
Liona yang baru saja mengabari Nyonya Lukis lewat ponselnya tentang kabar gembira bahwa Beni telah sadar. Berita itu membuat Nyonya Lukis sangat bahagia. Ibu dari tiga putra itu ingin segera bertemu Beni. Beni yang mendengar di balik pintu cukup trenyuh hatinya. Kala Liona sangat pandai menutupi perasaannya. Ia tak berbicara pada Nyonya Lukis jika dirinya diperlakukan dengan sangat tidak menyenangkan.
"Kamu terlihat tidak bahagia Liona. Kalian baik-baik saja bukan?"
"Tidak ma. Liona kurang tidur beberapa hari ini. Kami baik-baik saja. Liona ikut apa Yang Beni inginkan, jika dia belum mau pulang kemungkinan kami akan ke apartemen yang mama siapkan kemarin."
"Baiklah. Mama dari tadi menghubungi Beni tapi tak bisa."
"Beni lagi di kamar mandi Ma."
"Ya sudah mama tunggu kepulangan kalian. Rani sudah lebih baik. Mama masih menginap di rumah orang tuanya. Ayra masih di kali Bening. Mungkin Mama dan Papa akan mengunjungi Ayra besok."
"Sampaikan salam Ku untuk Ayra Ma."
Panggilan disudahi saat Nyonya Lukis menutup dengan salam. Suara tongkat Liona terdengar, Beni menjauh. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk. Lalu ia lempar handuk itu ke arah sofa yang tak jauh dari dirinya. Liona mengambil handuk itu. Semenjak ia tertimpa musibah membuat pribadi Liona berubah. Ia tak lagi menjadi pribadi yang mengandalkan orang lain untuk keperluannya atau merapikan tempatnya.
Beni melirik Liona yang sibuk dengan berbagai pakaian yang ia rapikan di dalam koper.
"Cepatlah. Aku sudah tidak tahan tinggal dirumah sakit ini. Aku putuskan kita akan segera pulang ke Indonesia. Satu lagi, sampai di Indonesia. Aku ingin pulang ke apartemen. Rumah itu terlalu menyakitkan bagi ku. Dan kamu kembali kerumah yang tak ada kenangan manisnya itu!"
Liona hanya tertegun. Ia yang belajar dari buku-buku yang diberikan oleh Nyonya Lukis serta Sarah yang sedikit memberikan beberapa pemahaman dalam Islam Bagiamana adab seorang istri kepada suaminya. Jika dulu ia yang akan berbicara dengan nada yang sangat tinggi bahkan sering memerintah suaminya itu. Saat ini ia hanya mengamini setiap kemauan Beni.
Keluar dari rumah sakit itu, cinta Beni seolah hilang pada Liona. Ia tak memperdulikan Liona yang membawa koper yang berukuran sedang itu. Namun saat bertemu dokter Sarah di lift. Dokter Sarah mengambil koper tersebut, ia bisa merasakan jika sepasang suami istri itu ada masalah.
"Sini biar saya bantu Kak."
"Tidak usah Dokter."
"Tidak apa-apa."
"Sreeet."
Dokter Sarah menarik pegangan koper yang berada di tangan Liona.
"Sudah mau pulang ke Indonesia?"
"Mungkin minggu-minggu ini."
"Wah sama. Aku juga dalam minggu-minggu ini akan segera pulang."
Beni menatap dokter Liona.
"Apakah dokter akan segera menikah?"
"Insyaallah jika ada yang melamar akan segera."
"Memangnya belum ada yang melamar?"
__ADS_1
"Sudah ada tapi Abah tunggu saya pulang Katanya. Biar ketemu langsung dulu."
"Kalau sama duda, dokter mau?"
Deg.
seketika dua hati dari dua perempuan di dalam lift itu seakan berhenti. Liona mengerti kemana arah pembicaraan suaminya itu. Sedangkan dokter Sarah merasa aneh dengan Beni. Ia baru beberapa kali berkomunikasi namun sangat tidak sopan langsung berbicara seperti itu.
