Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
232 Masalah Beni dan Liona


__ADS_3

Saat Ayra dan Umi Laila sedang menyiapkan makanan dia tas sebuah nampan. Bram dan kedua anaknya pun telah kembali dari sawah. Ammar membawa satu plastik berukuran sedang dan berisi beberapa buah Ciplukan. Namun Bram juga membawa buah ciplukan.


Dan yang membuat Ayra dan Umi Laila tersenyum adalah kedua lelaki itu memetik semua Ciplukan. Harusnya buah yang akan terasa manis jika kelopak dari Ciplukan tersebut sudah berwarna kekuningan. Ayra mencuci buah tersebut. Saat Ayra telah mencuci buah tersebut. Ammar dan Qiya cepat ingin mencicipi nya. Ayra sengaja memberi buah yang telah berwarna kekuningan.


Namun ketika Bram ingin merasakan juga seperti apa buah tersebut. Ayra sengaja memberikan buah yang belum matang. Dan ketika buat tersebut berhasil di gigit oleh gigi geraham Bram. Kedua mata suami Ayra itu menyipit dan dahinya berkerut.


"Aaaa.,. masam Ai... Eee....."


Bram terlihat berkali-kali menggelengkan kepalanya dan kedua matanya terpejam karena menahan rasa asam dari buah ciplukan yang belum matang.


Ayra tertawa karena melihat Bram yang memang tak suka buah yang masam harus memejamkan matanya.


"Ayra.... Kamu itu. Suami sendiri di kerjain."


"Memang rasanya manis Umi?"


Ammar dan Qiya menjawab kompak apa yang mereka rasakan ketika memakan buah ciplukan tersebut.


"Rasanya enak kok Pa."


"Ayra...... Sungguh terlalu."


"Hehe.... Sesekali makan yang masam juga baik mas."


"Baik buat istri bahagia."


"Ammar tolong panggil Mbah Kung. Nanti Ikan dan nasinya dingin jadi tidak enak lagi."


Umi Laila meminta cucunya untuk memanggil Kyai Rohim yang berada di ruang tengah. Mereka makan dengan lahap. Hanya beralaskan tikar dan menggunakan nampan membuat Bram, Qiya dan Ammar merasakan begitu sesak pada bagian perutnya.


Selesai makan, Kyai Rohim mengajak Bram dan Ayra untuk berbicara perihal Liona dan Beni. Sedangkan Ammar dan Qiya bermain bersama Umi Laila di ruang tengah.


Tampak Kyai Rohim memegang sebuah kipas yang terbuat dari bambu. Ayra duduk di sisi Bram yang menghadap kyai Rohim.


"Bram, Ayra. Kemarin Liona dan Beni kemari."


"Ada perihal apa Bi?


Raut wajah Bram terlihat serius. Ia penasaran ada apa Beni dan istrinya menemui Kyai Rohim.


"Beni mengajak Liona kemari karena Liona memintanya untuk menikah lagi. Dan nak Beni sepertinya tidak menyetujui permintaan Liona. Abi rasa untuk dari agama kemarin Abi sudah menjelaskan perihal Poligami pada Liona dan Beni. Abi rasa disini Liona harus diajak bicara dari hati ke hati Nduk. Dan kamu Bram, cobalah memberikan pemahaman pada Beni untuk bersabar dalam menghadapi Liona. Tampaknya pulang dari sini. Mereka terlihat tak baik-baik saja. Abhi khawatir Beni mengedepankan emosinya. Sehingga kembali terjadi kejadian dulu lagi."


Bram tampak memijat dahinya. Ia tak habis pikir apa yang terjadi pada rumah tangga adiknya. Sepertinya hampir lima tahun ini mereka baik-baik saja. Bram yang merasa sudah lama tak kumpul keluarga. Ia berinisiatif agar bisa berkumpul di kediaman orang tuanya. Sehingga ia bisa berbicara pada kedua orang adiknya.


Beni yang mengurus Pradipta karena kesehatan Pak Erlangga yang juga sedikit terganggu sehingga adik kedua Bram itu menggantikan Papanya di Pradipta group. Sehingga Beni membangun rumah di dekat perusahaan Pradipta. Sedangkan Rani dan Bambang tinggal di Semarang. Bambang dan Rani sibuk mengembangkan bisnis kuliner dan kafe yang telah memiliki banyak cabang di beberapa provinsi.


Ayra terlihat sedikit bingung karena ia merasa terakhir kali bertemu Liona, tak ada raut kesedihan atau masalah yang ditunjukkan adik iparnya itu.

__ADS_1


"Apakah masalahnya Bi?"


"Keturunan. Liona ingin agar Beni memiliki anak dari perempuan yang ia anggap subur."


"Apa dia tidak mencintai Beni lagi sehingga meminta Beni menikah lagi."


"Sepertinya tidak. Karena Abi mendengar tangisnya saat ia mengatakan bahwa ia ikhlas Beni menikah lagi."


"Hhhhhh..... ada apa dengan rumah tangga Beni dan Liona."


"Maka dari itu. Abi harap kalian bisa berbicara pada Liona dan Beni. Terutama Liona Nduk. Abi pikir dia tidak paham apa itu poligami. Beni terlihat stres sekali kemarin. Abi harap jangan terlalu lama berbicara dengan mereka."


"Insyaallah secepatnya Bi. Bagaiamana kalau besok kita kerumah Mama Ay. Nanti biar Mama ku minta menghubungi Beni dan Liona."


"Ya. Tapi jangan beri tahu Papa dan Mama masalah ini Mas."


