
Suasana masih cukup Pagi. Kediaman Aisha pun belum ada tetangga atau keluarga yang datang. Waktu menunjukkan sekitar pukul tujuh lewat. Namun kehadiran beberapa orang di termasuk buk lek dan pak Lek nya Aisha membuat Aisha yang masih di dapur sedang menyiapkan sarapan untuk Rafi beserta sepasang suami istri yang merupakan Bosnya.
Rafi dan Bram yang duduk di teras sambil menikmati kopi mereka merasa kaget suara melengking khas Buk Lek Aisha.
"Ais.... Ais......!"
"Sabar Bu... Ndak usah teriak-teriak begitu malu. Masih ada tamu dirumahnya."
Pak Lek Aisha merasa malu karena Bram dan Rafi merasa aneh pagi-pagi sudah ada yang datang ke kediaman orang yang masih berduka.
Aisha keluar cukup tergopoh-gopoh begitupun beberapa penghuni rumah seperti Lilis, Nurul dan Ayra. Ibu Lina yang sedang menyisir rambutnya pun keluar dari kamar masih dengan sisir yang ia pegang ditangan.
"Astaghfirullah... Ada apa Bu Lek? Kok ya teriak-teriak. Malu didengar orang."
"Halah kamu itu! Ndak usah sok nasehati Bu Lek. Duduk kamu!"
"Sreeeeeeeet."
Satu kursi di tarik oleh Buk Lek Aisha. Gadis yang masih memerlukan bantuan tongkat itu pun menarik satu kursi dan duduk. Sedangkan Pak lek nya yang baru muncul ikut duduk di sebelah Aisha karena meminta beberapa lelaki untuk duduk di teras.
"Kamu itu bikin malu Keluarga! Dari dulu aku sudah sering bilang sama Ibu mu. Kamu itu jelas kerjanya ga bener. Mana ada kerja baru sebentar udah bisa bangun rumah, beli mobil. Kalau ga jual diri!"
"Astaghfirullah.... Hati-hati bicara Bu lek."
"Bu lek jangan sembarangan bicara!"
"Kamu anak kecil diam! ndak usah ikut campur!"
"Bu....."
"Wes diem. Bapak juga diem. Ini nih dari dulu kalau aku kasih nasihat Ndak pernah di denger. Kamu itu ga pernah mau denger omongan aku. Ini jadinya!"
Pak Lek Aisha hanya menghela napasnya dengan pelan. Ia tak pernah mampu untuk berdebat dengan sang istri. Pagi ini beberapa tokoh adat dan para sesepuh datang kerumah Pak Lek Aisha sebagai satu-satunya keluarga yang bisa dimintai pertanggungjawaban atas tindakan Aisha.
Luki yang menyebarkan ke masyarakat foto screenshot saat Aisha dan dirinya berada di villa nya malam sebelum ia melompat ke balkon. Juga sebuah kabar jika Aisha dan dia telah melakukan hubungan layaknya suami dan istri.
Sebuah desa yang masih memiliki kepercayaan dimana jika ada sepasang anak muda yang melakukan zina harus segera di nikahkan agar tidak menyebabkan musibah bagi desa mereka. Membuat para tokoh sesepu dan adat menjadi geram. Mereka yang ikut di provokasi oleh beberapa masyarakat akhirnya tidak menimbang kondisi Aisha yang sedang dalam keadaan berduka.
Sehingga pagi ini rumah Aisha cukup ramai di datangi oleh beberapa bapak-bapak yang sudah cukup tua.
"Maaf Bu. Ini ada apa. Tidak baik sekali ribut-ribut apalagi menuduh seseorang tanpa bukti yang jelas."
Ayra yang melihat sikap Buk Lek Aisha yang dari datang tak ada sopan santun. Bahkan sebuah salam pun tak di berikan kepada pemilik rumah.
"Kamu siapa? Ndak usah ikut campur! ini urusan keluarga."
"Beliau keluarga saya Buk Lek. Keluarga yang Ndak selalu menyalahkan aku. Yang melalui beliau aku dikasih rezeki bisa bikin rumah ini buat Ibu dan bisa beli mobil. Jadi Buk lek jangan sembarangan bicara."
