, mau Ayra suapin?"


"Hah?!"


Ayra yang melihat suaminya kaget dan sedari tadi melihat jika suaminya itu seolah menutupi rasa penat di dalam hatinya. Maka ia pun sengaja menggoda suaminya itu, karena ada rasa bahagia ketika melihat suaminya tertawa atau sekedar tersenyum tipis.


Ayra mendekatkan kepalanya ke arah sisi kuping Bram.


"Suamiku sayang mau disuapin?"


Deg.


Bram yang wajahnya seketika merona cepat berusaha menghilangkan rasa kaget dan raut wajahnya yang bisa dipastikan sedang merona.

__ADS_1


"Katakan kenapa sikapmu berbeda sekali saat belum menikah. Jangan kan bersikap nakal begini. Aku meminta kamu memandang ku saja itu tak kamu lakukan."


Ayra yang baru akan bangkit untuk mencuci tangannya dengan air mineral kearah kotak sampah menghentikan niatnya.


"Karena belum halal, Kalau sekarang malah jadi ibadah. Maka Ayra ingin mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya melalui pintu suami Ayra."


Bram pun menghela napas nya dengan lembut. Ia tak habis pikir cara berpikir istrinya itu. Hampir rata-rata perempuan yang ia kenal selalu menggodanya dengan kecantikan wajah dan keseksian tubuh. Tetapi Ayra belum sekalipun menggoda nya dengan dua hal itu tapi hatinya mampu bergetar hanya dengan celotehan kecil istrinya.


Ayra yang telah kembali ke meja mengambil nasi dan lauknya menggunakan tangan kanan. Bram mengamati istrinya itu. Ia tak percaya ini pertama kali ia makan nasi dengan tangan apalagi disuapi oleh perempuan yang mencintainya.


Suapan pertama Ayra berikan pada Bram. Namun saat suaminya membuka mulut. Ayra cepat membaca basmalah dan doa makan, baru cepat ia masukkan suapan pertamanya kedalam mulut suaminya.


"Pelan-pelan mas."


Bram menuruti Ayra ia sedikit pelan mengunyah. Ayra yang melihat jam tangannya pun menatap wajah suaminya.


"Mas, Ayra Minggu depan boleh hadir ke acara Akhirussanah di pondok Abi?"


Bram yang telah menelan suapan pertama dari Ayra pun menjawab pertanyaan Ayra.


"Kenapa harus izin, toh aku juga tidak bisa menemani kamu."


.


"Ketika masih gadis, Ayra izin nya ke Abi atau Umi kalau mau kemana-mana. Tapi sekarang mas yang bertanggungjawab atas diri Ayra. Maka Ayra akan pergi ke acara itu jika mas kasih izin"


Bram terdiam sesaat.


"Bukan sabar namanya kalau kita tidak bertemu dengan mereka yang menguji kesabaran kita mas. Hidup bermasyarakat memang harus seperti itu. Memang sudah ada bagian-bagiannya. Insyaallah, Ayra akan bersabar."


Seketika Ayra teringat kejadian saat ia menampar Shela. Wajahnya berubah sendu, genangan bening mulai mengumpul disudut mata Ayra.


"Ay.... "


Satu tangan Bram mengangkat dagu Ayra. Ayra mengulas senyum pada Bram.


"Ayra minta maaf ya mas, kemarin Ayra sempat menampar She-"


Bram yang sudah tahu cerita itu dari Rafi cepat menutup kedua bibir Ayra dengan tangan nya.


"Ssstt. Katanya mau suapin aku, aku tidak mau nasi nya jadi asin"


Ayra pun melanjutkan kegiatannya namun ia kembali berhenti ketika mulut Bram sudah terbuka.


"Jangan digigit lagi Lo mas.... "


Merasa malu, Bram cepat memajukan wajahnya dan menyambar cepat suapan Ayra. Setelah makanannya berhasil berpindah ke lambung, Bram bertanya pada istrinya.


"Kamu sudah sarapan?"


Ayra menggeleng pelan.


"Kamu bilang tadi tidak boleh dzolim pada tubuh sendiri. Cepat makanlah juga. Itu cukup untuk berdua."

__ADS_1


Ayra menggeleng pelan. Dan suara manjanya mampu membuat suaminya tersedak.


"Kalau Mas yang suapin. Ayra mau makan sekarang. Sayang mau suapin Ayra?"


"Uhuukk... Uhuukk.... Uhuukk."


Ayra tertawa kecil dan cepat memberikan minum pada suaminya itu.


"Kamu suka sekali membuat ku tersedak Ay."


"Apak suami ku ini tak pernah di goda? Wajah mas terlihat imut klo lagi salah tingkah hehehe....."


"Oh Tuhanku.... inikah yang orang-orang bilang bucin.... "


Bram cepat bangkit dan mengambil air mineral, ia mencuci tangan nya di atas tong sampah yang ada di ruangan itu.


Sedikit kaku tangan kanan Bram mengambil nasi dan sayur untuk Ayra. Ia beri suapan pertama nya.


"Doa nya baca sendiri, aku tak hapal."


Ayra melafazkan niat makanan dan menikmati suapan pertama dari suaminya. Hem, nikmat yang Ayra rasakan. Bukan dari masakannya, tetapi karena ini kali pertama baginya makan disuapi lelaki.


"Sudah kubilang jangan pandang wajah ku begitu. Nanti kamu akan merindukan suami mu ini."


"Setiap malam mas, bahkan bik Asih masih bingung Sampai sekarang kenapa seprai tempat tidur mas tak boleh diganti."


Kedua bola mata Bram makin membesar. Ia tak percaya dengan apa yang ia baru saja dengar.


"Setidaknya walau tidak ada mas dan aku masih tidur diruang kerja mas, aroma mas masih menempel di selimut dan bantal tempat tidur mas."


"Kita! Tempat tidur kita. Mulai sekarang tidurlah di sana. Jadilah Nyonya Bramantyo Pradipta tidak hanya di buku nikah, juga di hadapan orang tapi juga di dalam kamar Ay."


Ayra kembali menyuap Bram dengan lembut. Hatinya seolah mendapatkan hujan deras dikala kemarau panjang melanda. Bram pun menyuapi istri nya dengan lembut.


Satu rasa dalam dua hati yang dimiliki sepasang suami istri ini hadir di sela-sela kegiatan makan bersama mereka. Rasa untuk saling membahagiakan.


"Maafkan setiap air mata yang jatuh karena aku Ay. Maafkan hati mu yang pernah aku sakiti. Aku tidak tahu cara mencintaimu, tetapi aku akan mulai Memantaskan diri untuk mu."


"Semoga Allah memberikan hidayahnya pada mu mas."


Ketika suapan terakhir Bram menahan tangan Ayra.


"Jangan, ini biar buat istri hebat mas."


Bram mengambil satu suapan terakhir itu dan ia arahkan kepada Ayra. Ayra pun mengunyah makanannya dengan pelan. Bram mendekatkan wajahnya ke arah Ayra.


"Makanlah yang banyak istriku sayang, karena aku ingin mendaki bersama mu setelah aku bebas dari tempat ini."


"Uhuukk... Uhuukk.... Uhuukk. Astaghfirullahaladzim.... "


"Hehehe.... Satu sama."


Usapan lembut di punggung Ayra membuat tubuh mungilnya merasakan menegang seketika.

__ADS_1


__ADS_2