
Yeni yang dari tadi melamun. Ia teringat akan musibah yang telah terjadi hampir sepuluh tahun lalu pun.
Ayra yang dari tadi memanggil nama Yeni beberapa kali tak berhasil membuat sahabatnya yang kini bertubuh besar itu. Ia mencoba menggoyang bahu Yeni beberapa kali.
"Yen. Yeni."
Sang sahabat masih sibuk dengan lamunannya. Akhirnya Ayra memencet hidung Yeni.
"Aduh.... "
"Hihihi.... Kamu dulu sering melakukan ini padaku."
"Sakit Ay." keluh Yeni
"Hihihi.... Kamu ngelamun apa?" Tanya Ayra penasaran.
"Aku lupa-lupa ingat wajah lelaki yang menyelamatkan kamu Ay. Yang jelas dia tampan Ay. Opa-opa Drakor mah lewat. Tubuhnya tinggi, hidungnya mancung. Trus matanya ya itu Ay. Bikin mata yang memandang terpesona." jawab Yeni dengan dahi berkerut.
Ayra termenung sebentar. Ia mengingat kembali rentetan kejadian ia dan Bram bertemu Hingga menikah.
Ayra mengambil ponsel suaminya yang selalu ia bawa semenjak ia mengurus MIKEL group itu. Ia buka galery ponsel Bram dan mencari foto suaminya itu.
"Yen, apakah lelaki ini yang menolong ku waktu itu?" Tanya Ayra antusias.
Yeni menatap layar ponsel yang ditunjukkan Ayra. Matanya terlihat menyipit, dahinya pun berkerut. Secara spontan jarinya mengusap layar ponsel itu.
Seketika matanya terbelalak ketika jarinya berhenti mengusap layar ponsel itu dan melihat foto yang sangat mirip dengan Bram. Karena beberapa foto sebelumnya Bram terlihat dengan tubuh yang atletis. Foto satu ini Bram masih memiliki tubuh biasa, karena lelaki yang sekarang CEO MIKEL Group itu saat menyelamatkan Ayra belum memiliki dada bidang seperti saat ini. Wajahnya pun sangat bersih, tak seperti saat ini ada godek tipis di sekitar pipi dan dagunya.
"Ini Ay. Iya lelaki ini. Foto ini sangat mirip Ay."
Ayra menarik ponsel itu. Ia melihat foto yang membuat kedua mata sahabatnya itu terbelalak. Napas Ayra turun naik, rasanya aliran darahnya memburu untuk terus cepat mengalir ke tubuh Ayra. Dadanya bergemuruh, butiran bening pun mengalir dari pelupuk mata Ayra. Napasnya tak beraturan keluar masuk dari rongga dada dan hidungnya.
__ADS_1
"Subhanallah.... Sungguh hamba hanyalah seorang yang tiada daya dan upaya. Jangankan untuk mengeksekusi, membayangkan saja hamba tak mampu Rabb... " Tangis Ayra.
Ayra menangis sesenggukan. Yeni yang bingung memeluk sahabatnya itu. Ia belum berani bertanya.
"Mas.... Sungguh indah cara Allah mempertemukan kita. Sungguh indah cara Allah menguji kesabaran ku. Sungguh indah Allah Memantaskan Kita satu sama lain."
"Ada apa Ay?" Yeni kebingungan karena bahu sahabatnya berguncang cukup kuat.
"Hiks. Lelaki itu suami ku sekarang Yen.... " Ucap Ayra seraya memegang pundak Yeni. Dua orang sahabat itu saling tatap dengan netra yang berbinar tak percaya.
"Apa!?" Ucap Yeni Histeris.
"Iya Yen. Sungguh Indah cara Allah memberi tahu jawaban setiap gelisah ku di setiap sepertiga malam. Ia mengirim aku ke kota ini dan bertemu kamu. Sungguh aku malu pada Rabb ku Yen. Aku terlalu menjadi hamba yang selalu menginginkan apa yang aku inginkan tanpa tahu Jika Allah lebih tahu apa yang pantas untuk kita dan lebih tahu akan tabir-tabir kehidupan yang tak kita ketahui" Isak tangis Ayra membuat Yeni memeluk sahabat nya. Ia tak merasa sungkan karena Ayra bosnya. Tapi rasa haru itu melepaskan batas anatara anak buah dan bos.
Dua sahabat itu menangis haru. Ayra yang puas menangis karena terharu dengan perjalanan cintanya yang Allah berikan begitu indah. Bagaimana ia yang selalu bersedih ketika ingat akan rasa sesak di setiap malamnya. Rasa sesak karena musibah yang menimpanya membuat ia merasa gagal menjaga sesuatu yang harusnya menjadi pemandangan pertama untuk suami.
Gagal karena bukan suaminya yang pertama menyentuhnya. Namun saat ia makin gundah dan gelisah ternyata Allah memberikan jawaban di sebuah kota. Dengan sebuah masalah. Di sepertiga malam saat Yeni masih terlelap dalam mimpinya. Ayra terbangun, ia tak bisa tidur nyenyak. Ia bermunajat dalam malamnya. Ia merasa kerdil di atas sajadah nya.
