Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
65 Pakaiannya Dulu Baru Airnya.


__ADS_3

Raka dibawa oleh Nyonya Lukis kedalam kamarnya untuk beristirahat bersama pak Erlangga. Ayra pun berniat untuk mencuci pakaian nya. Ia ingin mencuci pakaian yang kemarin terkena dar*h.


Sesampainya di dapur, ia melihat Bik Asih sedang membereskan dapur.


"Ada yang diperlukan non?"


"Ga kok bik. Aku ingin cuci baju kemarin kena dar*h korban kecelakaan bik."


"Oala, sini non biar bibik yang cuci."


"Ga usah bik biar Ayra saja."


"Non. Non itu pasti semalam Ndak tidur. matanya Non itu loh merah dan cekung Non. Non istirahat saja. Biar bibik suruh art yang lain ya yang cuci."


Ayra pun mengalah. Bik Asih membawa baju kotor tadi ke luar. Kearah ruangan yang khusus untuk mencuci dan menggosok pakaian. Ayra yang bosan dan tak terbiasa tidur siang akhirnya berjalan ke arah belakang untuk melihat pemandangan rumah megah ini di sisi dapur dan halaman belakang nya.


"Ada apa non?"


"Mau lihat-lihat aja bik. Ayra tidak biasa tidur siang. Bolehkan Bi?"


"Ya boleh toh Non tapi jangan ngapai-ngapain nanti bibik dan yang lain dimarah sama Nyonya."


"Iya, Ayra cuma pengen lihat-lihat."


"Duduk non."


Bik Asih menarik satu kursi untuk Ayra duduk. Bik Asih yang sedang memisahkan pakaian pemilik rumah yang baru saja digosok oleh art yang berusia lebih mudah. Tiba-tiba pandangan Ayra tertuju pada seorang art yang berbaju navy memasukan baju yang ayra berikan pada bik asih tadi kedalam mesin cuci yang baru saja ia isi air bersama pakaian lain.


"Tunggu!"


Ayra cepat berjalan cepat ke arah Perempuan tadi.


"Kamu ingin mencuci baju ini dengan memasukan air lebih dulu daripada pakaiannya?"


Suara Ayra terdengar masih lembut tapi cukup tegas. Seolah ia kaget dan butuh penjelasan art yang bernama Dewi.


"Iya Nyonya."


"Panggil saya Ayra saja. Saya tidak marah saya hanya kaget. Apakah kalian biasa mencuci pakaian dengan memasukan air terlebih dahulu dan baru pakaiannya?"

__ADS_1


Bik Asih dan Dewi berpandangan. Dan mengangguk bersamaan.


"Innalilahi.... "


"Siapa yang ninggal non?"


Bik Asih kaget kala bibir Ayra mengucap kata yang biasa Ayra ucapkan ketika ia merasa mendapat musibah.


"Bik, Innalilahi adalah bahasa agama untuk mengomentari musibah, kecelakaan, atau bahkan kematian. Jadi tidak harus ada orang meninggal kita baru ucap kalimat innalilahi."


"Oala tak kira siapa yang ninggal Non. Lah terus musibah apa Non sampe Non ngucap begitu."


Ayra mengambil pakaian yang ada pada tangan Dewi.


"Ayra bukan ingin menggurui bik tapi berhubung sekarang Ayra bagian dari keluarga ini mau tidak mau Ayra harus ikut menjaga sesuatu terkait kesucian dalam pakaian. Dan berbagi sedikit ilmu pada bibik dan Dewi. Kalian shalat kan?"


Kedua asisten rumah tangga itu mengangguk cepat.


"Nah maka ini penting."


Ayra meminta Bik Asih dan Dewi duduk disebelahnya agar bisa mendengar kan penjelasan kenapa Ayra kaget ketika air yang lebih dulu dimasukan kedalam mesin cuci bukan pakaian.


"Ga mudeng bibik non."


"Hem, bentar ya bik."


Ayra tampak menaikan kedua alisnya hingga matanya sedikit terbuka dengan posisi bola mata menatap langit-langit.


"Maksudnya. Anggaplanh Ke atas 60 cm kesamping 60 cm, lebar panjang nya ,60 cm. Maka air tidak dihukumi najis kecuali warna air berubah atau bahasa nya taghayyur sedangkan jika volume air tidak sampai dua qullah maka seluruh air secara langsung menjadi najis ketika bersentuhan dengan benda yang najis."


"Owh begitu."


Dewi serius menyimak penjelasan yang Ayra berikan.


