
Bram yang berdiri dibelakang Ayra terlihat mengenakan baju kemeja putih. Rambut yang baru dipangkas membuat ketampanan suami Ayra Khairunnisa itu terpampang dengan sempurna. Kedua mata yang merindukan sosok itu sangat terpesona. Karena sudah lama tak melihat Bram mengenakan kemeja.
Bram merapatkan bibir Ayra yang sedikit terbuka, dengan ujung jarinya.
"Bibirnya dikondisikan Ayra."
Jleb.
Rona wajah Ayra seketika berubah merah.
"Mas. Kamu tampan sekali hari ini."
"Iya dong. Spesial Agustus ceria buat Ayra Khairunnisa."
"Masih pagi mas. Ga kasihan Ayra klo hati meleleh pagi-pagi begini."
Bram sedikit menunduk dan memegang perut Ayra yang dari tadi ditutupi sang istri dengan paper bag dan tas tangannya.
"Kamu dengar, dulu Mama suka bilang kalau papa mu yang gombal. Sekarang Mama mu sendiri yang lebih gombal. Jangan ditiru yang satu itu ya nak."
Ayra menahan tawanya. Karena banyak orang disekitar sana. Ayra mengeluarkan beberapa paper bag dan sarapan untuk Bram. Namun Bram mengatakan jika ia telah sarapan.
" Mas sudah sarapan tadi Ay."
"Kopi?"
"Sudah juga. Katakan apa kamu masih mual muntah sampai terlambat?"
"Tidak mas."
"Sungguh?"
Bram menyipitkan kedua matanya.
"Sungguh suami ku tersayang. Ayra tadi harus bolak balik ke kamar mandi. Sudah berapa hari ini sering sekali buang air kecil."
"Kamu sudah periksa lagi?"
"Mas cukup satu bulan sekali periksa nya. Umi juga bilang tidak apa-apa. Lagian dia mulai bergerak Sekarang."
"Sungguh?"
Bram mengelus-elus perut Ayra namun tak ada respon.
"Hehehe... masih malu mungkin sama mas."
"Ah. Semoga sehat selalu tidak menyusahkan Mama ya Nak."
"Aamiin."
"Kamu sama siapa kemari?"
"Sama Rafi dan Aisha. Mereka menunggu di luar. Konsep acara belum selesai untuk acara siang nanti di kantor. Sayang mas tidak bisa hadir. Karyawan menyambut antusias acara ini mas. Aisha mengatakan yang jomblo malah ingin segera menikah."
"Hehehe.... Mungkin dia yang ingin menikah Ay."
"Bisa jadi iya. Dia ternyata sudah dilamar lewat ibunya. Seperti nya rencana mas untuk menjodohkan Rafi denah Aish tak bisa terjadi."
"Siapa bilang? Selagi janur kuning belum melingkar jodoh masih ada harapan."
"Aaaaww.... Sakit Ayra sayang... "
Ayra mencubit pinggang suaminya dengan mesra namun Bram yang rindu momen-momen seperti itu membuat Ayra menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sakit? Masa sih mas.... Kamu kena virus lebay dimana?"
"Virus Seventen Ay."
Tak terasa Sepasang suami istri itu menghabiskan waktu hampir 30 menit untuk mengobrol. Saat tanda pergantian jam besuk tiba. Ayra menyerahkan paper bag pada suaminya. Bram menerima papar bag itu. Seperti biasa Bram memeluk istrinya. Saat Ayra cepat melerai pelukan itu karena malu Bram membuat Istri nya itu membuka pupil matanya lebih besar.
"Ayo kita pulang."
"...."
"Bulu mata mu yang lentik itu nanti jatuh kalau terlalu lebar dibuka Ay... "
"Ayra lebih gemuk tapi tak melemahkan telinga dan otak Ayra dalam mencerna satu kalimat yang mas ucapkan."
Bram memencet hidung istrinya itu.
"Kalau begini memang istrinya Bramantyo Pradipta. Besok lagi kalau ada acara jangan terlambat, biar update Informasi terbaru sayang."
"Sakit mas.... "
Bram cepat menarik tangan istrinya itu. Pak Uban tersenyum bahagia melihat sahabat bahru nya sedang bermesraan dengan istrinya. Ia berdiri di sisi pintu luar aula itu sambil memegang tas Bram.
__ADS_1
"Aku tak berani menggangu Mu. Doakan aku panjang Umur bocah tengil. Dua tahun lagi aku ingin mondok di pesantren mertua mu. Tak perlu ku pukul kepala mu lagi untuk bersama istri mu sekarang pak CEO."
Bram mengambil tas tenteng dari tangan Pak Uban.
"Aku akan sering-sering mengunjungi Mu Pak Uban. Jangan menangis ya karena tak akan ada teman yang tampan seperti diriku didalam sini."
"Buuuughh."
Pak Uban memukul pelan Bram. Sehingga dua orang yang baru saja menjalin hubungan persahabatan itu saling memberikan pelukan tanda perpisahan.
