
Pak Bagas berteriak sangat kencang di dalam rumahnya. Ia memanggil sopir dan pembantu. Suara tangis pembantu pun membuat Ilham yang sedang mengemasi bajunya cepat melihat apa yang terjadi di bawah. Alangkah kagetnya Ilham saat melihat Sasi tergeletak di atas lantai dan ada darah segar yang mengalir.
"Sasi.... "
Satu kata yang mampu keluar dari bibir Ilham. Ia tak tahu apa yang terjadi. Namun kondisi yang ia lihat menunjukkan jika istrinya dalam keadaan tidak baik-baik Saja. Ia bergegas menuruni anak tangga. Saat tubuh Sasi akan di angkat oleh sopir dan art dirumah itu. Ilham lebih dulu mengangkat tubuh Sasi.
"Jangan sentuh Sasi!"
"Gila! Dia istriku! Apa anda tidak melihat darah ini? masih anda bersifat egois? bukan hanya saya yang akan kehilangan Sasi jika terlambat tapi juga anda!"
Ilham bergegas meninggalkan Pak Bagas dan meminta sopir mengantarnya. Namun lelaki paruh baya itu cepat mengejar Ilham. Saat Ilham masuk ke dalam mobil bersama Sasi. Entah kenapa hatinya sangat sakit melihat kondisi Sasi yang tak sadarkan diri.
Saat pak Bagas ingin masuk ke dalam mobil dan duduk disebelah Ilham. Ilham tak memberi ruang.
"Hei! geser!"
"Duduklah di depan. cepatlah pak sopir ke rumah sakit terdekat!"
Ilham berbicara pada sopirnya hanya dengan menatap wajah Sasi. Pak Bagas mengalah. ia cepat membuka pintu mobil bagian depan. Lalu ia duduk disebelah sopir. Selama perjalanan Pak Bagas berkali-kali melihat kearah belakang.
Ia bisa melihat bagaimana Ilham meneteskan air mata. Dan mengecup dahi putrinya itu.
Satu tangan Ilham merapikan rambut Sasi yang berantakan. Dengan satu tangan lainnya memeluk tubuh Sasi.
"Maafkan aku Sasi. Maafkan aku... Semoga tidak terjadi apa-apa ya Si.... Semoga anak kita selamat."
Ilham yang sebenarnya selama ini merasa tertekan dengan kondisi ayah mertuanya yang selalu membuat ia malu kadang di depan orang banyak. Belum lagi kadang ia sering disalah kan saat tak terlalu sering berkomunikasi dengan istrinya atau menemani istrinya sekedar untuk ke dokter memeriksa kondisi kandungannya.
Padahal ia tipe lelaki yang workaholic, dan juga ia bukan tipe lelaki yang banyak bicara. Ia memang irit bicara. Ia menikah dengan Sasi memang dijodohkan oleh orang tuanya. Ayahnya yang merupakan pejabat daerah memiliki hubungan baik dengan Pak Bagas sebagai pengusaha di kota itu.
Sebenarnya ia merasa sangat nyaman karena Sasi yang sangat mencintainya. Perhatian dari Sasi, cinta dari Sasi tanpa ia sadari membuat ruang sendiri untuk istrinya itu. Namun Ilham terlalu fokus pada rasa sakit hati dan dendam. Ia yang dulu malu karena yakin akan diterima lamarannya oleh Kyai Rohim dan Ayra telah gembar gembor di kampus namun nyatanya lamarannya ditolak Kyai Rohim.
Tiba di depan gedung sebuah rumah sakit. Ilham mengikuti perawat yang membawa Sasi kedalam ruang UGD. Ia tertahan di pintu UGD bersama mertuanya. Mereka tak diperbolehkan menemani Sasi.
Ilham dan Pak Bagas memilih duduk di depan ruangan itu. Saat Pak Bagas dan Ilham sibuk dengan lamunannya. Terlihat seorang lelaki sambil menggendong anak balita mengikuti perawat yang mendorong perempuan yang juga hamil. Terlihat ada darah di pakaian perempuan itu.
Saat perempuan itu menghilang dibalik pintu UGD. Lelaki itu menenangkan balita yang menangis.
__ADS_1
"Mama.... Mama.... "
"Cup... cup... cup.... Mama tidak apa-apa ya Sayang. Dokter pinjam mama sebentar. Kita telpon Omah ya."