"Ben.... "
Liona menatap Beni penuh tanya. Beni menatap dokter Sarah intens. Dokter Sarah membuang pandangannya pada Liona yang ada disebelahnya.
"Kak Liona, nanti kalau lagi ke kali Bening mampir ya kerumah. Sebenarnya kak Liona bisa lebih banyak belajar lewat Ayra atau Umi Laila. Keluarga kami banyak belajar lewat keluarga Ayra."
"Iya. Kamu betul. Ayra betul-betul mengajarkan saya sendiri banyak hal. Ia cerdas tapi tak pernah menjatuhkan orang lain. Sosok yang sulit ditemui dizaman sekarang."
"Kalau saya lebih kagum sosok Umi Laila. Ibu ku sering bercerita tentang bagaimana Sosok Umi Laila itu. Karena Ibu kenal Umi Laila dari ia baru berumahtangga dengan Abah sampai sekarang. Ibu bilang Umi Laila itu tidak hanya teman tetapi juga guru, saudara yang memberikan contoh-contoh langsung bagaimana seorang perempuan di agama kita."
"Ternyata orang-orang yang baik akan memberikan energi yang baik pada lingkungan nya ya Dokter."
"Sarah, cukup Sarah saja. Jangan pakai dokter dong kak. Betul, termasuk saya. Walaupun saya tidak mondok saat kuliah. Saya sudah punya bekal ketika pergi ke negara ini. Karena dari dulu Umi dan Abah, yang juga gersang akan ilmu agama bisa menjadi pribadi yang membawa agama dalam setiap kehidupannya. Itu tidak lepas dari figur Kyai Rohim dan Umi Laila."
"Ting."
Pintu lift terbuka. Beni pun dari tadi mengamati Sarah.
"Ah. Kenapa baru sekarang bertemu dokter secantik dan secerdas ini."
"Sreeeeeeeet!"
"Aaaawwww.... "
Liona merasakan sakit pada jari telunjuknya karena terjepit oleh pegangan koper yang ditarik dengan kasar oleh Beni. Jika biasanya sang suami akan sangat perhatian dengan dirinya kali ini Beni tidak perduli dengan suara rintihan dari Liona. Ia yang biasanya akan rela memijat punggung istrinya dengan minyak zaitun saat sang istri kelelahan pulang pemotretan atau syuting. Namun kali ini jangan kan khawatir. Melirik pun tidak.
"Aku rindu, rindu kamu yang dulu Ben. Kamu yang akan sangat memanjakan aku. Kamu yang akan sangat mengkhawatirkan aku, jika aku terluka, aku kelelahan. Beni.... Hiks.... Aku rindu kamu yang dulu Ben."
Bahkan saat duduk di dalam taksi itu. Beni tak sudih duduk disebelah Liona. Ia lebih memilih duduk disebelah sopir. Sedangkan Liona duduk seorang diri di belakang sopir. Hanya airmata yang ia mampu hadirkan saat ini. Tak ada lagi amarah dengan segala caci maki pada suaminya saat ia tak suka dengan perlakuan Beni.
Hanya air mata penyesalan karena rindu sosok yang begitu mencintainya, kini sosok itu telah hilang. Wujudnya ada tapi tanpa cinta. Cinta yang tak pernah menuntut lebih. Cinta yang selalu mengalah kala pertengkaran mencuat.
Cinta yang selalu diam saat suara Liona lebih tinggi dari dia yang harusnya menjadi imam di keluarga mereka. Cinta yang selalu menutupi aib istrinya ketika awak media mendapat satu foto atau rekaman tingkah laku sang istri yang sering dugem bersama teman-temannya. Kini Liona hanya berharap ada keajaiban dari diamnya. Berharap keajaiban sebuah perhatian, cinta Beni untuk nya akan kembali hadir.