"Perpisahan hanya sementara. Jaga istri mu baik-baik. Manfaatkan waktu bersama."
"Siap Jenderal Lapas."
Bram memberi hormat pada Pak Uban sebelum ia meninggalkan lelaki berambut panjang itu sendiri. Pak Uban masih harus menjalani sisa masa tahanannya walau ia mendapatkan remisi.
Belum sempat Ayra bertanya. Suaminya itu cepat menarik dirinya kembali. Satu airmata bahagia berhasil membuat pipi putih Ayra basah, saat Bram betul-betul menyalami petugas di bagian portir dan ucapan selamat dari para petugas pada suaminya membuat Bibir Ayra kelu. Hanya air mata yang mampu mengungkapkan kebahagiaannya.
"Selamat Pak. Kami ikut senang. Hati-hati dijalan."
Ketika Bram betul-betul melangkah keluar dari ruang portir itu. Ayra menahan langkahnya. Membuat Bram berbalik.
"Mas.... "
Ibu Jari Bram mengusap sudut mata istrinya yang masih meneteskan air mata.
"Jangan menangis lagi Ayra. Air mata mu tidak boleh kamu keluarkan lagi. Mas akan berusaha agar menjadi orang yang baik. Agar kita tidak terpisah lagi."
".... "
"Mas mendapatkan remisi di hari kemerdekaan. Karena kejadian kebakaran kemarin, Satu orang sipir yang sadar memberikan keterangan yang membuat mas dan pak uban mendapatkan remisi."
Ayra menubruk tubuh suaminya. Ia menangis bahagia karena ia paham maksud kalimat suaminya.
"Ayo kita pulang. Mas ingin melepas rindu pada istri mas."
Bram meleraikan pelukannya. Ia berjalan ke arah mobil. Rafi dan Aisha yang dari kejauhan melihat kedua bos mereka tak percaya, bahwa dihari ini Bos besar MIKEL Group itu menghirup udara bebas.
Aisha malah ikut menangis karena terharu. Ia ikut merasakan apa yang Ayra rasakan. Tiba di dekat mobil. Bram meminta kunci mobil pada Rafi.
"Sini kunci nya. Aku tidak ingin jiwa jomblo kalian meronta jika kami satu mobil dengan kalian."
"Mas.... Biar satu mobil. Kita ke kantor dulu. Aku sudah bilang disana ada acara hari ini."
"Sebentar saja kita membuka acara hari ini. Kasihan karyawan yang pasti sudah menunggu. Mereka pasti senang melihat mas kembali. Nanti setelah acara dimulai baru mas mau kemana saja. Ayra ikut."
"Hah. Satu-satunya yang bahagia aku kembali di sana cuma kamu Ayra. Bahkan asisten ku ini tak memberi ku ucapan selamat atau pelukan bahagia melihat bosnya kembali. Baiklah, sebentar saja ya..."
Bram mencondongkan wajahnya ke arah Ayra.
"Mas rindu kamu Ay."
Aisha yang mendengar walau samar-samar cepat mengajak membuka mobil. Wajah nya merah merona. Ia malu sendiri dan membayangkan menonton film drama Korea.
"Ya sudah, Ayo."
Rafi cepat membuka satu pintu. Ayra masuk kedalamnya diikuti Bram. Sepanjang perjalanan menuju Mikel group Bram terus saja memeluk istrinya itu. Ayra sempat berbisik ditelinga suaminya itu.
"Mas. Malu ada Rafi dan Aisha."
Suaminya malah membuat wajah istrinya itu tambah merah.
"Aisha, Rafi. Jangan menoleh atau melirik ke belakang. Paham?"
"Paham Pak."
Satu jawaban yang serentak mereka ucapan membuat Bram kembali menggoda asistennya itu.
"Waw. Ada kemajuan hubungan kalian ternyata. Tinggal hatinya lagi yang dibuat Se iya dan sekata."
Dua orang didepan Ayra dan Bram tak berani menoleh apalagi bersuara. Mereka hanya saling lirik.
"Amit-amit dah jodoh ma perempuan cerewet ini."
"Sepertinya harus segera menerima lamaran dari lelaki itu. Biar tidak terus dijodohkan dengan lelaki otak me/sum ini."
Tiba di perusahaan MIKEL Group. Suasana 17 Agustus sangat kental. Dari umbul-umbul dan bendera merah putih yang berkibar membuat Bram mengusap lengan istrinya ketika mobil itu memasuki halaman parkir.
"Rafi benar. Kamu membuat MIKEL tak angker Ay."
"Dan mas yang membuat MIKEL Group bisa sebesar ini dan sesukses ini. Ayra hanya merawat apa yang mas titipkan pada Ayra."
Hampir satu jam Bram membuka acara perayaan hari kemerdekaan republik Indonesia itu. Saat ia ingin membawa istrinya pulang. Ayra ingin ke dalam ruang kerja mereka. Ayra ingin mengganti diapersnya.
