Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
116 Romantisme Ala Ayra dan Bram


__ADS_3

Rumah tangga adalah suatu hubungan yang menyatukan dua orang dengan karakter yang berbeda. Dan kebiasaan yang berbeda. Maka itu pun berlaku bagi Bram dan Ayra. Rumah tangga mereka yang baru seumur jagung tetap sama pada umumnya Rumah Tangga di masyarakat.


Akan ada konflik-konflik kecil. Atau hal-hal sepele yang bisa menjadi besar atau bahkan malah membuat tidak harmonisnya hubungan suami istri.


Maka disinilah pentingnya pendidikan Agama. Sebuah adab islami dalam sebuah pernikahan dibutuhkan. Salah satu peran yang bertugas menjaga langgengnya hubungan itu bukan hanya terletak pada suami namun juga pada istri. Ayra yang juga sudah dibekali tidak hanya tentang pendidikan halal haram, dalil-dalil atau hadist-hadist. Tetapi juga bekal ketika akan mengarungi bahtera rumah tangga.


Malam ini, Bram yang baru saja mandi seolah menjadi kebiasaan sang suami yang terbiasa apa-apa dilakukan pembantu. Ia akan meletakkan handuknya diatas kasur. Ayra yang baru saja menutup gorden kamarnya tersenyum dan menarik napas dalam.


Semenjak menikah dan hubungan mereka membaik. Dan Bram yang pernah membaca sebuah kalimat Surga dunia ada pada diri istri. Maka malam ini suatu ketenangan yang Bram dapatkan dari cara sang istri mengingat dirinya yang terus saja berulang kali melakukan hal yang sama setelah mandi. Dari meletakkan handuk diatas kasur dan menarik pakaian hingga susunan baju di lemari kembali berantakan.


Ayra yang melihat hal itu menarik napas dalam dan tersenyum begitu manis pada Bram.


"Suami ku tercinta..... Handuknya basah. Sepertinya suami ku yang tampan ini sangat suka sekali meletakkan handuk di kasur. Tak bisakah ditinggalkan saja dikamar mandi"


Ayra cepat berjalan mengambil handuk itu. Baru akan meletakkan handuk basah yang menempel di atas kasur. Bram cepat menarik satu ujung handuknya.


"Hehehe... Lupa Ay. Kaku tangannya."


"Tak mengapa sayang ku. Mungkin dari kelupaan mu Allah ingin aku menggapai pahala yang begitu banyak. Hehe..."


Wajah yang dibuat seimut mungkin membuat Bram cepat menarik handuk itu hingga istrinya berada dalam pelukannya.


"Jangan menggodaku. Kita baru saja mandi. Mau keramas lagi?"


"Tak mengapa kalau suami ku yang tampan ini tak kasihan pada istrinya ini yang belum tertidur."


Suara tawa Bram membuat tubuh mereka berguncang. Bram mengambil handuk dari tangan Ayra.


"Tidurlah."


Bram melangkahkan kakinya meletakkan handuk basah yang ia pakai mandi tadi di kamar mandi. Saat kembali sang istri malah masih mengeringkan rambutnya.


"Sini aku bantu."


Sambil mengeringkan rambut panjang Ayra. Bram menatap istrinya lewat pantulan cermin.


"Ay, besok siang Liona sudah boleh pulang. Kamu betul-betul tidak keberatan jika Liona tinggal disini? Atau kita pindah saja ke Apartment ku?"


"Mas khawatir aku cemburu?"

__ADS_1


"Hem."


Bram masih fokus pada rambut Ayra.


"Terimakasih suami ku karena masih memikirkan perasaan ku."


"Ayra pipi mu yang menggembung itu membuat aku bisa tidak konsen ke rambut mu."


"Hehehe... Apa kamu kangen dengan perempuan bertubuh Drum dulu kalau aku kembungkan pipi ku begini mas?"


"Bukan. Muka mu terlihat lebih imut. Jadi ingin mendaki lagi."


"Muka mas merah setiap Ayra mengembungkan pipi Ayra. Ayra Suka melihatnya."


"Baiklah kamu belum jawab pertanyaan mas tadi."


Ayra berbalik dari posisi duduknya sehingga menghadap ke arah Bram.


"Terimakasih sudah memikirkan perasaan istri mas ini. Kedua, Ayra tak keberatan mas. Rani sedang morning sickness. Liona juga masih butuh support dan kasihan Mama kalau kita pindah dari sini disaat-saat seperti ini. Belum lagi, tadi Ayra sempat mendengar pembicaraan mas dengan pengacara. Maaf Ayra tak sengaja mendengar mas tadi saat Ayra mencari mas."


