
Satu Minggu berlalu dari pertemuan Ayra dengan Sarah. Ia pagi itu akan hadir di launching aplikasi Qiam Shop. Namun kembali ia harus meminta Yazmin menggantikan posisi nya. Sebuah pesan dari Sarah mengatakan jika pagi itu jadwal Liona kerumah sakit.
Ayra yang mencintai keluarganya. Ia tak ingin jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan dengan Liona atau keluarganya yang lain. Ia memutuskan pergi ke rumah sakit bersama Bram. Ia menghubungi suaminya, mereka sepakat untuk bertemu di rumah sakit. Karena Bram yang terlanjur tiba di perusahaan tak mungkin kembali menjemput Ayra yang berada di rumah.
"Oke, mas berangkat sekarang ya Ay. Kamu diantar pak Sopir saja Ay."
"Baiklah mas. Ayra juga berangkat sekarang. Assalamu'alaikum."
Bram menjawab salam Ayra dengan cepat. Ingin ia memberi tahu Beni. Tetapi Ayra melarangnya, mereka akan mencari tahu dulu apa yang terjadi dengan Liona. Saat Bram akan keluar dari perusahaannya, ia berpapasan dengan Beni.
"Mau kemana Bang?"
Bram menggaruk kepalanya. Ia bingung, sulit sekali ia memilih kalimat agar tak berbohong pada adiknya. Lantas ia pun menjawab jika akan mengantarkan Ayra ke rumah sakit.
"Kenapa kandungannya?"
"Tidak tahu, tapi Ayra minta ketemuan di rumah sakit. Kamu ada perlu?"
"Aku ingin minta saran mu terkait perusahaan Papa yang ada di Kalimantan."
"Begini saja nanti setelah aku selesai mengantar Ayra. Aku hubungi kamu. Ok?"
"Wah suami siaga betul dirimu Bang."
"Bukan hanya suami tapi juga Kakak siaga untuk mu."
"Buuugh."
"Gaya mu Bang."
Beni mendaratkan pukulan kecil ke perut kakaknya. Hubungan Kakak dan adik itu sangat harmonis saat ini. Peran seorang istri ternyata begitu mempengaruhi kakak dan adik itu dalam menjalin hubungan persaudaraan mereka. Jika dulu Beni begitu benci dengan Bram karena Liona selalu saja memberikan cerita-cerita yang membuat rasa benci sang suami pada saudaranya semakin subur, saat ia telah memiliki bekal selama di Kali Bening, ia menjadi istri yang mencintai suaminya tapi tak merenggangkan hubungan persaudaraan sang suami dengan saudaranya, hubungan seorang anak lelaki dengan ibu yang telah melahirkannya.
Bram di antar oleh sopir perusahaan menuju rumah sakit yang menjadi tempat Liona memeriksakan kesehatannya. Setiba di rumah sakit tersebut. Ia membaca pesan dari Ayra jika istrinya menunggu di ruangan Sarah. Bram mencari ruangan dokter spesialis saraf itu. Saat tiba disana, Ia melihat Ayra berwajah sendu.
"Mas.... "
Ayra menatap Bram dengan sudut matanya berair. Bram duduk di sisi istrinya.
"Tenanglah Ay. Ada apa dengan Liona?"
"Liona memeriksakan dirinya di dokter spesialis ginjal mas."
"Semoga penyakitnya tidak terlalu parah Ay."
"Jika tidak parah dia tidak mungkin meminta Beni menikah lagi mas."
__ADS_1
"Hhhhhh...."
Bram mengusap wajahnya.
"Kamu sudah ketemu Liona?"
"Dia baru datang dan masih menunggu antrian..." Jawab Ayra dengan suara lirih.
"Apakah kamu tidak bisa mencari tahu seberapa parah penyakit adik kami?" Bram bertanya pada Sarah.
"Maaf mas, saya tidak bisa. Kenapa tidak coba berbicara saja dengan Liona. Saya rasa Ning Ayra bisa mengajaknya berbicara. Seorang yang sedang sakit akan lebih baik ketika memiliki teman bercerita."
"Begini saja mas. Ayra akan menemui Liona setelah dia keluar dari ruangan dokter tersebut."
"Kamu lagi hamil Ay. Jangan terlalu lelah dan banyak pikiran ya. Mas tunggu di mobil saja ya."
Ayra pun setuju. Ia tak tega jika membiarkan Liona sendiri menghadapi masalahnya. Terlebih lagi istri Beni itu sedang memiliki harapan untuk suaminya menikah lagi disaat mereka terikat pernikahan.
