Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
79 Tiga Rasa Tiga Hati


__ADS_3

Liona dan Beni baru saja bertengkar hebat. Beni merasa Liona cukup kelewatan. Ia tak seharusnya menyinggung masalalu Mama nya. Ia kecewa karena Liona membahas jika Mamanya hamil Bram sebelum mamanya menikah dengan pak Erlangga.


Begitu besar rasa benci dan dendam Beni pada Bram, tak membuat ia memercikkan rasa bencinya pada perempuan yang telah melahirkannya. Ia cukup marah pada Liona. Hingga pemandangan didalam ruangan kamar mereka sangat berantakan.


Liona yang tak suka dinasehati, yang tak suka Beni membela orang lain selain dirinya membanting semua yang bisa raih. Hingga benda-benda di kamar itu berpindah ke lantai dan pecah berkeping-keping untuk benda yang terbuat dari keramik.


Liona menikmati sebotol wine dan sebatang rokok nya sambil menikmati semilirnya angin malam di balkon kamarnya. Beni yang merasa jengah dengan keributan mereka memilih pergi ke club' malam.


Seperti itulah rumah tangga mereka. Suami istri yang memiliki rasa paling benar sendiri, yang sama-sama tak mau menurunkan ego saat masalah mencuat, dan berakhir dengan pelarian pada hal yang hanya membuat mereka makin terbenam dalam lumuran dosa.


Beni bahkan biasa menghabiskan malamnya bersama wanita penghibur disaat ia bertengkar dengan sang istri. Sedangkan Liona akan menikmati minuman kerasnya hingga ia tak sadarkan diri.


Setiap anak yang terlahir dari satu rahim pasti memiliki kesamaan dan perbedaan. Dan perbedaan Beni dan Bambang adalah pada sifat pasrah ketika masalah mencuat.


Berbeda dengan Beni. Bambang yang berada di dalam kamarnya, tampak sedang menenggelamkan kepalanya dalam dekapan Rani. Ada ketenangan yang iya rasakan ketika mendengarkan detak jantung istrinya itu. Ada ketenangan saat belaian lembut pada punggungnya.


Sifat dewasa Rani mampu selalu meredam saat emosi suaminya telah meledak. Mereka biasa bertengkar, namun Rani hanya akan diam atau meninggalkan Bambang meluapkan rasa marahnya. Setelah itu baru ia akan menenangkan suaminya. Dan berakhir suaminya itu menyesali sikapnya.


Malam ini, Bambang merasakan sedih karena ia sering menyakiti mamanya saat masih kecil. Semua bayangan perjuangan Nyonya Lukis membesarkan dirinya dan kedua kakaknya seolah menari di pelupuk matanya yang masih menyisakan air mata di ujung matanya.


"Kamu tahu Ran, Beni selalu benci pada Bram. Padahal Bram selalu mengalah pada kami berdua. Belum lagi mama, mama tidak pernah menyalahkan Beni atas setiap kesalahan yang ia lakukan. Tapi hari ini aku tidak terima, ia dan istrinya menyakiti mama. Bahkan mengorek masalalu mama."


"Sayang.... Aku Bahagia sekali karena bisa menikah dengan kamu. Karena kamu memiliki hati yang begitu baik. Kamu menyayangi saudara mu, Mama dan kamu menerima aku dan Raka dengan segala masalalu ku. Disaat semua mencemooh aku dan Raka, kamu hadir sebagai malaikat Bams."

__ADS_1


Rani memberikan kecupan lembut pada dahi Bambang. Bambang mendongakkan kepalanya. Ia menatap wajah istrinya. Istri yang hampir satu tahun lebih ini setia menemani perjuangannya untuk bangkit saat ia keluar dari zona nyamannya.


Saat ia harus belajar hidup tanpa dibayang-bayangi nama besar Pradipta. Sang istri yang terbiasa hidup mewah sedari kecil pun mampu bersabar saat mereka kadang harus membeli beras dua hari sekali untuk kebutuhan mereka.


Bambang ingat saat ia masih menjadi ojek online, saat Raka sakit dan mereka tak punya uang, Rani bahkan tak meminta bantuan orang tuanya. Ia menjaga Marwah suaminya yang selalu dihina oleh keluarganya.


Hingga ia memilih menjual kalung pemberian almarhum mamanya.


"Terima kasih sayang, terima kasih kamu pun perempuan yang hebat. Karena kamu mau mencintai aku tidak disaat aku suka. Bahkan disaat susah pun kamu masih menjaga cinta dan harga diriku sebagai suami mu. Terima kasih karena kamu mau memaafkan papa yang sempat...."


"Cup."


Rani membungkam mulut suaminya itu dengan kecup*n yang lama. Sebuah pagut*n lembut ia berikan pada bibir suaminya. Lalu berujung dengan bisikan mesranya pada Bambang.


