
Bram diminta Abi Ayra untuk membacakan adzan pada telinga bayinya di sebelah kanan, lalu membaca iqamah pada telinga kedua bayinya di sebelah kiri. Dan juga Bram membaca doa ini pada telinga kedua bayinya di sebelah kanan.
...Allahummaj’alhu barran taqiyyan rasyidan wa-anbit-hu fil islami nabatan hasanan....
...[Ya Allah, jadikanlah ia (bayi) orang yang baik, bertakwa, dan cerdas. Tumbuhkanlah ia dalam islam dengan pertumbuhan yang baik]...
Kemudian suami Ayra itu membaca surat al-Ikhlash, Surat al-Qadr, ayat QS Ali Imran (3: 36) pada telinga bayinya di sebelah kanan. Dan membaca doa pada telinga bayinya di sebelah kanan.
...A’udzu bikalimatiLlahi at-tammati min kulli syaithanin wa hammatin wamin kulli ‘ainin lammatin....
...[Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah dari segala setan, kesusahan, dan pandangan yang jahat.]...
Bram yang jauh sebelum Ayra akan melahirkan sebenarnya telah bertanya pada Furqon tentang doa apa yang dibaca untuk anaknya. CEO MIKEL Group itu pun belajar melalui Kakak dari istrinya tersebut. Bahkan Bram pun telah tahu jika selama nifas. Istrinya sama sepeti saat haid tidak boleh Mendaki. Serta ia juga mengikuti anjuran para ulama yang disampaikan Furqon untuk memberi nama anaknya di hari ketujuh.
Saat tengah hari, Seorang perawat datang membawakan makan siang untuk Ayra. Bram yang dari pagi menemani istrinya mengambil nampan yang berisi makanan untuk istirnya. Ia menyuapi sang istri yang masih bersandar di headboard.
Selesai dengan makan siangnya, Bambang dan Rani tiba bersama dua buah hati mereka. Nyonya Lukis cepat menyambut kedua cucunya. Kebahagiaan keluarga Pradipta begitu terasa karena Liona dan Beni juga hadir membawa beberapa bingkisan untuk buah hati mereka.
Tiba pada hari ketujuh, Ayra yang meminta pada Bram agar bisa tinggal di kediaman Umi Laila. Niat hati Bram yang ingin mengganti beberapa perabot di rumah mertuanya tersebut diingatkan Ayra tentang pentingnya menjaga perasaan orang tua. Ayra meminta Bram hanya menyediakan box bayi dan membelikan kasur yang berukuran lebih besar.
Kondisi kamar yang dimiliki Ayra saat gadis itu sedikit berbeda dengan dua buah kasur yang king size. Dua buah box bayi. Pukul tiga dini hari, satu diantara bayi mungil mereka terbangun. Ayra yang bersikeras untuk memberikan ASI eksklusif kepada kedua buah hatinya karena dokter juga mengatakan bahwa tidak masalah.
Dan betul saja, walau berusia tujuh hari dua bayi mereka terlihat sehat. Terlebih yang berjenis kelamin perempuan. Ia sekarang sudah terlihat sedikit berisi dari kedua pipinya. Tangis bayi perempuan Ayra membuat Bram yang baru terbangun karena sang anak lelaki menangis yang ternyata Pampers nya yang telah penuh.
Bram membuka kedua matanya. Ia melihat Ayra masih tertidur. Bram cepat ke arah box bayi baby twins nya. Ternyata bayi mungil perempuan nya menangis. Ketika suami Ayra mengecek Pampers sang bayi. Ayra telah berada di sebelah Bram.
"Sudah lama mas bangunnya?"
"Tidak, baru saja. Pampers nya masih kering Ay."
Ayra menggendong bayi mungilnya dan masih menangis.
"Mungkin haus mas."
__ADS_1
Ayra cepat membawa bayi nya ke arah tempat tidur. Sungguh perjuangan seorang suami yang baru memiliki bayi adalah ketika sang istri harus memberikan ASI nya. Dimana ketika Nifas seorang istri tidak boleh diajak mendaki. Bram pun cepat keluar dari kamar karena tak ingin merasakan panas nya suhu kamar Ayra karena satu pemandangan yang baru satu Minggu ini membuat dirinya salah tingkah sendiri.
Ayra hanya tersenyum melihat suaminya satu minggu ini tak pernah mau menoleh ke arah dirinya saat ibu bayi kembar itu sedang memberikan ASI pada bayinya.
"Mau kemana mas?"
"Haus Ay."
"Haus? Haus beneran?"
Bram menoleh sekilas sambil menggoda ke arah istrinya dan cepat menghilang dari balik pintu.
"Awas kalau sudah 40 hari nanti."