Bram yang menunggu didalam ruangannya melihat tempelan kecil yang ada di dekat meja kerja yang ia tinggalkan cukup lama. Bahkan ruangan kerja nya terlihat lebih bersahabat. Ada bunga di sudut ruangan. Dan Yang membuat Bram tersenyum saat ia melihat wallpaper monitor yang ada dimeja kerjanya.
__ADS_1
Foto dirinya bersama Ayra setelah Akad Nikah. Terdapat kedua orang tuanya dan Kyai Rohim beserta istinya. Ia melihat wajahnya yang sangat tidak bersahabat.
"Kenapa kamu pajang foto ini Ay... Muka ku terlihat kaku sekali."
Ayra keluar dari kamar mandi.
"Mas, Ayra tidak usah pakai diapers ya. Ayra risih mas."
"Ya tidak apa-apa kita tidak usah lewat jalan tol nanti."
"Mas.... "
"Ada apa Ayra.... "
"Tadi bilangnya ingin cepat pulang. Sekarang malah sibuk bekerja."
Bram yang mendengar suara istrinya lirih. Berniat menjahili istrinya itu.
"Ya sebentar saja ya."
Ayra menarik napas dalam.
"Ayra mau makan mas, dari tadi sudah terasa lapar."
"Makanlah. Bekal yang kamu bawa tadi ada bukan."
Ayra menoleh ke arah suaminya. Bram pura-pura tak melihat.
"Apa aku tidak menarik lagi? Apa karena tubuh ini berubah lantas mas Bram juga tak terlalu menyukai aku?"
Ayra yang merasa lapar membasuh tangannya. Ia membuka kotak bekalnya dan kembali berharap suaminya menoleh dan memperhatikan dirinya.
"Mas tidak lapar?"
" Tidak Ay. Makanlah dulu."
Bram sibuk menatap layar monitor dan tangannya sibuk menyentuh keyboard.
"Ayolah Ayra. Mungkin mas Bram ingin mengecek perusahaan nya selama tak ada di sini."
Ayra baru akan makan. Lalu Bram mendekati istrinya itu.
"Jangan menangis. Nanti nasinya jadi asin."
Bram menarik kotak bekal itu. Satu suapan dari Ayra ia rebut dengan memasukkannya kedalam mulut. Habis ditelan oleh CEO itu. Ia mengambil sendok dan menyuapi istrinya itu.
"Kenapa wajahnya begitu? Ayra.... Jangan terlalu sempurna. Mas merasa tidak dibutuhkan saat kamu selalu merasa baik-baik saja seperti ini."
"Hiks... Ayra kira mas lebih tertarik pada pekerjaan. Ayra kira tubuh Ayra yang sekarang ini tak membuat mas menarik lagi."
"Mas sudah mengajak pulang tadi. Kamu memaksa kemari. Sudah habiskan segera, lalu kita pulang. Mas buktikan apakah kamu tidak menarik lagi Dimata suami mu ini apa malah semakin menarik dengan perut mu yang sedikit membesar ini?"
"Kita pulang kemana?"
"Ke apartemen mas saja."
"Ayra mau dirumah Umi boleh?"
"Ayra.... kita quality time dulu ya... Mas rindu kamu.... "
Bram baru saja mau mendaratkan ciumannya namun kali ini Aisha yang biasa masuk ruangan itu tanpa mengetuk pintu karena Ayra yang memintanya. Ia lupa jika kini sang pemilik bosnya telah kembali ke ruangannya. Ia sangat tidak suka ada yang masuk ruangan tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Ceklek."
Bram menoleh ke arah pintu. Ayra yang memejamkan kedua matanya kembali membuka kedua netranya.
"Aish-"
Baru ingin suaminya itu memarahi asistennya. Tangan Ayra cepat menutup mulut sang suami. Ayra tersenyum kepada Aisha yang berdiri kaku di depan pintu sambil membawa satu map dan dan satu cup jus Alpukat.
"Mas.... Pergilah Aisha.... Oya kami akan segera pulang setelah ini ya. juz nya letakkan di sana saja."
Aisha berbalik dan berjalan miring sambil meletakkan jus tersebut tanpa melihat ke arah Bram dan Ayra.
Setelah Aisha keluar masih dengan berjalan seperti itu. Sepasang suami istri itu tertawa.
"Lihat wajah merah Aisha itu, Ayo kita segera pulang. Mas tidak mau sampai ada Rafi pula yang akan menggangu."
Belum kering bibir Bram berucap. Dibalik pintu terdengar suara Rafi yang baru saja mengetuk pintu.
"Maaf Bu, boleh saya masuk?"
"Rafiii!!!!"
Ayra tertawa lepas dan menahan perutnya. Ia sampai bersandar pada pundak suaminya. Airmata di sudut kedua netranya sampai menetes.
__ADS_1