Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
157 Tentang Aisha


__ADS_3

Satu Minggu berlalu dari Tragedi kebakaran lapas. Ayra yang baru keluar dari ruang ujian Tesis terlihat kelelahan. Aisha yang dari tadi menanti di depan ruang ujian itu cepat menghampiri. Aisha sudah seperti baby sitter untuk Ayra. Ia diminta oleh Bram untuk menemani sang istri selama proses menyelesaikan tesisnya. Termasuk hari ini, Ayra yang mendapat jadwal ujian Thesis berada di dalam ruang ujian yang terdiri dari ketua sidang dan tiga penguji penguji.


Ayra mengambil beberapa buku yang Ayra pegang. Beberapa orang melihat Ayra karena ia satu-satunya orang yang dari tadi ditemani oleh asisten. Ayra cepat duduk di satu kursi. Ia meminum air mineral yang diberikan oleh Aisha untuknya. Ia tak merasa haus ketika berada didalam ruang ujian itu. Namun saat keluar, ia baru merasakan haus.


Kurang lebih berada di ruang ujian itu selama hampir dua jam. Membuat kondisi Ayra sedikit pucat. Ia yang dalam kondisi hamil merasakan jika tubuhnya saat menjalani ujian tesis ini sedikit berbeda saat ia menjalani ujian skripsi.


"Bu, barusan Umi Laila menelpon. Beliau minta kita segera pulang jika selesai dengan urusan Ibu."


Ayra mengambil ponsel yang ia titipkan pada Aisha tadi. Ia melihat pesan Umi Laila yang masuk namun belum dibaca. Ada pesan dari Umi Laila jika dirumah ada tamu yang menunggu dirinya.


"Tunggu sebentar aku ke ruangan administrasi dulu Aish."


"Biar saya saja Bu. Apa yang harus saya kerjakan?"


"Tidak usah Aish. Aku ini mahasiswanya. Kamu temani aku saja. Tubuh ku sedikit lemas memang."


Ayra merangkul lengan Aisha. Ia berjalan cukup pelan. Tidak seperti biasanya.


"Sehat selalu Ya Bu. Sungguh perempuan luar biasa. Masih bisa menjalani hidupnya seperti tak terjadi apapun."


Selesai dengan urusan administrasi. Ayra duduk di kursi belakang.


"Aish. Bisa duduk disebelah ku? Aku sangat mengantuk Aish."


Aisha mengangguk patuh. Ia tak jadi duduk di sebelah sopir. Saat ia memasangkan sabuk pengaman pada tubuhnya. Ayra yang merasa lapar namun sangat lelah melihat di luar mobil ada penjual jus.


"Tunggu Pak."


Ayra turun dari mobil membuat asisten yang Bram minta mendampingi istrinya itu cepat mengikuti sang bos.


"Apa tidak beli di kafe saja Bu?"


"Hehe... Aku inginnya yang Ini Aish."

__ADS_1


"Baik Bu."


"Aduh, mudah-mudahan Pak Bram tidak tahu. Karena jika tahu bisa di omelin ga berhenti-henti aku. Mana blender nya cuma di cuci pakai air."


Ayra membeli 5 Cup jus Alpukat. Dua cup ia minta tak diberikan Es agar tetap enak ketika dibawa Pulang. Ia yang selalu ingat Abi dan Umi nya. Hingga menjadi kebiasaan nya sedari lajang, jika makan diluar maka dapat dipastikan akan ada dua bungkus yang ia bawa pulang. Terlebih lagi Alpukat adalah kesukaan ia dan kedua orangtuanya.


Belum sampai beberapa menit. Ayra menghabiskan satu Cup yang menurut Aisha cukup besar bagi seorang perempuan, mustahil dihabiskan dalam waktu tak lebih dari 3 menit.


"Ada apa Aish?"


"Kita bisa mampir ke restoran jika ibu lapar."


"Tidak. Aku akan makan dirumah Aish. Aku sangat mengantuk. Boleh aku pinjam lengan mu?"


"Waduh.... Apa ga apa-apa Bu?"


Ayra tak memperdulikan ucapan asistennya itu. Satu tangan Ayra masukan kedalam lengan Aisha. Ia sandarkan kepalanya pada lengan Aisha. Ayra memejamkan matanya.