Bambang yang menikmati pagut*n istrinya seketika membuka kedua bola matanya. Ia selama ini sangat ingin memiliki buah cinta dari Rani. Namun mengingat Raka yang masih berumur dibawah tiga tahun membuat Bambang menahan hasr*tnya.


Namun malam ini, sang istri sendiri yang meminta agar ia tak memakai pengaman. Belum lagi ia jarang mendengar istrinya itu memulai duluan pemanasan saat olahraga malam.


Malam itu Rani memberikan sebuah kebahagiaan untuk suaminya. Bambang hanya dibuat lemah tak berdaya ketika sang istri kembali meminta haknya disaat mereka baru saja tiba di nirwana kenikmatan.


Jika Bambang sedang bahagia, maka hal berbeda di rasakan oleh Bram yang masih mendekam di balik jeruji besi. Lelaki yang merupakan idola gadis saat masa kuliah itu pun sedang menahan rindu dengan membaca buku catatan Ayra tentang Shalat.


Satu Minggu berada di sel itu, ia belajar memperbaiki diri. Melalui Mukhlas yang lulusan Madrasah Aliyah ia belajar cara wudhu dan shalat. Bahkan malam ini ia sedang mencoba menjalankan shalat yang biasa istrinya lakukan di sepertiga malamnya.

__ADS_1


Ia telah berjanji dalam hati, bahwa ia akan Memantaskan diri untuk istri Sholehah nya. Ia duduk diatas sajadahnya, dua rakaat di shalat Lail nya berkahir dengan doa agar ia bisa pantas untuk istrinya dan segera bisa bebas dari kasus itu.


Lalu ia sandarkan tubuh atletisnya pada dinding sel itu, Ia ambil buku kecil dari ujung tempat ia duduk. Tatapan matanya tertuju pada buku kecil yang istrinya tinggalkan seminggu yang lalu. Lembar demi lembar ia buka buku itu. Ia baca, hingga kedua netranya berhenti berkedip.


Ada catatan kecil disana. Buku itu bisa dipastikan jika ditulis dalam waktu yang telah lalu. Karena dari warna dan bentuk buku itu cukup usang.


Kedua netra Bram membesar, bibirnya membaca kalimat pada buku itu. Entah itu sebuah puisi, entah itu isi hati sang istri namun hati Bram menghangat dan kedua matanya pun ikut terasa hangat.


"Jodoh ku, Dimana kamu. Aku akan menjaga sebongkah hati yang kecil ini ❤️ . Untuk kamu yang kelak akan menjadi imam ku. Semoga kamu sedang memantaskan diri untuk kita bertemu dalam satu waktu yang telah sama-sama pantas, dan siap membina mahligai pernikahan hingga bisa mencapai Jannah nya. Ay Ay."


Bram membuka kembali lembaran buku itu. Bibirnya tersungging saat kembali melihat satu catatan yang istrinya torehkan pada buku itu.


"Tidak semua yang kita inginkan menjadi milik kita, tetapi kita bisa memiliki yang kita inginkan dengan memintanya pada sang pemilik dari semua isi bumi ini. Maka aku akan berdoa agar memiliki seseorang yang mampu mencintai aku tidak hanya karena kelebihan ku. Tetapi juga kekurangan ku. ❤️ Rasulullah shalallahu alaihi wasallam and Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ay Ay."


Tulisan kedua itu Ayra buat ketika ada seorang anak bupati melamarnya, hanya karena bertemu dan melihat Ayra menjadi pemateri saat acara di kampus. Saat itu Ayra pun mendapat penghargaan sebagai mahasiswa terbaik di kampus itu. Sang anak bupati yang jatuh hati karena kepintaran Ayra dan karena kecantikan Ayra pun cepat melamar Ayra pada Kyai Rohim.


Namun ditolak Kyai Rohim. Seolah sang ayah sambung sekaligus guru Ayra itu paham jika kriteria putrinya itu bukan terletak pada harta, jabatan. Namun lebih ke karakteristik sang lelaki berpendirian kuat, sayang dan hormat pada orang tua. Walau ia tahu Ayra akan menerima semua keputusannya termasuk salah jodoh. Karena ia paham Ayra selalu sami'na wa atha'na.


Jiwa santri yang kental pada diri Ayra hingga ia berprinsip. Kapanpun, di manapun, dan sampai kapanpun, prinsip seorang santri adalah nderek poro kiai.


Bram yang terasa tersentuh karena catatan-catatan kecil yang Ayra buat di setiap akhir kertas itu membuat Bram bermonolog dalam hatinya.


"Aku akan menerima mu, mencintai mu tidak hanya kelebihan mu tetapi juga kekurangan mu Ay Ay.... Hehehe.... "

__ADS_1


__ADS_2