Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
170 Rafi dan Aisha


__ADS_3

Aisha sibuk di apartemen Bram. Dua orang lelaki dan dua orang perempuan ia minta menemani menyulap ruangan itu bernuansa klasik dan homey.


Barang-barang Shela dan foto-foto Bram bersama Shela telah di masukan Aisha kedalam kota besar. ia lakban rapat barang-barang itu.


Aisha dan keempat orang yang ia minta mendekorasi ruangan kamar dan ruang utama apartemen terlihat sangat sibuk. Mereka hanya memiliki waktu 3 jam untuk memadukan gaya klasik yang homey di dalam apartemen itu.


Diruang utama, Aisha dapat membuat kesan homey dengan bantuan beberapa warna cokelat, krem dan putih. Pemakaian warna tersebut juga terlihat dari karpet, kemudian sofa yang berada di ruang keluarga.


Aisha memajang foto Ka'bah di ruang keluarga. Satu tempat yang pernah Ayra ceritakan pada Aisha bahwa ia sangat ingin mengunjungi tempat itu. Untuk di kamar, Aisha memilih foto kemesraan bosnya yang ia pajang.


Beruntung di beberapa moment kebersamaan Ayra dan Bram sempat ia abadikan saat perayaan ulang tahun Republik Indonesia di MIKEL group yang belum lama berlalu. Foto-foto kebersamaan sang bos di Bali.


Dan sebuah Foto Ketika Bram menggendong Ayra di depan pintu masuk MIKEL Group dipajang di kamar Bram tepat diatas tempat tidur. Ia cetak beberapa foto hingga ruangan kamar suami istri tua dipenuhi beberapa foto yang sengaja Aisha cetak instan dan ia memilih kamar tempat foto-foto itu terpajang dengan sempurna. Ia paham betul akan Ayra. Bos nya itu tak pernah mengumbar kemesraan bersama sang suami. Bahkan saat di Bali pun tak ada satu pun status bosnya itu.


Padahal saat itu bagi Aisha saja yang seorang perempuan, jika ia yang diposisi Ayra. Ia akan menunjukkan pada dunia bahwa ia bahagia akan kejutan suaminya. Karena tidak semua perempuan mendapatkan itu. Namun Ayra tak satu kali pun memajang foto atau video kemesraan nya dengan suaminya.


Setelah selesai dengan urusan pernak pernik yang membuat nyaman mata memandang. Aisha mengecek kamar mandi bosnya. Ia ingin memberikan bathroom nya terkesan romantis dengan taburan bunga. Saat satu perempuan datang dari kamar mandi itu dan membawa satu benda yang Aisha sendiri tak tahu benda apa itu. Namun perempuan yang berpakaian seragam dari CV yang menyediakan tim dekorasi tersipu malu saat menyerahkan benda itu padanya.


"Maaf mbak. Ini benda-benda ini akan diganti baru? atau dibiarkan di dalam? Sepertinya sudah cukup lama dan tidak dipakai."


"Memang nya ini apa?"


Sebuah benda berbentuk bola. Aisha yang memang sepuluh betul memegang benda itu sambil ia putar-putar. Otaknya tak sampai dengan maksud senyum simpul perempuan yang terlihat lebih tua dari usia Aisha.


"Mbak masih single ya?"


"Lah kok tahu?"


"Hehe.... Mbak memang ga pernah nonton-nonton film dewasa?"


"Lah kok kakak tahu? kakak paranormal ya?"

__ADS_1


"Aduh. Saya bingung jelasinnya. Kakak cari di internet saja deh benda itu apa dan fungsinya apa. Saya malah salut ada ya di zaman sekarang perempuan kayak Mbaknya."


"Lah memang kenapa?"


Tiba-tiba Rafi muncul dari belakang Aisha.


"Hei Jones! Mulut ya lebar banget. Badan disini. Itu bibir sudah sampai di Kali Bening!"


"Woi.... woi... Pak COO yang terhormat. Anda datang-datang langsung marah-marah. Tidak tahu apa. Sampai jam segini saya belum makan? Situ marah-marah Mulu kerjanya. Bujang Lapuk tahu rasa!"


"Kamu!"


Perempuan yang merupakan pekerja dekorasi tadi tertawa melihat dia orang itu bertengkar. Terlebih bola yang Aisha pegang ia lempar ke arah Rafi.


"Tuh cari di internet. Mau diganti yang baru apa ga? Aku ga tahu itu. Bola pingpong bukan. Bola kasti bukan. Bola basket apalagi."


"Aku mau makan. Perut ku lapar. Gantian giliran kamu yang urus. Tinggal kamar mandi doang. O ya ada kabar gembira. Besok saya resmi dilamar jadi.... Jangan panggil aku Jones lagi! Paham...? Jo-Tan."


Aisha berlari ketika Rafi sudah mau melempar dia dengan sebuah bantal.


