Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
195 Kesedihan Liona


__ADS_3

Beberapa jam Shela pun berhasil dipindahkan ke ruang perawatan. Namun mantan model itu masih tak sadarkan diri. Yazmin yang beberapa hari ini sebenarnya sudah cukup lelah belum lagi ia sibuk di jejaring sosial media meminta simpati atau bantuan teman yang dulu satu profesi dengan shela agar bisa membantu biaya. Pengobatan Bayi yang baru saja dilahirkan oleh Shela sebulan yang lalu dan juga beberapa kebutuhan obat-obatan Shela.


Yazmin duduk di sisi tempat tidur Shela. Ia melihat mantan bosnya. Memang ia tak melupakan semua perlakuan Shela selama ia bekerja sebagai asisten model tersebut. Namun dirinya tidak mengingat keburukan mantan model itu pada dirinya. Melainkan, Yazmin lebih mengingat hal-hal yang indah atau yang ia rasakan semua kenikmatan atau kemudahan ekonomi nya semenjak ia menjadi asisten Shela.


Disaat dulu tak ada yang mau menerima ia sebagai asisten atau lamarannya pun tak kunjung mendapat jawaban dari beberapa agensi Model yang ia pernah masuki lamaran. Namun Shela hadir memberikan ia kesempatan. Satu pekerjaan yang membuat Yazmin merasa titik balik kehidupan nya. Bahkan ia bisa berkeliling ke beberapa negara hanya karena pekerjaan nya sebagai asisten Shela.


Terlihat pada hidung Shela terdapat selang yang membantu dirinya untuk bernapas. Sedangkan di punggung tangan sebelah kirinya terdapat selang infus yang menempel. Yazmin mencoba Manahan air matanya. Ia menggenggam satu tangan Shela.


"Gue ga pernah mikir Elo orang jahat Shel. Elo memang pernah ngelakuin kesalahan sama orang lain. Tapi ga sama gue Shel. Lo harus tetap kuat demi bayi Lo. Dia butuh Elo Shel."


Yazmin menghapus airmata yang membasahi pipinya. Tiba-tiba ponsel Yazmin yang berada di dalam sakunya berbunyi. Ia membuka layar ponselnya ternyata terdapat balasan pesan dari Liona.


"Maafkan Aku Yazmin..Aku tak bisa Membesuk Shela. Mas Beni tak mengizinkan aku. Aku akan menghubungi mu lewat VC."


Yazmin menyambungkan panggilan pada Liona. Sehingga satu rasa yang tak pernah dimiliki oleh Liona terhadap Shela selama ini, kini hadir di hati istri Beni untuk sahabatnya.


"Elo harus sehat Shel. Elo kuat..... Hiks...."


Liona tak kuasa menahan Isak tangisnya. Ia menutup layar ponsel. Wajah Shela yang pucat pasi, bibirnya yang terlihat putih pun membuat Liona merasakan kesedihan. Ia berharap jika sahabatnya bisa merasakan indahnya hidup disaat kita terus memohon ampunan akan setiap dosa yang pernah dilakukan.


Liona yang merasa sedih. Ia yang baru terbangun karena panggilan Yazmin namun tak sempat terjawab, sehingga dirinya membuka pesan yang dikirim oleh Yazmin. Ia mencoba mengadu pada Rabbnya.


Disaat Liona menangis diatas Sajadah. Beni yang baru masuk ke kamar karena baru selesai dengan pekerjaannya, melihat istrinya menangis. Ia mendekati Liona yang masih menangis tersedu-sedu.


"Li...."


Beni memegang punggung istrinya. Ia usap beberapa kali pada punggung istrinya itu. Liona yang menoleh langsung memeluk suaminya. Ia menangis dalam pelukan Beni. Sungguh sebuah kebahagiaan bagi Liona, karena Allah tidak hanya memberikannya kesempatan pada dirinya untuk bertaubat. Melainkan hati yang dilembutkan membuat istri Beni itu sekarang bisa cepat ikut bersimpati dan empati pada orang-orang disekitarnya.


"Ada apa Sayang?"


Beni memeluk istrinya dan masih mengusap punggung Liona.

__ADS_1


"Katakanlah Liona...."


"Hiks... Shela... Shela Kritis mas. Ia berada di ruang ICU malam ini. Yazmin baru saja menghubungi ku."


Beni melerai pelukannya. Ia menatap wajah Liona yang telah basah karena air mata. Ada ketulusan di mata istrinya, Beni mengeha napas pelan. Ia menatap wajah Liona dalam. Ia angkat dagu istirnya hingga wajah cantik Liona terlihat jelas oleh Sang suami. Beni menghapus sisa airmata dan sudut mata Liona yang masih ingin meneteskan air mata.


"Jangan menangis lagi Sayang. Katakan apa yang membuat kamu bisa bersedih begitu dalam untuk perempuan seperti dia?"


Liona menggenggam tangan Beni. Ia mengecup ujung jari suaminya.


