
Bram berbalik ke arah Beni. Ia mendekati adik kedua nya.
"Katakan Beni. Apa yang membuat kamu ingin bercerai dengan Liona? apa karena ia tak lagi sempurna?"
Beni diam tak menjawab.
"Kamu tahu nak. Selama berbulan-bulan kamu koma. Tidak sekalipun perawat membersihkan tubuh mu. Liona lah yang membersihkan tubuh mu. Apartment yang papa siapkan pun tak pernah ia tempati.
Hanya kamar dimana kamu dirawat yang menjadi tempat nya istirahat. Dan inikah balasan mu untuk dia yang setia merawat mu selama kamu tidak sadar?"
Pak Erlangga telah duduk di sofa tepat disebelah Beni. Adik Bramantyo itu menoleh ke arah papanya. Pak Erlangga kembali menceritakan pada Beni apa yang terjadi selama ia dirawat.
"Jika karena kesempurnaan. Maka kamu pun kini tidak sempurna. Jika hanya menyalahkan, maka kamu ikut andil dalam kecelakaan itu Nak. Jika ingin menuruti sakit hati, maka Bram dan Ayra harusnya lebih membenci Liona. Karena ide nya bersama Shela membuat suami istri itu harus terpisah, seorang istri yang selama hamil muda harus dilewati sendiri tanpa suami di sisinya."
"Jadi papa tahu.... "
"Papa dan Bambang tahu semuanya. Papa tahu semua tentang anak-anak papa dan menantu papa. Diamnya papa bukan berarti papa tak mencintai kalian. Bahkan berkali-kali perusahaan mu selalu pailit karena gaya hidup Liona dulu. Skandal-skandal Liona dulu.
Papa ikut membantu mu Nak.... Jika Papa dan Mama yang tak pernah Liona anggap sebagai orang tuanya lantas bagaimana kamu yang telah menghabiskan waktu beberapa tahun bersamanya bisa dengan mudah tak ada maaf?"
Bram pun yang tahu kondisi Liona sangat terpuruk setuju ketika Pak Erlangga dan Bambang berusaha menutup celah-celah bukti dan saksi yang mengarah ke arahnya. Agar bisa bahagia nya Beni setelah sadar. Dan selama sakit ada kekasih hati yang setia disisi. Namun kenyataan yang terjadi ternyata menyayat hati, tidak hanya bagi Liona namun juga bagi Nyonya Lukis dan keluarga.
Beni tertunduk lesu. Ia yang selama ini mengira jika Pak Erlangga tak pernah perduli dengan nya. Ternyata selalu mengetahui apa yang ia alami. Bahkan kisah rumah tangga nya yang selalu dengan Beni yang selalu mengalah.
"Liona tak pernah mencintai ku. Ia hanya menganggap aku sebagai pelarian saat dia butuh, dia baru menganggap aku ada."
Bram duduk di pinggi Sofa. Ia merangkul adiknya yang selalu berpikiran negatif pada dirinya.
"Ben. Perempuan tak akan bertahan disisi kita disaat kita terpuruk jika dia tidak mencintai kita. Berbulan-bulan ia ada disisi kamu. Berjalan saja ia susah tapi dia masih merawat kamu. Padahal untuk menyewa sepuluh perawat pun papa dan aku mampu. Tapi Liona menolak. Dia ingin memulai yang baru. Jika kamu ingat bagaimana kamu berlari mengejar cinta Liona. Maka sekarang itu yang Liona rasakan. Dia berlari mengejar kamu namun kamu menjauh."
Tanpa suara. Butiran embun membasahi pipi Beni. Ia tak mampu berucap kala mengingat rumah tangganya dengan Liona nyaris sering bertengkar. Bagaimana besar cintanya pada Liona.
"Aku masih mencintainya. Tapi aku aku Lelah. Aku lelah jika harus kembali merajut rumah tangga dengan aku yang harus Kembali mengalah."
"Beri dia kesempatan Ben. Kamu tahu, aku berkali-kali pacaran dengan perempuan untuk mencoba melupakan Rani. Tapi hasilnya aku malah menyakiti orang lain. Liona sekarang bukan Liona yang dulu."
Bambang ikut merangkul pundak Beni. Rasa hangat menghampiri ruang hati Beni. Ia merasakan kehangatan dari kasih sayang saudara. Ia merasa malu, sedih karena selama ini selalu membentang jarak antara dua saudaranya itu.
"Aku hanya berpikir jika bercerai dengan Liona, dia akan bahagia. Selama ini dia ingin bercerai. Mungkin dia akan bahagia jika bercerai dengan ku. Baiklah, aku tidak akan menceraikan dia, aku akan memberikan dia kesempatan."
__ADS_1
"Ceklek."
Suara pintu di buka. Ayra mengucapkan permohonan maaf karena mau tidak mau dia harus masuk.
"Maaf Mas, Pa. Ponsel mu berbunyi dari tadi Bams. Sepertinya Rani yang menghubungi."
Ayra menyerahkan sebuah ponsel ke Bambang. Lelaki itu membuka ponselnya dan mengirim pesan pada istrinya yang meminta ia membelikan susu dan Pampers ketika pulang.
Ayra mendekati Bram.
"Mas.... "
Bram berdiri, ia mendekati Ayra.
"Ada apa Ay?"
Ayra berbisik pada Bram.
"Mas, Beni dan Liona sudah bercerai sejak mereka menginjakkan kaki nya di Indonesia mas. Karena ucapan Beni pada Liona jika ia akan menceraikan Liona ketika tiba di Indonesia, termasuk talak."
Bram menjauhkan wajahnya dari wajah Ayra. Ia menatap dalam istrinya. Lalu berbalik ke arah Beni.
"Beni. Apa kamu telah menceraikan Liona?"