"O... jadi karena dia kaya. Kamu jadi lebih hormat sama dia?"
Buk Lek Aisha dari kemarin melihat sebuah mobil Ford Ranger yang menurutnya kendaraan mahal. Ia tahu bahwa mobil itu milik bos tempat Aisha bekerja. Ada perasaan iri di dalam hati buk Lek nya. Karena anaknya saja masih menganggur setelah lulus kuliah. Belum lagi, Aisha yang bisa membangun rumah ibunya menjadi permanen.
__ADS_1
Serta Lilis yang sering memanasi buk lek nya saat mengambil kiriman uang dari Aisha di Brilink yang berada tepat disebelah rumah Buk Lek nya. Membuat perempuan yang merupakan ipar ibu dari Aisha menjadikan momen ini untuk menjatuhkan Aisha yang selalu di banggakan oleh suaminya.
Aisha mengambil satu foto yang ia bisa yakini jika foto itu dari Luki.
"Ini?"
"Kamu harus segera menikah sama Luki. Malam besok juga kamu menikah. Jangan bikin kampung ini jadi ikut kena musibah karena ulah kamu. Itu diluar orang sudah ramai."
"Apa? Ndak saya Ndak mau menikah sama Luki."
"Iya. Itu kemarin mas Luki juga sudah membatalkan rencana pertunangan nya sama Kak Aish. Gara-gara itu ibu selalu menangis beberapa malam. Dan Ibu meninggal saat selesai shalat Dzuhur, masih dalam keadaa menangis."
Lilis tanpa sadar menceritakan kejadian sebenarnya. Namun kata-kata yang meluncur dari bibir Lilis membuat hati Aisha merasa sakit. Ia merasa gagal membahagiakan ibunya. Ia merasa bersedih karena ibunya pasti sangat terpukul saat Luki membatalkan rencana pertunangan mereka tersebut. Karena untuk umur seperti dirinya di desa itu sudah hampir rata-rata telah menikah bahkan memiliki anak.
Satu kata yang sering menjadi beban pikiran ibu Aisha saat tetangga terus mengingatkan jika Aisha akan menjadi pera wan tua karena belum menikah. Sebuah fenomena di kalangan Ibu-ibu, yang akan dengan entengnya berbicara tanpa tahu efek yang akan diberikan hanya dari sebuah pertanyaan untuk tetangga atau teman yang diajak bicara.
"Hiks....Hiks...."
Aisha menangisi berita bahwa ibunya sangat bersedih karena Luki benar menepati janjinya.
"Nanti malam itu Luki dan keluarga nya akan datang. Beruntung, dia lelaki yang mau bertanggungjawab. Keluarga mereka yang pernah terpandang juga mau menerima kamu jadi menantu. Sudah siap-siap saja malam besok kamu menikah secara agama dulu. Adik-adik kamu akan senang karena ada yang akan membiayai."
"Saya ndak mau menikah dengan Luki!"
"Aish. Berita sudah menyebar. Para tokoh di desa pun sudah di depan. Kamu mau di arak keliling kampung?"
"Pak Lek. Saya tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan itu. Saya masih perawan Sampai hari ini!"
"Tapi kalau yang perempuan tidak mau?"
"Ya Ndak bisa mas. Harus menikah. Kalau tidak masyarakat akan marah, tahu sendiri kalau masyarakat sudah mengadili sendiri. Intinya itu nak Aisha harus menikah. Lagi pula pihak laki-lakinya mau bertanggung jawab."
Rafi yang melihat sebuah foto Aisha di dalam kamar dengan Luki. Ia menarik napas dalam, ia bingung karena tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Ia yang tahu betul kejadian sebenarnya. Tetapi dia tak punya bukti.
"Ada cara buat nyelamati Aisha Brother."
Bram berbisik ke arah Rafi. Rafi menoleh ke arah bosnya.
Bram kembali membisikkan sesuatu kepada Rafi. Membuat kedua bola mata Rafi membesar.
"Daripada dia dimakan Omnivora? Tega Kamu? Ga nyesel?"