Tiba di apartemen yang cukup megah. Liona kembali tersentak ketika akan masuk kedalam kamar yang telah lebih dahulu dimasuki oleh Beni.
"Mulai sekarang aku ingin kita pisah ranjang! Jika Tiba di Indonesia besok. Aku akan menceraikan kamu! Aku bukan ban serep! aku bukan pilihan yang bisa kamu jadi kan tempat bertumpu saat kamu berada dalam ketidaksempurnaan!"
"Braaaaak!"
__ADS_1
Pintu kamar di banting dengan kasar oleh Beni. Liona memejam kan matanya karena kaget. Ia yang hampir tak pernah menangis. Kali ini harus kembali meneteskan butiran embun karena sakit rasanya ketika diabaikan. Sakit rasanya dicampakkan.
Liona bersandar di sofa yang ada tepat di sisi kanannya. Sesaknya dada karena sakit nya hati membuat ia terisak dalam tangisnya.
"Hiks... Hiks.... Ben.... Beni.... Tolong beri aku kesempatan Ben. Aku mencintaimu Ben....!"
"Aaaa... Bulshit! Omong kosong! Diamlah! aku ingin istirahat! Bersiaplah. Besok kita akan pulang!"
Tinggallah Liona seorang diri menangis diatas sofa.
Malam hari saat akan mengganti pakaian. Liona kembali harus menerima perlakuan tidak menyenangkan dari sang suami.
"Jangan masuk ke kamar itu atau aku akan berlaku kasar pada mu Liona!"
Baru mau masuk kamar. Liona terpaku menatap Beni yang fokus dengan makan malam yang ia pesan online.
"Aku ingin ganti pakaian Ben."
Beni meletakkan garpu makannya dengan kasar.
"Tiiiinggg!"
Tap
Tap
Tap
Beni masuk kedalam kamar ia membuka koper itu. Lalu pakaian Liona ia lempar ke arah istrinya itu.
"Dengar! Tiba di Indonesia besok. Aku ingin kita berpisah. Rumah yang selama ini kita tinggali. Ambilah untuk mu! aku akan kembali ke apartment!"
"Bruuugh."
Liona menjatuhkan tubuhnya tepat di hadapan Beni. Ia memeluk salah satu betis beni.
"Please.... Beni. Give me one chance... Please.... I love you so much.... Hiks.... Hiks... Ben...."
"Aaaaaaa.... ! Lepaskan!"
Beni menarik kakinya. Ia membuka kacamatanya. Airmata nya mengalir begitu deras.
"Bukankah dulu kamu sangat ingin aku menceraikan kamu? Bukankah bibir mu yang seksi itu hampir ratusan kali mengucapkan kata cerai? Kamu tahu bagaimana sakitnya saat kamu mengucapkan kata itu Liona? Kamu tahu bagaimana rasa sakitnya Hah?!"
Dada Beni sesak. Rasa yang selama ini ia pendam. Hari ini meledak. Beni mengangkat dagu Liona. Dua insan manusia yang kini sama-sama berderai air mata. Bahkan suara Parau Beni diikuti Isak tangis nya saat ia menatap tajam Liona sambil memegang Dagu Liona.
"Sakiiiiiit.... Sakiiit sekali Liona! Sakiiittt. Sekarang kamu merasakannya kan? Sakit bukan? sakit rasanya..... Hikss..."
__ADS_1
Beni berjalan ke dalam kamarnya. Lalu ia membanting pintu itu dengan keras. Ia terduduk dibalik pintu. Ia menangis dengan posisi kepala yang ia benamkan diatas kedua lututnya. Sedangkan Liona masih duduk bersimpuh diatas lantai diantara baju-bajunya. Kerudung yang ia pakai pun hingga basah karena air mata yang terus mengalir dari sudut pelupuk matanya.
"Hiks.... Hiks...."