
Aisha sedang berada di dalam kamar bersama tiga orang adiknya. Ia akan memberikan jawaban akan menerima lamaran Rafi atau tidak setelah ia berbicara dengan ketiga adiknya. Ia memang anak tertua. Ia pun paham bahwa ia akan menikah.
Keyakinan akan Rafi serius dengan niatnya belum lagi Ayra dan Bu Lina yang tersu mencoba meyakini Aisha bahwa setidaknya Rafi lelaki yang lebih baik daripada Luki. Maka jika Aisha menerima lamaran dari Rafi. Nanti malam ia akan melangsungkan pernikahan ba'da shalat isya. Beruntung salah satu sepupu lelaki Aisha yang merupakan anak dari adik almarhum Ayah Aisha siang ini akan tiba dari kota Sulawesi bersama keluarganya. Maka bisa ia minta untuk menjadi wali nikahnya nanti.
Alifah memeluk Aisha yang berlinang airmata. Satu kalimat dari bibir polos bungsu dari empat bersaudara tersebut membuat Aisha merasakan sesak pada dadanya. Mereka memang terbentang jarak. Bahkan semenjak kuliah Aisha tidak tinggal di kampung. Ia hanya akan pulang ketika Hari raya Idul Fitri. Namun Peran Ibu Aisha begitu besar sehingga membuat ketiga Adiknya terutama Alifah yang hampir mungkin tak terlalu sering bersama sang kakak. Akan tetapi memiliki cinta begitu besar.
Almarhum ibu Aisha sering menceritakan kepada ketiga anaknya. Bahwa perjuangan kakak nya. Yang tidak lain Aisha, begitu mandiri. Ia berusaha untuk sambil bekerja sambilan sebagai salah satu anggota di Wedding organizer yang merupakan milik orang tua Retno. Sehingga ia tak merepotkan Ibunya sekedar untuk makan.
Terlebih ia bisa mengirim setiap bulan sekedar membantu untuk uang jajan adik-adiknya. Saat ayahnya meninggal, Aisha masih kelas tiga SMA. Maka sejak saat itu ia bertekad untuk sukses. Ia giat belajar hingga mendapatkan beasiswa jurusan tata busana di salah satu universitas negeri.
Satu kalimat yang sering ibunya sampaikan pada Lilis, Nurul dan Alifah tentang bagaimana mereka harus giat belajar dan tak boleh mengecewakan Aisha. Sebuah sejarah yang penting diceritakan kepada anak-anak akan siapa yang berjasa pada kehidupan mereka disaat mereka kecil. Maka ketika dewasa akan timbul rasa cinta, rasa sayang dan segan kepada kakak nya yang tidak lain Aisha.
"Jangan pernah lupa ya. Lihat hampir setiap hari raya. Kakak kalian itu mengirimkan baju lebaran, uang buat kita bisa merayakan hari raya dengan pakaian baru, lauk dan ketupat di hari raya. Itu semua selain rezeki dari Allah tapi juga karena kerja keras kakak kalian.
Maka bahagiakan kakak kalian dengan cara kalian ketika dia pulang. Jangan membantah apa yang kakak perintahkan. Kalian bisa sekolah karena berkat kakak kalian."
Lilis dan Nurul melihat Alifah beserta Aisha menangisi, ikut juga meneteskan air mata.
"Maafkan kami kak. Karena kami kakak jadi harus seperti ini. Kalau kakak tidak mau menikah dengan mas Luki atau Kak Rafi. Biar kak, Lilis berhenti saja sekolahnya kak."
Aisha melerai pelukannya. Ia memegang punggung Lilis sebagai anak kedua dari keluarganya.
"Kakak masih sanggup membiayai kalian sampai tamat. Tetapi untuk sekarang mau tidak jika kakak menerima lamaran dari Ra-"
Ayra ingat jika ia sedang berbicara pada ketiga adiknya. Maka ia memilih menambahkan kata 'Kak setelah nama Rafi.
"Maksudnya kakak, jika kakak menerima lamaran kak Rafi. Maka mau tidak mau kedepan kalian harus sering bertemu sama kak Rafi. Dan kakak tidak mau nanti kita malah jadi tidak akur atau kalian tidak nyaman karena kalian tidak nyaman dengan kak Rafi."
"Tidak kak. Lilis lebih suka kalau kakak sama kak Rafi. Dia dari kemarin itu suka diam-diam kakak. Terus foto Kakak di ruang depan itu kemarin aku lihat sama kak Rafi di foto kembali pakai ponselnya."
Lilis terlihat mengusap air matanya. Nurul ikut memberikan dukungan.
"Klo kak Rafi beda jauh dengan Mas Luki. Kak Rafi baru satu kali kemari tapi dia mau bercanda dengan aku dan Lifah. Kalau mas Luki kemari jutek, ketus sama kita kak. Ganteng sih, tapi kak Rafi ga kalah ganteng kok kak."
Aisha menyipitkan kedua matanya.
"Kamu bilang belum haid? tapi sudah tahu ganteng sama ga nya?"
"Hehehe.... Kan sering nonton film kak."
Aisha menoleh ke arah Alifah.
__ADS_1
"Lifah bahagia asal kakak bahagia. Lifah mau kok ikut kak Lilis besok kalau kak Lilis mau di pondok."
Aisha melihat si bungsu sedang terlihat kuat dan sok dewasa. Aisha cepat memeluk adik-adiknya kembali. Airmata bahagia juga tak mampu ia hentikan.