Rafi memijat dahinya yang tak terasa sakit tapi terasa penat sekali karena ia semalam yang yakin akan membantu Aisha namun ide dari Bram untuk menikahi Aisha bukan perkara mudah. Ini untuk seumur hidup. Belum lagi, nanti Aisha akan berpikir yang bukan-bukan terhadap dirinya.
"Tapi klo Jones nikah sama tuh Omnivora. Kasihan adik-adiknya. Lah Aisha juga kasihan. Udah ga mungkin tuh laki mau tanggungjawab ngurus tiga Adiknya. Hhhhhhh.... Tapi kok gue ga rela klo jones nikah ma tuh Omnivora."
Tiba-tiba Rafi berani berbicara pada bapak-bapak yang menunggu keputusan pak Lek Aisha.
"Baik, kalau seandainya Aisha itu mau menikah tapi bukan sama Luki bagaimana?"
Kali ini Bram yang melebarkan kedua bola matanya.
__ADS_1
Satu tokoh berbicara.
"Ya Harus lelaki itu."
"Tapi kalau perempuan nya itu betul masih belum kenapa-kenapa dan ini hanya tuduhan."
"Tapi bukti dan pengakuan dari pihak lelaki menyatakan kalau mereka telah berzina."
Bram mulai jengah cepat berkomentar.
"Dimana-mana kalau orang yang berzina itu yang minta tanggung jawab bukan yang lelaki pak. Tapi perempuan. Ini pasti ada udang di balik batu. Aisha nya baik-baik saja kenapa itu si Luki sibuk mendadak mau cepat menikah."
"Bukan begitu. Nak Aisha itu sudah lama menjadi buah bibir masyarakat kampung kalau dia itu suka jual diri di kota."
"Astaghfirullah.... Fitnah itu pak."
Bram memandangi satu persatu tokoh sesepuh tersebut dengan pandangan tak suka.
Tiba-tiba Pak Le Aisha muncul dari dalam.
"Bapak-bapak ini nanti malam saya kabarkan lagi. Mohon bersabar. Harap maklum, kondisi Aisha masih berduka."
Setelah memberikan satu penjelasan beberapa orang lelaki tadi pergi dari kediaman Aisha. Mereka menunggu keputusan nanti malam sambil menunggu kedatangan keluarga Luki.
Pak lek Aisha duduk di sebelah Rafi. Ia tak mau kembali kedalam. Ia tak kuasa melihat istrinya yang sedang berdebat dengan Ayra. Ayra tak tinggal diam saat ia tahu kejadian sebenarnya bahwa Luki hanya memanfaatkan Aisha untuk menutupi keburukan-keburukan nya karena penyimpangan s e k s nya.
"Ah. Kasihan Aisha. Dia gadis yang baik. Luki itu sepertinya tak punya niat baik pada Aisha."
"Kalau ada yang bersedia menikah dengan Aisha bagaimana pak?"
Pak Lek Aisha menoleh ke arah Bram. Rafi tak kalah kaget.
"Ya masalahnya, Aisha itu tidak pernah dekat dengan lelaki manapun. Siapa yang akan menikahi dia. Saya berharapnya dia bisa berjodoh dengan pemuda yang baik."
"Ada pak. Ini."
Bram menepuk pundak Rafi. Pak Lek Aisha menatap Rafi.
"Kamu?"
"Teman saya ini sudah lama suka dengan Aisha tapi tidak pernah berani mengutarakan isi hatinya."
Pak Lek Aisha menatap Rafi.
"Ya walaupun cuma sopir tapi sepertinya lelaki ini baik. Dari kemarin dia Shalat berjamaah terus di masjid."
Padahal Rafi hanya mengikuti kemauan bosnya saat waktu shalat masuk untuk shalat berjamaah di masjid, bosnya akan memaksa dirinya untuk ikut. Aisha yang ketika ditanya pak Lek nya siapa lelaki yang juga ikut dengan bos nya tersebut, menjelaskan bahwa Rafi adalah sopir bosnya.
"Kenapa nak Rafi tidak bicara saja sama Aisha?"
Rafi melotot karena seketika Pak Lek Aisha masuk kedalam rumah.
__ADS_1