Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
69 Gosip tentang Ayra


__ADS_3

Sepuluh menit telah berlalu. Suasana diruangan besuk sepi karena tinggal Ayra dan Bram yang berada disana.


"Ay, Sidang perdana akhir bulan ini kamu tidak usah hadir. Mama juga tidak usah hadir Ay."


"Kenapa mas, justru saat-saat seperti itu adalah kamu butuh dukungan dari orang-orang terdekat kamu mas."


Bram memegang dahi Ayra dengan satu tangannya. Dahinya yang sempat dijahit karena lemparan batu oleh tangan-tangan tak bertanggung-jawab.


"Lihat ini, luka mu belum sembuh. Aku tidak mau luka baru muncul lagi Ay."


"Ini tidak berasa sakitnya mas. Soalnya hati Ayra sedang bahagia jadi tak akan merasakan sakitnya ini."


Dahi Bram berkerut.


"Oya, ini ada Tiga buku buat mas. Satu buku catatan Ayra ketika Ayra belajar bab Thaharah dan Shalat. Wejangan Pengantin Anyar dan Terjemah Fathul Izhar. Dan Yang ini Ayra dapatkan dari mbak Siti. Hadiah pernikahan kita."


Bram mengambil dua buku yang Ayra maksud.


"Siti? siapa?"


"Istrinya kang Furqon."


"Cara menjadi Istri Sholeha yang dirindukan Surga. Kamu tidak salah kasih buku?"


Ayra tersenyum, Ia sudah menduga jika suaminya akan berkata begitu dari judul yang ada pada buku bersampul pink itu.


"Itu kemarin buku nya satu pasang. Yang satu aku tinggal dirumah. Aku yang akan baca, judulnya Cara menjadi Suami Idaman ala Rasulullah. Aku tidak salah kasih buku. Satu Minggu lagi waktu kunjungan. Aku akan datang lagi, Mas tulis di selembar kertas apa yang belum ada atau belum Ayra lakukan dari hasil mas baca buku itu. Nanti biar Ayra bisa belajar jadi istri yang lebih baik lagi mas"


"Baiklah, terus ini buku kecil ini. Ini tulisan tangan mu?"


Ayra menganggukkan kepalanya. Bram tersenyum karena lembar demi lembar ia buka buku kecil itu terdapat tanda "^_^".


"Apa maksud ini."


"Ga tahu, dulu waktu Tsanawiyah sampai Aliyah, aku suka sama emot itu mas."


"Sanawiyah. Aliyah?"


"SMP dan SMA."


"Kalian sekolah umum juga rupanya."


"Iya, mas tidak mau tahu istri mas ini tamatan apa. Kira-kira apa pantas Ayra menjadi istri mas?"


Ayra sengaja menggoda suaminya. Ia yakin jika suaminya itu belum tahu latarbelakang pendidikan nya.


"Kalau pendidikan mu penting bagi ku maka itu aku tanyakan sebelum aku menyetujui lamaran pak kyai Rohim."


"Ah aku akan memberikan kejutan itu nanti mas. Manusia kadang membayangkan saja tidak pernah apalagi harus mengeksekusi sebuah takdir hidupnya."


"Ya sudah Ayra pamit dulu ini sudah 2 menit lagi waktunya."


Ingin rasanya Bram berlama-lama bersama istrinya itu. Namun apalah daya, kini ia harus mengikuti peraturan orang lain. Jika selama ini orang lain mengikuti peraturan nya maka kali ini ia harus tunduk. Sebuah istilah diatas langit masih ada langit, kini berlaku pada kehidupan Bram.

__ADS_1


Ayra mencium punggung tangan suaminya. Sebelum pamit Ayra menanyakan beberapa hal yang ia bingung tentang permintaan Rafi dua hari lalu.


"Mas, Rafi bilang kalau 2 hari lagi ada rapat dadakan di kantor mas. Rafi minta aku kekantor."


"Ya, surat pernikahan sudah diurus oleh Rafi. Setidaknya kehadiran mu bisa membuat yang ingin mengambil alih tampuk kepemimpinan sementara di MIKEL group sedikit halus dengan adanya dirimu Ay."


"Baiklah. Insyaallah Arya akan hadir."


"Ya seminggu lagi itu hari jadi MIKEL group, maka mungkin mereka bergerak cepat sehingga ketika hari jadi perusahaan, akan menjadi moment untuk mereka mengumumkan bahwa ada yang akan menggantikan aku sementara. Sepertinya banyak orang yang memanfaatkan kasus ku ini untuk mengambil keuntungan."


"Ya sudah, mas fokus saja dengan kasus ini. Mas sabar, dan tidak usah memikirkan urusan perusahan, Rafi, Bambang, Papa juga ada mas."


Ayra berdiri dan mengucapkan salam namun Bram menahan tangan Ayra.


"Ada apa mas?"


Bram memandangi wajah Ayra. Ingin sekali ia memeluk dan mencium istrinya itu tapi ada rasa malu dan canggung. Hingga ia hanya menatap dalam kedua bola mata istrinya itu. Ayra melihat tatapan sendu suaminya, tatapan yang baru ada ketika suaminya berada disel ini.


Ayra membalikkan tubuhnya hingga menghadap suami nya. Ia mendongakkan kepalanya. Ayra mengerti rasa sedih, rindu dari kedua mata Bram. Rasa masih ingin bersama namun tak mampu melawan kuasa jika waktu bersama telah habis.


Ayra mendekatkan wajahnya ke arah Bram. Ia sedikit menjinjit, Ia ia daratkan kecupan lembut pada bibir suaminya itu cukup singkat.


