Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
191 Indahnya Cinta Bram Dan Ayra


__ADS_3

Acara wisuda yang dilaksanakan di salah satu ballroom hotel yang cukup mewah di Jakarta. Ditengah gegap gempita acara wisuda itu ada hal yang Kembali membanggakan Kyai Rohim dan Umi Laila. Kali ini Ayra yang mengambil program Studi Magister Ekonomi Syariah, dengan semangat pantang menyerah dan kecerdasan yang dimilikinya, Istri Bramantyo tersebut berhasil mempertahankan tesisnya dan berhasil menjadi wisudawan tercepat dan mendapat nilai Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 4.00 atau Cumlaude.


Bram yang duduk di barisan paling depan merasakan kebahagiaan ketika nama istri nya disebut oleh pembawa acara sebagai peraih gelar cumlaude satu dari dua wisudawan yang mendapatkan gelar tersebut di hari ini. Akhirnya istri CEO MIKEL Group tersebut mendapatkan gelar M.E nya. Bram menoleh ke belakang ketika nama Ayra dipanggil untuk maju ke depan dan melihat ia istrinya berjalan ditengah karpet merah.


Tepuk tangan meriah diberikan untuk Ayra mengiringi langkah kakinya menuju kedepan. Bram pun ikut bertepuk tangan bangga untuk istri mungilnya. Seakan masih ada rasa tak percaya pada diri Bram sambil menatap istrinya itu. Ayra yang berjalan kedepan pun menatap sang suami.


"Aku akan terus memperbaiki diri Ay. Terimakasih ya Allah karena Engkau berikan aku istri Ayra. Ia betul-betul satu rezeki yang sangat tak pernah aku bayangkan. Sungguh kelembutan mu mampu membuat mu berdiri kokoh disaat angin mencoba merobohkan mu Ay. Itu semua karena iman dan taqwa yang kamu miliki."


"Tidak ada kebahagiaan seorang istri selain suaminya ridho atas setiap apa yang ia lakukan. Semoga aku bisa menjadi istri Sholehah untuk mu mas."


Saat tiba di depan rektor memberikan ucapan selamat dan beberapa hadiah untuk Ayra. Saat serangkaian acara wisuda tersebut selesai. Para rektor dan dosen meninggalkan ballroom tersebut. Bram yang telah meminta Rafi untuk menyiapkan fotografer untuk acara spesial hari itu. Foto pertama Ayra dan Bram dengan baju resmi setelah menikah. Terlihat jelas dari mimik wajah Bram dan body language suami Ayra itu menunjukkan bahwa ia sangat menyayangi istrinya tersebut.


Terlihat hadir pada acara hari itu, Kyai Rohim beserta istrinya, Liona, Rani dan Bambang serta Beni.


Kyai Rohim dan Umi Laila yang melihat pemandangan sesi pemotretan ikut merasakan kebahagiaan. Terlebih-lebih Umi Laila yang dari pertama pernikahan Ayra dan Bram ada sedikit keraguan. Namun kelembutan Ayra mampu menumbuhkan cinta dihati Bram cukup cepat. Hal yang bukan tanpa sebab, cinta yang bisa tumbuh juga karena adanya cinta yang tulus.


Ayra yang dari semasa mulai baligh dijaga betul oleh Umi Laila agar tak bermain-main dengan hati untuk satu rasa tanpa ada satu ikatan yang halal. Beruntung sedari baligh ia disibukkan dengan kegiatan sekolah dan pondok. Hingga walau banyaknya lelaki atau teman Ayra yang menaruh hati. Ia tak pernah memikirkan hal untuk mencintai orang disaat ia belum menikah.


Terlebih setelah kejadian dirinya yang tenggelam dan berdasarkan cerita Yeni bahwa dirinya ditemukan dengan pakaian yang telah berganti jas hitam walau beserta taplak meja yang menutupi tubuhnya saat ia tak sadarkan diri. Membuat ia hanya berharap semoga kelak Allah tetap menutup Aib nya ketika menikah. Namun ternyata Allah sedang memantaskan Bram untuk Ayra.