"Kamu sudah punya calon suami Aish?"


Aisha beberapa detik diam tak berani menjawab.


"Em... memangnya ada apa Bu?"


Masih dengan mata terpejam Ayra bertanya pada Aish.


"Usia mu sudah dewasa kenapa masih belum berniat menikah?"


".…."


"Jangan sungkan. Aku butuh seseorang yang bisa aku jadikan sahabat Aish. Aku lelah di kantor semua seolah takut pada ku. Di pondok begitu. Dirumah papa dan mama juga begitu. Hanya pada Umi aku merasa bisa menjadi manusia yang bisa merasakan diperlakukan sama."


"Maaf Bu. Saya sungkan saja. Saya sadar jika saya adalah anak buah. Ibu pimpinan."

__ADS_1


"Jangan samakan aku dengan mas Bram. Kita perempuan, ini diluar jam kerja bukan?"


Ayra menggerakkan kepalanya mencari posisi ternyaman. Aisha yang paham sedikit menurunkan pundaknya.


"Harusnya sekarang pundaknya Pak Bram menjadi tempat yang paling nyaman untuk bersandar ya Bu?"


"Ayra. Ayra... "


"Susah Bu.... Lidahnya kaku."


"Lalu pundak lelaki seperti apa yang kamu impikan?"


"Yang bisa menerima adik-adik saya Bu. Ibu saya sudah tua. Tiga adik saya masih sekolah. Maka kalau saya menikah sedangkan mereka belum selesai sekolah maka siapa yang akan menanggung tanggung jawab ini Bu."


Bayangan Aisha mengingat ketiga adik dan ibunya di desa.


"Saya ucapkan terimakasih pada Ibu dan Pak Bram. Semenjak saya bekerja di perusahaan Bapak. Saya sudah bisa melunasi hutang-hutang ibu saya. Bahkan saya sudah bisa membangun rumah untuk ibu saya. Rumah yang hampir ambruk karena hanya berlandaskan dengan kayu serta dinding gedek Bu. Dulu ibu berjuang keras untuk menguliahkan saya."


"Lantas kamu jadi menunda untuk menikah?"


"Bukan menunda-nunda Bu. Tetapi memang selama ini belum ada yang cocok dihati. Bulan kemarin ada yang melamar saya, lewat ibu dikampung. Akan tetapi belum saya terima. Saya ragu Bu, Dia sepertinya belum bisa menerima jika nanti setelah menikah harus membiayai adik-adik saya."


"Berdoalah Aish. Jangan remehkan kekuatan Doa. Aku berdoa semoga kamu segera bertemu orang yang pantas untuk kamu, dan kamu pantas untuk dia."


"Aamiin.... "


"Aku mengantuk Aish... Maaf merepotkan kamu..."


Kali ini Ayra betul-betul memejamkan matanya di pundak Aisha. Aisha merasa tersentuh karena Ayra sangat humble belum lagi perempuan yang tubuhnya lebih pendek dari Aisha itu sangat lembut. Saat Aisha memikirkan apa yang akan ia jawab kepada lelaki yang melamar dirinya. Seorang lelaki berkacamata yang tadi menelpon sopir Ayra untuk menanyakan dimana keberadaan Ayra karena berkali-kali menelpon Aisha tak diangkat. Menelpon ke ponsel Ayra pun tak berani karena ia tahu bosnya sedang ujian.


Sopir yang tak menekan tombol berwana merah saat ia ingin menyudahi obrolan dengan Rafi, membaut Rafi mendengar semua obrolan tadi dengan jelas. Karena ia yang masih ingin bertanya pada sang sopir namun oleh sopir tadi langsung diletakkan di tengah antara kursi depan. Akhirnya ia mendengar sesuatu yang tak seharusnya ia dengar.


"Aku tidak menyangka si Jones itu punya hati yang cukup lembut. Ia rela tidak menikah sebelum adiknya selesai sekolah. Tapi ada yang mau dengan dirinya. Apakah karena lelaki itu belum tahu jika dia sangat cerewet? Malang sekali jika lelaki itu menjadi suami si Jones itu."

__ADS_1


Rafi segera menyentuh layar ponselnya pada warna merah berbentuk telpon itu.


__ADS_2