
Bram membuka pintu apartemen nya dengan muka masamnya. Ia yang masih ingin bersama Ayra namun karena ulah asistennya yang membuat schedule rapat hari ini membuat Bram harus hadir di perusahaannya.
"Katakan ada apa? Siapa yang menyuruh mu kemari?"
Rafi menundukkan kepalanya. Ia bisa memastikan jika mood CEO MIKEL Group itu dalam keadaan yang sedang tidak bagus.
"Maaf pak, saya ingin mengambil ponsel dan tas Aisha yang tertinggal di dalam."
Bram mengernyitkan dahinya. Ia menyipitkan kedua matanya. Ia curiga karena Rafi biasanya tidak suka diperintah oleh bawahannya. Mengingat sekarang status Aisha hanya manager di perusahaan nya.
"Mana Aisha?"
Bram melangkah keluar hingga ia berjarak sangat dekat dengan asistennya. Lama mendekam di balik jeruji besi tak membuat Bram lupa aroma parfum asistennya itu. Ia bisa memastikan jika saat ini aroma yang ia cium adalah aroma lain lebih ke aroma parfum perempuan.
Rafi yang tadi sempat menggendong Aisha dengan pakaian gadis itu berada dipelukan antara dadanya dan sang gadis membuat sisa-sisa parfum Aisha menempel pada jas yang dikenakan oleh Rafi.
Rafi menjawab pelan.
"Dia hari ini izin tidak masuk Pak. Karena lagi tidak sehat."
"O.... Jadi sekarang kalian bertambah dekat?"
"....."
Rafi tak berani menjawab. Ia masih tertunduk karena khawatir salah berbicara sehingga kembali menerima amarah dari pimpinannya yang sebenarnya sedikit melunak semenjak menikah dengan Ayra.
"Katakan sakit apa?"
"Em... Saya tidak paham. Tetapi dia bilang kakinya sakit. Jadi dia tidak bisa kekantor hari ini."
"Rafi... Kalau kamu berbicara pada orang yang baru mengenal kamu. Kamu bisa mengelabuinya. Katakan, kamu sudah unboxing Aisha? Parfum pada baju mu itu bisa aku pastikan bahwa itu parfum Aisha."
"Aduh. Sial mau jawab apa ini."
Bram melipat kedua tangannya dan tersenyum ke arah asistennya yang lihat mulai merah.
"Owh.... Kamu sudah dewasa rupa nya Rafi. Jadi kamu punya hubungan dengan si Aisha itu? Aku mendukung mu."
"Aku mendukung kamu jika bersama si Aisha. Kalian cocok dari sudut pandang ku. Keputusan mu untuk nabung dulu daripada diambil orang itu langkah cerdas."
Bram menepuk pundak Rafi. Ia yang mengetahui dari Ayra jika Aisha telah di lamar oleh orang melalui ibunya. Membuat ia berpikir jika Rafi telah mendaki bersama Aisha. Maka ia sebagai orang yang cukup lama mengenal Rafi sangat mendukung. Tanpa ia tahu jika sang istri sedang mendengarkan pembicaraan mereka ketika membawakan tas Aisha yang didalamnya terdapat kunci mobil dan Ponsel milik Aisha.
"Rafi? Apa maksud mas Bram?"
"Bukan Bu. Bukan begitu."
"Kamu betul-betul ada hubungan dengan Aisha?"
"Tidak buk. Tidak. Saya cuma kasihan sama si Jones.... Maksud saya Aisha. Dia lagi sakit. Jadi saya coba bantu."
Rafi cepat-cepat unsur diri karena ia tak ingin diinterogasi perihal Aisha. Karena pertanyaan Bram beberapa menit yang lalu mampu membuat hati nya berdetak tak beraturan.
__ADS_1
Aisha menyerahkan tas tersebut ke Rafi. Asisten Bram itu cepat berlalu karena mereka akan Rapat dengan para pemegang saham.
"Mas? Tidak baik mendukung orang dalam keburukan."
"Ayra sayang. Rafi itu tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Bahkan hari ini. Untuk pertama kalinya ada aroma parfum perempuan di tubuh Rafi."
"Parfum perempuan?"
"Maksud mas. Parfum Aisha."
"Aisha?"