Bagi Ayra, poligami adalah satu hal yang berat di lakukan bagi orang yang tak memiliki ilmu. Apalagi hanya bermodalkan Sunnah nabi, padahal masih banyak Sunnah nabi yang lain. Walau agama tak melarang Poligami tetapi bagi perempuan sekelas Ayra, poligami yang tak berbekal ilmu akan menjadi wanita korban. Karena bukan perkara ekonomi saja tetapi bukan hal yang mudah untuk adil dalam urusan batin.
Apalagi Liona yang menginginkan Beni poligami namun hatinya masih belum ada kerelaan, Sedangkan suaminya pun tak ingin menduakan dia. Sungguh Ayra tak ingin sang adik memikirkan sebuah solusi yang mungkin justru menjadi pisau belati yang malah menyakiti dirinya dan sang suami. Niat ibadah malah menjadi sumber dosa karena ada yang menyakiti, dan ada yang tersakiti.
Ayra menanti Liona di depan ruangan dokter spesialis ginjal. Sedangkan Bram menunggu Ayra dari jarak yang agak jauh. Ia tak ingin meninggalkan istrinya sendiri. Kondisi Ayra yang beberapa hari lalu sempat lemah membuat suami Ayra itu sering merasa khawatir.
Saat pintu ruang dokter spesialis ginjal itu terbuka. Liona terlihat keluar dari ruangan itu dan memegang sebuah amplop berukuran besar dan berwarna putih. Istri Beni itu terpaku di depan pintu ketika melihat Ayra berdiri dari kursi tunggu. Iparnya itu segera menghampiri Liona. Liona terlihat salah tingkah. Ia merasa bingung, karena Ayra ada di depan ruangan itu dan sepertinya memang menanti dirinya keluar dari ruangan itu.
"Liona..." Ayra menghampiri Liona dan ia berdiri di sisi Liona.
Bibir Liona terasa kelu. Ia tak mampu berkata. Ada rasa khawatir jika Ayra mengetahui perihal penyakitnya.
"Aku tak meminta mu bercerita Li. Tapi setidaknya biarkan airmata mu jatuh di pundak ku. Sebesar apapun masalah yang kamu hadapi tetapi cara mu menyikapinya kurang baik bagi rumah tangga mu."
Liona tak kuasa menahan rasa sesak di dadanya. Terlebih kali ini kembali ia harus menelan pil pahit. Orang yang akan transplantasi ginjal untuknya ternyata tak cocok. Ia harus kembali bersabar dan ada kekhawatiran jika ia tak bisa menua bersama Beni. Namun ia tak ingin suaminya nya itu bersedih jika memang penyakit yang baru ia ketahui sedang menggerogoti ginjalnya itu harus merenggut nyawanya.
Liona menangis dalam pelukan Ayra. Bahunya berguncang. Bram yang melihat dari kejauhan mengigit bibir bawahnya. Hatinya ikut sedih. Ia yakin jika adik iparnya sedang dalam keadaan tak sehat. Tanpa mendengar apa yang di bicarakan, cukup melihat Liona yang menangis dalam pelukan Ayra bisa Bram Pastikan bahwa Liona sedang sakit.
Ayra mengajak Liona ke taman yah berada di depan rumah sakit itu. Mereka duduk berhadapan di sebuah tempat duduk yang berada di bawah pohon besar.
"Berjanjilah kamu tak akan menceritakan pada Beni, Ay."
"Kenapa kamu tidak berterus-terang pada Beni?"
"Hhhh.... Aku terlalu sering menyakiti hatinya Ay. Aku hanya ingin dia bahagia jika memang aku di takdirkan untuk-"
"Jangan menjadi Tuhan Liona. Hanya Allah yang tahu perkara jodoh,rezeki maut. Jangan pernah mendahului Allah."
__ADS_1
"Tapi dokter mengatakan ginjal ku sudah cukup parah. Sedangkan hari demi hari masih belum ada yang memberikan donor ginjalnya untuk ku. Ada tetapi ternyata tak cocok."
"Jadi kamu sakit ginjal?"
Liona mengangguk. Ia di vonis gagal ginjal baru beberapa bulan. Ia pun tak menyadarinya. Ketika ia sering merasakan sakit pada tumitnya ia memeriksa pada dokter spesialis penyakit dalam. Lalu sang dokter menyarankan ke dokter spesialis penyakit ginjal. Setelah itu ia baru tahu jika ginjalnya bermasalah. Bahkan ia juga beberapa bulan ini berkonsultasi dengan dokter gizi karena ia berencana operasi transplantasi ginjal.