"Belum. Aku belum menceraikan Liona."
Ayra berdiri di sebelah Bram Suaranya serak. Terlihat istri Bramantyo itu menahan air mata yang ingin jatuh.
"Beni, Talak adalah hak suami karenanya seratus kali isteri bilang cerai tetap saja talak tidak jatuh. Dan hendaklah suami bijaksana menghadapi istri yang sedang dalam kondisi emosi atau marah. Begitupun sebaliknya istri agar suami tak sembarang bicara, maka diperlukan untuk bersabar, diam saling menghargai, saling menurunkan ego masing-masing. Agar tak terjadi hal seperti ini."
Ayra terisak menahan agar suara tangisnya tak pecah. Walau airmata membasahi pipi nya. Bram memeluk istrinya itu. Ia bisa merasakan jika tubuh Ayra gemetar.
"Kamu telah menjatuhkan talak mu‘allaq atau talak ta‘liq pada Liona Ben... "
Kembali Ayra menarik napas dalam. Ia mencoba mengatur napasnya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Yang berarti bahwa kamu menjatuhi talak yang digantungkan terjadinya pada suatu perkara di masa mendatang. Ucapan mu yang mengatakan Akan menceraikan Liona Jika tiba Di Indonesia. Maka hari ini kalian bukan lagi suami istri menurut agama Ben."
Ayra tak kuasa menahan rasa sedihnya. Bram yang melihat pundak istrinya itu bergetar. Ia benamkan kepala istirnya di dalam pelukannya. Ia usap kepala sang istri.
__ADS_1
"Kamu sudah memberitahu Liona?"
Bram pun berbicara sangat pelan. Ia tahu bagaimana hati istrinya itu.
"Ayra tak kuasa mas. Ayra tak tega. Nanti kita ajak ke pondok saja mas. Biar Umi Laila yang menjelaskan. Jangan biarkan Liona sendiri mas. Sekuat-kuatnya perempuan, kondisi seperti ini dia butuh orang-orang yang memberikannya semangat mas."
"Jadi mereka sudah bercerai? Tapi bukankah belum ke pengadilan?"
Bambang merasa tak percaya. Beni ikut menatap Ayra tak percaya.
"Tetapi aku tidak bilang menceraikan nya saat itu."
"Beni. Didalam agama Islam. Kata talak jika di lihat dari sisi waktu terjadinya atau jatuhnya. Maka ada tiga yaitu, munajjaz, mudlaf, dan mu’allaq.
Pertama, talak munajjaz adalah talak yang di dalam ungkapan nya atau shigatnya tidak di gantungan dengan syarat tertentu atau dikaitkan dengan masa yang akan datang. Seperti kata 'saya ceraikan kamu'.
Kedua, talak mudlaf yaitu talak yang jatuhnya dikaitkan dengan waktu yang akan datang, seperti seorang suami mengatakan kepada isterinya, ‘awal bulan Januari kamu adalah orang yang tertalak’. Ini artinya talaknya jatuh ketika masuk pada bagian pertama dari awal bulan Januari. Maka jatuhlah talak pada istrinya.
Dan pada kejadian kamu dan Liona jatuh talak mu’allaq yaitu talak bersyarat, dan akan jatuh ketika perkara yang disyaratkan pada masa yang akan datang telah terpenuhi pada waktunya. Talak jenis ini menggunakan huruf syarat seperti in (jika) dan idza (ketika)."
Deg.
Jantung Beni berasa berhenti. Ia yang hanya baru berniat.
"Tetapi aku baru berniat saja saat itu... Aku belum menceraikan nya.... "
Suara Beni terdengar lirih. Ayra menatap adik iparnya.
"Bersabarlah Ben. Kamu bisa bertanya pada Abi Ku untuk lebih jelasnya. Beliau lebih paham untuk bab Ini. Untuk lebih kehati-hatian biarkan Liona ikut aku dan mas Bram di Kali Bening. Kebetulan satu kamar pengurus disana ada yang kosong karena ditinggal pulang."
"Ya biarlah Liona disana dulu. Aku sepertinya akan tinggal di apartemen beberapa waktu ini. Jarak ke kantor dan kerumah sakit cukup dekat jika kami tinggal di sana."
"Liona mau?"
Bambang cepat berkomentar.
"Saya mau. Kemana saya akan kembali. Kembali ke mama atau papa mungkin makin membuat saya terpuruk. Mungkin di sana saya bisa belajar banyak hal. Bagaimana menjadi seorang muslim dan perempuan yang sesuai syariat."
Liona berdiri diujung pintu ia berada didalam pelukan Nyonya Lukis. Airmata yang kembali jatuh di mata perempuan-perempuan yang mulai memperbaiki diri menjadi istri yang lebih baik. Namun cobaan terus saja datang silih berganti.
__ADS_1
Beni tertunduk lesu. Ia menangis dalam diam. Ia menyesal mengikuti rasa benci. Rasa dendam saat hatinya lagi merasa lelah untuk bersama Liona. Namun saat pikiran dan hati nya tenang. Cinta pada Liona hadir dan meminta untuk tetap bersama. Penyesalan selalu datang di akhir. Ia yang tak paham akan ilmu agama menyesal karena mengucapkan kata-kata yang ternyata membuat dia menjatuhkan talak pada Istri yang sebenarnya masih ia cintai.
Lagi dan lagi, sebuah Ilmu dalam berumahtangga kembali berperan. Karena jika suami istri memiliki ilmu tentang pemahaman agama bahwa sebuah Sakinah mawadah warahmah tak akan bisa digapai jika kedua belah pihak mau menang sendiri, selalu ingin dimengerti tapi tak mau mengerti. Selalu menuntut sempurna nya pasangan padahal kita menikahi manusia biasa yang tempatnya khilaf dan salah.