
Ayra telah mandi dan sedang memilih beberapa baju yang telah nyonya pesankan kepada Aisha untuk membawanya ke kediamannya pagi ini.
Aisha telah hadir dengan beberapa model gamis yang stylish beserta hijabnya. Nyonya lukis sengaja meminta Aisha datang karena Nyonya lukis ingin Ayra tampil berbeda. Ia ingin menantu nya itu terlihat stylish dan modis untuk mendampingi Bram yang seorang CEO di perusahaan nya.
Dan hari ini Ayra juga akan ikut rapat pemegang saham di perusahaan suaminya yaitu Pradipta Group.
Aisha memamerkan beberapa gamis yang menurutnya cocok untuk Ayra. Hingga Ayra menjatuhkan pilihannya jatuh pada sebuah gamis gaun berwarna nude dengan motif kotak-kotak warna blonde yellow pada bagian atas dan motif polos warna flaxen yellow pada bagian bawahnya.
Gamis itu juga dilengkapi dengan pita kecil pada bagian depan sehingga menambahkan kesan manis pada penampilan Ayra. Namun ketika Aisha melihat jilbab yang dikenakan oleh Ayra menutupi kecantikan gamisnya hingga desainer yang pagi tadi harus melesat begitu cepat hingga harus naik ojek online untuk Sampai ke rumah mewah pak Erlangga ini.
"Maaf nona. Bisakah jilbab nya diganti saja. Anda menghilangkan kesan anggun dan stylish pada gamis ini jika hijabnya di pasangkan begitu."
Ayra yang tak terbiasa tampil modis dan stylish akhirnya hanya tersenyum mendengar komentar dari seorang perempuan yang memang membidangi bidang fashion ini. Ayra pasrah ditangan Aisah bak seorang pengantin yang akan melakukan resepsi.
Aisah memberikan beberapa alat kecantikan pada wajah Ayra. Dimana hal itu sangat aneh bagi Ayra. Namun karena nyonya Lukis meminta untuk mengikuti saran Aisha pagi ini maka ia cukup pasrah.
Setelah selesai dengan wajah Ayra yang telah di poles beberapa alat kosmetik. Aisha memakaikan sebuah hijab pashmina yang berwarna medium alder brown yang sedikit menjuntai untuk menutupi bagian dadanya Ayra. Selesai, Aisah menatap cermin yang ada pantulan Ayra.
"Wow. Amazing Nona. Anda terlihat seperti bukan anda yang kemarin."
__ADS_1
Kedua bola mata Aisha tak berkedip melihat penampilan Ayra setelah ia memasangkan jilbab pasmina untuk Ayra.
Terlihat sekali kesan stylish namun terlihat anggun dan menutupi setiap lekuk tubuh Ayra dengan sempurna. Aisha melihat penampilan Ayra dari atas kebawah dan alis nya berkerut ketika melihat ke arah bawah. Dan ia menggelengkan kepalanya.
"Satu lagi nona. Tunggu sebentar."
Aisha mengeluarkan sebuah high heels warna krem.
"Coba dipakai saja nona. Mudah-mudahan muat."
Namun Ayra yang melihat high heels itu tertawa kecil.
Aisha menggeleng kan kembali kepalanya.
"Really?"
Ayra mengangguk kan kepalanya cepat dan sebuah senyuman di bibirnya mampu membuat Aisha kagum dengan perempuan bernama Ayra ini.
"Beruntung sekali kamu. Bisa menikah dengan lelaki yang memiliki segalanya nyaris sempurna sedang kamu terlihat sangat biasa sekali. Aku akan bantu kamu kalau hanya soal penampilan. Karena kamu bagai peri dalam rekening ku. Seketika kehadiran mu membuat rekening ku terisi begitu derasnya Ayra."
__ADS_1
Aisha melihat ke sepatu yang ia kenakan. Sepatu wedges yang tampak senada dengan gamis yang Ayra kenakan.
"Maaf nona bagaimana jika pakai sepatu saya? tidak mahal sih tapi cocok dengan tampilan gamis anda."
"Kamu bicaranya terlalu formal Aish. Panggil Ayra saja. Tidak apa-apa kalau menurut kamu pantas, cocok. Kamu kan ahlinya hehehe."
Bibir yang tersenyum dengan pipi yang sedikit mengembung membuat Ayra terlihat menggemaskan Dimata Aisah yang berwajah tidak terlalu cantik.
"Coba pakai yang ini nona sementara semoga cocok. Karena kita tidak ada waktu lagi. Tadi nyonya lukis bilang jam 8 anda sudah harus siap."
Aisha duduk dan ingin melepaskan sepatu yang ada pada kaki Ayra namun cepat Ayra mundur beberapa langkah.
"Aish.... jangan seperti ini. Aku bisa lakukan sendiri."
Ayra duduk dan membuka sepatu flat shoes yang ia kenakan dan mengganti dengan sepatu Aish.
"Alhamdulilah, Allah selalu memberikan solusi dari setiap masalah Aish. Aku pinjam dulu ya sepatunya."
"What's..... Baru sekarang aku dengar ada istri CEO pinjam sepatu seorang pekerja Nona. Hehehe....."
__ADS_1
Ayra tersipu malu. Kebiasaan di pondok dahulu jika ada acara dan mengharuskan mengenakan pakaian berwarna khusus. ia akan saling pinjam dengan sahabat satu kamarnya. Yeni dan Lathifah, dua sahabat yang sedari SD hingga mereka dewasa bersama di pondok pesantren itu.