Hari ini Liona sebenarnya merasa bahagia karena hasil tes orang yang akan mendonorkan ginjalnya keluar. Namun ternyata hasil yang keluar tak sesuai angan-angan Liona. Hasil tes tidak cocok. Liona kembali di buat putus asa.
"Berterus-terang lah pada Beni, Li. Bagaimana pun dia suami mu. Insyaallah ada kemudahan bagi kita di setiap keridhoan suami kita."
"Hhhhh.... Aku rasanya ingin dia bahagia Ay."
"Ayolah Liona. Tidakkah kamu sadar bahwa bahagia Beni adalah hidup bersama mu, menua bersama mu."
"Justru karena cintanya yang besar pada ku. Aku khawatir ia akan sulit melupakan aku Ay. Saat aku-"
"Liona. Cukup, cukup memikirkan apa yang belum terjadi. Kamu tidak hanya menyakiti Beni dengan sikap mu, Li. Tetapi juga dirimu sendiri. Bibirmu berkata ikhlas tapi hati mu tidak Li, aku bisa merasakan itu. Ku pikir alasan anak menjadi landasan kamu meminta Beni menikah lagi."
"Bantu aku agar bisa menemukan perem-"
"Liona!"
Ayra sudah tak sabar menghadapi Liona yang terus menerus putus asa dan mendahului takdir Allah.
"Kamu yakin kamu akan lebih dulu menghadapi kematian? satu justru aku? Kita tidak tahu Li. Jangan pernah mendahului Allah. Bukankah kita bisa mencari pendonor ginjal?"
Liona terdiam, ia sudah berapa kali berharap jika akan ada yang mendonorkan ginjalnya untuk dirinya. Namun kembali hari ini ia di berikan kegagalan untuk tranplantasi ginjal karena ketidakcocokan ginjal yang akan mendonorkan untuk dirinya.
"Dokter memg-"
"Kamu tahu Li, dulu aku pernah merasa putus asa dan hina. Tapi aku tak pernah putus asa. Hampir sepuluh tahun lebih aku selalu berdoa kepada pemilik kehidupan ini. Aku berdoa agar aib ku ditutup, agar suamiku menerima jika ada sesuatu kekurangan ku. Dan aku pun tahu bahwa takdir adalah hak prerogatif Allah. Ketika aku berusaha dengan doa agar Allah menutup aib ku. Ternyata Allah telah mentakdirkan aku dan mas Bram berjodoh. Tetapi aku hanyalah manusia yang sibuk dengan pemikiran ku. Begitupun dengan kamu dan Beni sekarang. Apa yang sedang Allah takdirkan di masa yang akan datang."
Liona tertegun mendengar penjelasan Ayra.
"Berdoa, berusahalah dan bersabarlah akan masalah yang sedang kamu jalani Li. Bukankah salah satu, istri shalihah itu yang pandai membuat suaminya bahagia dan tentram? Maka saat ini Apakah Beni terlihat Bahagia saat kamu terus menerus memintanya menikah dengan orang lain sedang ia hanya mencintai kamu?"
Liona tertunduk, ia kembali meneteskan air mata. Maksud hati ingin meraih surga Allah membuat suami menikah lagi. Berharap surga karena bisa berbagi suami. Namun ia lupa, bahwa dengan ia meminta Beni menikah lagi. Beni tidak bahagia. Permintaannya justru menjadi masalah dalam rumah tangganya.
"Aku pikir.... Hiks... surga menanti ku kelak, jika aku mampir berbagi suami Ay. Namun aku lupa. Bahwa membuat suami bahagia tak harus dengan memintanya poligami. Hiks... Hiks...."
Ayra memeluk Liona dari samping. Ia mengusap lembut lengan istri Beni itu.
"Yakinlah, sebesar apapun masalah, pasti ada solusinya. Allah tak akan memberikan cobaan pada hamba yang tak mampu melaluinya."
Bram masih mengamati dari jauh. Ia melihat interaksi kedua perempuan itu.
__ADS_1
"Andai setiap perempuan seperti dirimu Ay. Maka akan sedikit sekali angka perceraian di negara ini. Sungguh Abi dan Umi mu adalah orang tua yang hebat bisa mendidik mu menjadi perempuan shalihah, cerdas dan berakhlak baik. Terimakasih Ya Allah karena Ayra engkau jodohkan dengan diriku yang jauh dari kata shaleh ini.”