"Terimakasih. Kakak akan bahagia, yakinlah keputusan kakak nanti bukan karena hanya karena kalian melainkan kakak juga ingin segera menyempurnakan ibadah kakak melalui sebuah pernikahan. Dan Kamu..."
Aisha melerai pelukannya, Ia cubit pipi chubby Alifah.
"Kamu tidak perlu sok berani. Tadi malam ada yang memeluk erat kakak agar tidak di pondokan. Untuk Alifah, kakak tidak akan memaksa kamu. Kakak tidak akan meninggalkan kamu dimana-mana. Sekarang dimana kakak tinggal, maka kamu akan bersama kakak."
"Tapi....."
Lilis terlihat mengerutkan dahinya.
"Bismillahirrahmanirrahim."
"Ayo kita keluar."
"Kak.... "
Lilis menahan tangan kakak tertuanya saat Aisha telah berdiri.
"Kakak akan menolak Kak Rafi?"
Setelah keluar dari kamar, Beberapa pasang mata yang dari tadi menunggu Aisha keluar. Akhirnya yang dinanti keluar juga. Terlihat dari mata keempat perempuan yang baru muncul di ruang tengah itu sembab. Aisha kembali duduk di hadapan Rafi tepatnya ia duduk disebelah Ayra.
Rafi menghela napas nya dengan kasar. Jantungnya berdetak tak karuan. Ia khawatir jika di tolak. Karena ia merasa malu karena ini kali pertama menyatakan cinta pada gadis dan jika harus ditolak mungkin ia akan susah untuk menata hatinya kembali.
"Aku ingin bertanya satu hal. Maka jawabannya setelah kamu menjawabnya."
"Katakanlah."
Rafi memajukan posisi duduk nya sedikit maju.
"Bagaimana jika tiga adik ku, tetap tinggal bersama kita jika memang kita menikah?"
Rafi tersenyum lega. Ia merasa diatas angin akan satu pertanyaan Aisha.
"Jangan kan tinggal bersama kita. Aku sanggup dan siap jika memang mereka mau tinggal bersama kita sampai mereka bertemu jodoh mereka. Insyaallah, ya Insyaallah bukan berjanji."
Ayra sedikit tersenyum mendengar sebuah jawaban dari Rafi.
__ADS_1
Aisha mengatupkan kedua bibirnya dan menghembuskan napasnya dengan kedua mata tertutup. Ketika Ia membuka kedua matanya, ia menatap Rafi sepintas lalu berpindah ke Buk Lina.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saya menerima lamaran Kamu Fi."
"Alhamdulilah."
Serentak kalimat syukur itu diucapkan oleh seisi ruangan tersebut. Rafi mengusap wajahnya dengan satu tangan nya. Bram cepat memeluk asistennya dan memberikan ucapan selamat.
"Wow. Selamat Brother, akhirnya berakhir juga predikat jomblo dari mu Bro."
Ayra memeluk Aisha, ia ikut menitikkan air mata. Sungguh ia merasa senang karena ia sempat khawatir jika Aisha akan menikah dengan lelaki yang jelas-jelas punya kelainan s e k s.
Pernikahan dipercepat menjadi Ba'da Ashar di masjid yang tak jauh dari rumah Aisha. Karena Pak Lek nya khawatir jika keluarga Luki tiba sebelum akad nikah dilangsungkan malah akan menimbulkan keributan. Dan sebuah persetujuan dari sepupu Aisha yang baru tiba juga setuju dengan saran pak Lek Aisha itu.
Begitupun dengan Buk Lek Aisha ia ikut bersorak gembira ketika Aisha menerima lamaran Rafi.
"Syukur kamu memilih lelaki ini. Setidaknya, Luki bisa aku jodohkan Nani sama anak gadis ku."
Belum lagi Rafi yang tak sempat membeli mas kawin berupa emas. Maka ia memberikan mas kawin berupa uang sebanyak lima juta. Pernikahan berlangsung cukup sederhana. Aisha hanya mengenakan sebuah kebaya putih dengan polesan make up yang tipis.
Sedangkan Rafi mengenakan baju Koko berwarna putih dan pecis yang senada dengan bajunya. Ijab kabul dilangsungkan dengan lancar. Entah kenapa Aisha tak mampu menahan air matanya. Ia teringat sosok ibunya, Ia sedih karena pernikahan nya digelar saat ibunya telah tiada.
Saat selesai proses ijab qobul, Bram yang berjalan mendampingi Rafi pulang menuju rumah Aisha membisikkan Rafi sesuatu.
"Kamu sudah hapal doanya belum? Harus hapal doanya dulu baru mendaki."
"Gampang pak."
Rafi tersenyum pada Bram. CEO MIKEL Group itu menyipitkan matanya. Ia memandangi Asistennya.
"Really?"
Rafi menggeluarkan ponselnya dan mengucapkan satu kalimat setelah menyentuh layar ponselnya yang ada gambar Microphone.
"Doa mendaki."
Mesin pencari itu juga kembali menunjukkan hasil pencariannya. Dan mengulangi satu kalimat yang diucapkan Rafi.
"Doa Mendaki."
Rafi membaca doa tersebut sesuai hasil pencarian di mesin pencari informasi tersebut. Membuat Bram Berkali-kali menggaruk kepalanya. Ia terlihat frustasi.
__ADS_1
"Bismilaahi tawakkaltu alallahi wa laa hawla wa laa quwwata illaa billaahi."
[Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah saja.]