Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
37 Ketakutan Ayra


__ADS_3

Ayra mundur beberapa langkah. Ia mencoba menenangkan hatinya yang kembali berdesir karena suara manja seorang wanita dari ponsel suaminya.


Bram mendengus kesal langsung menutup telpon dan menyimpan ponselnya. Lelaki tampan itu tak memikirkan perasaan perempuan yang ada dibelakang nya namun penat di kepalanya kian bertambah. Baru ia mau merasakan ketenangan, namun kembali muncul satu yang membuat bad mood Lelaki yang baru 3 hari menjadi suami Ayra itu.


Bram memijat leher nya beberapa kali. Tiba-tiba ia memikirkan sesuatu yang membuat ia menoleh ke arah Ayra yang berdiri dibelakangnya.


"Pagi tadi kamu bilang ingin menyampaikan sesuatu. Apa itu?"


"Nanti saja tunggu kondisi emosi mas stabil. Aku tidak mau kita berbicara dalam kondisi mas sedang banyak beban pikiran."


Ayra menatap wajah Bram dengan sedikit mendongak karena tubuh suaminya itu memang lebih tinggi dibandingkan dirinya.


Bram berbalik menghadap pintu lift. Bram menggelengkan kepalanya seolah ia sangat penat hari ini. Beberapa kali ia menarik hidungnya yang mancung itu.


"Ikut aku kekantor. Bantu aku singkirkan satu perempuan yang selalu membuat mood ku rusak."


Ayra seketika menoleh ke arah suaminya itu. Ia seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Bukankah wanita tadi memanggil nya dengan manja dan menggunakan kata sayang."


"Jangan senang dulu!"


Bram melipat kedua tangannya di dada dan kedua pupil matanya menatap pintu lift tanpa berkedip.

__ADS_1


"Anggap saja ini salah satu usaha ku mempertahankan pernikahan kita. Aku tidak mau wibawa ku jatuh karena singkat nya usia pernikahan kita. Ya anggap saja pernikahan kita adalah sebuah pencitraan agar nama ku tak jatuh."


Bram membuka satu kancing jas nya dan memasukan satu tangannya ke dalam kantong celana nya.


"Maksud mas? mas mengamini hubungan mas dengan Rafi?"


"What? Apa kamu pikir aku tak normal karena aku belum menyentuh mu?"


Bram yang kaget mendengar perkataan Ayra membalikkan tubuhnya menghadap Ayra.


"Ting"


Pintu lift terbuka. Bram melihat beberapa orang berdiri didepan lift, ia menarik tangan Ayra dengan cepat meninggalkan lobby Pradipta Company itu. Ia masuk kedalam sebuah mobil Sport berwarna merah yang telah dibukakan pintunya oleh Rafi.


"Terima kasih.... "


Ayra masuk dan duduk disebelah Bram.


"Kita tidak beri tahu mama dan papa dulu?"


"Apa guna asisten ku!"


Jawab Bram ketus.

__ADS_1


Bram mengemudi kan mobil sportnya dengan kecepatan tinggi disebuah jalan tol. Ayra hanya memegang gamisnya dan satu tangannya ia masukan kedalam sebuah kantung gamis itu.


Bram yang melihat Ayra sebenarnya takut namun mencoba untuk terlihat baik-baik saja makin melajukan kecepatan mobilnya.


"Mas.... Tolong pelan-pelan saja."


Ayra menoleh ke arah Bram. Bram bukan mendengarkan perkataan istrinya itu malah makin menambah kecepatan mobil sportnya itu. Beberapa kali ia menyalip mobil yang menghalangi laju kendaraan nya.


Kali ini Ayra memejam kan kedua matanya karena takut. Beberapa menit Ayra merasakan tubuhnya cukup tergoncang mengikuti gerakan mobil Bram yang bergerak meliuk-liuk di setiap tikungan jalan tol itu.


Hingga Ayra harus beristighfar ketikan mobil sport Bram berhenti secara mendadak dan sepertinya menabrak sesuatu cukup keras. Ayra yang memakai sabuk pengaman pun masih harus terdorong ke depan karena benturan keras itu.


Beberapa orang diluar mobil yang melihat kendaraan Bram menabrak sesuatu berteriak histeris.


"Ciiiit."


"Braaak."


"Astaghfirullah.... "


Kepala Ayra hampir membentur dashboard mobil.


"Aaaaaa! Sh*iit!."

__ADS_1


Bram memukul kesal kemudi nya.


__ADS_2