Sembari menggendong balita itu. Lelaki yang mengenakan pakaian muslim itu menelpon seseorang yang ia harap bisa membantu nya menenangkan atau membawa pulang anaknya. Karena ia akan menemani istrinya.
"Assalamu'alaikum. Ma.... Dimana?"
"Mama lagi mau istirahat. Ada apa Bams?"
"Rani ma. Rani terpeleset di kamar mandi WC di Pom bensin. Tadi aku tidak bersamanya Ma. Mama bisa kemari. Raka dari tadi menangis terus Ma."
"Apa? Ya Allah.... Rumah sakit mana Bams?"
"Nanti Bams shareloc Ma."
Bambang mengakhiri panggilannya. Ia mengirimkan alamat rumah sakit melalui titik koordinat ke Nyonya Lukis.
Nyonya Lukis yang panik mau tidak mau segera mengganti bajunya. Ia bingung akhirnya membangunkan Ayra.
"Ada apa ma? "
Ayra melirik jam dan ia bisa memastikan jika Abinya masih dikelas mengajar santri. Lalu ia mengajak Nyonya Lukis ke tempat biasanya Umi dan Abi memberikan materi. Sampai di ruang itu. Nyonya Lukis bermaksud ingin pamit. Namun Ayra memaksa ikut.
"Kamu lagi hamil nduk.... "
"Biar Ayra ikut ma. Ayra bisa bawa pulang Raka. Nanti mama disana saja menemani Bams. Umi, Ayra ikut untuk bawa pulang Raka kemari. Kasihan dia."
Umi Laila Akhirnya mengizinkan dan ia pun memutuskan untuk itu ikut kerumah sakit itu menemani Ayra dan Nyonya Lukis. Kyai Rohim masih menyelesaikan kelasnya.
Tiba disebuah rumah sakit swasta. Tiga perempuan itu berjalan menuju ruang UGD. Terlihat Bambang masih menggendong Raka dengan memegangi punggung balita itu dengan kepala buah hati Rani itu di pundak Bambang.
"Bams.... "
"Ma.... "
Suara Bambang terdengar sangat parau. Mungkin ia menahan rasa khawatir dan sedih. Ia pernah menemani Rani melahirkan Raka walau saat itu mereka belum terlibat pernikahan. Ia dapat melihat bagaimana perjuangan ia melahirkan Raka.
__ADS_1
"De... Byu De.... "
"Sini sayang, sama Bu De... "
Suara cedal Raka memanggil Ayra ketika bocah itu melihat Ayra. Raka menjulurkan kedua tangannya. Ia ingin digendong oleh Ayra. Ayra mengambil Raka dari gendongan Bambang.
"Ma. Aku titip Raka. Aku akan menunggu Rani. Tadi dokter bilang ia akan operasi Cesar."
"Mama akan menemani kamu disini Bams."
"Tapi Ayra kasihan Ma."
"Tidak apa-apa. Nanti biar Umi temani Ayra menjaga Raka. Kamu fokus dengan kondisi Rani dulu nak."
Umi Laila meyakinkan Bambang.
"Terimakasih Umi. Maaf jadi merepotkan."
Tanpa mereka sadari bahwa dari tadi dua lelaki beda usia memperhatikan mereka. Karena sosok yang ada diantara mereka adalah Perempuan yang menarik perhatian ayah mertua dan menantu yang tak lain Pak Bahas dan Ilham.
Ayra yang ingin duduk sambil menenangkan Raka. Ia baru sadar ketika akan duduk di kursi panjang terbuat dari stenslis itu ada Ilham.
"Mas Ilham?"
"Ayra."
Ilham berdiri ketika Ayra berjalan ke arah bangku panjang itu.
"Siapa yang sakit Ayra?"
"Saudara ipar ku."
Umi Laila mengenali Ilham. Ia duduk disebelah Ayra.
"Istri ku. Ia tadi terjatuh dari tangga."
"Innalilahi.... Semoga Mbak Sasi baik-baik saja ya Mas."
__ADS_1
Ilham hanya menganggukkan kepalanya dan kembali duduk. Entah kenapa ia tak terlalu ingin tahu lagi tentang kenapa Ayra disana ketika ia telah tahu alasannya. Pikirannya tertuju pada Sasi dan anak yang ada di dalam kandungannya.