Bram duduk berjongkok dan menghadapi istri nya. Ia membelai rambut hitam Ayra.


"Tidak apa-apa."


"Kamu sudah terlalu banyak soft terapi di awal pernikahan kita. Bahkan kamu sempat mengurus MIKEL group selama aku di sel. Aku ingin kamu menikmati masa-masa ada aku untuk bermanja atau kamu fokus ke thesis mu. Biar Nyonya Bramantyo ini bisa cepat menyandang gelar M.E nya."


"Sakit mas."


Ayra meringis ketika hidungnya Bram pencet.


"Lalu apa betul yang Ayra dengar?"


"Ya, itu hanya kemungkinan terburuk. Besok, kamu temani mama menjemput Liona pulang. Mas biar Bams dan Papa yang menemani..Oke?"


"Tapi bukankah setiap bukti telah jelas mengarah pada Riki dan Shela mas?"


"Besok, Sidang dengan agenda mendengarkan jawaban jaksa atas pembelaan Ku. Kata pengacara tak akan berlangsung lama. Tetapi aku khawatir karena prediksi pengacara ku massa yang berdemo akan bertambah Ay. Mas tak ingin kamu atau mama terluka lagi karena kebrutalan para pendemo itu."


Ayra yang hampir menjatuhkan air matanya. Mencoba tidak meneteskan butiran bening itu. Ia tak ingin suaminya bertambah rasa sedih dan bersalah. Namun Bram bisa melihat jelas airmata yang berada diujung pelupuk mata Ayra.

__ADS_1


"Maafkan mas. Andai...."


satu Jari Ayra tempelkan pada bibir Bram.


"Jangan berandai-andai mas. Ayra tak menyalahkan mas atas masalalu mas. Ayra hanya sedih akan kondisi mama jika memang putusan Hakim yang akan tetap menjatuhkan hukumannya pada mas."


Bram mengusap ujung mata Ayra.


"Berjanjilah jika memang hal terburuk terjadi, kamu tak akan menjatuhkan air mata ini Ay. Setiap kali melihat air mata ini. Membuat mas merasa bersalah."


"Ayra akan bersabar mas. Karena sabar terhadap musibah Allah memiliki derajat paling luhur."


"Bantu kuatkan Liona agar ia bisa bersabar menghadapi cobaannya. Ia perempuan yang terlalu perfeksionis hingga ia hanya memikirkan tujuannya tercapai. Ia tipe orang yang tak menerima kegagalan atau kekalahan Ay."


"Kamu memperhatikan nya selama ini mas?"


"Hanya sebagai adik ipar. Selama ini mas selalu mencari tahu perkembangan gosip-gosip dia karena menyangkut Beni. Mas tidak menyalahkan Liona. Tetapi rumah tangga mereka terlalu rumit. Mereka tinggal satu atap tapi sibuk dengan dunia masing-masing.


Bahkan gosip-gosip miring tentang Liona, itu mas yang selalu selesaikan agar tak Sampai ke publik. Agar Beni dan dirinya bisa akur. Tapi mereka sama kerasnya. Dan-"


"Perasaan Liona pada mas yang membuat mas khawatir jika ia tinggal disini?"


"Hem."


Bram menatap Ayra dalam.


"Asal mas Bisa menjaga pandangan mas. Hati mas, mau berapa banyak perempuan menyukai mas itu bukan masalah. Yang jadi masalahnya kalau mas memberikan kesempatan atau peluang perempuan itu untuk masuk dalam hati mas. Dan biasanya itu dimulai dari pandangan."


"Itu kenapa asisten mu si Aisha itu mas letakkan di Kalimantan untuk sementara. Disana ia mas kasih tanggungjawab. Karena kasihan kalau dirumahkan. Kalau tetap jadi asisten mas ya pilihannya dua. Dia dan Rafi terus berdebat atau mas bisa jatuh hati karena sering berdua-duaan dengan dia."


"Alhamdulilah. Terimakasih mas."


"Ayo kita istirahat. Besok kamu biar diantar sama sopir."


"Kaki nya kaku mas...."


Ayra merangkulkan kedua tangannya di leher Bram dan merengek manja.


"Nakal ya Kamu.... atau mau lagi?"

__ADS_1


"Oh No my Hubby. I'm Just kidding. Hehehe... "


Bram cepat menggendong tubuh istrinya itu untuk istirahat karena malam kian larut.


__ADS_2