
Bram akhirnya merasa lega karena rasa sakit pada tenggorokan nya saat tersedak Apel tadi telah hilang. Ia melihat senyum istrinya masih terukir.
"Kenapa kamu selalu tersenyum? Padahal saat bertemu pertama kali jangan kan tersenyum memandang ku pun kamu tak mau?"
"Kalau aku memandang kang Amir saat dia melamar ku apa mungkin aku akan jatuh hati pada maa dengan secepat ini? Dan sekalipun aku tersenyum pada mas saat itu tentu tak akan langsung menghapus memory dan rasa yang ada di hati mas pada perempuan yang telah mengkhianati mas, itu terkikis kan mas?" Tanya Ayra dengan suara lembut dan tatapan teduhnya.
"Maaf Ay. Jangan bahas soal perempuan itu lagi. Kamu bilang tadi karena menyakiti istri aku tersedak. Apakah aku menyakiti kamu dalam pernikahan ini?"
Ayra tertegun atas Pertanyaan suaminya.
"Haruskah aku mengatakan nya Sekarang mas." batin Ayra ketika ia bingung harus menyampaikan isi hatinya atau tidak. Perlahan ia bisa mulai mengenal karakter suaminya yang gampang meledak-ledak dan berubah moodnya.
"Kenapa diam? kamu berhutang satu potongan apel pada ku." Tagih Bram karena Ayra tak kunjung menjawab pertanyaan nya.
"Baik, aku akan menjelaskan yang menurut apa yang telah aku pelajari selama di pondok ya mas." Ucap Ayra seraya ia membetulkan posisi duduk nya.
"Di dalam Al-Qur’an, surah Luqman, ayat 14, Allah Subhanahu Wa Taala berfirman Dan kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua (ibu-bapa); ibunya telah mengandungnya dalam keadaan susah dan lemah yang beratambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada bapak ibumu. Hanya kepada-Ku lah kembalimu."
Ayra berhenti dan menyerahkan potongan apel yang terakhir. Ayra kembali melanjutkan penjelasannya.
"Dalam kalimat Hamala ummuhu wahnan 'Alaa wahn. Tidak hanya mengingatkan kepada kita semua bahwa ibu-ibu dahulu sewaktu mengandung kita selama kira-kira 9 bulan memikul beban yang sangat berat. Tetapi juga mengingatkan bahwa ketika istri kita mengandung anak-anak yang akan menjadi darah daging dan penerus kita generasi selanjutnya. Seorang istri memikul beban yang sama beratnya dengan ibu-ibu kita. Maka amat penting memang bagi para suami untuk menjaga hati istri nya agar tak merasa tersakiti juga sedih. Terlebih-lebih saat istri sedang hamil dan meny*sui karena itu akan membuat efek negatif bagi janin dan bayi yang sedang disus*i." Jelas Ayra yang membuat ujung alis Bram terangkat.
"Hubungan nya apa?" Tanya Bram yang bingung dengan jawaban Ayra.
"Hubungan nya adalah hati seorang ibu yang sedang hamil atau menyusu** itu adalah sebuah sumber mata air. Jika sumber mata air itu kotor maka janin atau anak yang menghisap air sus* tadi pasti akan merasakan dampak negatif dari meminum air ASI yang kotor. Jika hati ibu sedih atau emosi otomatis hal itu akan ia salurkan pada anaknya. Maka amat penting bagi seorang suami menjaga agar hati istri bahagia, tenang. Agar bayi yang dikandungnya, yang disus**nya memiliki hati yang tenang pula dan mendapatkan dampak positif karena hati sang ibu tenang, bahagia." Jelas Ayra. Ayra melihat tangan Bram mencoba meraih segelas air putih. Ayra mengambil gelas itu hingga berpindah ke tangan Bram.
"Mas, lihat fenomena sekarang banyak kasus-kasus ibu-ibu kandung menyakiti buah hati mereka. Bukan mereka tak beriman mas. Mungkin ada beberapa kasus, partner mereka dalam mengarungi bahtera rumah tangga hanya menganggap bahwa tugas mereka hanya mencari nafkah. Padahal para istri, satu kali 24 jam penatnya mengurus rumah tangga. Hanya berharap sedikit waktu dan perhatian dari suami, semua akan hilang ketika sang suami pulang dan ada sedikit waktu sekedar menanyakan kabar, mendengar cerita kami yang satu hari penuh merawat anak-anak dan juga menjaga harta suami. Sebenarnya seorang perempuan itu yang dibutuhkan ketenangan hati... Dan..." Ayra tak kuasa melanjutkan ucapannya. Tenggorokan nya tersekat. Ia tak ada keberanian untuk mengutarakan bahwa ia ingin di cintai, ingin di mengerti. Karena ia mengingat pesan Umi Laila jadi seorang istri jangan terlalu banyak menuntut pada suami. Ia pun segera beristighfar karena baru tersadar.