"Ya. Tapi bertemu mereka di rumah Mama bisa membuat kita bisa melihat apa yang terjadi dengan mereka Ay. Aku pun tak ingin melihat papa makin kepikiran. Jantungnya sekarang sering kumat."


"Betul yang dikatakan Ayra Bram. Tetapi ingat, jangan sampai kalian menggurui. Tidak semua orang mau di gurui. Jadilah pendengar, semua orang ketika memiliki masalah itu hanya butuh orang mendengarkan keluh kesah mereka. Beri pendapat jika memang mereka minta. Abi rasa Beni butuh tempat cerita. Begitupun Liona. Mereka kemarin disini, tidak lepas. Terlihat sungkan, kaku. Abi rasa kalian bisa menjadi tempat mereka berbagi."


"Insyaallah Bi."


Ayra dan Bram kompak memberikan jawaban.


Selepas pembicaraan itu. Bram banyak termenung, ia berharap rumah tangga Beni dan Liona tak lagi ada masalah. Ia khawatir Papanya yang dua tahun terakhir memiliki gangguan dengan jantungnya akan semakin memburuk.


Bahkan sepulang dari kediaman Furqon. Bram terlihat diam. Walaupun matanya menatap layar ponselnya tetapi tatapan itu seperti orang memiliki beban. Saat tiba di kamar untuk istirahat. Ayra duduk di sisi Bram. Lelaki itu tampak membalas pesan dari Nyonya Lukis.


"Mama sudah menelpon Liona. Katanya mereka akan menginap di rumah Mama malam besok. Rani belum aktif nomornya. Ia dan Bambang lagi di Lombok."


"Mudah-mudahan Beni dan Liona tak punya masalah serius ya mas."


"Apakah menurut kamu Liona tidak mencintai Beni?"


"Kalau Liona tak mencintai Beni. Maka dia pasti minta berpisah bukan meminta Beni untuk poligami mas."


"Lalu apa alasannya Ay?"


"Kita tak bisa menduganya mas."


"Apakah perkara anak?"


"Bisa jadi. Tetapi aneh karena harusnya Beni yang memiliki alasan itu."


"Kamu betul. Aku tahu betul Beni. Ia mencintai Liona. Lihat kejadian dulu saja ia mampu memberikan Liona kesempatan kedua."


"Besok kita pura-pura tidak tahu saja mas. Kalau mereka bercerita pada kita, baru seperti kata Abi tadi."

__ADS_1


"Ya kamu benar. Daripada mereka bercerita pada orang lain. Belum tentu orang lain memberikan solusi untuk masalah mereka. Apakah status Beni kemarin ditujukan Untuk Liona."


Bram yang beberapa hari lalu melihat status dari medsos adiknya itu yang berisikan sebuah lagu dengan foto bayangan seorang perempuan. Lagu yang terdapat lirik ada apa dengan mu. Sungguh dari sebuah beranda media sosial orang akan menduga-duga apa yang terjadi dengan kehidupan sang pemilik.


"Apa memang nya status Beni mas?"


"Foto Liona sepertinya. Ada apa dengan Mu. Mas takut perempuan-perempuan yang sekarang banyak mendekati dia memanfaatkan situasi ini karena mengerti Beni dan Liona lagi ada masalah Ay."


Ayra membenarkan posisi duduknya. Ia yang duduk di sisi Bram, ia meletakkan kedua tangannya di pundak Bram dengan posisi duduk menghadap suaminya. Lalu ia letakkan dagunya diatas punggung tangannya.


"Memangnya mas tau darimana?"


"Beberapa kali mas bertemu rekan bisnisnya. Dan mereka tidak tahu jika mas bersaudara dengan Beni."


Bram yang sudah tak pernah ke Pradipta Group membuat dirinya tak begitu di kenal oleh rekan bisnis Beni yang memimpin Perusahaan tersebut. Bram sempat beberapa kali mendengar jika ada beberapa perempuan menyukai Beni. Karena mereka melihat kekurangan Liona.


"Lalu suami Ayra ini apakah ada yang menggoda kalau lagi di luar rumah?"


"Oh.... Banyak Ay."


"Maaaaaassss...."


"Beneran banyak Ay."


"Sebanyak Apa?"


"Em.... Sebanyak debu di Padang pasir."


"Oh Ya? Berarti Ayra beruntung."


"Lo kok beruntung?"


"Karena mereka semua cuma Debu. Sedangkan Ayra air yang mengalir deras dalam kehidupan mas. Sehingga jangan kan debu. Api pun tak akan berani mendekati suami Ayra ini."


"Betul. Kira-kira malam ini apakah air itu bisa menghilangkan dahaga untuk suaminya yang sedang haus?"


"Upssss.... Ayra salah berbicara."


"Tidak salah justru kamu ibarat kata menghangatkan kopi dan gula di tengah hujan Ay. Jadi ingin segera dinikmati."


"Masyaallah.... Suami Ayra ini semakin hari semakin.... semakin.... semakin.... gombal."


"Karena kamu semakin lama semakin.... semakin.... semakin.... Cantik."


Jika dulu Rafi yang akan selalu menganggu suasana romantis Bram. Maka saat ia memiliki kedua anak. Maka Ammar seolah menjadi pengganti Rafi.


"Tok.... Tok... Tok."

__ADS_1


"Mama.... Ammar dan Qiya tidak berani tidur sendiri di kamar."


Bram yang baru akan mematikan lampu menutupi wajahnya dengan satu tangannya. Sedangkan Ayra cepat membuka pintu kamar.


__ADS_2