
Tak terasa pernikahan Bram dan Ayra telah memasuki usia 11 bulan. Usia kandungan Ayra memasuki 34 Minggu atau 8 bulan. Tubuh Ayra pun terlihat mulai berisi. Ia pun sering merasa kelelahan.
Pagi itu mereka baru saja ditelpon oleh kedua orang tua Bram. Berharap jika Bram dan Ayra dapat pergi ke kediaman Nyonya Lukis dan Pak Erlangga untuk syukuran Beni yang baru satu minggu lalu rujuk dengan Liona kini tinggal bersama kedua orang tua Beni.
"Tidak perlu kesana Ay. Kaki mu sekarang sering bengkak. Kita periksa lagi saja ke dokter."
"Tidak perlu. Ayra tidak apa-apa. Mama dan Umi juga bilang hal seperti ini biasa mas. Mas tidak bekerja?"
"Tidak. Mas minta Rafi kirim semua nya vya Email."
Sebuah suara yang berasal dari intercom ruangan depan membuat Bram cepat keluar dari kamar. Ia melihat dari layar intercom yang tidak hanya menunjukkan suara tapi juga dapat menunjukkan wajah tamu yang menghubungi lewat alat intercom tersebut.
"Mama, Liona Rani."
Bram cepat membuka pintu tersebut. Setelah mereka mengucapkan salam Nyonya Lukis langsung memberikan Bram kultum ala Nyonya Lukis.
"Kamu itu ya Bram. Sudah mama duga, kamu pasti tidak akan mengizinkan Ayra untuk ke tempat mama."
"Ma... Ayra lagi hamil besar."
"Pokoknya tidak ada tapi-tapian. Sekarang mama mau ketemu menantu mama."
Ayra yang mendengar suara ibu mertuanya cepat keluar dari kamar.
"Mama...."
Cepat ia menyalami ibu mertua dan dua iparnya. Rani yang begitu lama tak bertemu dengan Ayra reflek mengusap perut Ayra dan sentuhan itu membuat sang janin memberikan respon dengan Ayra sedikit kesakitan.
"Aduh... Astaghfirullah...."
"Ada apa Ay?"
Bram yang baru saja menutup pintu cepat ke arah istrinya karena ia mendengar suara kesakitan dari sang istri.
"Ndak apa-apa cuma senang mungkin dikunjungi tantenya."
Rani yang tak membawa Raka dan adiknya membuat Ayra celingukan mencari keponakan nya.
"Raka dan Shinta tak ikut Ran?"
"Tidak, papanya lagi ingin bersama."
Setelah Ayra mempersilahkan kedua ipar dan ibu mertuanya. Nyonya Lukis berniat mengajak Ayra ke satu tempat. Bram yang mendengar istrinya akan diajak ke suatu tempat tanpa ia boleh ikut langsung protes pada mamanya.
"Ma.... Ayra itu setiap hari kakinya sering bengkak. Mama tidak kasihan apa?"
"Kamu pikir mama ini mertua yang jahat? Ini urusan perempuan. Hari ini tidak ada yang boleh melarang mama untuk membawa semua menantu mama."
Bram yang mulai sewot cepat ditenangkan oleh Ayra.
"Mas.... Boleh Ya? Ayra juga bosan sudah berapa hari ini di rumah."
__ADS_1
"Tapi Ay.... "
Wajah Ayra yang dibuat seimut mungkin agar suaminya mengizinkan. Akhirnya mau tak mau ia mengalah dengan satu syarat.
"Baiklah demi kamu Ay. Tapi ada syaratnya."
Ayra dan Nyonya Lukis menaikan alisnya. Bram cepat ke arah Ayra dan memegang pundak sang istri dari arah belakang dengan menghadap Nyonya Lukis.
"Bram ikut."
Nyonya Lukis memicingkan matanya. Ia terlihat berpikir akan sesuatu hal. Akhirnya setelah beberapa detik ibu dari Bram itu mengerutkan dahinya ia menyetujui.
"Ok tapi kamu jadi sopir."
"Siap. Asal istriku ini aman"
Akhirnya Bram berangkat ke suatu tempat yang menjadi tujuan ibunya. Setibanya di tempat itu Bram menaikan alisnya.
"Tante Marina?"
"Sudah tadi bilangnya ikut jadi sopir."
Nyonya Lukis pun segera menggandeng Liona yang memang masih mengenakan tongkat. Ketiga menantunya tak tahu jika sebenarnya Nyonya Lukis dan suaminya sedang ingin merayakan pernikahan anaknya di saat nanti Ayra selesai melahirkan. Maka untuk busana pengantin ketiga pasang anaknya. Nyonya Lukis mengajak menantunya ke Butik Marina. Sedangkan suaminya sibuk dengan konsep, gedung dan tamu undangan.