'Astagfirullah.... Usia pernikahan mu baru seumur jagung Ayra, kenapa pula kamu sudah menuntut... Berbuat baiklah pada suami mu, layanilah ia sebaik mungkin. Bukankan perbuatan baik itu akan kembali kepada kita yang berbuat baik. Libatkan Allah dalam perkara usaha mu untuk meraih kebahagiaan dalam berumah tangga. Tugas mu hanya berikhtiar dan berdoa.' Ucap Ayra dalam hatinya seraya memandang wajah Bram.
__ADS_1
"Ay.... Aku menyakiti kamu?" Tanya Bram yang bisa melihat ada air mata yang tertahan di sudut mata istrinya.
Suara Bram terdengar parau. Ayra cepat menggeleng-gelengkan kepalanya. Cepat ia hapus air mata yang hampir membasahi pipinya dan tersenyum pada Bram.
"Tidak mas, aku tak sakit hati atas perlakuan mu berapa hari ini. Aku teringat kasus beberapa hari tentang seorang ibu. Ada banyak yang menghina nya tanpa mereka mau berempati bagaimana dan kenapa. Coba lihat dimasyarakat kita sekarang mas. Ada beberapa oknum suami, pulang kerja itu hampir sedikit sekali yang mau menggendong anaknya agar istri bisa istirahat, atau sekedar duduk minum teh berbicara dengan istri tanpa sibuk dengan ponsel atau game yang ada di ponsel. Seolah ponsel lebih menarik daripada istri yang berjuang satu hari penuh di rumah." Kilah Ayra yang teirngat beberapa kejadian yang sempat viral dikalangan ibu-ibu.
"Istri yang tak mengeluh, bukan berarti dia kuat tapi ia sedang mencoba bersyukur. Tetapi tanpa dukungan dari lingkungan, teman dan keluarga maka pasti lama-lama ia pun akan putus asa. Padahal jika kembali pada fikihnya memasak, mencuci pakaian adalah bukan tanggungjawab para istri. Tetapi adalah tanggung jawab suami, namun para istri mengharap ridho ilahi hingga rela mengerjakan semuanya demi cinta nya pada suami. Dan..."Kembali tenggorokan nya tercekat. Ayra kembali mengingatkan dirinya sendiri. Bahwa tugas nya sebagai istri adalah partner suaminya. Maka ia belum menjadi partner yang baik kenapa juga harus meminta suaminya menjadi partner yang baik. Apalagi ia tahu suaminya tidak memiliki background pemahaman tentang bagaimana menciptakan rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah.
Namun suara dan mimik wajah Ayra di salah artikan oleh Bram. Bram mengira istrinya merasa tersakiti beberapa hari menjadi istrinya.
"Cukup Ay, cukup!"
Bram menempelkan jari telunjuknya pada bibir Ayra hingga suara parau Ayra terhenti. Tatapan suami istri itu bertemu pandang.
"Bagaimana bisa kamu meneteskan air mata akan apa yang tak kamu alami?"
Ayra kembali menangis. Sahabat yang merupakan kakak tingkat nya yang bernama Almaira harus meninggal bun*h diri karena tak kuat menahan permasalahan dalam rumah tangganya ketika ia hanya dituntut untuk selalu sempurna tanpa sang suami memikirkan bahwa ia butuh diperhatikan, butuh dicintai dan disaat lingkungan pun ikut memojokkan. Tak adanya tempat berbagi cerita, dan terlalu sibuknya suami diluar belum lagi mengurus 3 balita yang umur nya terpaut tidak jauh."
Bram mengusap pelan lengan Ayra.
"Ingin rasanya ku dekap kamu Ay, dalam pelukan ku saat kamu menangis begini."
Ayra yang sedang menempuh pendidikan S2 nya memang sering mengikuti seminar-seminar ketika menyangkut hak perempuan. Seperti saat ini sebenarnya ia adalah mahasiswa di salah satu universitas ternama di kotanya. Ia sedang mengambil Program Studi Magister Ekonomi Syariah. Yang tanpa keluarga Pradipta tahu bahwa Ayra masih tahap pengajuan judul thesis demi mencapai gelar M.E.
Bram mengusap lembut punggung tangan istrinya. Ayra menatap wajah suaminya ketika sebuah kalimat yang tak ia sangka keluar dari bibir suaminya yang sangat terkesan angkuh dan kesombongan nya.