Saat ia ingin mengejar Aisha pekerja yang dari tadi sibuk mendekor bathroom agar dihiasi bunga mawar dan melati kini keluar sambil berkata bahwa pekerjaan mereka selesai.


Rafi yang melihat benda ditangan nya cepat mencari benda apa yang dilemparkan Aisha tadi dan ia memotret benda itu. Hingga mencari benda tersebut berdasarkan gambar.


"Cekrek."


Tak butuh lama. Loading di ponsel pintar Rafi menunjukkan hasil. Kedua bola mata Rafi melebar. Ia menarik napas dalam. Cepat ia mencari Aisha. Dan ketika tiba di dekat kamar mandi ia membuang benda yang ada ditangannya itu. Suatu benda yang membuat dirinya bergidik hingga rambut-rambut halus pada tubuhnya berdiri.


"Ih..... Dasar Jotan kurang ajar! Apa maksudnya memberi aku benda itu! Mau dikasih pelajaran tuh perempuan!"


Sebuah benda yang biasa disebut bola kegel. Rafi dan Aisha yang terlalu sibuk mengejar mimpi lewat berkarir hampir tidak pernah berpikir bahkan mencari tahu tentang hal-hal yang seharusnya mereka ketahui diusia mereka yang sudah dewasa. Beruntung kesibukan mereka membuat mereka sama-sama lugu dan tak paham hal-hal yang berhubungan dengan area khusus suami istri itu.

__ADS_1


Saat mencari keberadaan Aisha. Ia bisa melihat jika Aisha sedang berbicara dengan seorang lelaki yang mengenakan jeans serta kaos berwarna kuning. Terlihat dari arah Rafi jika Aisha menahan emosinya. Wajah Aisha terlihat merah dan tatapan tak bersahabat yang gadis itu tunjukkan. Rafi tak pernah melihat rekan kerjanya seperti itu. Rafi mendekat, lalu ia sedikit berhenti di balik sebuah pohon.


Tepat di depan apartemen Bram, Aisha sedang berselisih dengan lelaki yang tingginya sama dengan Rafi. Namun berkulit sawo matang. Tetapi cukup tampan jika dibandingkan Rafi.


"Dengarkan dulu Aish."


"Tidak ada yang perlu di dengarkan. Aku tidak jadi menerima lamaran mu. Batalkan kedatangan orang tua mu ke rumah ku!"


Lelaki itu memegang pergelangan tangan Aisha dengan kuat. Aisha mencoba melepaskannya.


"Aku tidak ada hubungan apapun dengan dia. Dia hanya pimpinan tempat aku bekerja."


"Kamu pikir aku bodoh? Kamu pikir aku tidak melihat bagaimana kalian bermesraan bahkan kalian....issss.... aku tidak sudih menikah dengan mu! Lepaskan!"


"Tidak. Kita akan tetap bertunangan Minggu depan. Kamu sudah menerima lamaran ku! Orang tua ku tidak boleh kecewa!"


"Kamu pikir aku boneka? kamu pikir aku gila mau menikah dengan lelaki pecinta sesama jenis? Heloooow.... Luki Wijaya. Dengarkan baik-baik. Aku perempuan normal. Kalau kamu ingin menutupi jati diri kamu dengan menikah. Maka bukan aku yang akan mendampingi kamu!"


Aisha masih mencoba melepaskan cengkraman nya. Namun lelaki yang baru saja diterima lamarannya oleh Aisha namun belum resmi karena dua belah keluarga belum Bertemu.


"Baik. Malam ini aku bakal buktikan klo aku normal. Dan kamu akan tetap menikah dengan aku! Jangan salahkan aku. Kamu yang meminta nya! Jadi kamu tidak akan bisa meninggalkan aku!"


Lelaki bernama Luki menarik Aisha kedalam mobil. Aisha berteriak minta tolong dan ia melihat Rafi berdiri tak jauh dari tempatnya. Ia berusaha membuka pintu mobil namun sia-sia. Ia memukul kaca mobil itu berkali-kali. Rafi bisa melihat jelas air mata membasahi wajah Aisha yang berkulit kuning Langsat itu.


Luki mengunci mobil hingga meninggalkan apartemen itu. Rafi yang melihat Aisha butuh pertolongan, ia yang tak tega melihat perempuan di aniaya apalagi ia mendengar jelas apa yang lelaki itu ucapkan.


"Ya ampun.... Masak ia gue diem aja. Itu jones butuh pertolongan.... "


"Ayo Rafi.... Bantu dia. Bagaimana pun dia teman mu."


"Oke Rafi.... Jadilah orang baik. Kita bantu Jones."

__ADS_1


Rafi menarik napas dalam. Cepat ia menuju satu taksi dan meminta taksi tersebut mengikuti mobil yang membawa Aisha.


"Ikuti mobil itu Pak."


__ADS_2