"Rabb, sungguh aku mohon ampunan Mu. Sungguh sombong hati ku ini. Sungguh pandai setan bermain-main dalam hati ku yang kotor ini. Aku yang merasa diriku suci, aku yang merasa diriku ini alim hingga aku membenci orang yang berbuat Dzolim, yang berbuat salah.
Hari ini hamba belajar jika setiap manusia yang ada dimuka bumi ini ada Engkau yang menggerakkan setiap hati. Ada Engkau yang berkuasa atas setiap kejadian yang terjadi di muka bumi ini.
Maaf kan aku yang merasa diriku lebih baik dari orang lain. Sungguh Setiap kejadian akan ada hikmahnya. Aku mohon ampunan mu Rabb. Hiks. Hiks. Hiks."
Ayra tertunduk dan menutup wajahnya dengan telapak tangan nya. Ia yang tadi siang merasa benar dan menyalahkan anak buah Bram yang merupakan manajer di cabang perusahaan MIKEL Group itu. Ia merasa orang itu penyebab ia harus ke Palembang dan demo terjadi. Ternyata Dibalik akibat orang itu melakukan kesalahan, Allah malah memberikan obat untuk lara dalam hati nya yang ia simpan bertahun-tahun.
Hingga ia bertemu Yeni sebagai saksi kunci masalalu Ayra.
Ayra melanjutkan membaca Qur'an nya. Setelah hampir satu jam ia bermunajat diatas sajadahnya, ia pun masih terduduk diatas sajadah. Ia bermonolog dalam hatinya. Tentang isi hatinya. Tentang cintanya.
'Ah, Rasa rinduku padamu bertambah besar mas. Ingin rasanya segera bertemu pada mu. Sungguh ingin menangis dalam pelukan mu.Sungguh manis kisah ini. Seberapa buruk masalalu mu, aku akan tetap ada disamping mu mas. Rasa cinta ku pada mu makin besar. Karena aku yakin, aku adalah tulang rusuk mu. Rabb ijinkan aku merasakan manisnya cinta. Aku jadi ingat kisah cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah yang luar biasa indahnya, karena terjaganya kerahasiaan mereka dalam bersikap dan berekspresi. Konon setan pun tak tahu menahu perihal cinta mereka.'Batin Ayra diatas sajadahnya.
__ADS_1
Ayra meraih ponsel yang ia letakkan di sebelah sajadahnya. Ia buka layar ponsel itu. Ia tatap potret suaminya yang mengenakan jas.
"Kamu sangat angkuh mas. Kamu pun sering ketus, tapi kepribadian mu sangat baik. Kalau kamu tak baik maka kamu tak akan menyelamatkan aku. Semoga kamu berusaha menjalankan syariat agama kita mas. Aku ingin mengarungi bahtera rumah tangga ini bersama mu. Aku ingin menua bersama mu."
Air mata Ayra jatuh membasahi layar ponsel Bram. Ayra yang tengah terlelap di hampir subuh nya diatasi sajadah.
Namun tidak dengan sang asisten. Aisha yang sedang sangat menikmati alam mimpinya harus bangun karena ponselnya berdering tak berhenti. Ia mencari ponselnya dalam keadaan kepala dan tubuhnya berada dibalik selimut. Tangannya meraba-raba tempat tidur.
.
Saat ponsel itu berhasil diraih tangannya. Ia mendial tombol hijau seketika dengan sedikit mata yang terbuka. Ia tempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Halo." Suara khas bangun tidur dari seorang perempuan yang tak lain Aisha.
"Hei.Asisten macam apa jam segini masih tidur! cepat bangun kepompong!" Teriak Raffi pada Aisha.
Aisha membuka kedua matanya mendengar suara yang begitu ketus dan kasar memekakkan telinganya. Ia menjauhkan ponsel itu beberapa detik dari telinganya. Dengan mengernyitkan dahinya.
"Hei. Aku tidak tuli! Apa kau tidak tahu ini baru jam 5 pagi!" Bentak Aisha balik.
"Kau pikir kau akan ke bandara jam berapa dodol?"
"Hei kayu bakar! Bu Ayra meminta pulang sore karena harus bertemu beberapa pimpinan cabang yang lainnya!"
"****. Kenapa ditunda lagi dodol! aku bisa mati! Dengar jangan sampai besok malam Bu Ayra tak sampai di Jakarta. Jika ia menunda lagi kepulangannya maka bukan aku yang akan mati berdiri. Kamu pun akan mati terpanggang dodol!"
Hingga panggilan tersebut terputus saat Raffi memutuskan sambungan telepon tersebut.
"Tut.Tut.Tut."
"Kurang Ajar. Apa nya. Apakah setiap asisten CEO itu seperti itu? Selalu ketus. Awas kamu Api Api. Tunggu aku pulang!"
__ADS_1
Aisha kembali menarik selimutnya dan ia kembali menutup wajahnya dengan bantal lembut hotel bintang 5 itu.