"Maaf untuk semua sikap ku yang kemarin sempat menyakiti mu Ay... "
Ayra mengecup pelan punggung tangan suaminya.
__ADS_1
"Mas. Aku tidak minta kamu untuk cepat mencintai aku. Tetapi aku ingin berharap kamu untuk bisa menjalankannya kewajiban mu sebagai muslim. Agar setidaknya walau pernikahan ini akan berkahir jika memang kamu tak merasa nyaman akan kehadiran ku. Aku bisa melihat mu telah menjadi seorang lelaki yang lebih baik saat bersama ku."
Bram mengernyitkan dahinya.
“Maksudnya?”
“Maksud ku dalam bab Shalat mas. Shalat adalah amal pertama yang akan dihisab di hari Kiamat dan keselamatan di akhirat sangat ditentukan terutama oleh baik tidaknya seseorang melaksanakan shalat lima waktu ketika masih hidup di dunia. Kita tak bisa saling membela tak bisa saling membantu untuk satu perkara ini mas."
Kembali Ayra mengecup lembut punggung tangan suaminya.
“Sebuah pernikahan ibarat sebuah kerjasama dimana keduanya wajib untuk saling mengingatkan dan membimbing satu sama lain. Termasuk saat ini aku sedang mengingat kan mas, Sebagaimana telah dijelaskan Rasul bahwa sholat adalah pembatas Islam dan kafir. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dari sahabat Jabir Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat." Hati dua insan manusia ini sama-sama bergetar, namun hanya mereka yang dapat memahami rasa getaran yang hadir.
"Sungguh aku sudah jatuh hati pada mu mas. Pertama kali mata ku memandang, pertama kali kulit ku menyentuh mu. Pertama kali aku merasakan hati ku berdebar. Setiap aku dekat dengan mu, maka aku hanya berharap jika aku diberikan Allah kesempatan menikmati surga nya. Aku ingin kamu untuk menjadi kekasih ku di surga nya bukan yang lain. Terlepas dari hati mu yang jika pada akhirnya tak mampu mencintai ku."
Bram tertegun, ia tak tahu harus berkata apa. Ia hanya melihat cinta, ketulusan, kesabaran, kesetiaan dan sebuah harapan dari mata istrinya itu. Hingga ia membuang pandangannya pada arah lain saat bibirnya mampu berucap. Bram merasa apa yang istrinya ucapkan tulus dari hati. Ada harapan dari ucapan dan tatapan Ayra pada dirinya. Namun Bram minim ilmu agama. Ia merasa bingung mulai darimana. Apalagi melihat istrinya yang jauh lebih baik dari dirinya untuk ilmu agama.
"Apakah shalat nya orang seperti aku yang penuh dosa ini akan diterima? Apa pantas aku menjalankan syariat nya Ay? Apakah dosa ku akan diampuni?" Ucap Bram dengan nada dingin dan tatapan kosong.
Ayra berdiri lalu duduk di pinggir ranjang yang berukuran 120x200 cm itu. Ia menghadap ke arah Bram. Ia tatap mata suaminya, satu tangan suaminya ia raih dan tempelkan di salah satu sisi pipinya. Dengan suara lembut ia pun menanggapi pertanyaan suaminya yang merupakan CEO dari MIKEL Group.
"Mas, bentuk penghambaan yang sebenarnya adalah tunduk kepada Allah dengan menjalankan perintahnya tanpa memikirkan diterima atau tidak. Dan kita terus berbenah untuk menjadi hambanya yang beriman dan bertaqwa." Bram menoleh ke arah Ayra. Suami istri itu saling pandang dalam waktu cukup lama.
'Aku bisa melihat ada kelembutan di hati mu mas ...' batin Ayra.
'Kenapa setiap memandang mu, mendengar suara mu.... Hati ku tenang Ay... Bahkan saat tangan mu menyentuh ku... jantung ku berdetak lebih cepat.... Perasaan apakah ini... Cinta kah?' Bram bermonolog dengan hatinya yang merasakan kenyamanan saat memandang wajah teduh Ayra.
Ternyata dibalik pintu ada satu orang yang dari tadi tak berani masuk karena menikmati pemandangan yang ada di ruangan kamar Bram itu. Bahkan ia mengambil beberapa gambar yang terlihat sangat romantis dan mengirimkan nya kepada Pak Erlangga.
"Kabar ter viral pagi ini. Jangan sampai kamu menyesal bos. Genggam erat hati Bu Ayra."
__ADS_1