Ayra tertawa mendengar suaminya mengatakan hal itu. Hampir tiga puluh menit. Bram kembali membawa air hangat-hangat kuku untuk istrinya. Ayra yang selalu meminum air hangat-hangat kuku ketika terbangun. Ayra yang baru saja meletakkan bayi nya di box bayi.
Bram yang memberikan segelas air putih dan menari kursi sehingga istrinya meminum air tadi sambil duduk. Sisa setengah gelas, Bram pun duduk diujung kasur lalu menghabiskan sisa air tersebut.
Bram memegang kedua tangan Istrinya.
"Ndak juga. Karena Maksimal nifas itu 60 hari 60 malam mas, Umumnya memang nifas itu berlangsung selama 40 hari 40 malam."
Bram melotot tak percaya.
"60 hari Ay?"
Ayra tertawa melihat ekspresi sang suami. Ia berpindah ke sisi suaminya. Ibu dari bayi kembar itu bergelayut mesra pada suaminya.
"Kan maksimal mas. Setiap perempuan berbeda-beda mengalami nifas sama seperti haid."
"Semoga kamu ga sampai 60 hari Ay."
"Bersabarlah suami ku."
__ADS_1
Ayra memeluk suaminya.
"Memang kalau pakai Kon dom juga tidak boleh Ay?"
Ayra melerai pelukannya.
"Tidak boleh mas. Ayra pernah dengar Umi bahas ini. Karena nifas itu sama dengan Haid mas. Sekalipun pakai pelindung hal itu tetap terjadinya pertemuan dua alat Ke la min yang tidak diperbolehkan dilakukan ketika haid dan nifas."
"Wah kalau perempuan nifasnya sampai 50 hari dan ternyata tidak tahu Ay. Terus mendaki. Jadi haram ya?"
"Itulah kenapa penting sekali belajar bab Haid, nifas, istihadho bagi perempuan. Ayra jadi teringat kang Furqon."
"Kenapa Kang Furqon?"
"Dulu kang Furqon itu ketika dikenalkan dengan kak Siti yang ditanya cuma satu 'Sudah paham bab haid, nifas dan Istihadho?' Ketika kak Siti bilang insyaallah paham. Kang Furqon langsung cocok. Karena kang Furqon tidak paham bab yang satu itu. Sehingga ia memikirkan penting untuk istrinya mengerti perkara yang satu itu."
"Berarti mas juga bersyukur. Karena istri mas juga paham. Kalau tidak maka kita bisa saja mendaki di saat yang harusnya haram untuk dilakukan Ay."
"Baru juga satu Minggu mas.... "
Canda dan tawa sepasang suami istri itu kembali terhenti ketika terdengar tangis dari salah satu bayi mereka.
Sebenarnya bisa saja bagi Bram meminta bantuan sang istri untuk mencapai sesuatu yang ingin dituntaskan namun cinta yang tak ingin egosi membuat Bram tak pernah melakukan hal tersebut. Ia lebih memilih menghindari perkara yang membuat dirinya ingin mendaki. Seperti saat ia melihat sang istri memberikan ASI pada baby twins.
"Ya sudah Istirahat lah."
"Ayra lapar mas."
Bram menggelengkan kepalanya. Karena hampir setiap malam sang istri merasa lapar. Terlebih saat bayi mereka baru saja mendapatkan ASI. Akhirnya sepasang suami istri tersebut ke dapur. Ayra memilih memakan buah dan roti.
Ayra membuatkan kopi untuk Bram saat suaminya fokus dengan ponselnya. Bram beberapa hari ini hanya pergi ke kantor setengah hari. Ada rasa tak ingin jauh dari istri dan kedua anaknya. Tak ingin egois, ia mengaminj saat sang istri meminta untuk tinggal di rumah Uminya pasca melahirkan.
Saat selesai penyembelihan hewan aqiqah dimana tiga ekor kambing yang Bram beli. Dua untuk aqiqah bayi lelakinya dan satu untuk bayi perempuan nya. Selesai dimasak oleh Umi Laila ditemani beberapa santriwati akhirnya gulai tersebut matang sebelum Dzuhur dan diantar ke fakir miskin dan tetangga.
__ADS_1
Untuk pemberian nama Ayra dan Bram meminta Kyai Rohim untuk memberikan nama kedua buah hati mereka. Dan Muhammad Ammar Shidqi diberikan Kyai Rohim untuk nama anak pertama mereka yang berjenis kelamin lelaki. Menurut Ayra, nama tersebut berarti lelaki yang jujur dan panjang umur.
Sedangkan untuk bayi mungil mereka yang berjenis kelamin perempuan. Ayah Furqon tersebut memberikan nama Shidqiya Nafisah yang berarti perempuan yang jujur dan berharga.