Beberapa kali saat itu Kyai Rohim mencoba mencari keberadaan Bram. Dan yang membuat suami Umi Laila itu tak melamar Bram seperti janjinya adalah ketika Ayra telah baligh, Lelaki yang memiliki empat orang anak itu harus melihat bagaimana Bram yang baru turun dari sebuah mobil cepat berlari ke arah satu mobil. Dimana mobil tersebut adalah mobil Shela.


Kyai Rohim yang berada diatas motor yang tak jauh dari lokasi tersebut akhirnya mengurungkan niatnya. Ia merasa jika Bram telah memiliki pilihan dan ada rasa tak rela jika anak didiknya sekaligus keponakan yang telah ia anggap anak sendiri itu harus menikah dengan Bram yang jauh dari kata baik dari sudut pandang Kyai Rohim.


Namun sungguh indah konsep Jodoh. Sekuat-kuatnya Bram berlari mengejar Shela, sepintar-pintarnya Shela menutupi hubungan gelapnya dengan lelaki lain akan terbuka juga atas izin Allah agar Bram segera bertemu dengan jodohnya.


Kyai Rohim yang menerima lamaran dari Amir merasa karena Lelaki itu yang pantas mendampingi Ayra dan jadi imam untuk putrinya itu. Namun sungguh Allah adalah penentu setiap dari usaha yang telah manusia upayakan, termasuk jodoh. Begitupun akan perubahan Bram menjadi lebih baik lagi karena Allah ingin lelaki yang telah dewasa umurnya itu menikah dan bahagia melalui upaya dari Ayra untuk meraih cinta suaminya hingga sekarang meraka menjadi sepasang suami istri yang sedang berusaha menciptakan rumah tangga mereka menjadi sakinah mawadah warahmah.


Siang hari itu mereka pun makan siang terlebih dahulu di restoran tempat hotel yang menjadi acara wisuda Ayra. Selesai dengan makan siang.


Bram meminta Rafi untuk pulang mengantar ia dan istrinya Pulang. Aisha dan Rafi pun berpamitan karena akan mengunjungi Ibu Lina di panti. Sedangkan Umi Laila dan Kyai Rohim pun mampir ke apartemen Bram. Tiba di apartemen tersebut. Kembali Kyai Rohim dan Umi Laila serta Liona disuguhkan pemandangan yang membuat mereka harap tak hanya di suguhkan disaat Ayra dan Bram masi muda namun sampai senja nya usia.

__ADS_1


Ayra yang memang tak meminta Bram untuk menyiapkan asisten rumah tangga di apartemen mereka. Ia menahan tangan Ayra ketika istrinya itu akan ke dapur dengan masih mengenakan baju kebayanya. Ia pergi ke dapur dan menyiapkan minuman untuk mertuanya yang berkunjung.


"Biar mas saja, kamu ganti baju saja."


"Tapi...."


"Sudah tidak ada tapi-tapian."


Ayra duduk disebelah Uminya. Ia yang baru berapa hari tak Bertemu Uminya berasa sangat merindukan istri Kyai Rohim itu.


"Kenapa kang Furqon dan mbak Siti tidak ikut Umi?"


"Kakak mu itu lupa kalau hari ini jadwal nya kamu wisuda. Dia terlanjur menerima undangan untuk menghadiri acara dari salah satu kampus."


Ayra yang duduk diatara Liona dan Umi Laila pun bertanya kondisi Liona.


"Bagiamana Liona betah di pondok?"


"Betah Insyaallah. Ternyata pondok tidak seseram yang saya bayangkan. Ada banyak teman yang menyenangkan dan ilmu yang ternyata bermanfaat. Aku tidak menyangka jika di pondok juga ada materi untuk rumah tangga."


"Tunggulah nanti aku sedang mengaji kitab Bab Haid dan nifas Ay. Karena kata Umi mu belajar bab Nifas dan Haid bagi perempuan itu fardhu Ain. Maka kasihan suami ku jika dia juga tak paham bab ini. Aku juga tak paham, aku ingin memulai hubungan yang benar-benar untuk niat beribadah. Terlebih aku ingin belajar bagaimana menjadi istri yang baik. Karena disekolah dulu tidak ada materinya."