Bram membulatkan matanya ketika Ayra di ukur oleh asisten Marina.
"Tidak Tante, aku ingin istriku jangan Tante yang membuat gaun nya."
"Ow.... Kamu manis sekali sekarang Bram."
"Hehehe... Maaf tante hanya istriku yang boleh menyentuh diri ku."
"Hhhhh.... Baiklah. Asal kamu tahu aku hanya mengukurnya saja. Aisha tetap yang akan membuat desainnya."
"Aku tak akan bisa membuat gaun sesuai konsep istri mu."
Ayra tersenyum melihat raut wajah masam dari Tante Marina. Bram yang melihat Ayra masih berdiri cepat menarik satu kursi.
"Sreeeeeeeet."
"Duduklah Ay."
"Terimakasih mas."
Ketika Liona dan Rani selesai, kedua perempuan tersebut duduk di dekat Ayra. Bram mencoba mencari minuman untuk istrinya. Ia tak ingin istrinya minum minuman bersoda yang disiapkan oleh Marina.
"Mas cari minum ya. Dokter bilang kemarin kamu harus minum."
"Iya mas. Jangan yang dingin ya mas tolong."
Bram mengangguk. Selepas kepergian Bram Liona mendekati Ayra.
__ADS_1
"Ay...."
"Ada apa Liona."
"Ada yang ingin aku sampaikan pada mu."
Ayra menyapa wajah Liona sepertinya sangat serius.
"Apa?"
"Tentang Shela."
Rani yang tak senang cepat mencegah Liona menceritakan tentang keadaan Shela.
"Jangan bahas perempuan tak tahu malu itu Liona. Apa kamu sudah gila?"
"Beberapa hari lalu aku membesuk Shela ke lapas. Kondisinya memperihatinkan, ia ternyata mengidap HIV Aids. Anak yang baru saja ia lahirkan hari dirawat intensif dirumah sakit. Beruntung mantan asistennya yang bernama Yazmin mau menjaga dan merawatnya. Shela yang sudah dinyatakan pulih harus kembali ke lapas."
"Lalu apa hubungannya dengan Ayra?"
"Ran....."
Ayra mengedipkan kedua matanya pada adik iparnya tersebut. Rani memang belum bisa mengontrol emosinya apalagi terkait hal atau orang yang ia tak sukai. Walaupun istri Beni itu telah bisa ia maafkan namun Rani tak suka jika istri Beni itu membahas perempuan yang telah menorehkan luka pada Ayra dan Bram.
"Lalu ada apa Liona?"
"Aku kemarin ingin membantu Shela agar ia bisa tetap mendapatkan perawatan untuk penyakitnya tetapi Beni tak mengizinkan. Dan ada pesan dari Shela. Ia ingin sekali bertemu dengan dirimu dan Bram."
Ayra menarik napas dalam sebelum memberi tanggapan akan cerita Liona.
"Seorang perempuan kalau sudah menikah mau tidak mau kita harus mentaati suami kita selagi tidak membuat kita bermaksiat pada Allah. Mengenai Permintaan Shela untuk bertemu dengan diriku dan mas Bram. Aku akan bertanya pada mas Bram terlebih dahulu."
"Tidak perlu bertanya! Kita tidak akan kemana-mana! Apalagi menemui perempuan itu!"
Bram yang telah hadir dengan beberapa botol air mineral, menunjukkan kemarahannya. Ia belum bisa memaafkan Shela. Bukan karena ia dulu di khianati tetapi, karena Ia membuat istrinya harus merasakan susahnya hamil muda tanpa suami disisinya. Belum lagi fitnah yang Ia arahkan pada Dirinya.
"Mas...."
Ayra cepat berdiri. Bram membukakan air mineral yang baru saja ia beli. Ia berikan pada istrinya.
"Terimakasih."
Ayra minum air tersebut dengan duduk di sofa yang ada disisi kanan Bram. Suami Ayra itu seketika berwajah masam. Ia seketika merasa tak suka karena Liona membahas tentang Shela . Satu nama yang tak ingin Bram dengar dan bahas.
"Maafkan aku Bram. Aku tak ada maksud apapun. Aku hanya menyampaikan pesan. Umi Laila pernah berkata jika kita dititipkan pesan maka harus disampaikan karena itu amanah."
Arya yang melihat raut wajah suaminya itu masih terlihat raut tak suka. Ia memegang jari tangan Bram.
"Duduklah mas. Tak baik menahan emosi disaat berdiri."
Rani yang melihat Bram sedang berusaha mengontrol emosinya. Ia berdiri dari sisi Ayra sehingga memberikan tempat untuk Bram.
__ADS_1