Ayra menaikan kedua alisnya.
"Itu hanya tebakan mas Ayra. Ayolah hanya ada kamu dan kamu dihati ku Ayra sayang...."
Bram cepat memeluk istrinya. Ia yang berniat mengantar Ayra ke kampus akhirnya membujuk sang istri agar istrinya itu ikut ke kantor dahulu baru ke kampus.
"Ayolah Ay.... Kita ke kantor dulu ya. Nanti baru mas temani kamu ke kampus."
"Baiklah."
Meninggalkan Bram dan Ayra yang masih menikmati waktu bersama. CEO MIKEL Group itu bahkan tak ingin berpisah sebentar saja dari istirnya itu. Aisha justru sedang menulis surat pengunduran dirinya dari MIKEL group dengan berlinang air mata. Gadis malang itu merasakan kesedihan yang teramat. Ia yang kini tinggal di sebuah tempat kost sahabatnya mau tidak mau, merahasiakan kejadian yang menimpanya. Agr ibu ya tak merasa sedih dan kaget.
Ibu yang berusia hampir 67 tahun, membuat Aisha selalu menelan pil pahit kehidupannya. Termasuk saat ini, ia tak ingin dirawat dirumah sakit karena selain ia takut jika kaki nya diamputasi, ia juga khawatir siapa yang merawatnya. Ia memilih satu sahabat yang memiliki usaha online dirumahnya.
Saat surat pengunduran diri itu berhasil ia selesaikan. Ia mengirimnya pada Rafi dan bagian HRD. Tiba-tiba sahabat nya yang bernama Retno hadir dengan seorang perempuan tua.
Seketika wajah yang sembab itu melebarkan pupil matanya.
"Retno.... Kamu tega ya?"
"Ya ampun kamu ini keras kepala sendiri. Awas nanti gadis tua klo kelewat keras."
"Bestie ga punya akhlak. Temen sendiri di doakan jadi jomblo!"
"Hehehe... Udah percaya sama Mpok Ipeh ini. Sudah banyak yang sembuh klo terkilir doang. Tuh kaki mu yang kiri udah bengkak kek gitu. Mau diaputasi?"
"Retnooo! tak krawuuusss lambe mu itu...."
"Ini jadi apa tidak pijetnya? klo lebih satu jam tarifnya nambah lagi loh mbak Retno."
"Kwkwkwk..... Ya sudah. Mpok Ipeh disini sama temen aku ya. Aku titip sebentar ya Mak. Karena aku mau ambil ponsel dan mobil teman aku yang ngeyel ini. Elo duduk manis aja klo mau bisa jalan lagi. Elo Juga sih Ais, pakek acara lompat segala. Harusnya tuh, si Luki yang Lo jatuhin. Da Ais....."
Retno yang memiliki rambut keriting itu melambaikan kedua tangannya. Aisha menghela napas nya dengan kasar. Ia yang cukup lama bersahabat dengan Retno sangat hapal tabiat temannya itu. Makin ia tak suka sesuatu. Makin dibuat oleh sahabatnya itu agar emosinya memuncak.
Pagi menjelang siang itu menjadi satu sejarah dari Aisha. Ini kali pertama ia patah kaki. Sang tukang pijat yang terlihat memakan sesuatu yang sehingga bibir dan mulutnya berwarna merah. Perempuan paruh baya yang dipanggil oleh Retno Mpok Ipeh itu memijat bagian kaki sebelah kanan Aish. Dari pangkal Paha hingga pergelangan kakinya.
Aisha menjerit kesakitan.
"Aaaawwwhhh..... aduuuhhh.... duh..... ampun nek....aduh.... Hiks."
__ADS_1
Tubuh nya menggeliat karena kesakitan. Ia mencoba menahan rasa sakitnya. Air mata membasahi pipinya. Saat ia akan kembali berteriak. Mpok Ipeh menyumbat mulut Aish dengan sapu tangan.
"Ya ampun neng. Ini bisa-bisa budek kuping aye klo Eneng nya teriak Mulu. Terus kapan rampung nya ini mijet klo enengnya uget sana uget ini. Udah kayak ulet aje neng."
"Sakit Mpok...."