Ayra mendengar keinginan Liona ikut bahagia.


Saat Bram datang dengan dua cangkir kopi dan tiga cangkir teh. Ayra cepat membantu suaminya itu menurunkan isi nampan tersebut. Ayra yang melihat keringat menetes dari dahi Bram. Ia cepat menghapus butiran keringat tersebut sebelum jatuh.


Bram meminta sang istri segera berganti pakaian karena ia melihat jika istrinya itu memang tak terbiasa mengenakan kebaya sedikit tak nyaman.


Ayra yang memang merasakan sedikit kelelahan karena perutnya yang membesar serta kaki yang pagi tadi masih membengkak. Akhirnya ia menuruti suaminya. Ia berganti pakaiannya. Liona hanya mengamati Ayra. Jika dulu ia terobsesi pada Bram. Maka saat ini ia justru tertarik memperhatikan istri Bram tersebut.


"Kamu yang terlihat mungkin dari postur tubuh tak pantas mendampingi Bram. Tetapi pesona mu ternyata membuat dirimu sangat pantas bersanding menjadi nyonya Bramantyo. Sungguh kecerdasan dan kecantikan dari dalam hati lebih indah ternyata."

__ADS_1


Bram berbicara pada Kyai Rohim. Dan yang membuat Umi Laila kembali merasa tenang. Bram tak sekalipun melirik Liona.


"Perjuangan mu berbuah manis Ayra. Semoga kamu bahagia selalu Nduk."


Ayra yang telah berganti pakaian kembali ke ruang depan. Hampir satu jam mereka berbincang di apartemen Bram. Akhirnya Kyai Rohim undur diri karena masih harus mengajar murid-muridnya waktu sore hari.


Malam harinya, Bram yang melihat istrinya bersandar di headboard tempat tidur king size milik mereka cepat mengambil minyak zaitun. Ia memijat kaki istrinya.


"Ndak Usah mas...."


"Sudah jangan sok kuat. Kamu bilang sentuhan fisik itu konsep rumah tangga yang bahagia. Jadi biarkan mas memijat kaki mu. Tidurlah Ay kamu pasti lelah."


"Ah rasanya ingin mendaki bersama mu Ay. Namun sungguh aku tak tega melihat kamu pasti lelah."


Bram memijat betis Ayra dan kaki yang terlihat bengkak. Lalu ia mengompres kaki istrinya dengan air hangat-hangat kuku. Ayra yang merasakan jika satu Minggu ini suaminya berusaha menahan satu rasa yang ingin ia salurkan. Namun suaminya yang merasa kasihan dengan kondisi istrinya tersebut tak berani berbicara karena ia hapal jika itu ia ucapkan maka tak akan ada penolakan dari sang istri.


"Wah Ayra bingung ini mas. Kalau CEO jadi tukang pijat. Bayarnya pakai apa?"


"Bayarnya pakai cinta."


Bram terkekeh-kekeh karena berhasil menggoda istrinya.


"Mas, tahu tidak jika istri mas ini walau menjalankan shalat dan ibadah lainnya. Namun Ayra tetap manusia biasa yang tak luput dari dosa. Mas mau bantu Ayra agar dosa Ayra diampuni oleh Allah?"


Bram paham bahasa satir istrinya. Dimana Rasullullah pernah berpesan kepada Siti Fatimah RA. Bahwa inisiatif seorang istri dengan senang hati untuk berhubungan sek su al memiliki ganjaran besar dari Allah Subḥanahu Wataʿala.


"Kamu tidak lelah?"


"Lelah mendapatkan pahala karena menyenangkan suami itu lebih baik."


"Sungguh kamu istri yang begitu sempurna Ay.... I love You."

__ADS_1


"Love You too..."


Indahnya cara mereka saling mencinta. Yang satu perhatian tak ingin menyakiti. Yang satu merasa diperhatikan justru ingin memberikan perhatian lebih.


__ADS_2