Ayra melirik mesin cuci yang ada dihadapan nya. Ayra lalu berjalan ke arah mesin cuci itu. Ia memisahkan pakaian-pakaian tadi. Pertama ia pilih pakaian yang hanya kotor karena keringat saja kedalam keranjang berwarna biru.


Setelah itu Ayra memasukan satu stel pakaian yang terkena dar*h tadi kedalam mesin cuci. Setelah itu ia masukan air kedalam mesin cuci itu. Ia putar mesin cuci itu. Lalu ia buang air pakaian yang noda dar*h tadi dan ia masukan air lagi. Hingga beberapa kali Ayra lakukan itu.


Dan pada saat air bilasan pakaian yang terkena noda dar*h tadi telah berubah bening dan tak ada lagi noda nya pada baju, bau dar*h juga tak ada lagi. Maka Ayra tak lagi memberikan air pada pakaian dalam mesin cuci tersebut.

__ADS_1


"Nah pakaian yang masih ada najisnya seperti ada warna, bau dan rasanya disebut najis Ainiyah. Sedangkan pakaian dalam keranjang biru ini yang hanya kotor karena keringat disebut najis hukmiyah. Ini kan udah bersih najis pakaian yang ada noda dar*h tadi ni bik. Nah baru kita gabungkan sama pakaian yang dalam keranjang biru ini."


Ayra memasukkan pakaian yang ada dalam keranjang biru tadi kedalam mesin cuci yang airnya telah Ayra buang.


"Pakaiannya dulu ya bik. Jangan airnya dulu. Pokoknya jangan sampai airnya dulu. Karena air yang dimasukan lebih dulu baru dimasukan pakaian yang terkena najis. Baik najis Ainiyah maupun najis hukmiyah justru akan membuat najis merata kedalam ember atau mesin cuci.


Air yang datangnya belakangan yaitu diistilahkan dengan al-ma 'al waris. Yaitu air yang mempunyai kekuatan menghilangkan najis. Sedangkan air yang datang lebih dulu baru pakaian diistilahkan alma' Al maurud. Atau air yang tidak mempunyai kekuatan hukum menghilangkan status najis.


Dan Air juga pakaian yang semula suci malah menjadi mutanajjis atau terkena najis. Coba bibik lihat. Semua pakaian nya sudah terendam semua. Ini penting diperhatikan agar pakaian terendam semuanya."


Dewi ingin menuangkan detergen kedalam mesin cuci namun Ayra melarang nya.


"Jangan dimasukan dulu detergen nya Wi. Kita putarkan dulu mesin cucinya."


Ayra menekan tombol 2 hingga mesin cuci berputar sebentar


"Tujuannya agar air masuk kedalam pori-pori pakaian. Nah kalau sudah begini Bik, Wi. Buang airnya dan ganti air baru.


Baru bisa pakaian ini di bilang pakaian yang suci. Sudah itu boleh deh dikasih detergen atau nanti di kasih pewangi setelah air ini dibuang terus ganti yang baru."


Bik asih dan Dewi mengangguk-anggukan kepala mereka tanda mengerti.


"Memang nya Ndak boleh dicampur Non? biar ga ribet hehehehe...Misal ompol gitu non "


Dewi mengusap kepala nya ketika bertanya pada Ayra.


"Boleh saja Wi dengan catatan saat melakukan pembilasan tekhniknya adalah pakaian yang telah dicuci itu diperas. Setelah diperas semua pakaian yang dikasih air lagi. Pastikan pakaian terendam semua. Jika rendaman air tadi masih terlihat keruh, maka harus diganti air lagi.


Lalu ulangi lagi sampai air yang untuk merendam itu jernih. Apabila sudah jernih buang airnya. Baru ganti air baru dan kasih detergen. Tetapi aku biasa di pondok lebih memilih cara yang pertama. Ribet itu karena tak biasa kok Wi."


"Owh gitu ya Non. Memangnya kenapa harus dicuci begitu sih non."


"Secara fikih, tujuan mencuci pakaian adalah menjadikannya suci pakaian bik. Bukan bersih apalagi wangi. Mengingat fungsi pakaian sebagai salah satu syarat yang menjadikan sahnya shalat. oleh karenanya pakaian harus dalam keadaan suci, juga lebih afdhal jika bersih dan wangi."


Akhirnya pembicaraan menarik antara Ayra dua asisten rumah tangga itu harus berakhir karena kehadiran satu art yang memanggil Ayra karena ada yang mencarinya dan menunggu di ruang utama kediaman pak Erlangga itu.


Note:


Boleh noda d*rah tadi digosok atau disikat hingga bersih. Disini Author kasih contoh pemakaian mesin cuci ya.

__ADS_1


__ADS_2