"Cup"


"Cukup?"


"Glek. Ehm... "


Wajah Ayra merah dan Bram sama-sama merona.


Bram menarik istri mungilnya itu. Sebuah hasrat yang baru hari ini muncul. Dan ingin ia lakukan bersama sang istri. Ia miringkan kepala nya. Kedua mata sepasang suami istri itu saling terpejam. Satu menit di akhir jam besuk, diakhiri dengan sebuah cium*n pertama yang saling sama-sama mengingkannya. Dan halal dilakukan oleh sepasang suami.


Kenikmat** yang harus berkahir ketika salah satu petugas datang dan merasa malu karena melihat sepasang suami istri itu melepaskan rasa rindu dengan begitu romantis.


"Ehm.... Saya kasih satu menit lagi ya pak, buk."


Petugas itu berlalu, sambil bermonolog dalam hati.


"Terbuat dari apa hati istrinya itu. Sudah tahu suaminya berbuat mesum bersama wanita lain dan hamil pula, eh dia masih mau dicumbu. Sungguh wanita yang aneh."


Namun diruang CCTV sepasang polisi perempuan sibuk mengomentari video romantis itu.


"Owh.... so sweet... Yang satu ganteng yang satu cantik."


"Ada ya Perempuan macam itu. Kamu sudah lihat video terbaru kalau itu istri siri nya. Dia itu perebut pacar orang kabarnya. PePaCor istilah barunya disana. Shela Wilona itu masih pacaran sama Tuh CEO eh direbut sama tuh perempuan."


"Ah mana mungkin penampilan nya tak mungkin lah. aku berani bertaruh kalau si Shela itu yang perusak rumah tangga orang."


"Ok deal. Satu bulan makan siang. Lihat ending nya."


"Deal."


Begitulah kini berita yang sedang berkembang makin liar. Shela memanfaatkan video CCTV bahwa ia di minta menggugurkan kandungannya oleh Ayra dan ia ditampar dan di siram air minum oleh Ayra. Bahkan satu judul dari video itu menyakiti hati Furqon yang memang selalu mengikuti perkembangan berita di media online. Video itu berjudul, Istri sirih CEO Bramantyo Mengancam Shela Wilona.

__ADS_1


Bahkan tagar #SaveWilona pun begitu tranding di media sosial. Hujatan demi hujatan ditujukan kepada Ayra. Membuat Furqon khawatir dengan kondisi adiknya itu. Hingga ia menghubungi Ayra lewat ponselnya.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam kang."


"Kamu dimana Ay?"


"Aku baru mau pulang kang. ini masih di kantor polisi. Sebentar lagi pulang, tapi diluar masih banyak wartawan."


"Kamu tunggu disana. Biar Kang Furqon jemput.Ada yang ingin Kang Furqon bicarakan."


"Tapi Ayra bersama pak sopir kang."


"Assalamualaikum..."


"Tut... Tut.... Tut.... "


Ayra menggeleng-gelengkan kepala dan ia mengambil beberapa barangnya yang ia titipkan di loker kantor polisi itu.


Baru Ayra berjalan beberapa langkah namun beberapa wartawan berlari ke arahnya.


"Maaf Bu, bagaimana kondisi Pak Bramantyo?"


"Apa benar video yang beredar bahwa anda meminta Shela untuk menggugurkan kandungan nya Bu?"


"Apakah benar anda dan pak Bramantyo menikah siri, karena anda menjebak CEO itu hingga ia terpaksa menikah dengan anda?"


"Maaf... Permisi, saya buru-buru."


"Tolong jawab Bu... Bu... apa benar anda merebut pacar Shela Wilona."


Ayra tak memperdulikan pertanyaan dari beberapa wartawan. Ia kesulitan untuk berjalan menuju mobil yang terparkir agak jauh dari pintu kantor polisi itu. Pak sopir yang membantu pun kesulitan membuka jalan untuk Ayra.


Tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh tegap dan lengkap dengan pakaian jas nya menarik lengan Ayra dan berjalan di depan wartawan itu. Hingga ia berhasil mengantarkan Ayra ke mobil yang mengantarkannya tadi.


"Bams,"


"Besok-besok jangan sendiri lagi kemana-mana. Media sedang tidak baik-baik saja Ayra. Ada orang-orang yang menunggangi kasus Bram. Dan Masyarakat pun begitu muda terpancing. Hoaks tentang pernikahan mu dan Bram pun makin menjadi."


"Terima kasih Bams. Tak apa, sesungguhnya ketika orang mendzolimi orang lain. Sungguh saat itu ia sedang mendzolimi dirinya sendiri. Aku menunggu kang Furqon disini."


Bambang menutup pintu mobil Ayra dan meminta sopir mencari tempat parkir lain. Untuk menghindari para wartawan.


Saat Bambang akan masuk kedalam ruang besuk ternyata ia kalah cepat. Rafi lebih dulu masuk. Hingga ia terpaksa menunggu.


Rafi datang dengan wajah bahagia dan senyum terukir dibibirnya. Ketika Bram duduk disebelahnya, Rafi mendekatkan posisi duduk pada Bram. Ia tempelkan sebuah headset pada Bram.


"Diamlah pak. Karena kalau ketahuan akan repot."


"Apa ini Rafi? Aku ingin tahu perkembangan perusahaan ku. Bukan mendengar ucapan. selamat untuk ulang tahun perusahaan. Apalagi dari mahasiswa."


Seketika kedua bola mata Bram melebar dan bibirnya tertutup rapat. Ketika headset itu mengeluarkan suara.

__ADS_1


"Mabruk Alfa Mabruk to MIKEL Group."


__ADS_2