"Udeh. Tuh digigit saputangan nye. Aye kagak mau ntar para tetangge pade dateng. Dikire aye KDTP alias Kekerasan Dalam Tindakan Perpijetan."
Aisha yang pasrah akhirnya hanya mampu menahan rasa sakit dengan mengigit saputangan tersebut. Air mata nya mengalir deras Sampai proses pijatan dari Mpok Ipeh selesai. Tubuhnya telah basah oleh keringat dingin. Kaki dan seluruh tubuhnya telah dipenuhi baluran minyak kelapa yang Mpok Ipeh bawa dari rumah khusus untuk memijat pasiennya.
Hampir satu jam Mpok Ipeh memijat Aisha. Mpok Ipeh membenarkan posisi kain yang berada di punggung Aish.
"Dah. Selesai ni neng. Pokoknya tiga hari sekali aye kemari. Entu kaki kiri Eneng patah. Kudu di pijet beberapa kali lagi. Ntar mbak Retno aye suruh ambil dirumah parem buat kakinye."
"Apa Mpok masih harus dipijet lagi? Ya Allah Gusti.... Ga mau Pok. Kapok. Tobat. Rasanya sakit nyampe ke ubun-ubun."
"Ya terserah Enengnya. Mau pincang seumuran hidup ya silahkan. Itu aje udah ampir terlambat. Coba klo besok mijetnya. Itu udah bosok tuh kakinya. Bisa-bisa buntung klo di bawa ke rumah sakit neng."
Aisha bergidik mendengar kata buntung. Ia mengingat cerita tentang istri dari Beni yang tak lain adalah Liona yang salah satu kakinya harus diamputasi karena kecelakaan yang menimpanya.
"Ya udah deh Mpok. Saya manut. Tapi bisa ga Mpok pas mijet saya nya di bius dulu?"
"Lo kire aye dokter segala mijet pakek bius membius. Udah aye mau pulang dulu noh Mbak Retno udah pulang kayaknya. Pasien aye udah antri dirumah."
Lalu muncul Retno dari balik pintu. Ia mengantarkan Mpok Ipeh kedepan rumahnya lalu kembali ke kamar Aisha.
"Kata Mpok Ipeh patah kaki kiri mu itu Aish. Jadi harus beberapa kali lagi dipijat."
"Ada pengobatan alternatif lain ga si Ret. Sakit banget rasanya."
"Salahnya mau dikasih sakit yang enak. Elo malah milih terjun bebas. Ya gini dah jaringan Setiap pilihan itu ada konsekuensinya Bestie."
"Bestie Bestie.... Elo tuh ya. Mana ponsel gue. Tuh laki bilang apa?"
Retno mendekati Aisha. Ia duduk di sebelah Aish.
"Aish comblangin gue ama tuh temen kerja Lo dong."
"Ih... Lo mau Ama tuh laki?"
"Mau dong Aish mukanya udah kayak Kim Soo Hyun."
"Is... sana kalau mau ma tuh lelaki. Amit-amit cabang bayi. Tuh laki tuh otaknya yang di pikir tentang berselancar di dunia fantasi. Cari laki tuh yang baik. Yang ngerti menjaga perempuan bukan tampang doang Retno. Mau Kimono. Mau Kimcir angin. Kim Kim apa terserah Lo. Sini ponsel gue buruan."
Saat Aish merasa kesal karena ia ingat apa yang telah Rafi lakukan pada dirinya, Rafi justru terpaku membuka surat pengunduran diri dari Aisha yang menyatakan jika alasannya mengundurkan diri dari MIKEL group adalah untuk menikah dan akan ikut suami.
"Ckckck... Jones. Jones. Nyesel gue bantuin Lo. Udah digituin ma tuh lelaki masih mau dinikahi. Tapi apa dia dipaksa ya nikah ma tuh laki? Lah kan lelaki itu penyuka terong. Apa iya Jones penyuka tempe jadi jadi mereka simbiosis mutualisme?"
Seketika Rafi menutup surat pengunduran Aisha. Rambut halus pada tubuhnya bergidik membayangkan prasangkanya
"Sayang cantik-cantik ga normal. Hhhhhh....."
__ADS_1
Rafi menandatangani surat untuk penerimaan manager baru untuk menggantikan posisi Aisha.