"Kamu tahu Mas. Jika kamu bilang Shela tak pantas dimaafkan lantas bagaimana dengan aku mas? Pantaskah aku yang telah menghina Mama, meremehkan kamu se-"


Satu jari telunjuk Beni tempelkan pada bibir seksi Liona. Ia tak ingin kembali mendengar pengakuan dosa istrinya. Ia betul-betul telah memaafkan Liona. Ia tak ingin Liona mengingat kesalahan dirinya di Masalalu.


"Ssssttt. Jangan dibahas dan diingat lagi. Aku pun punya masalalu yang sama dengan dirimu. Aku bukan lelaki yang baik. Bukan suami yang baik. Katakan apa yang membuat mu tak lagi meneteskan air mata mu?"


Liona membenamkan wajahnya di dada Beni. Beni membuka kacamatanya dan ia genggam. Masih dalam pelukan Beni. Liona mengutarakan isi hatinya.


Suara serak Liona dan tangisannya membuat hati dari Beni luluh. Ia tak tega melihat istrinya harus menangis dan bersedih seperti itu. Ia pun mengecup dahi istrinya.


"Besok saja ya?"


"Malam ini boleh?"


Beni kembali menarik Liona kedalam pelukannya.


"Bersiaplah, aku akan mengantarmu. Tapi berjanjilah kamu tidak meminta hal konyol yang kamu utarakan sore tadi."


Liona tak menjawab namun ia menganggukkan kepalanya. Sore saat mereka selesai shalat, Liona mengutarakan maksud hatinya jika memang tak diizinkan untuk membantu biaya untuk Shela atau anaknya. Ia ingin meminta Beni untuk diizinkan mengasuh anak Shela selama Shela di lapas. Namun Beni dengan tegas menolak. Ia tak hnya memikirkan rasa tak sukanya melainkan ia juga memikirkan perasaan Bram.


Ia yang tak berhubungan langsung dengan Shela pun merasakan sakit hati pada Shela karena ia memberikan pengaruh buruh pada istrinya dan rumah tangganya. Liona pun mendengar jawaban tegas dari Beni tak berani lagi membahasa masalah Shela. Namun apalah daya. Rasa kasihan melihat kondisi terbaru Shela membuat dirinya ingin sekali menemui sahabatnya.

__ADS_1


Liona berkaca pada dirinya yang juga pernah berbuat salah dan berlumur dosa.


Liona yang telah berganti pakaian dan mengenakan kerudungnya segera keluar dari dalam kamar. Saat akan keluar, Nyonya Lukis dan Pak Erlangga yang sedang berada di ruang tengah cepat bertanya kemana anak dan menantu nya akan pergi karena waktu telah menunjukkan hampir pukul 12 malam.


"Mau kemana Li?"


"Kita mau kerumah sakit ma. Shela Kritis, Liona merasa kasihan. Malam ini ia sendirian karena temannya harus pulang karena ia sudah berapa hari tak pulang karena menunggu Bayi Shela yang juga kritis."


Nyonya Lukis menatap Beni seakan tak percaya.


"Beni lebih bersyukur Liona yang sekarang Ma. Maka untuk mengantar kemana pun Beni siap. Tak ada lagi yang Beni inginkan selain kebahagiaan Liona."


"Hati-hati dan jangan terlalu lelah Liona."


Setelah berpamitan sepasang suami istri itu berpamitan kepada Nyonya Lukis dan Pak Erlangga. Selepas kepergian sepasang suami istri itu. Nyonya Lukis ikut merasakan bahagia karena ia melihat bagaimana anak dan menantunya yang selama ini sering bertengkar kini terlihat sangat romantis.


Beni bahkan akan menggendong Istrinya itu di dalam rumah. Hal ini membuat Nyonya Lukis kadang yang akan ke dapur atau ke kolam berenang menjadi harus menunda keinginan nya karena tak ingin menganggu keromantisan sepasang suami istri yang telah lama menikah namun terlihat seperti pengantin baru.


Setibanya di Rumah sakit yang dituju. Mereka segera menuju kamar tempat Shela di rawat. Alangkah kagetnya Liona saat baru saja tiba di depan kamar tersebut. Suara tangis Yazmin menyayat hati. Pintu kamar terbuka dan terdapat beberapa perawat serta seorang dokter yang sedang memeriksa kondisi Shela.


"Maaf Bu. Kami turut berdukacita. Nyonya Shela telah tiada."


"Shelaaaaaa..... Elo ga boleh ninggalin anak Lo Shela. Anak Lo butuh Elo.... Bangun Shel... Bangun.... bangun Shel..... Hiks... Hiks.... Shela ..."


Yazmin berkali-kali menggoyang-goyangkan tubuh mantan bosnya. Namun Shela telah pergi untuk selamanya. Maut telah datang, tak ada yang dapat menunda atau menghindar dari maut kalau ia datang untuk menjemput sang pemilik ruh kepada pemiliknya.


Liona terduduk di depan pintu. Ia menyandarkan tubuhnya di daun pintu kamar Shela.


"Shela.... Innalilahi wa innailaihi rojiun.... Hiks... Hiks..... Maaf kan setiap salah ku pada mu Shel."


"Liona sayang.... Bangun.... "

__ADS_1


Liona tak sadarkan diri hingga tubuhnya hampir jatuh ke arah depan. Beruntung Beni cepat menahan tubuh istrinya.


__ADS_2